
Hari itu pun tiba. Hari yang selalu diharapkan oleh keduanya. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka yang menghadiri.
Arga mempercepat niatnya dengan alasan agar dia bisa melindungi Shep da Kia. Di bawah atap yang teduh. Disaksikan orang-tercinta, Arga dengan lantang mengucapkan kabul.
Keduanya bisa bernafas lega setelah kata sah terdengar. Ucapan serta doa mereka terima dari yang menghadiri. Terhitung hari ini Shepa sah menjadi istrinya.
Perjuangan untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Mereka sama-sama harus mengikhlaskan lebih dulu. Membangun kembali harapan yang runtuh. Menata kepingan rasa yang pecah.
Acara pun selesai, Arga segera berpamitan pada mertuanya untuk membawa Shepa dan Kia tinggal di rumah yang selama ini dia tempati. Rumah itu tetap akan jadi rumah Kia. Kemarin lusa, Arga berhasil menemui orang tua Wiji untuk berbicara.
Obrolan mereka berlangsung selama tiga jam. Tidak mudah untuk mempertahankan, namun dengan segala kecerdasan yang Arga miliki akhirnya berhasil.
Untuk sementara rumah itu akan di kosongkan. Nanti kalau Kia sudah dewasa dan mengerti semuanya, maka Kia berhak menempatinya. Saat ini mereka akan tinggal bersama Arga.
Selain alasan tadi, alasan lain yati agar terhindar dari olokan saudara yang sering terjadi pada pengantin baru. Pertanyaan soal malam pertama dan lainnya.
"Kalian yakin tidak langsung honeymoon?" Mama Arga yang bertanya. Dia merasa itu penting untuk mereka yang masih pengantin baru.
"Tidak, Ma. Arga masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda"
"Kan ada Papa. Kamu bisa titipkan sementara."
"Gak apa kok, Tante ...."
Mendengar menantunya menyebut tante, Mama Arga menimpali lebih dulu. "Mama."
"Iya, Mama." Rasa canggung terlihat jelas di wajah Shepa meski ini bukan pertama kali dia berhadapan dengan ibu mertua.
"Papa sih tidak masalah kalau kalian mau berangkat honeymoon. Biar perusahaan dan Kia papa yang urus."
"She, kalau Arga nanti kaku gak usah aneh ya. Dia kan bujang kolot. Eh salah sekarang kan bukan bujang lagi." Andi nyengir menampakan deretan giginya.
Sebuah toyoran di terima Andi sebagai bonus dari Arga.
"Hore Kia tinggal sama papa" Kalimat iti terdengar beberapa kali dari bibir mungil Kia.
"Kia kalau tidur di rumah kak Arga gak rame. Mending di sini sama kak Amel saja" Amel adik perempuan Arga merasa senang memiliki saudara perempuan. Meskipun Kia dan Amel memiliki perbedaan usia.
Semua orang dewasa tertawa mendengar ucapan Amel-adik perempuan Arga. Bukan karena lucu, tetapi ada makna lain dari kalimat tersebut untuk memberi ruang pada pengantin baru.
__ADS_1
Semburat merah terlihat di wajah Shepa.
***
Duduk berdua di balkon kamar di temani orang tercinta itu menyenangkan. Sesudah menidurkan Kia, Shepa menghampiri Arga yang sedang menikmati teh. Menikmati belaian angin malam serta suguhan indah di langit malam.
"Terima kasih sudah menerima dan menyayangi Kia." ucap Shepa di sela obrolan mereka.
"Hey, tak perlu berterima kasih. Ini sudah kewajibanku. Aku bersyukur bisa membesarkannya. Tidak usah khawatir aku iklas."
Senyum bahagia kembali terukir. Tak menyangka, di luar sana banyak sekali kejadian yang malah sebaliknya. Mau dengan ibunya, tetapi sulit menerima anaknya. Shepa tak mengalami itu, Kia lebih dulu di terima ketimbang dirinya.
Arga menyeruput teh yang tersisa. Dia segera berdiri dan mengajak istrinya kembali ke kamar.
"Mau tidur sekarang?"
"Kapan lagi?" Arga mengedipkan sebelah mata memberikan sebuah kode. Arga berjalan lebih dulu, dia merebahkan diri di kasur. Ya tempatnya dulu memikirkan orang yang sekarang sudah menjadi istrinya. Menepuk kasur sebelahnya meminta Shepa berbaring di sana.
Shepa mengikuti perintah Arga. Perbincangan kecil mulai mereka biasakan. Agar suatu hari nanti tak merasa jenuh. Selain itu, perbincangan kecil itu pun berfungsi untuk menambah keharmonisan yang akan sudah mereka bangun sejak tadi pagi.
"Emh, boleh aku bertanya?" Shepa memberikan posisi lebih dulu.
"Apa kamu tidak malu punya istri seorang janda?" Pertanyaan yang selama ini Shepa simpan kini terlontar juga.
"Kenapa harus malu, status janda itu kan kemarin. Sekarang kamu istri. Lagi pula mencintai itu tak butuh alasan. Apa aku menjadi hina dengan menikahi seorang janda? Tidakkan?"
Arga menyelipkan anak rambut yang menhalangi kening istrinya. Satu kecuoan hangat dia berikan.
"Tapi, orang akan ...."
"Shut, tidak perlu mendengarkan kata orang. Yang menjalani itu kita. Biarkan saja mereka berkata apa, itu haknya. Yang jelas aku mencintaimu tanpa tapi. Dengar, aku akan mencintaimu selama Sang Pemilik Cinta mengizinkannya." Menarik tubuh sang istri dan membenamkannya di dada.
"Sepertinya Kia butuh teman, sayang."
Arga melirik Shepa dan berdeham beberapa kali. Meminta rasanya tidak enak. Perlu kesadaran bersama.
Malam pertama mereka berlalu begitu indah. Menuangkan rasa rindu tanpa ragu. Mengikis rasa sepi yang selalu menyelimuti. (Hush gak usah di bayangin.)
***
__ADS_1
"Selamat pagi." Arga menyapa istri yang sudah lebih dulu menyibukan diri dengan segala aktifitas.
"Pagi,"
"Kayaknya sayur lebih menarik ya." Kalimat itu berupa sindiran, sebab dirinya merasa terabaikan.
Shepa menoleh dan tersenyum mendapati wajah sang suami yang juga sedang menoleh ke arahnya.
Alih-alih menghampiri, Shepa malah kembali dengan aktifitasnya. Arga berdecak melihat itu.
Segera dia hampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. "Harusnya seperti ini, bukan di abaikan"
"Ada Bibi." Shepa mencubit tangan Arga yang melingkar di perutnya.
Arga menoleh ke arah Bibi yang sedang membereskan perabotan. "Bi, tidak mangganggukan?"
Meski rasa canggung dengan pemandangan itu Bibi tetap menjawab tidak. Maklum saja, ucap Bibi dalam hati.
Begitulah kadang orang yang di mabuk asmara sering tidak tahu tempat. Tidak semua, tapi kebanyakan. Bertingkah seolah dunia milik ber dua. Kadang rasa malu pun tergadaikan.
"Ma," Suara serak Kia mengalihkan perhatiin semua. Tangan yang melingkar di perut Shepa pun di lepas. Segera Shepa menghampiri putrinya yang masih menguap. Kcupan hangat tak pernah absen Shepa berikan.
"Sepertinya aku harus jadi Kia."
Shepa menatap dengan penuh pertanyaan. Itu tidak mungkin, kan?"
"Biar dapat kecuapan setiap pagi" lanjut Arga memeperlihatkan deretan giginya.
Bibi yang mendengar pun menggelengken kepala. "Padahal si aden mah dapatnya lebih"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Maaf jika tulisan author ada yang menyinggung perasaan dari salah satu sahabat. Jika ada yang bertanya "Thor malam pertamanya gak seru, gak hot" dan lain sebagainya. Maaf author tidak pandai dan tidak ingin membuat dosa jariyah. Bukan munafik tapi khawatir yang membaca ini bukan hanya kalangan dewasa. Kasihan juga sama mblo ntar dia mau tapi gak ada lawan. 🤗