Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
29


__ADS_3

Jam yang paling dinantikan oleh setiap karyawan sudah tiba, waktunya pulang. Ledya merentangkan kedua tangannya saat pekerjaannya sudah berhasil ia selesaikan tepat sepuluh menit sebelum pulang. Ia segera merapihkan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.


"Ya, duluan ya" ucap rekan sati divisinya.


"Ya..." ucap Ledy.


Ledya melirik meja kerja Lulu, ia menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Lulu Lulu" ucap Ledya dengan senyum khasnya yang menonjolkan lesung pipitnya.


Setelah meja kerjanya kembali rapi, Ledya mengenakan jaket serta tas gendongnya. Kunci motor ia mainkan ditangannya sambil melangkah meninggalkan tempat ia mengais rizki untuk memenuhi kebutuhannya dengan sang ibu.


Setibanya di parkiran Ledya segera mengenakan helm dan siap untuk menunggangi motor yang selalu setia menemaninya.


"Tunggu" suara itu menghentikan Ledya yang sudah siap melaju. Ledya lupa kalau ditempatnya bekerja ada pria yang dianggapnya pria brengsek.


"Aduuh" ucap Ledya, ia melihat Arga dari pantulan kaca spion motornya. Arga berdiri tepat dibelakang motor Ledya dengan kedua telapak tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.


"Pak..." ucap Ledya memaksakan diri untuk bersikap sopan.


"Ternyata kita bertemu lagi nona manis. Kau ingat apa yang kau lakukan hari itu pada ku?" ucap Arga dengan nada bicara dibuat seangkuh mungkin. Sebenarnya gertak gimna doang.


"Emmmhhh saya ingat pak, tolong maafkan saya atas ketidak sopanan saya waktu itu" ucap Ledya sopan. Mungkin dengan meminta maaf akan membawa dirinya keluar dari zona ini.


"Aku memaafkan mu" ucap Arga yang membuat Leyda merasa lega. Tapi bukan Arga namanya jika ia tidak memiliki sifat jahil yang tinggi. Arga tersenyum licik. "Aku memaafkan mu tapi ada syaratnya" ucap Arga. Ia melirik ketegangan di wajah gadis itu. Arga sekuat tenaga menahan tawa karena berhasil mengerjai gadis yang ada dihadapannya, gadis yang ia cari.


"Syarat?" ucap Ledya spontan


"Ya, kau harus menjadi asisten pribadi ku diluar jam kerja kantor" ucap Arga ringan tanpa dosa.

__ADS_1


Padahal jika mengingat kejadian beberapa minggu lalu bukan Ledya yang salah, tapi Arga lah penyebab Ledya melakukan perlawanan hingga menampar pipi Arga sekencang mungkin.


"Tidak bisa pak, lagi pula lepas jam kerja saya pun ada kegiatan yang harus saya selesaikan" ucap Ledya dengan sopan.


Arga menganggukan kepala seolah dirinya memperhatikan posisi Ledya tapi ternyata dibalik itu semua Arga sudah menyiapkan rencana lain.


"Baiklah, jika kau tidak bisa menjadi asisten pribadi ku. Kau mau aku memaafkan mu saat ini juga dan semuanya selesai sekarang?" tanya Arga.


Ledya memberanikan diri menatap Arga, ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Arga.


"Kau punya mulut kan? saya butuh jawaban bukan anggukan, saya tidak sedang bicara dengan manusia tunawicara kan?" ucap Arga. Sengaja ia mengulur ulur waktu agar bisa lebih lama bicara dengan gadis ini dan bisa mengenal bagaimana kepribadiannya.


"Iya" jawab Ledya kesal.


Arga semakin merasa menang. Ia ingin sekali tertawa sepuas mungkin saat melihat ekspresi kesal yang ditunjukan Ledya. Senyum licik kembali tersungging dibibir Arga. Arga mengetuk ngetukan jari telunjuknya pada pipi yang ditampar oleh Ledya.


Ledya mengerutkan keningnya diikuti alisnya yang menyipit karena tak mampu mengartikan yang Arga maksud.


"Kau memberikan luka pada pipiku yang kau tampar, dan kau harus bertanggung jawab untuk itu" ucap Arga lagi.


"iya, pak saya tau saya harus bertanggung jawab. Kasih tau dengan jelas apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung jawabannya kesalahan saya" ucap Ledya dengan menahan giginya karena merasa kesal. "Lagi pula saya melihat tidak ada bekas luka disana" lanjut Ledya.


"Memang tidak ada karena saya sudah melakukan perawatan yang sangat mahal sekali dan kau harus menggantinya dengan mahal pula"


"Heeehhh horang kaya dimana mana selalu menyebalkan" Ledya menggerutu


"Silahkan anda potong gaji saya pak" ucap Ledya dengan senyum yang dipaksakan.


"Gaji mu tidak akan cukup" ucap Arga.

__ADS_1


Pipi Ledya kembang kempis menahan kekesalannya. "Tuhan cabut saja nyawa orang ini. Dia sungguh sangat menyebalkan. Tolong ya Tuhan" ucap Ledya lagi dalam hatinya.


"Berikan kecupan pada bekas luka yang kau buat" ucap Arga, Ledya langsung membelalakan matanya saat mendengar ucapan Arga yang ia rasa tidak sopan sama sekali. Tanpa banyak bicara Ledya langsung menstater motornya dan melaju dengan kencang meninggalkan Arga dengan semua kajahilannya.


Sepanjang perjalanan Ledya tak henti hentinya memaki Arga. "Dasar pria brengsek, pria tidak tahu malu dia yang berbuat kesalahan kenapa aku yang harus bertanggung jawab. Semoga tuhan mengabulkan doa ku segera. Dasar pria lebay, pria yang tidak tanggung jawab pada dirinya sendiri. Jika tuhan tidak mengabulkan doa ku yang tadi, semoga kau ditinggalkan kekasih mu segera. Pria seperti mu tidak pantas untuk dicintai" maki Ledya


Sementara Arga sedang melepaskan tawa yang sejak tadi ditahannya. Benar kata Bimo membuka hati untuk hati yang baru tanpa membandingkan dengan masa lalu ternyata terasa lebih menyenangkan. Ia lupa akan Shepa maupun Revina saat ini.


Tawa Arga tak menyusut begitu saja. Ia bahkan masih saja kembali tertawa saat mengingat ekspresi Ledya tadi.


Arga menghentikan tawanya saat ia tersadar akan pepatah orang tua jaman dulu. "Jangan terlalu banyak tertawa nanti kita akan menangis"


Berkali kali Arga mengucapkan istighfar, namun tetap saja ia masih ingin tertawa, sekuat mungkin ia menahannya. Arga mingkem mingkem.


.


.


.


.


.


.


.Lanjut? apa tidak?


Follow ig author nanti di folback

__ADS_1


nurya.ag


__ADS_2