
Pagi ini Arga di kejutkan dengan kedatangan sang mama. "Ada apa mama pagi pagi di rumah Arga"
"Eh anak ganteng mama udah bangun" Sang mama tak menjawab pertanyaan Arga.
"Aku nanya mama ngapain di sini?"
"Duduk dulu, minumnya sambil duduk ya. Mama kesini mau kamu nemenin mama ke arisan"
"Gak mau, pasti mama mau kenalin aku lagi ke anak teman arisan mama ya kan?"
Dugaan Arga benar, sang mama menjawabnya dengan sebuah senyum yang bisa Arga artikan sebagai pertanda iya. "Udahlah ma, Arga gak mau di jodoh jodohin. Lagi pula Arga udah punya pilihan kok"
"Pilihan kamu dari dulu gak pernah benar"
Pada akhirnya Arga mengiyakan permintaan sang mama dengan berat hati. Spesial hari ini dia menjadi sopir sang mama, anggap saja begitu.
Acara arisan sang mama seperti biasa di lakukan di salah satu kafe. Pada saat bersamaan Arga mendengar anak kecil menyebut kata papa. Mengingatkan Arga akan Kia. Arga menghentikan langkahnya membuat mamanya pun bingung. "Kenapa Ga?"
"Tadi aku dengar seseorang memanggil papa"
Arga di tertawakan sang mama akibat hal ini. "Ya iya kamu pasti mendengarnya. Kan disini bukan hanya kita saja, tuh lihat banyak yang sedang berkunjung kan?"
Perasaan Arga mengatakan lain, dia yakin kalau tadi memang suara Kia, Arga celingak celinguk mencari keberadaan gadis itu. "Tunggu ma, tapi aku yakin suara tadi itu memanggil Arga ma"
"Hah, manggil kamu? Memangnya kamu sudah punya anak? Dari mana? jangan jangan kamu menghamili anak orang iya?"
Arga menepuk jidatnya pelan, astaga bisa bisanya sang mama berpikir sejauh itu. "Astaga mama, sembarangan kalau bicara"
__ADS_1
***
Berhubung hari ini libur, maka Shepa memutuskan untuk mengajak putrinya jalan jalan. Maklum saja sekarang hampir tak punya waktu untuk terus bersama kecuali di hari libur seperti ini.
Seperti anak kecil pada umumnya, Kia begitu aktif berlari kesana kemari. Tiba tiba Shepa terkejut sekaligus bingung saat Kia menyebut papa sambil mengejar seseorang yang Shepa sendiri tidak tahu.
"Kia tunggu, Kia. Kia mau kemana?"
"Tadi Kia liat papa"
"Papa gak disini sayang," Shepa mengusap puncak kepala Kia dengan perasaan sedih. Dia mencari tahu siapa sosok yang dimaksud oleh Kia, sayang dia tidak menemukannya. Mungkin Kia sedang merindukan sosok papanya. Shepa mengajak Kia ke arena bermain untuk menghiburnya.
***
Arga merasa bosan saat harus berada dalam lingkungan arisan sang mama. Dengan sopan dia izin ke mamanya untuk sekedar melepas rasa bosannya.
Saat dia sedang berjalan matanya menangkap sosok Kia. Namun matanya tak lepas memandangi orang yang sedang berjalan bersama Kia. "Shepa sama Kia, Kia sama Shepa. Jadi..."
Yang dipanggilpun menoleh, dengan senyum mengembang dia berlari ke arah Arga. "papa"
Shepa tak mampu menutupi rasa terkejutnyanya. Ternyata yang dimaksud papa oleh Kia adalah Arga. Orang yang dulu selalu menjadi ikon yang memenuhi pikirannya.
Arga dan Kia saling berepelukan untuk sekedar melepas rasa kerinduannya masing masing. Shepa pun menghampiri keduanya dengan perasaan tak menentu.
Arga mengajak Shepa dan Kia untuk sekedar membeli minum. Hal itu Arga lakukan untuk sekedar menghapus kecanggungan yang terjadi. Cukup lama mereka diam dengan segala pemikiran masing masing. Sampai akhirnya Arga memulai perbincangan. Diawali dengan saling bertanya kabar, sampai mereka menceritakan perjalanan mereka selama berpisah.
Arga memperhatikan wajah Shepa saat Shepa bercerita. Dia merasa bersyukur adanya hari ini yang mempertemukan kembali dirinya dan Shepa. Hari ini dia ingin jadi pendengar yang baik untuk Shepa. Terlepas dia mengetahui apa yang terjadi dengan Shepa sebelumnya.
__ADS_1
"Aku kira Kia bukan putri mu She"
"Bersyukur, ada pengganti kak Wiji" ucapnya dengan senyum yang di paksakan. "Kenapa Kia bisa memanggilmu dengan sebutan papa?" Shepa menatap Arga.
"Gak tau, mungkin Kia ingin aku jadi papanya" Sengaja Arga menjawab seperti itu, niatnya dia ingin mengungkapkan perasaannya yang sepat dia sesali karena terlambat menyadari. Namun Arga ternyata tak cukup pandai untuk memilih kata yang tepat.
Shepa tersenyum sinis, tak menganggap perkataan Arga serius. Sebab Shop tahu bagaimana Arga dulu. Namun Shepa tidak tahu jika Arga sudah menyadari perasaan untuk dirinya.
"Revina apakabar?" Shepa malah mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik, dia juga sama seperti kamu sudah menikah dan memiliki anak.".
"Kamu?"
"Aku? Kan aku nungguin kamu She"
Shop terdiam mendengar jawaban Arga. Kalimat itu adalah kalimat tang ingin dia dengar, tapi dulu sebelum semua ceritanya berbeda. "Kamu emang masih suka bercanda ya" balas Shepa dengan senyum canggung.
Arga menatap Shepa dalam dalam. Dia ingin sekali mengatakan semuanya kerinduannya pada perempuan itu. Belum saatnya Ga, sabar dulu, jalannya tidak lagi bisa dianggap sama. Sepertinya butuh sesuatu yang ekstra, ucap Arga dalam hatinya.
Shepa tahu Arga tengah memperhatikan dirinya. Namun Shepa membatasi pikirannyaa agar tidak kembali berharap seperti dulu. Perasaan yang dulu dia simpan kini tengah berbenturan dengan akal pikirannya.
Arga dan Shepa mendengarkan Kia yang sedang bercerita dengan suara khas anak seusianya. Jika ada orang lain yang memperhatikan, mungkin mereka mengira jika ini adalah sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Sesekali Arga menimpali cerita Kia.
Kalau aja dari dulu, mungkin saat ini aku adalah benar benar papanya.
__ADS_1
Sekitar pukul 13:00 mereka berpisah, karena Kia yang mulai rewel. Terpaksa Arga mengiyakan saat Shepa pamit untuk pulang. Arga sendiri menawarkan diri untuk mengantar mereka pula, namun Shepa menolaknya dan memilih naik taksi. Padahal besar sekali harapan Arga untuk bisa dekat kembali seperti dulu bahkan berharap lebih.
Arga mengusap wajahmu kasar saat taksi yang ditumpangi Shepa tak terlihat lagi. "Bodoh, kalau kau menganggap dia masih sama seperti dulu itu gak bisa Arga. Cari cara yang lain dong. Bodoh kok di pelihara" rutuk Arga pada dirinya sendiri.