Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
47


__ADS_3

Hawa dingin menyapu kulit Shepa saat Arga mengatakan ingin mengenalkan dirinya pada keluarga besar. Rasa malu dan tidak percaya diri nilai mengusik dinding kalbu. Statusnya pasti akan menjadi pertimbangan. Helaan nafas panjang mengiringinya duduk di bale depan rumah. Nayatanya dia belum mengiyakan ajakan Arga.


Matanya menatap gadis kecil yang sedang bermain bersama pengasuhnya. Rasa takut jika keluarga Arga tidak akan menerima dirinya dan Kia, pun menyusup di hati. Dia pernah memikirkan itu sebelum memutuskan menerima. Namun hari ini semua itu terasa goyah, akarnya terasa rapuh dan berpikir jika angin besar menerjang maka semua itu akan luluh lantak.


Hidup bersama dengan orang yang tercinta adalah keinginan setiap insan. Berlayar membangun rumah tangga yang nyaman, tentram serta di dalamnya di penuhi bunga cinta bermekaran. Itupun akan membawa pengaruh baik bagi tumbuh kembang si buah hati.


Membayangkan penolakan dari keluarga Arga membuat hati Shepa nyeri. Padahal itu belum tentu terjadi. Menerka adalah kebiasaan setiap orang sebelum sesuatu itu benar adanya. Terkadang apa yang di pikirkan tidak terjadi seperti kenyataan.


"Ma, ...." Kia menghampiri ibunya dengan nafas ngos-ngosan. Nafasnya naik turun disertai peluh yang menetes di keningnya.


***


Arga keluar dari mobil sambil bersiul riang hingga mengalihkan perhatian penghuni rumah orang tuanya. Jarang sekali dia berkunjung ke rumah itu bisa di hitung jari kunjungannya dalam kurun satu tahun.


Mamanya menatap panuh selidik, begitupun dengan Galih-papanya. Andi yang saat itu sedang mengancingkan kancing tangannya pun merasa heran. Menatapnya penuh curiga "Tumben nih bujang tua kemari, mau minta uangya? " kata Andi dengan mata mengejek.


Arga langsung duduk di Meja makanan. Mengambil satu pisang goreng dan menikmatinya tanpa menjawab pertanyaan Andi. Memang adiknya yang satu ini tingkat menyebalkannya di atas rata-rata. Kalau di pikir ulang mana mungkin Arga minta uang, toh dia sendiri yang mengurus perusahaan papanya. Kalau minta di antar nikah itu sudah pasti.


"Kamu ini, di tanya kok gak di jawab" Mamanya menyodorkan segelas air putih untuk Arga.


Arga tergelak, "Ya mama pikir aja mana mungkin Arga minta uang, kan perusahaan Arga yang pegang"


Papa Galih pun ikut tertawa bersama Arga, menenertawakan istri serta anaknya. Papa Galih menepuk pundak Arga yang sedang tertawa. Tawa puas Arga pun terhenti. "Ada apa nak? kamu terlihat begitu senang"


Arga segera membenarkan posisi duduknya mengahadap sang papa. "Arga mau papa melamar seseorang untuk Arga." ucapnya dengan tatapan serius membuat yang di sekatiranya kaget.


"Hah, malamar?" Andi dan mamanya bersamaan mengucapkan kata itu. Benar-benar tak mengerti dengan putra sulungnya ini. Ketahuan pacaran pun jarang. Di ajak bertemu anak perempuan dari rekan arisannya pun sering menolak. Sekarang tiba-tiba meminta kedua orang tuanya untuk melamar seseorang untuk dirinya.


"Emangnya ada gadis yang mau sama bujang tua?" Tanya Andi.


"Ya aku cuma kalah muda, kalau pesona dan uang ya kali kalah." Balas Arga kembali di ikuti tawa. Andi memberengut, wajahnya yang tak kalah tampan dari Arga pun kini berubah. Gorengan bakwan di piring rasanya jauh lebih menarik.


"Ma, pa, aku ingin mengenalkan seseorang yang sudah ku pilih untuk menemani cerita ku hingga akhir. Dia wanita yang baik selama aku mengenalnya. Dia cantik, ramah dan juga menyenangkan. Arga minta tolong jika nanti saatnya tiba jangan tanyakan hal yang sekiranya akan membuat dia merasa minder. Intinya Arga yakin dia adalah pilihan yang tepat. Semoga papa dan mama mau merestui kita."

__ADS_1


"Ya terus mama nanti nanya apa dong"


"Ya salam mama, tanya soal kedekatan mereka aja" Galih mewakili.


"Tapi kan mama juga mau tahu kepribadian dia nanti."


"Tentu seiringnya waktu mama akan mengenalnya. Sudahlah tidak usah di pikirkan. Itu sudah pilihan Arga. Tugas kita bukan lagi ikut campur urusannya, tapi mendoakannya. Toh Arga sudah dewasa" Galih begitu bijak, namun tak menurun pada Arga. Arga terlalu absurd.


"Emh betul" Timpal Arga membenarkan ucapan papanya.


"Siapa dia kak?"


"Ku rasa kamu juga mengenalnya."


"Mengenalnya?" Andi terlihat berpikir, siapa diantara teman-temannya yang sedang dekat dengan kakaknya.


Melihat ekspresi Andi, sifat jahilnya Arga kembali ke luar. Senyum jahat terlikus di bibir Arga. "Dia gebetanmu"


"Shit! maksud lo Celia?" Arga menjawabnya melalui anggukan. Semakin membuat hati Andi terasa di simpan di atas pemanggangan.


"Arga andi cukup" Galih membentak keduanya sementara mamanya sibuk menguasap bulir bening yang merembes. Sejenak suasana menjadi hening. Namun tak lama sebab Arga mengakhirinya dengan tawa.


Andi yang nafasnya naik turun menautkan alis, tanda tak mengerti. "Santai Di, di buka Celia tapi Shepa" ucap Arga sambil menepuk-nepuk pundak adiknya.


"Shepa? maksud lo Shepa teman kuliah gue dulu"


"Lah, iya"


"Dia kan ...."


"Janda." Arga menyela lebih dulu dengan ekspresi datar.


"Janda? yang benar saja kamu Arga" Ekspresi kaget tak mampu sembunyi di balik wajah yang keriput kecilnya mulai nampak. "Kok bisa?"

__ADS_1


"Bisa dong Ma, kan Arga yang memilih. Aku menyukainya dari dulu. Namun terlambat dia sudah memutuskan untuk menikah. Padahal dia sendiri menyukai Arga, sayangnya waktu itu Arga belum menyadarinya. Itulah alasan kenapa Arga selama empat tahun ke belakang tak pernah ingin dekat dengan perempuan lain. Arga menunggu cinta itu kembali"


Galih dan istrinya saling tatap. Galih memberikan tatapan tajam pada istrinya untuk tidak berkomentar.


"Tapi Ga"


"Ma" Galih memperingatkan lebih dulu.


"Ya sudah"


"Mama mau menerimanya kan?" Arga bertanya pada sang mama sebab itu akan menentukan bagaimana ke depannya. Arga harus memastikan dulu Shepa akan di terima oleh keluarganya. Terutama sang mama.


Mamanya menatap papanya lebih dulu yang sedang memerintah untuk mengangguk melalui intruksi mata. Rasa takut pada sang suami yang lebih besar membuat dia mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih, Ma, Arga menyayangi mama" Arga segera berhambur memeluk mamanya. Beberapa kecupan Arga dapatkan di wajah sang ibunda.


"Dia beneran baik, kan?" Khawatir anaknya mengambil keputusan yang salah. Sebab nikah bukanlah sebuah permainan. Bukan sekedar untuk dicicipi tapi untuk ditelan seumur hidup. Tentu sebagai orang tua mamanya Ara tidak ingin suatu hari anaknya menemukan kekecewaan dalam pelayaran rumah tangga. Sebab tentu ujian akan datang menerpa.


"Niatkan untuk mencapai ridha-Nya, nak. Insyaallah semua akan di mudahkan. Jika niat mu benar baik papa pun merestuinya. Tidak usah khawatir dengan setatusnya, papa yakin niat mu begitu mulai dengan menikahinya."


Doa yang diharapkan terucap dari kedua orang tuanya. Arga tak menyangka jika niatnya mendapat dukungan penuh dari keluarga terutama papanya. Mamanya pun sama, akan tetapi rasa khawatir seorang ibu lebih kuat.


Menyegerakan niat baik adalah keputusan yang tepat. Sebab jika niat itu dibutuhkan terlalu lama maka kebimbangan akan segera menghampiri. Jika kebimbangan lebih dulu menghampiri, semua yang sudah di bangun akan terasa sia-sia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Seperti kamu yang terlalu lama di gantung hubungannya 😂. Yang belum semoga di segerakan, termasuk author 😭😭😭😭


__ADS_2