
Sungguh tak bisa di percaya. Rasanya bak angin berhembus di bawah teriknya matahari. Seperti hujan di tengah kemarau. Arga memberi tahu Shepa kalau orang tuanya menerima. Kekhawatiran yang sejak beberapa hari lalu menggunung kini kembali tenang. Namun wajahnya masih terlihat memikirkan sesuatu.
"Apa kamu tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Arga di tengah mereka menikmati makan siangnya. Sperti biasa Arga akan menghampiri Shepa di tempat kerjanya untuk sekedar mengajak calon istrinya itu makan siang bersama. Meninggalkan pekerjaannya sejenak demi yang tersayang.
"Aku senang, bahkan merasa sangat beruntung"
"Lantas, apa yang sedang kamu pikirkan?" Menyelipkan anak rambut Shepa ke belakang daun telinga. Shepa diam tak memberi jawaban. Dia tengah berpikir apakah pantas menceritakan hal ini pada Arga.
"Hey aku sedang bertanya, mengapa tidak di jawab?
Shepa membenarkan posisi duduknya. Membalas tatapan Arga, senyum terpaksa begitu kentara. "Ada apa?" Kembali Arga bertanya.
"Aku, aku ...."
Arga memilih membiarkan Shepa melanjutkan kalimatnya. Tidak menyela. "Kemarin, mamanya kak Wiji ke rumah"
"Untuk apa? Apa dia merasa keberatan dengan hubungan kita?"
***
Hari itu mentari bersinar cerah. Memeluk bumi untuk sekedar memberi kegangatan pada penghuninya. Shepa dan Kia tengah bersedia gurau. Semua itu tak bertahan lama sejak sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat depan rumahnya.
"Mama." Shepa menghampiri orang yang pernah jadi mertuanya dalam empat tahun. Wajah yang dulu ramah terhadapnya kini tak nampak sama sekali. Namun aura kebencian kini menyergap Shepa.
"Kamu rupanya masih betah tinggal di rumah putra ku" ucap mama Wiji saat Shepa mempersilahkannya masuk. Shepa masih sama, bersikap sopan layaknya dulu. Meskipun Wiji sudah tidak ada lagi, namun Shepa tak ingin merubahnya. Padahal rumah itu tidak sepenuhnya dibangun dengan uang Wiji. Jika memang menggunakan uang Wiji seharusnya itu tidak jadi masalah. Sebab disana bukan hanya dirinya tetapi ada Kia yang harus tetap berlindung di bawah atap yang nyaman.
Benar jika Shepa dan Wiji sudah tidak adalah lagi terikat hubungan. Namun Kia tetaplah darah dagingnya Wiji. Jika Shepa tidak berhak atas rumah itu, namun Kia tetap berkah. Anggap saja dirinya sebagai baby sitter yang sedang merawat Kia.
"Saya hanya ingin Kia tumbuh di tempat yang layak, Ma"
"Jangan mengatas namakan Kia. Jika kamu merasa keberatan membesarkan Kia, biar aku saja." Mata penuh kebencian itu seoleh menelanjangi Shepa.
__ADS_1
Kia menggeser duduknya dia bersembunyi di balik punggung Shepa. Merasa takut dengan orang yang sekarang duduk berharap dengan mamanya. Meja kaca menjadi penyekat mereka.
"Tidak Ma, aku tidak keberatan. Itu sudah tugas ku. Apa mama masih menyalahkan ku atas apa yang terjadi. Ini sudah beberapa bulan berlalu, harusnya ...."
"Jangan menceramahiku, aku tak sudi mendengar ceramah dari orang seperti mu. Kau pura-pura baik terhadap putraku. Kau memanfaatkannya. Sekarang dia sudah tidak ada kau akan kembali pada kekasih lama mu kan?"
Shepa tersentak kaget, nada tinggi yang keliar dari mulut mantan ibu mertuanya kini menancap di ulu hati Shepa. Sakit tapi tak berdarah. Sampai hati mantan ibu mertuanya mengatakan itu.
"Kau sudah berhasil memanfaatkannya. Harusnya jika kau punya sedikit saja rasa malu, kau sudah meninggalkan rumah ini"
***
Arga memberikan usapan pada punggung Shepa setelah mendengarkan cerita Shepa. Berusaha memberikan ketenangan. "Dengar, sekarang aku yang bertanggung jawab aku kamu dan Kia. Rumah itu akan tetap menjadi milik Kia. Tenang saja aku tak akan menggunakan yang bukan hak ku. Aku memang tidak berhak atas rumah itu tapi aku tak akan membiarkan orang lain merebutnya dari Kia."
Shepa menunduk, tak tahu apa dia harus merasa senang atau sebaliknya. Arga terlalu baik. Sehingga dia merasa tak tahu harus membalas cintanya seperti apa.
"Sekarang aku adalah masa depan mu. Aku yang bertugas menjaga dan melindungi. Tak perlu memikirkan merka yang sama sekali tak memikirkan mu. Hidup bukan sekedar untuk meratapi. Tetaplah berdiri walau badai menghampiri."
"Ish, jangan bertanya seperti itu. Aku memastikan kalau keluarga ku akan menerima kehadiran kamu dan Kia dengan tangan terbuka. Usahlah memikirkan hal yang berlebihan, semua itu belum tentu terjadi"
"Tapi kematian itu pasti"
"Aku tahu, tidak ada yang perlu di salahkan atas kematian seseorang."
Kaduanya saling tatap. "Percayalah pada takdir, mungkin aku adalah orang yang ditakdirkan untuk kamu."
Kematian seseorang itu adalah mutlak. Tuhan memiliki cara sendiri untuk mengambil makhluk-Nya. Meski terkadang cara itu menyakitkan. Tugas kita bukan lagi meratapi, melainkan mendoakan dan mengikhlaskan. Sebab kita tidak benar-benar memilikinya.
Jika cintamu lebih besar kepada sang pemilik. Tentu hal sia-sia tidak akan dilakukan. Kadang terlalu berlebihan itu tidak baik.
Selesai makan siang Arga kembali mengantar Shepa ke tempat kerja. Dia pun melakukan hal yang sama. Kembali berkutat dengan tumuoukan tugas. komputer dan jadwal pertemuan. Membosankan. Tentu saja tapi akan lebih bosan jika tak melakukan apapun. (Seperti kamu yang lagi rebahan sambil scroll beranda, atau hanya membaca chat dari si dia yang. Meski semua telah usai)
__ADS_1
Mengingat kembali obrolannya dengan Shepa membuat dia ingin mempercepat niat. Tak ingin lagi wanita yang dia cintai merasa tersiksa dengan kisah lalu. Arga harus membawanya dari sana.
Memikirkan hal tersebut membuat Arga lupa akan tugasnya. Bahkan kehadiran pria yang selama ini dia tindas untuk lembur pun tak di sadari.
"Pak Arga" Pria yang sudah menjadi sekertaris pribadinya selama Arga mulai mengikuti keinginan papa Galih itu pun menggebarak meja Arga.
Arga mengerjap kaget, dia segera membetulkan posisi duduknya, mengerjap kan mata beberapa kali. "Rupanya kamu sudah bosan bekerja denganku?"
"Ehm tidak pak, saya hanya ingin mengingatkan pukul tiga nanti kita akan menemui perwakilan dari penyedia layanan iklan pak"
"Kau menyebalkan?"
"Saya pak?" Sekertaris itu menunjuk dirinya.
"Iya, gak suka aja lihat orang senang sedikit."
"Saya lihat pak Arga tidak sedang senang, tapi sedang bengong. Kaya ...."
"Kayak apa? Ku tendang kau dari perusahaan ini" Arga menisyaratkan sekertarisnya untuk keluar. Dia merasa terganggu saat seseorang membuayarkan lamuanan.
Sekertaris yang sudah biasa dengan sikap Arga tak merasa tersinggung sama sekali. Dia sudah hatam dengan sikap atasannya. "Yang salah siapa, yang kena siapa?" ucapnya terdengar seperti lengisan.
.
.
.
.
.Maaf ya kemarin malam gak jadi up. Terlalu asik baca novel tetangga. Eh ini novel tetangga ya bukan kayak kamu baca chat manis dari si dia yang udah lama ngilang. 😂
__ADS_1