
Part 6
Rasanya canggung bagi Adela ketika berdiri kikuk di hadapan Ernest petang ini. Tiada keberanian yang membuatnya sanggup memandang sang bangsawan hanya karena tidak ingin debaran dalam dadanya kian tak terkendali.
Suara ketukan ujung jari telunjuk di atas meja mengisi ruang kerja yang temaram seakan memecah keheningan. Jujur saja Ernest terkesan pada gadis ini. Tidak menduga kalau ia memiliki nyali setelah diliputi ketakutan dan kebimbangan yang kental terlihat kemarin. Entah alasan apa yang menyebabkannya kembali dan mengambil risiko. "Baiklah, sebelum kau menerima pekerjaan ini ... aku hanya ingin memastikan bahwa kau harus mengetahui sesuatu hal. Semua yang kau lihat, dengar, rasakan bahkan apa yang kau pikirkan tidak diizinkan keluar selangkah pun dari kastil ini." Suaranya memang terdengar rendah dan halus, akan tetapi tatapannya yang tajam mempertegas kalimat itu.
"Sa-saya mengerti, Tuaaan." Adela terkesiap, debaran jantungnya masih saja berantakan sejak ia melangkahkan kaki kembali ke dalam kastil. Begitu diterima bekerja ia hanya sanggup menyerahkan keselamatannya kepada Tuhan.
Kalimat Ernest berlanjut. "Dan ... juga tidak akan ada pengampunan untuk setitik pengkhianatan."
Adela menarik napas dalam sambil menyembunyikan tangan yang gemetar dari balik rok gaun lusuhnya. "Ba-baik,
Tuan."
Ketika sang bangsawan tersenyum tipis, ketegangan dalam diri gadis itu melumer bersamaan munculnya rona merah di pipi, karena itu merupakan senyumnya yang pertama kali diperlihatkan sejak dari awal mereka bersua. "Baik, sepertinya kau sudah mengerti." Ernest mengaitkan kedua tangan di atas pangkuan, ingin tahu lebih detil mengenai kehidupan pelayan barunya. "Berapa usiamu?"
"Delapan belas tahun, Tuan."
Pria itu mengangguk sekali. "Dibandingkan dengan usiaku, kau bagai tunas yang baru tumbuh," gumamnya kecil yang menciptakan kerutan tipis di kening gadis itu. "Ceritakan tentang keluargamu." Adela tersentak agak bingung.
"Kemarin kau mengatakan bahwa kau tinggal bersama keluargamu di tepi ibu kota."
Wajar jika bangsawan ini ingin mengetahui seluk beluk pekerjanya. Tak ada yang perlu disembunyikan dari gadis miskin seperti dirinya. Diremas sedikit roknya. "Ya, Tuan. Saya tinggal bersama ibu dan dua orang adik laki-laki." Iris cokelatnya tak dapat beralih dari majikan barunya. Pria bersetelan serba hitam tersebut terus mengamatinya, lebih
__ADS_1
tepatnya mengawasi, dan jelas itu membuatnya bertambah gugup. Seumur hidup ia tidak pernah bertemu bangsawan setampan laki-laki ini. Apakah ia beruntung dapat bekerja di sini? Rasanya itu kesimpulan yang terlalu dini. "Ibu saya sakit keras dan dua adik saya harus bersekolah, Harry berumur sembilan tahun dan Mike dua tahun lebih muda. Kami tinggal di gang sempit pinggir utara ibu kota, cukup dekat dengan bukit ini."
Garis bibir Ernest merapat, sebab kini ia memahami mengapa gadis yang kemarin ketakutan dapat kembali lagi kemari. Ia harap alasan itu cukup untuk membuatnya tertahan di kastil seramnya. "Aku turut prihatin dengan keadaan keluargamu." Ia tulus bersimpati.
"Terima kasih, Tuan. Saya sangat menghargainya." Gadis itu pun tersenyum kikuk.
"Baiklah, mulai hari ini kau bisa bekerja ... atau kau ingin memulai pada hari lain?" Ernest berdiri dan membuka laci meja kerja.
"Ti-tidak. Saya bisa mulai bekerja kapan saja." Adela merasa lebih cepat akan lebih baik. Ia butuh pekerjaan ini.
Ernest mengeluarkan sekantung kepingan uang emas dari laci. "Kemarilah." Gadis itu mengangguk, lantas mendekat ke meja kerjanya. Diletakkan kantung tersebut di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Adela. "Ini setengah upah yang aku janjikan. Sisanya akan kuberikan pada hari pertama minggu terakhir, sedangkan untuk upah bulan depan aku akan memberi setengah pada hari terakhir minggu pertama dan begitu seterusnya. William yang mengurus keuangan rumah tangga kastil ini. Ia yang akan menjelaskan semuanya kepadamu."
"Baik, Tuan. Terima kasih." Adela meraih kantung uang tersebut sambil mencoba menerka dalam hati. Apa sebenarnya pekerjaan yang ditugaskan majikan barunya hingga berani memberi upah sebesar ini? "Apa saja yang harus saya kerjakan? Saya berjanji untuk tidak mengecewakan Tuan."
Adela terkesiap mendapat peringatan halus itu. Sepertinya tuannya masih bisa mengendus keraguan yang sudah susah payah ia sembunyikan. "Sa-saya mengerti, Tuan."
Ernest menegakkan tubuh, menekuk tangan kiri di belakang tubuh tegapnya. "Untuk jawaban pertanyaanmu tadi, aku hanya ingin kau merawat sebuah boneka di kamar utama." Wajah gadis itu terlihat bertanya, lebih banyak unsur heran sebenarnya. "Tidak perlu membersihkan rumah atau memasak. Semua pekerjaan seperti itu sudah dilimpahkan kepada pelayan lain."
"Ha-hanya itu saja, Tuan?" Adela makin tidak mengerti, mengapa ia dibayar mahal hanya untuk mengurus sebuah
boneka. Ini aneh sekali, sungguh aneh! pikirnya.
"Mudah seperti yang terdengar, bukan? Tetapi tidak akan sesederhana seperti apa yang akan terlihat nanti. Ini
__ADS_1
tugas berat, sangat. Aku harap kau benar-benar siap." Kata-katanya kian menyebabkan dahi Adela bertambah lipatannya, terutama hatinya terasa sesak dan ketat oleh kekhawatiran. "Kau akan tinggal di kastil ini untuk mengurus bonekaku ... kau menjaganya saat kegelapan mulai membalut langit dan boleh terlelap saat cahaya menghangatkan bumi."
Kalimat itu benar-benar membuat Adela makin tidak mengerti, ada kegelisahan yang merambat perlahan menguasai benaknya. Pertanyaan demi pertanyaan berdesakan dari dalam hati seolah akan muntah melalui tenggorokan. Kesemua pertanyaan itu hanya membentuk satu inti, yaitu mengenai kondisi kejiwaan pria ini. Namun ia berusaha mengenyahkan semua prasangka untuk tetap fokus. Ia sudah berkomitmen akan menjalani pekerjaan ini apa pun risikonya. Tentu saja, demi uang untuk keluarganya. "La-lalu ... apakah saya diizinkan keluar kastil untuk mengurus keluarga saya?" tanyanya penuh harap. Kedua adiknya masih terlalu kecil untuk merawat ibu mereka.
Tentu saja Ernest keberatan jika dianggap sebagai pemutus ikatan keluarga tersebut demi kepentingannya. Ia tersenyum memaklumi, tak ingin gadis ini salah mengira. "Kastil ini bukan penjara, Adela. Jam tidurmu adalah waktu bagimu untuk beristirahat, tidak harus kau gunakan untuk memejamkan mata. Tetapi ingatlah, kau harus kembali sebelum matahari tenggelam."
Betapa senangnya Adela mengetahui kebaikan hati majikannya. Redup di parasnya sirna berganti suka cita. "Saya
mengerti, Tuan."
Ernest mengambil lonceng di atas meja dan menggoyangnya dua kali. Lonceng tersebut berdenting pelan dan menggema dalam ruangan. Tidak lama terdengar suara ketukan di pintu. "Masuklah."
Seorang pria tua masuk lantas memberi hormat. "Saya, Tuan."
"Kepala pelayanku, William, yang akan menjelaskan peraturan di kastil ini beserta tugas yang harus kau kerjakan
secara rinci." Ditatapnya William. "Will, antar Nona ini untuk mengenali kastil. Aku tidak ingin ia tersesat dan menyebabkan semua orang gelisah. Lalu tunjukkan kamar yang telah disiapkan untuknya. Setelah itu, antarkan ke kamar utama." Dikeluarkan sebuah kunci dari saku jas dan mengulurkan pada kepala pelayan tersebut.
William menyambut sopan kunci tersebut lalu menatap Adela. "Mari, Adela," ajaknya. Pelayan baru itu mengangguk
lantas menghormat pamit pada majikannya.
Sekali anggukan mengantar kepergian kedua pelayannya hingga pintu itu pun tertutup rapat. Kini Ernest hanya berharap kalau gadis itu tidak akan lari ketakutan setelah bertemu boneka istimewanya. Dilirik tirai hitam di belakang tubuhnya untuk memperkirakan waktu yang akan segera menenggelamkan matahari. "Aku harap keputusanku mempekerjakannya adalah hal yang tepat." Ia terdiam memikirkan usia Adela yang masih sangat muda. Usia yang belum memiliki kestabilan emosi. ******* napasnya terdengar berat, cemas menanti sang waktu yang akan menjawab bagaimana gadis itu akan menghadapi situasi di luar akal sehatnya.
__ADS_1