
Ledya terlihat buru buru mengeluarkan motornya dari tempat parkir khusus di kostnya. Ia sengaja bangun lebih dan berangkat lebih awal. Tujuannya tak lain ialah ia tidak ingin bertemu dengan Arga sepagi itu dan merasa mood kerjanya. Ia yakin betul jika Arga adalah orang yang paling usil diantara manusia yang dikenalnya.
"Dya, kenapa pagi sekali berangkatnya?" Tegur ibu kost yang kebetulan saat itu baru saja kembali dari warung.
"Tidak apa apa bu, biar dilihat lebih rajin saja. Siapa tahu nanti gajinya naik" balas Ledya dengan senyum yang menampakan lesung pipitnya.
Ledya mulai menjalankan motornya dengan sangat apik sekali. Ledya adalah orang yang selalu memperhitungkan soal untung dan rugi. Ledya selalu berusaha hati hati karena sadar jika terjadi sesuatu pada dirinya lalu siapa yang akan membiayai hidup dia dan ibunya.
Ledya bisa dikatakan anak yang kurang beruntung karena besar tanpa didampingi sang ayah. Dulu ayahnya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan. Karena tuntutan pekerjaan, ayah Ledya selalu meninggalkan Ledya bersama dengan ibunya. Awalnya keadaan keluarga Ledya tampak aman aman saja. Sampai suatu hari kenyataan pahit menghampiri keluarganya.
Tak pernah terbayangkan sama sekali oleh Ledya kecil bahwa dirinya akan mempunyai ini sambung dan saudara tiri. Terakhir kali ia bertemu dengan ayahnya adalah saat ayahnya datang kerumah untuk mengambil barang barangnya. Ledya kecil sempat bertanya pada sang ayah "Kenapa ayah harus pergi?" tanya Ledya kecil dengan airmata berurai tanpa mampu dibendung.
Ayah Ledya melirik ibu Ledya yang saat itu sedang membelaknginya. "Ibu sudah tidak mau lagi tinggal dengan ayah" kalimat itu juga adalah kalimat terakhir yang Ledya dengar dari ayahnya sebelum sang ayah benar benar meninggalkan dirinya.
Sejak saat itu Ledya belajar jadi anak yang tangguh dan tak mudah menangis. Meski saat kecil jiwanya sempat terguncang karena ejekan teman teman sebayanya. Ibu Ledya membawanya pulang ke kampung halaman dimana kakek dan neneknya berada. Disana Ledya mengenal teman baru dan tumbuh dengan seharusnya tanpa pengawasan dan bimbingan dari sang ayah.
Semakin bertambahnya usia Ledya, ia semakin mengerti akan tujuan hidupnya. Ia tumbuh menjadi gadis yang pandai, tegar dan tangguh. Jarang sekali melihat Ledya menangis jika ibunya tidak sedang sakit. Faktor kehidupan Ledya dimasa lalu menjadikan Ledya yang sekarang.
__ADS_1
***
Jalanan yang masih lenggang membawa Ledya lebih cepat tiba dikantornya. Suasana kantor pun terlihat masih sepi, hanya terlihat beberapa karyawan yang baru saja tiba.
Setelah memarkirkan motor dan melepas helm yang menjadi pelindung kepalanya, Ledya segera memasuki lobby dan mengabsen kehadirannya melalaui sidik jari.
Ledya menarik kursi kerjanya, ia terlihat membuka nasi bungkus yang tadi sempat dibelinya untuk sarapan. Ledya sibuk menghabiskan sarapannya tanpa ia sadari bahwa orang yang sedang dihindarinya sedang memperhatikan dirinya dari pintu yang berlapis kaca tersebut.
Ya, Arga juga baru tiba disana, dan ia memang sengaja berangkat lebih pagi dengan tujuan utamanya tak lain ingin melihat gadis itu.
"Tidak tidak, saya tidak sedang membutuhkan sesuatu, hanya saja saya tadi melihat ada karyawan dari divisi sini datangnya pagi sekali. Rajin sekali dia" jawab Arga tenang meski sebelumnya ia kaget dan jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya.
Bu Jess melongokan wajahnya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh atasannya. "Oh itu Ledya, ia memang sedikit berbeda dengan kerusakan lainnya pak, makanya saya mempromosikan dirinya pada pak Galih agar naik jabatan." sedikit penjelasan dari bu Jess yang dikenal sebagai manager keuangan di GF commpany.
"Oh" ucap Arga, ia meninggalkan bu Jess yang masih berdiri disana setelah pamit lebih dulu.
Sementara Arga berusaha menahan perasaan malu yang bergejolak di jiwanya karena ketahuan sedang mengintip. Ya meskipun bu Jess tak meminta penjelasan lebih darinya.
__ADS_1
Namun dag dig dug di dada itulah yang Arga rasakan saat ini.
***
Ledya yang asyik menikmati sarapannya sempat mendengarkan perbincangan antara bu Jess dan Arga namun ia tidak mau tahu lebi dari itu.
Setelah menghabiskan sarapannya, serta rekan lainnya pun sudah berdatangan dan jam sudah menunjukan waktunya untuk memulai pekerjaan.
Ledya kembali disibukan dengan angka angka. Matanya kembali mengenakan kacamata dan mulai bekerja. Begitupun yang lainnya.
Sementara Arga terlihat sedang memikirkan bagaiama ia bisa bertemu dan bicara dengan Ledya. Ya gadis itu mulai membayangi pikiran Arga. Arga tak menampik, ia memang mangakui bahwa dirinya menyukai gadis iti terlepas karena gadis itu memberikan kesan yang sama seperti Shepa saat awal mereka bertemu.
Ucapan Bimo tetintas kembali dipikiran Arga saat Arga sedang membandingkan Revina, Sheoa dan Ledya. Ketiga wanita itu memang memiliki daya tarik tersendiri yang mampu menarik perhatian Arga.
"iya Bim iya. Paham, aku paham jadi kau jangan muncul secara tiba tiba dipikirin ku." ucap Arga.
"Haaaaahhhh pusing sekali memikirkan cinta dan perasaan. Rasanya lebih pusing dari pada pekerjaan yang papa berikan terhadap ku" gerutu Arga sambil menggelengkan kepalanya pelan serta tangan yang sedang membuka dokumen yang harus dipelajarinya.
__ADS_1