Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
13


__ADS_3

Selama Arga bekerja ia benar benar tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Semua yang diucapkan Bimo kembali terlintas di benaknya.


"Apa disini cuma aku yang bodoh akan sebuah perasaan?" tanya Arga pada dirinya sendiri.


"Aku selalu lari pada nya saat aku membutuhkannya, tapi aku tidak memikirkan perasaannya"


"Tapi apa sekarang perasaan itu masih sama? Apa se egois itukan aku, datang dan pergi seenaknya"


"Ternyata perjuangan dia begitu berat sekali harus menghapus perasaannya yang tak pernah aku balas."


Saat dirasa jam kuliah sudah selesai Arga bergegas keluar menuju mobilnya. Setengah jam kemudian Arga sudah sampai di depan gerbang kampus.


Ia memperhatikan satu per satu maha siswa yang keluar dari sana. Senyumnya mengembang saat orang yang ditunggunya sedang berjalan sambil ngobrol dengan sahabatnya tanpa menyadari keberadaan dirinya.


"Shepa" panggil Arga.


Yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke sumber suara. Kening nya sedikit mengerut merasa heran melihat Arga tiba tiba ada disana.


Terakhir mereka bertemu adalah di acara ulang tahun Andra. Selebihnya mereka hanya menjalin komunikasi lewat pesan singkat. Itupun jika Arga meminta saran darinya.


Shepa tak pernah mengirim pesan lebih dulu jika Arga belum mengiriminya pesan.


Tapi kali ini ia melihat Arga sendiri yang datang menghampirinya.


"Hai" sapa Arga


Shepa menarik nafasnya dalam lalu menghebuskannya secara perlahan melalui mulut sebelum membalas sapaan Arga.


"Hai, ada apa?" tanya Shepa terlihat acuh


"Ah rupanya benar perasaannya sudah memudar untuk ku" batin Arga.


"Nggak apa apa, lama sekali kita tidak bertemu" basa basi Arga, sebenarnya ia bingung harus berkata apa.


"She boleh kita bicara tapi tidak disini?" ucap Arga.


Shepa melirik Gia yang tidak jauh dari jangkauannya sebelum akhirnya mengangguk.


***


Shepa dan Arga sekarang sudah ada di taman tempat biasa Shepa menghabiskan waktunya disana.


Hening

__ADS_1


Hening


Hening


Baik Shepa maupun Arga sama sama diam membisu. Sampai akhirnya Arga memilih mengawali pembicaraan.


"Sebenarnya aku kesini karena ada banyak hal yang ingin aku tanyakan sama kamu" ucap Arga sambil melirik Shepa yang sepertinya lebih asik memandang kuku kuku jarinya.


"Soal apa?" tanya Shepa


"Kenapa rasanya ada yang berubah dari Shepa"


"She, apa aku boleh tau bagaimana perasaan mu pada ku?" ucap Arga langsung pada intinya.


Shepa tersenyum khasnya "kenapa kamu mempertanyakan hal itu?" Bukan menjawab tapi malah balik bertanya.


"Sebenarnya kalau aku boleh jujur pada diri ku Ga, sebagai seorang perempuan yang kau perlakuan layaknya seorang kekasih waktu itu" Shepa menarik nafas sejenak.


"Aku merasa tersanjung, meskipun hanya sebagai kekasih bohongan. Kau memperlakukan aku dengan begitu manisnya sehingga aku mengharapkan lebih darimu. Tapi saat kau pergi seenaknya dari ku karena kau sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan tentang perasaanmu terhadap nya, kau tau apa yang terjadi?" melirik Arga sebentar sebelum akhirnya melanjutkan kembali apa yang selama ini tersimpan rapi dibenaknya.


"Aku merasa kehilangan, terlebih kau pergi begitu saja tanpa ada kata maaf, dan terimakasih. Tapi aku teringat kembali perkataan ibu dulu, Aku tidak boleh memaksakan apa yang bukan hak ku. Maka dari itu aku berusaha mengikhlaskan kau memilihnya." Ada rasa lega bagi Shepa saat semua yang ia pendam selama ini bisa dikeluarkannya.


"Maafkan aku, disini akulah yang salah, tak seharusnya aku bermain main dengam sebuah perasaan" ucap Arga sambil memandang Shepa yang tak memandangnya.


"Aku tidak tau ternyata aku menyakitimu begitu dalam sekali, pantas saja berbulan bulan kau pergi dari tanpa kabar. Tapi apa sekarang perasaan itu masih ada?" tanya Arga.


"Apa kau sudah menemukan orang lain yang bisa menggantikan posisi ku di hati mu?" tanya Arga lagi "Aku rasa tidak ada" Arga menjawab pertanyaannya sendiri.


"Aku tidak berusaha mencari penggantinya" ucap Shepa membuat Arga melirik kepadanya.


"Kalau begitu menikahlah dengan ku" ucap Arga serius.


"Kenapa aku harus menikah dengan mu?"


"Karena aku yakin tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi ku di hatimu"


"Sepertinya kau sedang berhalusinanasi" ucap Shepa datar tanpa ekspresi.


"Aku bicara dalam keadaan sadar, aku memang belum bisa merelakan Revina menikah dengan orang lain. Tapi entah mengapa saat aku mengingat Revina dan disaat yang sama kau juga muncul di benak ku. Mungkin aku akan menemukan jawabannya jika aku bersama mu" ucap Arga.


"Lebay" ucap Shepa


"Serius" ucap Arga meyakinkan Shepa.

__ADS_1


"Ga, aku tidak ingin mengulang rasa sakit yang sama. Jika kamu meminta aku menikah dengan mu hanya karena kau merasa kecewa ditinggalkan Revina aku rasa kali ini maaf aku tidak bisa mengikuti permintaan mu. Biarkan hati ini memilih yang semestinya" ucap Shepa sambil beranjak berdiri.


"Maaf aku harus pulang" ucap Shepa yang sedetik kemudian langsung ambil langkah seribu meninggalkan Arga yang masih mematung di tempat sana.


"Oh my God sekarang aku tidak mendapatkan dua duanya." Aaaahhhhh rasanya Arga ingin menengelamkan diri saja ke dasar bumi agar tidak ada yang melihat betapa malunya dia.


Akibat ulahnya sendiri Arga benar benar kehilangan dua duanya. Memilih Revina tidak dapat, memilih Shepa juga tidak dapat.


Andai ia berpegang teguh pada satu pilihan mungkin ini tidak akan terjadi. Disesali pun rasanya percuma, toh nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang harus Arga lakukan adalah berlapang dada menerima keadaan, semoga tuhan berbaik hati mengembalikan salah satu diantara mereka.


Arga mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya sambil merasakan sejuknya udara sore. Pikirannya mendadak gelap tak bisa di pakai berpikir dengan jernih.


***


Shepa sedang dalam perjalanan pulang setelah bertemu Arga tadi. Sepanjang perjalanan ia berdoa semoga ini adalah keputusan yang tepat begitu pikirnya.


"Aku tau bagaimana sakitnya cinta tak terbalas, maka dari itu hati ku memilih agar tak menyakitinya"


Sedikit berat rasanya ia mengatakan tidak pada Arga. Namun pada akhirnya ia harus memilih dengan siapa dan bagaimana ia akan menjalani hidupnya kedepan.


Mungkin ini yang dinamakan takdir kehidupan yang harus dialami Shepa, Arga, dan Revina. Mereka terjebak dalam labirin cinta yang sulit untuk di pecahkan.


1.Apakah benar Revina menikah?


2.Siapa orang yang dimaksud Shepa tak ingin menyakiti hatinya seperti cinta nya yang tak dibalas Arga?


3.Dengan siapa Arga akan hidup selanjutnya?


.


.


.


.


.


.


Kita lihat kisah mereka selanjutnya dalam chapter berikutnya. Author rasa lika liku kisah mereka sudah cukup. Sebelum ke bab berikutnya jangan lupa dukungan kalian buat author karena itu sangat membantu. Terimakasih 🙏🙏🙏


Jangan lupa bantu follow ig author

__ADS_1


Ig: Nuryanthiag


fb: Nuryanthi Sudarma


__ADS_2