Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
44


__ADS_3

Hampir satu minggu Arga disibukan oleh pekerjaan. Saking sibuknya dia bahkan tak sempat menanyakan kabar Shepa dan Kia. Seperti rencananya tadi malam, jika pekerjaan selesai lebih cepat Arga akan mengunjungi Shepa di rumahnya.


Jam tiga sore, Arga masih berkutat di depan komputer jinjing. Arga menghela nafas panjang, sepertinya pekerjaan tak akan selesai seperti rencana dia. Apapun yang terjadi dia tetap harus menyempatkan mengunjungi Shepa. Dia tetap akan menanyakan keputusan Shepa atas permintaanya.


Memikirkan Shepa, tiba-tiba hatinya bergetar. Jantungnya bertalu cepat. Hembusan nafas kasar pun terdengar. Arga segera memfokuskan kembali pikirannya agar pekerjaannya cepat usai. Rasanya tak sabar ingin segera bertemu.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Dia bertanya saat mendengar jawaban dari panggilan yang dia lakukan.


"Kalau sudah, kau keruangan ku sekarang!"


Tak perlu lama, seorang pria dewasa muncul di balik pintu ruangan Arga. Tanpa banyak basa basi Arga memberikan sebagian berkas yang ada di hadapannya pada pria itu. "Hari ini kau lembur!"


"Tapi maaf pak, kan saya sudah bilang izin hari ini nggak lembur" Memasang wajah memelas.


"Gak ada gak lembur, atau ku potong gaji kau?" Seperti biasa jurus jitu itu kembali terlontar dari mulut Arga.


Dengan berat hati pria itu menerima tugas dari Arga. Padahal ini malam minggu dia pun sama seperti yang lain. Tentunya ingin berkunjung pacar. (Emangnya author kalau malam minggu sendirian 😆😜😜)


"Apa? Mau protes? Ku dengar kau menggerutu ku pastikan tak ada gaji selama satu bulan" Lanjut Arga.


"Ya gini kalau punya atasan jones. Gak rela kalau orang lain bersenang senang dimalam minggu. Ledek pria itu, setelahnya mereka tertawa bersama saling lempar ledekan. Arga tak pernah membatasi diri, seolah tak ada jarak antara dirinya dengan pekerja.


***


Tepat setelah adzan maghrib berkumandang Shepa baru tiba di depan rumah. Dia membuka ponselnya berharap ada notifikasi masuk. Ternyata tidak ada. Entah mengharapkan notifikasi dari siapa, mungkin saja dari Arga atau pria lain.


"Mbak, Kia mana?" tanya Shepa pada seorang gadis yang di percaya menjaga anaknya selama satu minggu ini. Dia tak lagi menitipkan Kia pada Leela, alasannya khawatir merepotkan padahal Leela sendiri sebagai kakak tak pernah merasa direpotkan. Mungkin juga dia melakukan itu untuk menjauhkan Kia dari Arga. Sepertinya dia belum siap memberikan jawaban pada Arga.


"Non Kia di depan tv, Bu. Sedang bermain bersama boneka bonekanya.


Shepa mengangguk dan segera menuju ke tempat seperti yang dikatakan oleh pengasuhnya Kia tadi. Namun hatinya begitu teriris saat mendengar Kia berkata "Papa kemana aja, Kia hangen" Kia berkata sambil memainkan satu boneka yang seolah sedang bertanya pada boneka yang ukurannya lebih besar.

__ADS_1


Shepa mengerti yang dimaksud papa oleh Kia adalah Arga. Perkataan Arga waktu itu kembali terngiang di benaknya. Dia ingin putrinya bahagia namun egonya sendiri terlalu kuat. Dia segera berlari memeluk Kia, membenamkan ciuaman pada puncak kepalanya.


Tak selang berapa lama, Arga tiba di rumah Shepa. Ini baru pertama kalinya dia menginjakan kaki di sana. Bahkan tahu alamatnya pun karena tadi dia kerumah Bimo lebih dulu. Arga pikir Kia ada di sana.


Arga menatap rumah tersebut sambil tersenyum. Hari ini dia sudah mempersiapkan diri apa pun yang Shepa katakan nanti tentu Arga harus menerimanya. Meski berat sekalipun.


Arga mengetuk pintu rumah beberapa kali. Sampai pada ketukan kesekian baru terdengar orang menyahut dari dalam.


"Cari siapa?"


"Kia nya ada?"


Pengasuhnya Kia menatap Arga, meneliti apakah dia pernah melihatnya atau belum. "Saya Arga, sahabatnya pak Bimo dan bu Shepa" lanjut Arga memperkenalkan diri.


"Sebentar bapak tunggu di sini dulu ya, biar saya panggilkan ibu"


Arga mengangguk menyetujuinya. Tak apa menunggu yang penting bertemu. Sementara Tari langsung meberitahu Shepa yang saat itu masih memeluk Kia.


"Tamu?"


"Laki-laki apa perempuan?"


"Laki-laki"


Belum Shepa membalas ucapan Tari, Kia lebih dulu lari sambil berteriak papa. Shepa diikuti Tari langsung mengejar Kia. Sementara Shepa sudah berada di pelukan Arga. Shepa terkejut, bagaimana bisa Arga sampai di rumahnya. Padahal dia tak pernah memberi tahu alamat rumah itu padanya.


"Papa Kia, hangen"


"Papa juga kangen sama Kia" balasan Arga terdengar bergetar sepertinya Arga benar-benar merindukan gadis kecil itu. Terlihat kilat bening di matanya. Segera dia usap saat menyadari Shepa sedang memperhatikan dirinya dan Kia.


"Boleh kan aku menemuinya?" Arga bertanya sebagai basa basi saja. Padahal tujuan utama Arga adalah ibunya. Tak apa dekati dulu anaknya, pelan pelan dekati ibunya.

__ADS_1


Shepa mengangguk sabagai tanda dia menyetujuinya. Wajah ceria kembali terpancar di wajah Kia. Kia langsung mengajak Arga berkenalan dengan boneka boneka miliknya.


Sementara Shepa memilih masuk ke dalam kamar dan membiarkan mereka berdua. "Kasih tau saya kalau makan malamnya sudah siap. Maaf saya tak bisa ikut membantu malam ini" ucap Shepa kepada Tari sebelum dia masuk dan mengunci diri.


Arga membuang nafas kasar saat melihat Shepa bersikap seperti itu. Dia berusaha menguatkan hatinya untuk memahami Shepa. Tak salah jika Shepa bersikap seperti itu. Mungkin dirinya terlalu memaksa.


Arga pulang setelah menidurkan Kia. Dia bahkan tak sempat pamit pada Shepa. Dia hanya menitip salam pada Tari. Melihatnya saja sudah membuat rasa rindu Arga sedikit terobati. Meski faktanya Arga mengharapkan lebih.


***


"Pria itu pulang jam berapa?" Tanya Shepa pada Tari yang sedang mengiris bawang merah.


"Setelah non Kia tidur, Bu. Beliau juga katanya titip salam untuk Ibu."


Shepa mengangguk seolah biasa saja namun hatinya menyayangkan sikapnya sendiri. Perasaan dan pikiran kadang tak seimbang. Pikiran lebih mengutamakan ego, sementara perasaan dia terlalu lemah untuk menolak.


"Dia bilang apa lagi?"


"Gak ada Bu selain mengucapkan terima kasih"


"Arga pasti kecewa dengan sikap ku" ucap Shepa dalam hati.


Seperti itulah kegiatan Shepa setiap pagi selama satu minggu kebelakang. Memasak bersama Tari, atau sekedar berbincang seputar kehidupan dirinya dan Tari. Hampir saja Shepa keceplosan memuji Arga. Untung saja otaknya cepat tanggap, kalau tidak dia bisa malu dua kali pada Tari.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Semoga syukak sahabat author. 😁 Maafin frekuensi up author yang kadang timbul tenggelam seperti orang sedang berenang. Sehat selalu kalian ❤


__ADS_2