
Part 40
Tepat kala cahaya emas mulai mengintip, Adela terjaga dari lelap. Entah mengapa ia ingin bangun lebih cepat. Pikirannya melayang teringat peristiwa semalam yang bagai mimpi buruk saat mengusap wajah dengan handuk basah yang dicelupkan ke dalam sebuah baki. Benaknya merasa gelisah memikirkan nonanya, karena itu setelah mengenakan seragam pelayan ia bergegas menuju kamarnya. Di aula ia berpapasan dengan seorang pelayan pria yang sedang membersihkan vas bunga. Pelayan yang berbeda dari yang pernah ditemuinya. Di seragamnya terdapat rajutan tangan berupa angka nomor lima tepat di dada sebelah kiri. Saat Adela menyapa, pelayan itu hanya membungkuk hormat tanpa mengucap kata. Begitu pula sepanjang jalan menuju kamar Eien, beberapa pelayan pria sibuk membersihkan kastil di mana juga terdapat nomor rajutan yang berbeda. Setiap kali disapa reaksi mereka juga sama. Sungguh aneh, pikirnya. Ketika sampai di depan pintu kamar, mendadak tubuhnya bergidik. Apakah mereka semua vampir?
Segera si pelayan masuk ke dalam kamar seperti orang yang mencari perlindungan. Napasnya jadi agak sesak, cepat-cepat ditarik udara sedalam mungkin ke dalam palung paru-parunya yang masih kembang kempis. Setelah agak tenang barulah ia memulai tugas. Hal pertama yang harus dikerjakan adalah menutup semua tirai jendela serapat mungkin, maka seketika kamar menjadi gelap. Akhirnya ia mengerti mengapa matahari dapat menyakiti penghuni kastil ini. Didekati nakas untuk menyalakan tiga batang lilin di atas kandelir emas, cahaya redup pun merambat menerangi ruangan.
Setelahnya Adela menghampiri ranjang demi memeriksa kondisi Eien yang terbaring lunglai. Tubuh bonekanya telah mengabadikan gurat kesedihan yang tersisa saat terakhir kali ia meninggalkannya dalam lelap yang memilukan. Sepanjang malam nonanya merintih kesakitan dan mengatakan kalau dadanya seperti terbakar. Sungguh Adela ingin memahami, tetapi semua itu menjadi terbatas karena ketidaktahuannya. Andai ada yang bisa ia lakukan untuk mengurangi sakit itu, apa pun akan ia lakukan. Gadis itu memperbaiki posisi selimutnya seraya tak lepas memandang iras yang terpejam sendu. Napasnya terhela prihatin mengingat betapa menyedihkan nasib sang tawanan jelita. "Semoga hanya ada keindahan dalam mimpi Anda," doanya lirih.Mungkin hanya di alam sana sang boneka dapat terbebas dari derita.
Begitu memastikan semua hal dalam kondisi terkendali, Adela pun keluar dari kamar. Saat menutup pintu, daun telinganya menangkap derap langkah ringan yang mendekat, maka ia menoleh pada selasar di mana Ernest sedang menuju dirinya. Dahi gadis itu berkerut heran mendapati wajah yang lebih pucat dari semalam. “Selamat pagi, Tuan,” sapanya. Hampir tiada pernah Adela menemukan tuannya berkeliaran dalam kastil pada dini hari.
“Selamat pagi, Adela,” jawabnya lemah.
"Tu-tuan? Wajah Anda … apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Ernest hanya mengangguk sekali, pandangannya pun turun ke lantai dan terlihat sangat lelah seolah habis memindahkan sebuah gunung.
"Adakah yang Tuan inginkan? Secangkir teh mungkin? Saya akan segera menyediakannya," tawarnya yang dijawab gelengan lemah. Alis Adela bertaut makin cemas melihat gelagat letihnya. Inginnya membantah, tetapi keberaniannya lebih tipis dari tekadnya.
Ernest melempar pandangan pada jendela yang telah tertutup tirai, bias cahaya pagi sedikit terserap di sana. Kekasihnya pasti telah berbentuk boneka di waktu ini. "Bagaimana keadaan Selia?"
Pelayan itu sedikit ragu untuk mengadu. "Kurang baik, Tuan."Senyum majikannya merekah getir.
Tentu saja, setelah kejadian semalam mana mungkin akan ada berita menyenangkan. Beban yang bertengger di pundaknya semakin bertambah berat karena pusaran tragedi ini dirinyalah yang memulai. “Adakah aku berhak untuk bertanya, kapan semua ini akan berakhir?”
Adela terperangah tidak tahu apa yang ingin diakhiri pria ini. Lalu ia memberanikan diri menjawab pertanyaan yang berkesan retorik tersebut. ”Bila derita, saya harap itu berakhir detik ini juga, tetapi jika itu adalah bahagia, lebih baik kata akhir menghilang selamanya.” Ernest memandang langsung dirinya yang seketika merona malu. “Ma-maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud menggurui, kata-kata tadi hanyalah harapan saya semata.”
__ADS_1
Tatapan mata itu berubah sendu. “Kau baru saja memberikanku pertanyaan baru. Apakah aku berhak bahagia?”
”Semua orang berhak bahagia!” tandas Adela.
“Apakah kau yakin?”
Senyum tipis majikannya yang berkesan sangsi menyadarkan Adela akan sesuatu. “Ten-tentu saja. Mahkluk seperti Anda juga berhak, saya rasa Tuhan tidaklah pilih kasih.”
“Pilih kasih ….” Setelah mengulang dua kata itu pandangan Ernest jatuh ke lantai dan membuat pelayannya kehilangan kata-kata. "Aku lelah sekali, Adela. Biarkan aku berada di sisi Selia."
Semburat merah muncul di pipi Adela. "Ba-baik, Tuan. Saya mengerti,"jawabnya canggung.
Ernest menangkap sikap kikuk itu. "Jernihkan pikiranmu."
Ernest pun meraih gagang pintu kamar. "Jangan ragu untuk membangunkanku saat kau harus menjalankan tugas." Begitu pelayannya mengiyakan, ia masuk ke dalam kamar dan menemukan tubuh Eien yang terkulai terbuai mimpi. Perlahan ia duduk di tepi ranjang, mengusap keras wajahnya sendiri, kemudian menatap mata Eien yang sedikit terbuka. Untuk sekian lama tiada rangkaian kata yang teruntai, hanya ada ratapan sendu yang enggan lepas dari iras sang kekasih. Hingga pada akhirnya rasa malu tak kuasa menamparnya untuk tahu diri. Iris hitamnya pun beralih pada semua jemarinya yang tampak seolah dipenuhi darah para korbannya. Apakah ia masih memiliki muka untuk berdiri tegak di hadapan hatinya? Sedangkan seisi kalbunya telah luluh lantak, namun ia berusaha bertahan dalam kehancuran. Garis bibirnya pun gemetar saat akan memuntahkan sedikit kekalutan dan rasa bersalah. "Maafkan aku, Eien. Maaaaaf ... aku sungguh terkutuk! Sungguh. Bahkan aku tidak memiliki hak atas ampunan Tuhan," desisnya.
Tertunduk kaku Adela masih berdiri di depan kamar Eien. Akhir seperti apakah yang akan dialami majikannya bila memikirkan betapa pelik hubungan dan keadaannya? Napasnya terhela berat demi menanti jawaban itu. Kakinya pun beranjak dari sana sebab berbagai tugas telah menanti. Hal pertama yang harus dikerjakan ialah memastikan cahaya matahari gagal menembus seluruh benteng tirai hitam. Setelahnya baru mengurus ternak.
Kini Adela berada di pekarangan belakang tepat di kandang ayam. William memintanya merawat hewan-hewan itu karena tak dapat melakukannya pada siang hari. Kini barulah ia mengerti mengapa ada begitu banyak bangkai ayam yang kehabisan darah, tubuhnya langsung bergidik ngeri. Selesai memberi pakan ternak, Adela masuk ke dalam ruang pendingin untuk menabur garam pada balok es agar tidak mencair terlalu cepat. Kalau suhu ruangan naik maka akan buruk akibatnya pada kualitas darah yang tersimpan. Namun ada hal yang mengusik benaknya, yaitu botol darah milik nonanya telah terisi kembali. Seingatnya, waktu lalu William telah membuang isi seluruh botol tersebut setelah mendapat perintah dari tuannya. Padahal sejak terjadi kasus pembunuhan seorang wanita tuna susila isi persediaan botol yang tidak bertanda silang masih penuh dan William tidak melakukan pemotongan lagi.
Lalu jika botol-botol selain milik nonanya terisi dengan darah ayam, apa yang diisi ke dalam botol bertanda silang ini padahal tidak ada pemotongan hingga hari ini? Selentingan perasaan tidak enak menghantuinya mengingat betapa pucat wajah tuannya tadi. Jika mereka hanya mengonsumsi darah ayam, mengapa botolnya harus dibedakan? Bukankah ini aneh. Adela menggeleng keras, berusaha mengenyahkan segala prasangka buruk yang terlanjur menggerogoti benak.
Sepanjang jalan menuju rumahnya di pinggir kota kegelisahannya belum juga surut. Bagaimana bila ada kenyataan yang lebih menakutkan mengenai majikannya? Apakah kasus pembunuhan wanita tuna susila itu ada kaitannya dengan sang bangsawan? Bibir Adela tergigit kuat. Bagaimanapun, menghilangkan nyawa seseorang demi kebaikan orang lain bukanlah tindakan yang patut dibenarkan. Dalam kegamangan yang mengalihkan kesadaran, ia sampai kehilangan pendengaran ketika seorang wanita paruh baya berseragam biarawati menyapanya.
“Oh! Adela! Adela! Adelaaa?”
__ADS_1
Gadis itu tersentak saat tangan si penyapa meraih pundak dan dengan lembut mengguncangnya. Dipandang agak bingung wanita itu beberapa saat lantas mengenalinya sebagai kepala biarawati. "Sister Maria!" Segera saja ia memberi hormat tanda tata krama. Adela mengenalnya sejak kecil karena gereja Maria tidak jauh dari rumahnya. Baginya cukup aneh menemukannya berkeliaran di pasar saat siang hari, sebab biasanya Maria hanya berdiam diri di dalam asrama untuk mengurus anak yatim yang terlantar serta mendidik para biarawati muda. "Suatu kebetulan bertemu Anda di sini, tidak seperti biasanya," ungkapnya heran.
Maria hanya tersenyum hingga membuat kerut wajahnya makin terlihat jelas. Tubuhnya tidak lebih tinggi dari Adela, karena itu ia agak menengadah menatapnya. "Kudengar kau sudah mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di kastil bangsawan yang baru pindah. Aku harap mereka memperlakukanmu dengan baik."
Adela mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, Sister. Mereka adalah orang-orang berhati baik. Saya bersyukur diberi kesempatan bekerja di sana."
"Syukurlah," sahutnya sambil menepuk lembut pipi gadis itu. "Bagaimana keadaan ibu dan adik-adikmu?"
"Mereka dalam keadaan sehat, Sister. Terutama ibu. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan untuk berkah-Nya. Oh, ya! Apa yang sedang Sister lakukan di sini? Tidak seperti biasanya Sister keluar asrama." pertanyaannya merubah air muka Maria menjadi pucat bercampur cemas seperti teringat akan tujuan awalnya. Mendadak rasa takut hinggap seolah akan mendengar kabar buruk darinya. "Ada apa, Sister?"tanyanya prihatin.
Walau sempat ragu karena enggan membebani Adela, pada akhirnya Maria pun menjawab jua. "Ini soal Sister Sanya.”
Dahi Adela berkerut. “Ada apa dengan Sanya?” Ini mengherankan, sepengetahuannya Sanya hampir tidak pernah membuat masalah.
Bibir Maria tergigit sesaat. “Sejak semalam gadis itu menghilang."
Sempat tertegun, selentingan perasaan tidak enak membuat jantung Adela berdegup keras. "Mu-mungkin saja Sanya sedang menginap di rumah seorang teman."
Maria menyangkal, matanya yang hijau tampak semakin cemas karena sepertinya Adela juga tidak memiliki petunjuk mengenai keberadaan Sanya. "Aku tahu Sanya memang memiliki banyak teman dan aku juga terlalu mengenal watak anak itu. Aku tidak yakin ia bermalam di rumah orang lain, ia terlalu sungkan bila harus merepotkan mereka. Andaikan benar begitu, pastinya ia akan meminta izin terlebih dahulu atau jika memang mendesak sebuah pesan akan tergeletak di atas mejaku." Ia mendesah risau. "Terakhir kali sister lain melihatnya tengah berada seorang diri di dalam kapel semalam. Sejak saat itu ia tidak kembali ke asrama."
Pelayan itu meraih tangan Maria, membelainya selembut mungkin untuk membuatnya merasa nyaman. "Tenanglah, Sister. Tidak akan terjadi hal buruk pada gadis sebaik Sanya. Semua orang di kota ini menyayanginya. Tuhan pun begitu. Pastinya ia akan baik-baik saja. Aku akan berdoa untuk kebaikan dan keselamatannya.”
Kepala Maria terangguk kaku, senyumnya masih terasa getir dan bibirnya sedikit bergetar tanda sisa kekhawatiran. "Terima kasih, Adela. Aku pun akan berdoa untukmu. Aku tahu Sanya merupakan sahabat baikmu, kalau ada masalah ia pasti akan datang menemuimu. Jika hal itu terjadi kumohon katakan padanya bahwa aku mencemaskannya."
"Pasti, Sister," janji Adela. Setelah mengatakan hal tersebut Maria pamit dan berlalu meninggalkannya untuk terus mencari anak didiknya. Adela hanya mendesah iba bercampur khawatir. Tanpa sadar matanya ikut berkeliling melihat orang-orang yang berlalu-lalang di pasar. Mungkin saja Sanya tengah berjalan di antara mereka, namun yang ditemukan hanya kehampaan. Kakinya mulai melangkah demi menemui kedua adik dan ibunya demi memasakkan makan siang serta bercengkerama beberapa saat. Meski sebenarnya ia hanya ingin memastikan keluarganya dalam keadaan aman sekaligus memperingatkan kedua adiknya untuk berhati-hati, mengingat mereka sering kali bermain di luar rumah hingga petang di mana pembunuh misterius yang mengincar darah belum jua tertangkap. Ia harap hilangnya Sanya tidak ada kaitannya dengan pembunuh itu. Rasa gelisah yang tak menentu mengendalikan kakinya untuk melangkah lebih cepat.
__ADS_1