Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
24


__ADS_3

Pagi yang cerah di sambut senyum hangat sang surya menambah semangat Arga. Hari ini dia kembali bangun pagi seperti kebiasaannya dulu. Jiwanya yang sudah kembali bangkit terlihat dari cara ia bersikap pagi ini.


Setelah menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan dirumah orang tuanya, Arga terlihat semakin bersemangat.


Senyum itu sudah bisa dilihat kembali di bibir Arga. Sikap jahilnya terhadap adik perempuannya juga sudah kembali. Candaan candaan receh yang dulu sering Arga lontarkan pagi ini pun terdengar kembali menggema di sudut ruangan itu.


Arga yang kini sedang berada dalam mobil, melajukan mobil itu menyusuri jalan dimana ia pernah bertemu dengan seorang gadis yang memiliki kesan pertama sama seperti Shepa.


Meski Arga belum bangkit sepenuhnya dari rasa penyesalan itu, tapi ia tetap akan berusaha. Mungkin jika ada gadis yang mampu membuatnya tertarik untuk mengawali cinta yang batu, ia bisa bangkit sepenuhnya.


Dua jam sudah Arga menyusuri jalanan namun yang ia cari tak kunjung ditemukannya. Setelah membuang nafas panjang secara kasar, Arga memutuskan untuk melanjutkan pencariannya lain kali.


"Jika hari ini aku belum bisa menemukan apa yang aku cari, maka aku akan lebih keras lagi mencarinya nanti"


Sebuah panggilan masuk di handphone Arga yang masih setia mengemudikan mobil hitam miliknya. Setelah melihat nama sang papa yang muncul disana Arga langsung menggeser icon berwana hijau kemudian memasang earphone di telinganya.


Arga dan sang papa sepertinya terlibat percakapan yang cukup penting. Terlihat dari raut wajah Arga yang mendengarkannya secara khusu. Khusu? Solat kali ah.


Panggilan itu di akhiri dengan anggukan olah Arga. "Papa papa, sudah ku katakan berkali kali kalau aku tidak tertarik melanjutkan usaha papa. Masih saja memaksa" ucap Arga.


Arga tiba di kafe miliknya sekitar jam 10:00 kafe tersebut sudah terlihat mulai di padati pengunjung. Meski bukan akhir pekan, kafe ini selalu saja ramai pengunjung.


Senyum bangga akan dirinya yang berhasil mendirikan kafe ini hingga sekarang ia lukisan dibibirnya.


Arga memperhatikan AGB kafe dari dalam mobil. Senyumnya memudar saat penyesalan itu kembali melintas tanpa izin di benaknya.


"Andai aku yang didampingi oleh Shepa, mungkin saja kebahagiaan ini menjadi berkali lipat"


Setelah mengerjapkan matanya berkali kali akhirnya Arga keluar dari dalam mobil dan mulai memasuki AGB kafe.


Beberapa orang yang memang mengenalnya menyapa Arga. Bahkan sempat terjadi beberapa percakapan kecil diantaranya.


"Hari ini aku melihat ada yang beda dari kau Ga?" ucap teman Arga yang kebetulan sering sekali mengunjungi AGB kafe untuk beberapa pertemuannya.


"Beda?" Arga gagal mencerna kalimat yang terlontar dari teman yang persis berdiri disampingnya.


"Haha lupakan saja, tapi aku lebih senang jika kau seperti ini setiap hari" balas teman Arga sambil memperhatikan Arga secara seksama.


Arga yang melihat temannya memperhatikan dirinya mendadak bergidik ngeri. Arga mengira jika temannya itu tidak normal.

__ADS_1


"Sial apa tidak ada lagi makhluk yang bernama perempuan di dunia ini. Yang benar saja" ucap Arga dalam hatinya.


"Iya" balas Arga singkat namun penuh keraguan. Takut jika yang dipikirkannya benar.


Percakapan diantara mereka berakhir setalah Arga sendiri memilih mengakhirinya dengan alasan banyak pekerjaan sedang menunggu dirinya.


Arga meninggalkan temannya, ia sempat menggeleng gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran gila tentang temannya.


"Haaahhh ada ada saja" ucap Arga sambil mendudukan tubuh pada kursi kerjanya.


Sebuah senyum kembali terlukis dibibirnya saat matanya melirik foto yang ada di atas meja. Ya foto itu berisi dirinya dengan Shepa saat ia belum menyadari perasaannya. Foto itu sendiri baru ia pajang saat ia menyadari akan perasaannya namun terlambat karena sang bunga sudah dimiliki oleh kumbang yang datang tepat pada waktunya.


Gila, memang benar Arga sempat berpikir melakukan hal gila untuk merebut kembali bunga itu. Mengingat bahwa sang bunga yang menyimpan begitu banyak rasa untuknya. Tapi ternyata alam tak mengizinkan kegilaan Arga itu terjadi. Sang bunga telah memantapkan pilihan hatinya untuk kumbang yang membuat dirinya merasa dicintai.


"Seperti yang kau katakan waktu itu, aku akan berusaha menemukan kebahagiaan ku kembali. Meski sebenarnya aku masih sangat berharap ada keajaiban untuk bisa membalas rasa mu yang dulu" ucap Arga pada foto dirinya dan Shepa yang sedang tersenyum seolah tak ada beban di keduanya.


"She kau tidak? Rasanya untuk bangkit dari penyesalan ini rasanya sangat sulit sekali. Apa ini terjadi karena kesalahan ku saja? Tidak She, ini terjadi juga karena kau tak mau mengakui perasaanmu lebih dulu." Senyum sinis tersungging di bibir Arga.


"Coba kau terbuka dan mengakui perasaanmu lebih dulu. Dan kenapa tuhan tak mempertemukan aku dan kamu lebih dulu sebelum aku mengenal Revina waktu itu."


"Aaaaaaaaahhhhh" teriak Arga


Arga terkejut saat pintu ruangannya terbuka secara tiba tiba. Sementara pekerjanya juga heran ternyata tidak terjadi apa pun di ruangan atasannya itu.


"Maaf pak" ucap pekerja itu sambil manggut.


Sementara Arga senyum kikuk saat menyadari kekonyolannya tadi. "Iya, kembalilah bekerja, disini tidak terjadi apa apa kok" ucap Arga.


Malu? tentu saja karena kali ini kekonyolannya di ketahui oleh orang lain selain dirinya.


"Semua terjadi gara gara kau" ucap Arga pada foto yang menampakan dirinya dan Shepa, setelah sebelumnya pintu ditutup kembali oleh karyawan yang memergoki dirinya.


***


Sementara di sebuah perusahaan seorang gadis yang memiliki tubuh ramping dengan rambut diikat ekor kuda sedang bejalan cepat menunju ruangan atasannya.


Tangannya mendekap beberapa berkas yang sudah ia periksa lebih dulu sebelum ia serahkan pada sang atasan. Rambut panjangnya yang diikat ekor kuda bergerak kesana kemari mengikuti setiap langkah kakinya.


Suara dari sepatu pentopel yang diguanakannya menggema di lorong yang dilaluinya.

__ADS_1


Langkah kakinya berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan R. CEO.


Tangannya mulai mengetuk pintu ruangan tersebut. Setelah terdengar dipersilahkan masuk dari pemilik ruangan tersebut, tanganya yang lentik itu memutar handle pintu.


"Selamat siang pak" ucapnya sopan sambil sedikit menganggukan kepala sebagi hormatnya pada sang atasan.


Pria yang tengah duduk dibalik kursi kebesarannya itu mengalihkan pandangan dari laptop dan komputer yang menyala dihadapannya.


Pria yang berusia kurang lebih sekitar 58 tahun tersebut membenarkan letak kacamatanya.


"Ledya, silahkan duduk" ucapnya mempersilahkan duduk pada gadis yang bernama Ledya tersebut. "Ada apa?" lanjutnya.


"Ini laporan keuangan dibulan ini pak. Omset perusahaan ini naik 25% dari sebelumnya berkat kerja sama yang berhasil diraih oleh team pak" jelas Ledya.


Pria itu tersenyum bangga. Matanya yang dibingkai oleh kacamata memperhatikan setiap angka yang tertera pada berkas tersebut.


"Baiklah akan saya periksa lagi nanti, terimakasih untuk sudah bekeja keras untu GF commpany" ucap pria tua itu.


Ledya membalas ucapan terimakasih dari atasannya dengan senyum. Setelah selesai dengan tugasnya Ledya memilih undur diri untuk mengerjakan tugas lainnya.


Sementara pria itu tersenyum ringan saat gadis yang bernama Ledya tersebut menghilang dibalik pintu.


"Ku pikir dia pantas untuk Arga, tapi aku tidak boleh terlalu kontras memperlihatkan ini pada Arga. Tau sendiri anak itu bagaimana sikapnya" ucap Galih


.


.


.


.


.


.


.


.Next

__ADS_1


__ADS_2