
Revina hari ini terlihat kacau sekali, wajahnya tidak seceria biasanya. Teman teman kerjanya banyak yang mempertanyakan keadaan Revina, namun ia selalu menjawab dirinya baik baik saja.
Jam makan siang pun tiba waktunya para pekerja menghirup sedikitnya udara bebas termasuk Revina.
"Re makan siang dimana?" tanya salah satu teman kerja nya ditempat yang baru.
"Aku sih lagi mau makan soto mang ujang yang di seberang jalan sana" ucap Revina.
"Ya udah bareng aja, aku juga lagi mau makan soto"
"Ya udah yuk"
Revina dan temannya keluar dari tempat kerjanya dan terlihat berjalan kesebarang sana. Suasana hatinya masih saja seperti tadi.
"Mang sotonya dua ya" ucap sahabat Revina.
"Iya neng silahkan duduk dulu" ucap penjualnya yang di kenal sebagai mang ujang.
"Re, sebenarnya kamu ini kenapa sih, sejak pagi aku tak melihat kamu ceria. Ada masalah?" tanya sahabatnya.
Revina mengehela nafas "Aku lagi bingung sama jalan pikiran ibu" ucap Revina malas sekali rasanya membahas hal ini lagi.
"Emang nya ibu kamu kenapa?"
"Ibu ingin aku segera menikah, dan lebih parahnya lagi aku harus menikah dengan pilihan dia" ucap Revina dengan nada terdengar begitu kesal.
"Loh bagus dong kalau kamu menikah, kan nanti nggak usah capek capek lagi bekerja uang dapat dari suami"
Plakkk Revina mendaratkan telapak tangannya di kening sahabatnya. "Aaaawww sakit tau" pekik sahabat Revina sambil megang jidanya.
"Lagian kamu kalau ngomong suka ngelantur" ucap Revina tambah kesal.
"Ngaco ya siapa juga yang ngelantur? kamu aja tuh terlalu sibuk memikirkan masalalu sampai lupa masa depan" ucap sahabatnya Revina. "Hidup tuh menuju masa depan mbak bro bukan tetap di masalalu" ucapnya lagi.
"Coba deh kamu rasain kayak aku, ketika kamu belum bisa melupakan masalalu dan kamu di jodohkan oleh orangtua mu yang sama sekali kamu tak mengenalnya. Coba bayangkan!!" masih dengan nada kesal.
"Emmmmhhh kalau aku sih kayaknya oke oke aja apalagi kalau yang di jodohkan orangnya ganteng, wajahnya kaya artis artis trus tajir pula. Waaah senangya hidup ku" ucap sahabat Revina sambil membayangkan apa yangbbaru saja diucapkan olehnya.
Revina mengertukan kening karena tak mengerti jalan pikiran sahabatnya. "Orang gila" ucap Revina sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah pesanan sotonya datang Revina dan sahabatnya menghentikan obrolan mereka dan segera menyantap makanan mereka karena jam makan siang akan terasa sebentar sekali jika di pake untuk bergosip ria.
__ADS_1
"apalan nya tukang nga gosip mah"
Selesai makan mereka segera kembali ke tempat kerja mereka. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat mereka bekerja sahabatnya Revina tak henti menggoda dirinya.
"Kalau kamu masih membahas itu lagi aku lakban kamu punya mulut" ancam Revina.
"Ya Allah yang mau jadi manten galak bener" bukannya takut dengan ancaman Revina ia malah semakin gencar menggodanya. "Sekarang aja so soan galak nanti udah merasakan indahnya menikah kau akan lupa dengan apa yang kau ucapkan hari ini"
"Pret" ucap Revina.
"Eh tapi Re, gimana kalau seandainya yang di jodohkan dengan kamu ternyata orang di masalalu mu?" tanya sahabatnya lagi.
Revina melotot mendengar ucapan sahabatnya yang terasa semakin ngawur. "Nggak usah berpikir kejauhan" ucap Revina, walau sebenarnya ia mengamini ucapan sahabatnya.
"Tapi apa Arga akan semudah itu menerima ku kembali setelah aku membohongi dan menyakit dirinya?"
"Yeah siapa tau, tuhan kan maha baik, maha membolak balikan hati" ucap sahabatnya lagi.
"Semoga aja seperti yang kamu ucapakan" Revina berkata lagi dalam hatinya.
"Ehm ehm, jam istirahat sudah habis ya" ucap atasan mereka yang baru saja menghampiri karena mereka terlalu asik bicara sampai lupa melihat jam.
Setelah mendengar teguran dari atasannya mereka segera kembali ke tempat kerja masing masing.
***
Diruangan milik Arga, ia terlihat sedang berbincang dengan Bimo. Mungkin Arga sedang curhat tentang malam minggu kemarin.
"Terus kau maunya gimana?" tanya Bimo.
"saya juga nggak tau Bimo" ucap Arga.
"Jangan bilang kau berniat jadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka" celetuk Bimo membuat Arga tertawa renyah.
"Hahaha sepertinya ide yang kau punya luar biasa Bim" ucapan Arga mampu membuat Bimo mengerutkan keningnya.
"Maksud?" tanya Bimo dengan mata menyelidik.
"Nggak ada salahnya kan kalau aku jadi orang ketiga dalam kehidupan mereka. Toh Shepa juga pernah hadir dalam kehidupan saya dan Revina. Jadi impas dong bener ga?"
"Otak guoblok" ucap Bimo diikuti tawa keduanya. "Ga kanapa kau malah berpikir demikian padahal kedua orangtuamu punya rencana baik. Harusnya kau bersyukur bukan malah memikirkan ide gila maca tadi"
__ADS_1
"Baik apanya? di jodohkan dengan orang yang gak dikenal sama sekali apa itu menutur mu baik? Sepertinya tidak sama sekali" ucap Arga dengan penuh keyakinan.
"Hati hati lho, nanti jatuh cinta sama dia baru tau rasa kau"
"Jatuh cinta?" tanya Arga diikuti gelengan kepalanya pelan.
Bimo mencebikan bibirnya saat melihat ekspresi dan mendengar ucapan Arga. "Ga kau masih ingatkan saat kau menyarankan agar saya menikah dengan Leela? kau masih ingat dengan apa yang saya katakan? saya yakin kau pun akan mengalami apa yang saya rasakan"
"Beda" jabar Arga.
"Kita lihat saja nanti" tantang Bimo.
"Siapa takut?" Arga membalas tantangan Bimo.
***
Shepa sedang berjalan keluar dari kampus, ya memang ia menikah dengan Wiji masih berstatus sebagai mahasiswa.
Meski ia masih sibuk dengan tugas tugas kuliah tapi Shepa selalu berusaha membagi waktu yang ia punya. Wiji tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Justru malah sebaliknya ia selalu berusaha mendukung penuh kegiatan istrinya.
Shepa memandang bangku taman yang sering didudukinya saat ia masih belum menikah. Ia mengingat kembali bagaimana ia bertahan dengan perasaan cinta yang tak pernah terbalas.
Namun kini ia merasa beruntung Wiji telah hadir dikehidupannya. Wiji lah yang selalu mensupport dirinya untuk bisa bangkit dan bertahan. Sampai pada akhirnya ditempat yang sama saat ia menolak Arga, dan tempat itu pula ia menerima ajakan Wiji untuk menikah.
Shepa tersenyum melihat bangku yang jadi sejarah dalam hidupnya. Dering telpon terdengar dari dalam tas yang sedang di dekapnya. Saat melihat nama Wiji yang muncul Shepa langsung mengangkatnya.
"Hallo"
"Sudah pulang sayang?" terdengar suara dari seberang sana.
"Baru saja keluar" jawab Shepa.
"Tunggu ditempat biasa, sebentar lagi aku kesana"
"Apa pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak?"
"Sebanyak apa pun pekerjaan yang sedang menunggu itu semua akan terasa mudah dikerjakan kalau sudah bertemu dengan istri tercinta" ucap Wiji dari sebrang sana terdengar pula tawa bahagianya.
"Lebay, baiklah aku tunggu di tempat biasa"
Sambungan telpon pun berakhir dan Shepa sedang berjalan menuju bangku yang penuh cerita dalam hidupnya.
__ADS_1