Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
8


__ADS_3

Setelah sarapan pagi selesai Arga dan Revina duduk berdua saling berhadapan. Arga memandang Revina seolah ingin menerkam kekasihnya karena terciduk jalan dengan pria lain.


Arga menarik nafasya pelan, "Apa alasan kamu pergi menjauhi ku?" tanya Arga langsung. Ia ingin mengetahui lebih dulu apa alasan kekasihnya itu tiba tiba marah dan pergi tanpa alasan yang jelas.


Apa ia pergi murni karena cemburu pada Shepa atau memang pergi untuk pria lain. Sebenarnya Arga sudah tak sabar dari kemarin ia datang ingin segera mempertanyakan itu.


Semalam ia kesulitan memejamkan mata karena berbagai macam pertanyaan bersarang di benaknya. Bagaimana tidak ketika ia datang ternyata Revina tidak ada dirumah dan begitu ia pulang malah bersama pria lain yang gak dikenalnya sama sekali.


"Apa kamu cemburu terhadap Rega, dia hanya sahabat kecilku" ucap Revina tak kalah gentar memandang Arga.


Arga menarik salah satu bibirnya keatas hingga membentuk senyum sinis. "Sahabat? Lalu kamu juga cemburu melihat aku dengan Shepa? Kamu menghindar dari aku dengan alasan kamu marah saat melihat aku dengan Shepa. Padahal aku tidak bertemu hanya berdua dan itu pun aku tidak sembunyi sembunyi"


Revina menarik nafasnya pelan "Sebagai sesama perempuan aku mengerti bagaimana perasaan Shepa terhadap mu."


"Shepa punya perasaan terhadap aku?" ucap Arga sambil menunjuk dirinya sendiri. "Yah aku tau itu tapi aku juga tau dia lebih memegang teguh prinsipnya agar tidak merusak hubungan orang lain, kamu tau sejak terakhir aku dan dia bertemu waktu itu, dia tak pernah menemui ku lagi. Dia benar benar menghindar dari ku, bahkan ia mengatakan pada setiap orang yang mengenalku untuk mengatakan bahawa ia sudah pergi dari sana. Tapi pada kenyataanya ia tidak pernah pergi kemana pun. Kamu tau itu artinya apa? Dia tidak ingin disebut perusak hubungan orang lain" Arga memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Bahkan aku tau dia berusaha menghapus perasaannya terhadap ku, aku tau itu. Bahkan dengan tulusnya ia membantu ku untuk mengetahui perasaan mu terhadap ku, rela mendengarkan setiap keluh kesah ku tanpa ia mengharapkan balasan cinta dari ku. Aku melihat ketulusan di matanya, tapi aku tidak pernah berpikir akan membagi hati ketika hati ku sudah menetapkan pilihannya"


Air mata di pelupuk mata Revina siap meluncur, ia tak kuasa mendengar apa yang Arga katakan. Apakah keputusannya meninggalkan Arga adalah keputusan yang benar?.


Dia tidak tau harus berkata apa lagi setelah mendengar apa yang Arga katakan. Apa ia akan tetap pada keputusannya atau harus kembali kepada Arga.


***


"Nak Arga mau pulang langsung hari ini" tanya ibunya Revina.


"Iya bu, nggak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama" ucap Arga sambil menganggukan kepalanya pelan sebagai tanda hormat.


"Emmmhh gitu ya, padahal kan ada nak Arga rumah terasa lebih ramai"


"Lain waktu insyaallah kesini lagi bu" ucap Arga namun pandangannya mengarah ke Revina yang diam tanpa berkomentar sepatah kata pun.


Arga memutuskan kembali ke ibukota setelah mendengar jawaban yang mengecewakan dari Revina. Sebenarnya bukan penolakan yang Arga inginkan, tapi siapa yang tau akan hati seseorang.


Ibarat kata pepatah "Dalamnya lautan bisa di selami tapi hati seseorang siapa yang tau" begitulah kurang lebihnya.


"Arga pamit ya bu, jaga kesehatan semoga bisa bertemu kembali lain waktu" Pamit Arga saat sudah selesai memasukan kopernya ke bagasi mobil.


Sejenak Revina dan Arga beradu pandang, sebelum akhirnya Arga memutuskan pandangan tersebut. "Aku pergi" ucap Arga pelan.

__ADS_1


"Ayo mang ujang" ucap Arga yang sudah memunggungi Revina tanpa menolehnya kembali.


Ternyata kekecewaan yang didapat Arga. Kini wajahnya sendu dan terlihat kacau sekali, lebih kacau dari sebelumnya.


Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Arga. Arga yang biasanya asik dan suka bercanda tanpa memandang status dan siapa yang diajak bicaranya. Kini terlihat seperti bukan Arga.


Tatapan matanya kosong, sepertinya ia hanyut dalam pikirannya.


Flashback on


"Jadi semuanya sudah jelaskan Re? kamu mau beralasan apa lagi?" Arga mengerutkan keningnya.


Hening


Hening


Revina menarik nafasnya pelan "Maaf Ga, sepertinya tidak secepat itu. Aku masih belum yakin akan perasaanku sendiri terhadap mu. Pergilah disana ada hati yang yang tulus menanti mu"


Duaaarrr hati Arga bagai tersamabar petir di siang bolong. Bukan itu yang ingin Arga dengar, Arga diam sejenak mengatur nafas yang tiba tiba memburu. "Baiklah jika itu keputusan mu" ucap Arga memandang Revina dengan tatapan marah, kecewa yang bercampur jadi satu.


Sementara Revina menundukan pandangannya menghindari tatapan Arga.


Flashback off


"Den sudah sampai" mang ujang membuyarkan lamunan Arga.


Arga mengerjapkan kedua matanya "Ah ia mang, mamang ngebut ya? cepat sekali sampainya" ucap Arga sambil berlalu turun dan masuk kedalam rumah.


Bi iyah yang melihat raut muka Arga, cepat cepat neghampiri mang ujang yang baru saja menurunkan koper milik majikannya.


"Heh mang ujang, kunaon si aden teh? kenapa atuh?"


"Saya juga tidak tau" jawab mang ujang dengan logat khas orang cianjur.


Arga memhempaskan tubuhnya pada ranjang empuk miliknya hingga tak lama matanya terpejam.


Dering telpon membuat Arga terpaksa bangun kembali. Nama Bimo tertera di layar ponsel ngndi genggamnya.


Arga segera menggeser ikon warna hijau dan menepelkan benda pipih itu di telinganya.

__ADS_1


"Halo Bim?"


"...."


"Oh iya, berati nanti malam ya?"


"...."


"Iya iya aku tidak lupa tenang saja, aku pasti datang"


"..."


"Iya aku baru aja kembali, tapi aku pastikan datang kok. Tidak usah khawatir"


"..."


"Sampai bertemu nanti malam" Ucapannya sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.


***


"Gimana bisa?" Leela bertanya pada Bimo suaminya.


"Bisa dong, aku kan suami yang bisa diandalkan" ucap Bimo membanggakan diri.


"Lebay" ucap Leela ucap Leela sambil berlalu pergi.


"Eh eh, main pergi pergi aja" ucap Bimo yang menghentikan langkah istrinya.


"Ada apa, papi anak anak?"


"Beri aku hadiah" ucap Bimo.


"Hadiah kan yangbulang tahun Andra bukan papinya" ucap Leela.


"Ayolah aku sangat merindukan mu" ucap Bimo sambil memeluk dan mengendus pundak Leela. Membuat Leela merasa geli.


"Pi, kean belum dikasih Asi"


"Ayolah sebentar saja" rengek Bimo dan pada akhirnya Leela mengikuti keinginan Bimo. Menolak pun rasanya percuma karena Bimo tetap akan memaksanya, dia selalu lupa waktu dan lupa tempat jika keinginan nya tidak dituruti.

__ADS_1


Rasanya Bimo jauh lebih manja jika di bandingkan dengan Andra. Andra akan berhenti merengek jika sudah diberi alasan yang ia mengerti, tapi Bimo tidak demikian.


Jangn lupa vote, like, comment 😘😍


__ADS_2