
Part 1
Apakah malam penuh duka yang terseret nestapa ini akan mereda? Gelayut pekat merah berbaur kilatan yang menari ganas di langit hitam menyembunyikan kilauan gemintang. Kerlingan iris hitam Ernest melangsak di antara derasnya tirai air yang menghantam bumi London. Daun telinganya berdengung akibat ramainya bisikan angin yang berebut untuk menceritakan sesuatu. Ah, Ernest hendak mengabaikan saja kisah dalam bahasa yang tak dikenalnya. Cukup rasa dingin dari pakaian basahnya yang menceritakan bagaimana putaran bumi telah memberinya kisah.
__ADS_1
Berat. Itulah rasa langkah kakinya akibatlelahnya perjalanan hingga ke tanah ini. Memeluk diri sendiri pun tiada memberi secuil kehangatan. Apakah cuaca dan tubuh lemahnya telah membuatnya gentar? Tidak mungkin. Hanya tinggal selangkah lagi ia tujuannya sampai, jadi mana mungkin api ini akan semudah itu padam. Apakah kau mengerti tentang api yang dimaksud? Hasratkah? Semangatkah? Ambisi? Atau mungkin cinta? Ernest sendiri bahkan tak mampu mendefinisikan hal itu agar lebih mudah dipahami. Yang terpenting api itu pantang surut demi seseorang yang harus diselamatkannya. Sejak malam penuh nista dan pengkhianatan, kata bertahan menjadi menu wajib santapan hariannya.
Laju angin yang seperti ditunggangi setan menampar dedaunan tanpa ampun, menghempaskannya hingga terpisah selamanya dari sang induk. Tak mungkin ia akan bersatu lagi, daun itu sudah pasti akan kering dan mati. Fenomena tersebut sanggup menjegal kaki Ernest menyebabkan mantel hitamnya berkibaran dipermainkan angin. Ia tertegun menyaksikannya, memikirkan bagaimana daun itu telah kehilangan arah hanya untuk mati mengering. Selentingan pertanyaan hadir mengusik benak. Apakah daun itu cerminan simbol hidupnya? Yang mana saat ini kompas hidupnya telah luluh lantak.Tuhan maha mengetahui, Ernest yakin itu. Tetapi setelah kejahatan mengerikan yang diperbuatnya, masihkah ia berhak berharap bahwa daun itu bukanlah dirinya? Rasanya seperti tidak tahu diri.
__ADS_1
Jarinya terkait erat di gagang koper, yang enggan ia biarkan merenggang sedikitpun. Terlalu berharga. Lebih dari harta karun. Ada hatinya yang terlelap damai dalam koper besar yang tergantung di lengan kanannya, sedangkan koper kecil berisi kerikil dunia berada di sisa tangannya. Cukup lama ia jaga sang hati yang telah ia lukai dengan pengorbanan teramat besar, yaitu nama baik keluarga dan kepercayaan seorang raja. Tetapi harga itu masihlah sangat kecil karena hatinya yang sedang terlelap merupakanpenopang hidup rasnya.
Matanya tajam memicing pada kastil kuno di ujung jalan kasar ini. Kastil yang berdiri dikelilingi oleh benteng dan sungai buatan terlihat angker dari kejauhan. Tikus pun mungkin tidak memiliki nyali untuk berpesta ria di sana. Terlalu menyeramkan saat matahari enggan berlama-lama di langit. Walau demikian, pelayan setianya pasti telah melakukan sesuatu agar kastil itu layak huni, setidaknya seekor semut masih bersedia bertandang. Ia akan berpuas diri untuk itu jika dibandingkan dengan penginapan kumuh yang selama ini telah ia diami dalam perjalanan menuju ke sini.
__ADS_1
Terpaan keras angin kencang sedikit mengguncang langkah, ia terpaksa berhenti. Dingin menusuk tulang kian menjadi-jadi. Kelu dan sakit. Perjalanan selama dua kali purnama berganti akan mencapai akhir, sedikitnya ia bersyukur walau terasa berat dan perlu menghancurkan pencapaian hidupnya. Tak apa. Ini tidaklah seberapa dibandingkan bencana yang tengah menantinya di sana bersama kekasihnya yang telah mati suri.
Ernest melirik koper besar, lirih doa terlantun tanpa daya untuk seseorang yang tertidur di dalamnya. Hatiku, kekasihku, Eien. Bersabarlah untuk penderitaan yang telah kuberikan. Berharaplah agar Tuhan bersedia sedikitnya berbelas kasih kepada kita.
__ADS_1