Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
18


__ADS_3

Satu bulan berlalu sejak pernikahan Shepa dan Wiji. "Ga, minggu depan mama mau kenalin kamu sama anak teman mama dulu.


"Malas ma masa jaman udah secanggih ini masih harus main jodoh jodohin anak segala."


"Mama tidak menjodohkan kalian, ya mama kenalin kamu sama dia siapa tau jodoh. Mau ya nemenin mama minggu depan"


Arga tidak memberikan jawaban atas permintaan mamanya.


"Sudah lah mah, kalau Arga tidak mau ya tidak usah di paksa" ucap Galih.


"Tidak bisa gitu dong pa, tidak ada salahnya jika mama mengenalkan mereka lebih dulu, masalah Arga mau atau tidak setelah melihatnya itu urusan Arga. Mau ya sayang?''


"Terserah mama aja" ucap Arga acuh tak acuh. Begitu malas rasanya bagi Arga jika kedua orang tuanya ikut campur dalam masalah pribadinya termasuk soal pasangan hidup.


Rasanya luka hati saat kehilangan dua hati sekaligus belum sembuh dengan waktu yang begitu singkat.


Tapi apa daya seorang Arga dia hanya manusia biasa yang tidak bisa memaksa takdir harus berpihak kepadanya.


"Arga pulang dulu ma, pa" ucap Arga sambil berdiri dari duduknya.


"Lho kenapa terburu buru sekali Ga" ucap Galih. Arga tersenyum tipis saat menatap ayahnya yang bicara.


"Arga merasa badan Arga butuh istirahat pa," ucap Arga.


"Makanya segera menikah biar ada yang ngurusin kamu" ucap mama nya sambil mulut penuh makanan.


Arga enggan menimpali pernyataan sang mama. Justru ia memilih pulang karena memang merasa tidak nyaman dengan sikap sang mama yang menurut Arga terlalu ikut campur.


Arga lebih merasa senang jika apa pun yang di dekat kedihupannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri bukan karena adanya campur tangan kedua orang tuanya. Termasuk urusan pendamping hidup.


Meski demikian ia selalu berusaha untuk tidak bersikap kasar atau menyakiti kedua orang tuanya.


***


Hari ini hari sabtu artinya kebanyakan muda mudi akan memanfaatkan hari ini untuk menghabiskan weekandnya dengan orang terkasih.


Meski jomblo Arga pun tak mau kalah oleh yang punya pasangan. Ia keluar masuk setiap toko yang ada di mall tersebut hanya sendiri.

__ADS_1


Saat Arga sedang memilih milih pakaian sebuah percakapan yang Arga dengar membuat ia menghentikan aktifitas memilihnya dan melangkah mendekati sumber suara yang didenagrnya.


"Kak ini bagus ga"


"Kamu suka? Kalau suka beli aja sayang! hari ini kamu bebas membeli apa pun yang kamu mau"


Deg hati Arga terasa bergetar saat ia melihat siapa yang sedang bicara, ternyata itu Shepa dengan Wiji. Disana ia pun melihat Shepa yang tersenyum tanpa ada yang memaksanya.


"Aku rasa dia benar benar bahagia sekarang" ucapnya pelan sambil mengintip. "Bodoh ngapain aku pake acara ngintip segala" ucapnya kesal saat menyadari tindakannya.


Shepa dan Wiji terlihat berjalan keluar toko tersebut setelah membayar yang ia pilih, tentu saja Wiji yang bayar kan dia sekarang suaminya.


Arga mengikutinya dari belakang dengan membenarkan hoodie yang dipakainya agar tidak dicurigai oleh yang diikuti.


"Heh bodoh udah tau dia udah punya suami ngapain kau mengikutinya. Mau kena bogem mentah" ucapnya pelan pada dirinya sendiri.


"Tunggu tunggu tapi aku penasaran apa semudah itu melupakan perasaannya terhadap ku, aku rasa tidak seperti itu. Toh aku saja sampai saat ini masih menyimpan perasaan untuk mereka" ucap nya lagi.


"Aaaahhh kok aku jadi bodoh begini" ucapnya lagi.


Sepertinya Shepa menyadari ada yang mengikutinya. Terlihat ia menghentikan langkah Wiji dan tiba tiba menciumnya.


"Iya," Wiji menatap Shepa heran


"Cup" Satu kecupan mendarat dipilih Wiji. Meski ia merasa heran dengan sikap Shepa namun selepas itu ia merasa sangat senang.


"Astaga" desah Arga saat melihat tindakan Shepa ke Wiji. "Kenapa aku baru merasa kehilangan sekarang setelah dia memilih yang lain. Dulu aku tak menyadari perasaan ini" ucap Arga sambil menepuk dadanya yang terasa sesak.


Arga berhenti mengikuti Shepa dan Wiji, ia beralih menuju lantai atas mall dan terlihat sedang ikut antre diantara para pembeli tiket. Ya tujuan Arga saat ini adalah menonton film.


Lagi dan lagi kesialan menghampiri dirinya saat sepasang suami istri berpapasan dengan dirinya. Rupanya Shepa dan Wiji pun memilih nonton.


"Arga" Sapa Wiji.


"Oh hai" balas Arga "Astaga nasib nasib" batin Arga bicara.


"Dengan siapa disini?" tanya Shepa biasa saja namun terasa mengejek oleh Arga.

__ADS_1


"Ah aku sendiri" jawab Arga sambil memandang Shepa sejenak.


Shepa memasang wajah biasa biasa saja namun entah kenapa rasanya terlihat begitu cantik dimata Arga.


"Shepa memang cantik, beruntung aku bisa menikahinya" ucap Wiji yang mengerti akan tatapan Arga pada istrinya, sambil menepuk pundak Arga menyadarkan dari lamuanannya.


"Ah ia kau memang beruntung sekali" ucap Arga kikuk karena ketahuan sedang memandangi istri orang.


"Sayang kamu tunggu disini sebentar ya, nggak papa kan? aku beli tiket nya dulu" ucap Wiji dibalas anggukan oleh Shepa sebagai tanda mengiyakan perkataan Wiji.


Selepas kepergian Wiji, Arga kembali bicara pada Shepa sambil tersenyum. "Rupanya kau terlihat bahagia sekali dengan kehidupan baru ini"


"Tentu saja karena kak Wiji adalah ternyata pilihan yang tepat" ucap Shepa tak memandang Arga.


Arga memasang senyum berusaha sebaik mungkin agar tidak mempermalukan dirinya.


"Kalau gitu selamat menikmati, aku pergi duly" ucap Arga dan berlalu meninggalkan Shepa sendirian.


"Loh sayang Arga mana?" tanya Wiji saat sudah kembali menghampiri Shepa.


"Sudah pergi tadi" ucap Shepa datar.


"Oh yaudah nih, kita nonton yang ini ya kamu pasti suka"


"Makasih kak" ucap Shepa sambil memeluk Wiji langsung.


"Sadarlah Ga sadar, mari lanjutkan hidupmu**" ucap Arga dalam hatinya.


Kenapa Arga baru menyesalinya sekarang? Kemana aja dulu? Sekarang Arga harus belajar lebih banyak lagi agar tidak menyesal lagi dikemudian hari.


Sebuah panggilan masuk di hp Arga dan memunculkan nama mamanya disana. Hp tersebut berdering sampai empat kali namun tak kunjung diangkat oleh Arga.


Ia tau mama nya pasti akan membahas soal mempertemukan dirinya dengan anak teman mamanya itu.


Setelah melihat kehidupan Shepa yang ia rasa terlihat bahagia, sampai berulang kali ia merasa menyesal. Maka malam ini ia memutuskan untuk menyenangkan dirinya sendiri. Tidak ingin memikirkan apa pun termasuk permintaan mamanya yang ia rasa terlalu kuno.


Arga mengalihkan mode terbang pada handphone nya agar malam ini tidak ada yang menggangu dirinya. "Malam ini aku harus bisa membawa perubahan pada diriku sendiri. Setidaknya aku harus bisa menerima apa pun yang sudah terjadi, harus ya harus." Arga berucap pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Author bingung antara harus melanjutkan cerita ini atau tidak?


__ADS_2