
Langit paginya cerah ditemani senyum indah sang mentari yang membawa kehangatan membuat mereka merasa beruntung sudah bangun lebih pagi. Begitu pun dengan Arga yang bangun tak kalah pagi.
Setelah mengumpulkan seluruh pecahan jiwanya yang dihancurkan oleh mereka malam tadi Arga bangun dengan badan disertai jiwa, dan akal yang sehat.
Fokus Arga tidak lagi mereka yang tadi malam bertemu dengannya. Ledya ya, gadis itu menjadi alasan Arga bangun pagi hari ini. Sesulit apa pun untuk mendapatkannya ia yakin jika tak ada jalan buntu untuk menuju roma.
Memangnya roma dimana sih?
Tubuh Arga kini terlihat segar, wangi dan rapi tentunya itu karena ia lebih dulu membersihkan diri sebelum menyambut tujuannya mengejar gadis yang jadi incarannya.
"Selamat pagi den" ucap pelayan yang sejak beberapa bulan lalu Arga percaya untuk menjaga rumahnya.
"Pagi" Balas Arga sambil terus berjalan menuju mobilnya. Tanpa mengingat sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayannya Arga langsung berangkat demi tujuan. Memang ya jika seseorang sudah mempunyai ambisi apapun pasti akan dilakukan demi bisa mendapatkannya.
Arga mengendarai mobilnya ditemani alunan lagu yang diputar dari audio mobilnya. Saat diperjalanan Arga memusatkan fokus matanya saat melihat Ledya ada dalam sebuah kerumunan. Arga menghentikan mobilnya dari jarak yang tidak terlalu dekat dan hanya memperhatikan dari mobilnya tanpa ingin terlihat bahwa ia sedang benar benar mengejar gadis itu.
Melihat kerumunan itu sudah bubar dan Ledya terlihat berjalan meninggalkan motor yang selalu setia menemaninya barulah Arga melajukan kembali mobilnya. Sepertinya Ledya baru saja mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan motornya harus dibawa ke bengkel.
Ledya berjalan kaki diiringi langkah yang terlihat riang meski tadi musibah sempat menghampirinya. Mungkin itu cara yang selalu Ledya gunakan agar ia tidak larut dalam kesedihan karena sebuah musibah yang pada akhirnya melupakan cara untuk bersyukur.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, ah rasanya Arga ingin bersorak riang jika saja tidak melihat posisi dia saat ini. "Butuh tumpangan?" ucap Arga yang menepikan mobilnnya tepat dimana Ledya berjalan.
"Taksi masih banyak kok" balas Ledya sambil kembali melangkah meninggalkan Arga yang terpaku mendengar jawabannya.
__ADS_1
Setelah melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya sebuah ide muncul begitu saja dibenaknya. "Baiklah sepertinya kau sedang menantangku untuk mengejar mu lebih. Siapa takut akan ku buktikan" Ucap Arga yang langsung tancap gas mengejar Ledya yang sudah melangkah jauh darinya.
"Aku ingatkan pada mu, jam tujuh lebih sepuluh ada pertemuan seluruh staf dan aku harap kau tidak akan terlambat" ucap Arga tanpa menghentikan mobilnya namun melaju pun tidak dengan kecepatan seharusnya.
Seketika Ledya panik melihat sekarang ternyata jam 06:45 dan perjalanan menuju kantornya masih membutuhkan beberapa kilometer lagi. Tidak mungkin jika ia akan sampai dikantornya tepat waktu jika berjalan atau menunggu taksi yang lewat lebih dulu.
Melihat mobil yang dikemudikan oleh Arga belum terlalu jauh, Ledya tanpa pikir panjang langsung ambil langkah seribu agar bisa mendapatkan tumpangan dari Arga.
Arga yang melihat hal itu dari kaca spion tengah langsung menyematkan senyum kemenangan dibibirnya. "Baru langkah awal" ucap Arga dengan bibir tergelak.
"Pak tunggu pak" Teriak Ledya sambil terus berusaha mengejar mobil Arga. Bersyukurnya Ledya saat Arga menghentikan mobilnya. Ia tidak tahu saja jika ia tengah dikerjai oleh Arga si pria menyebalkan.
Dengan memasang wajah tanpa dosa dan pura pura cool Arga membuka kaca jendela. Bertanya dengan menggunakan dagu dan tanpa mengeluarkan suara.
"Pak izinkan aku menumpang sampai kantor ya" ucap Ledya dengan nafas setengah ngos ngosan.
Tanpa berpikir dan membalas ucapan Arga, Ledya langsung menarik pintu yang sengaja tidak dikunci oleh Arga dan langsung memposisikan tubuhnya di kursi penumpang. Huh lagi lagi Arga bersorak dalam hati.
"Macam macam sih" ucap Arga dalam hatinya.
Mobil kembali melaju menuju tujuan utamanya. Sesekali Arga melirik Ledya yang duduk disampinya menggunakan ekor matanya.
Rambut panjang yang selalu diikat ekor kuda, bulu mata yang letik, hidung mancung dan bibir yang berwarna merah jambu benar benar mengganggu akal sehat Arga. Hatinya bersorak ingin menyerang bagian bagian yang terlihat menarik itu.
__ADS_1
"Waras Ga, waras" hatinya mengingatkan akal sehatnya.
Ledya sendiri tak menghiraukan Arga yang sejak tadi mencuri curi pandang darinya. Ledya asyik menikmati lagu yang berjudul Cinta Luar biasa yang dipopulerkan oleh Admesh kamaleng. Bibirnya bergerak mengikuti setiap bait yang keluar dari musik audio tersebut.Hal tersebut tanpa disadari Ledya semakin menarik perhatian Arga padanya.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di kantor GF companny. Ledya segera turun setelah sebelumnya ia mengucapakan terimakasih lebih dulu. Ledya berlari secepat mungkin dengan tujuan agar ia bisa menyiapkan lebih dulu beberapa dokumen yang sekiranya akan dibutuhkan dalam pertemuan yang dimaksud Arga.
Sementara Arga turun dengan begitu santainya serta senyum yang tak memudar dari bibirnya.
Ledya tiba diruangan kerjanya, namun ia merasa ada sesuatu yang aneh. Teman kerja satu divisinya tidak terlihat sibuk seperti biasa saat akan ada pertemuan dengan atasannya apalagi tadi Arga mengatakan ada pertemuan dengan seluruh staf.
"Kenapa Dya?" tanya teman sebelah kubikelnya.
"Wah sepertinya aku sedang dikerjai dan dia berhasil mengerjaiku" ucap Ledya dalam hati setelah mengingat ingat bahwa hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengan seluruh staf seperti yang dikatakan Arga tadi.
"Akan ku balas nanti" ucap Ledya dengan tangan terkepal dilanjutkan menarik kursi kerjanya tanpa ada kesadaran.
Ledya tak menghiraukan tatapan heran yang diberikan oleh teman sebelahnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.Bagaimana?