Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
7. Sang Pelayan Boneka


__ADS_3

Part 7


Adela membuntuti William melewati koridor. Nuansanya masih sama seperti kemarin, remang dan gelap di beberapa sudut. Hanya ada penerangan dari beberapa lilin yang menyala dalam lentera kaca yang indah berbentuk prisma kristal tampak melekat di dinding. William melirik gadis itu. "Aku turut gembira atas pekerjaan yang dapatkan di sini. Selamat datang, Adela."


Adela membalas dengan senyum canggung. "Ah, terima kasih."


William mengangguk pelan walau sejujurnya agak ragu akan kemampuannya. Tetapi ia meyakinipenilaian tuannya. Mereka sempat membahasnya kemarin malam dan mencapai kesimpulan, bahwasanya gadis ini masih memiliki


potensi untuk memiliki keterikatan kepada sang boneka. Semoga saja keluguannya tidak menyebabkan masalah setelah bertemu wanita itu. "Baiklah, aku akan menunjukkan ruang tamu, ruang makan, dapur dan kamar milikmu. Ada ruang bawah tanah di kastil ini, akan tetapi kau tidak boleh ke sana. Tempat itu terlarang untuk siapa pun. Tentu saja hanya tuan yang boleh berada di sana," jelasnya.


Wajah Adela terangkat mendengarnya. Ruangan yang seperti apa isinya hingga harus melarang siapa pun memasukinya? Sudah pastibulu tengkuknya jadi berdiri semua.


Selesai melewati aula utama, mereka menuju ruang keluarga. William membuka pintu ganda putih berukir emas yang menyajikan sebuah ruang besar berhias sofa-sofa mewah, meja dari kayu yang wangi, sebuah jam antik di sudut ruangan dan perapian yang melekat di dinding. Permadani indah terhampar bersama bantal-bantal di depan perapian tadi. Hanya saja keindahan ruangan ini juga terbalut kegelapan. Jendela-jendelanya pun tertutup tirai hitam.


Benak Adela makin terusik untuk menyinggung permasalahan yang jelas nyata dalam kastil ini. "Kenapa ... gelap sekali?"

__ADS_1


Sejenak William bergeming, lalu berbalik pelan menatap serius gadis itu. Adela yang hampir saja menabraknya segera mundur, ujung kepalanya saja hanya sampai di batas dada William. "Jangan pernah membukanya pada waktusiang hari," tekannya memperingatkan.


Mata besar William seolah berkilatan di dalam ruang gelap ini, menyebabkan Adela menenggelamkan kepala sedalam mungkin di lehernya. "Kenapa? Bukankah tidak baik menghalangi sinar matahari masuk ke dalam rumah? Setidaknya kastil ini membutuhkan kehangatan. Sinar matahari pagi baik untuk kesehatan," dalih Adela, suaranya nyaris tidak terdengar karena rasa takut. Suasana kastil yang sama sekali bertolak belakang jika dibanding dengan kastil-kastil bangsawan lain membuatnya bergidik. "Kastil ini dingin sekali ... dan menyeramkan," gumamnya tak nyaman.


William mengangkat wajah yang kian serius, kaku dan memberi penekanan yang kuat. Bola matanya bergulir ke bawah demi memandang wajah Adela. "Sinar matahari berbahaya untuk Tuan Hornest."


Sontak saja yang tadinya Adela merasa takut berlanjut menjadi terkejut. "Apakah tuan sakit?" Hanya sampai di situ


kesimpulannya seraya mengawasi bagaimana cara pria tua itu melirik ke arah jendela; lamat, dingin dan berhati-hati.


"Sinar matahari akan menyakitinya. Aku harap kau benar-benar memperhatikan hal itu. Jangan biarkan setitik sinar masuk ke dalam bangunan ini," wanti William yang lekas disambut anggukan. Bagi Adela sudah jelas sekali pemilik kastil ini penuh akan hal-hal mengejutkan. "Akan tetapi, kau boleh membukanya saat malam tiba." Kemudian William mengajaknya berkeliling serta meminta gadis itu untuk mengingat jalan dan ruangan yang dijelaskannya. Tibalah mereka sampai di dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. "Ini kamarmu. Aku harap kau merasa nyaman di sini," ungkapnya dengan bibir sedikit melengkung aneh. Untungnya Adela masih dapat mengartikannya sebagai sebuah senyuman. Walau tetap berkesan seram.


"Sebaiknya kau mengikuti peraturan kastil ini," ingatnya lagi.


Tentu saja, Adela masih harus tersenyum mengerti. "Oh, baiklah," serunya seraya duduk di atas ranjang, mencoba seberapa nyaman kasur barunya. Begitu duduk, pantatnya hampir tenggelam di sana. Ia jadi terkesan bukan main, betapa nyaman ranjang ini diduduki. Rasanya sedikit tidak adil jika ia menikmati semua kenyamanan ini sendirian. Keluarganya juga harus merasakannya. Oleh karenanya ia berjanji pada dirinya untuk bekerja lebih giat. Tingkah kampungannya membuat ia tersipu malu saat menatap William. "Ah, maaf." Terbesit dalam benaknya akan sesuatu hal mengenai kastil ini. "Aku tahu nama dari tiap kastil yang berdiri di sekitar wilayah ibu kota, seperti kastil Evergreen milik Duke Hangmilton atau kastil Song of the Rain milik Lady Scarletta. Beliau memberi nama kastilnya seperti itu karena ketika hujan sedang turun ia sering mendengar kastilnya yang seolah-olah bernyanyi. Menakjubkan, bukan! Lalu bagaimana dengan Tuan Hornest? Nama apakah yang diberikan tuan untuk kastil ini?"

__ADS_1


Pertanyaan menarik, ternyata gadis kecil ini cukup cerdas juga karena mampu mengatasi semua keanehan kastil dengan cukup baik sejauh ini. Atau mungkin ia terlalu bodoh untuk menyadarinya? Tetapi rasanya mustahil. Semua akan terjawab begitu ia bertemu sang inti dari kastil ini. Untuk menjawab pertanyaan tadi kepala William sedikit miring karena mencoba mengingat ucapan tuannya. "Tuan Hornest memberi nama kastil ini ... Bloody Rosie."


Seketika mata Adela melebar, senyumnya pun perlahan sirna. "Mawar ... berdarah." Baginya itu nama yang cukup


memberikan kesan horor. Nama itu benar-benar mewakili seluruh tragedi yang pernah terjadi di sini. Rasa nyaman di pantatnya sudah tidak terasa lagi sejak mengetahuinya. Rupanya majikannya memiliki selera yang tidak biasa dan membuatnya agak merasa serba salah hingga mengusap tengkuk.


William berbalik menuju pintu. "Sekarang kita temui tugasmu." Inilah saatnya. Penentuan yang dinantikan oleh tuannya. Jika gadis ini ketakutan dan mencoba lari, maka akan dipastikan ia tak akan pernah bisa mencapai keluarganya lagi.


Adela terkesiap dari lamunan anehnya. Sudah saatnya ia bertemu dengan boneka yang menjadi penyelamat hidupnya. Ia sendiri tidak ingin memikirkan lebih jauh mengenai alasan tuannya memberikan nama Bloody Rosie. Satu-satunya logika yang ia pikirkan hanyalah kebun bunga mawar merah yang tumbuh di halaman kastil serta yang merambat memenuhi dinding benteng bagian dalam.


Mereka kembali ke aula, menaiki tangga dari sana, lalu berbelok ke kiri, dan masuk dalam koridor. Kini mereka berdiri di depan pintu ganda kamar utama, William memasukkan kunci, memutarnya dua kali. Adela tidak mengerti,jika di dalam hanya ada sebuah boneka, mengapa harus mengunci pintunya? Terlebih mengapa butuh seorang pelayan pribadi untuk mengurusnya? "Masuklah ke dalam, kau akan melihatnya."


"A-apa boneka ini sangat istimewa?"


Kesan bangga terpancar kuat dalam rona sang kepala pelayan. "Beliau adalah yang teristimewa."

__ADS_1


Adela terhenyak. Beliau? Dikerjapkan kedua mata mencoba sadar dari pemikiran, rasa penasarannya akan berakhir setelah ia masuk ke dalam kamar. Kaki kecilnya melangkah masuk, matanya terbelalak saat melihat ruangan yang lima kali lebih luas dari kamarnya tadi. Semua barang mewah dan berkelas seni tinggi menghiasi kamar. Meja rias, lukisan, permadani, vas bunga, patung dewi, sofa merah bercorak bunga dari beludru, rak buku, lemari pakaian yang begitu besar dan kandil yang berkilau keemasan. Begitu mewah dan elegan, hanya saja sama seperti ruang lainnya, jendela kaca kamar ini juga tertutup tirai hitam. Ia menoleh ke kanan, menemukan kamar mandi yang cukup besar di sana. Kamar mandi di dalam kamar? Itu menakjubkan, batinnya. Lalu dilanjutkan langkahnya lebih dalam untuk melihat ranjang besar yang tadi terhalang dinding kamar mandi. Ada tirai jingga pada ranjang kayu tersebut. Lekukan tirai menutupi paras yang duduk bersandar bantal. Mata William nyalang mengawasi seraya mengikutinya dari belakang. Langkah Adela terhenti tepat di depan ranjang ketika melihat boneka yang dimaksud tuannya. Tiba-tiba napasnya seperti berkejaran, kedua kakinya gemetaran, dan suaranya tersendat di tenggorokan.


Boneka wanita berambut hitam tergerai sedang duduk di ranjang dengan tangan terkulai di kedua sisi tubuh. Kepalanya tertunduk dan matanya setengah terbuka. Sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya hingga batas dada.


__ADS_2