
Part 38
Lintasan bayangan dari masa lalu akan sosok penting itu ternyata masih jelas melekat. Cukuplah aneh bila dirinya yang ditengarai telah menderita kutukan air mata nyatanya masih memiliki kenangan. Apakah penculiknya telah mengada-ada mengenai penyakitnya? Atau memang kutukan itu belum memakan dirinya seutuhnya? Semua masih serba tanda tanya. Ternyata bukan hanya pelayannya saja yang telah diserang oleh jutaan pertanyaan, tetapi dirinya sendiri juga diliputi oleh berbagai misteri. Semua hal yang terjadi jelas karena pria ini yang enggan berbagi informasi. Eien jadi menghela ringan, memilih mengesampingkan jaring ingatan rusak yang belum jelas kepastiannya. “Ingatanku layaknya setetes hujan di musim kemarau, Hornest. Janganlah berharap lebih. Akan tetapi bisa kukatakan bila menyoal guruku, entah mengapa sosoknya sejernih pantulan bulan di atas danau yang tenang.”
Jawaban itu membawa harapan sekaligus kegetiran dalam benak Ernest. Tetapi ia perlu tahu gambaran jelas sosok yang dimaksud. “Seperti apa sosoknya?” tanyanya di mana jantungnya jadi berdebar keras. Bisa dilihat kalau ada kilat rasa penasaran di sana. Sepertinya jawabannya begitu penting.
“Beliau nyaris serupa denganmu, hanya saja … warna rambut kalian bagaikan siang dan malam.”
Ernest bergeming sesaat karena ternyata sosok itu bukanlah seperti yang diduga. Walau agak kecewa, tetapi rasa ingin tahunya malah semakin menjadi, sebab guru yang dimaksud kekasihnya tidak ditemukan dalam data pengetahuannya. “Bolehkah aku tahu siapa beliau?”
“Ada kemungkinan kau mengenalnya.”
“Benarkah?”
“Ya. Beliau adalah seorang bangsawan terhormat yang menyandang gelar guru besar istana.”
Pernyataan itu makin membingungkan Ernest, karena sesungguhnya ia tahu siapa yang sedang menyandang gelar tersebut. “Guru besar istana?”
“Ya, benar. Beliau berasal dari keluarga terpandang yaitu Cloudius, nama beliau adalah Leon Holise Cloudius.”
__ADS_1
Ernest terpana. Cloudius? Leon? Iris matanya yang melebar berubah penuh tanda tanya sebab nama tersebut memang tidak asing, bahkan sangatlah akrab. "Ayah? Kau mengenal ayahku?" Bagaimana mungkin? Baginya ada yang janggal di sini.
Ayah? Alih-alih terkejut justru Eien malah terperangah, tidak mengira akan bertemu sosok yang dinanti gurunya. "Benarkah kau putra Guru Leon?" Serta merta ada aliran kegembiraan yang membuncah dalam benaknya kala teringat terakhir kali Reinna, istri gurunya, tengah mengandung. Vampir cantik berambut hitam yang sempat membuatnya mengenal rasa iri. Walau begitu fakta ini adalah sebuah suka cita “Aku tidak mengira akan lahir seorang putra. Sungguh sebuah berkah untuk guru. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi seharusnya aku ada saat pemberkatan dirimu di istana. Atau mungkin aku hanya tidak bisa mengingatnya.”
Ernest hanya terdiam kaku sebab tahu kalau pada saat sebelum ia lahir, sang putri telah dikabarkan telah menghilang. Oleh karena itu, absennya kehadiran wanita ini menjadi buah bibir yang santer beredar di kalangan para bangsawan. Isi dadanya bergemuruh sesak saat Eien yang tengah takjub menyentuh pipinya tak mungkin tahu.Semua jawaban itu berada di ujung bibir namun tak mampu terucap semudah air hujan yang jatuh dari langit.
Ketika tengah menikmati sosok yang sangat dirindukan dari iras Ernest, segala macam aliran pertanyaan menerjang dalam kepala Eien sehingga lengkungan garis matanya menyiratkan rasa perih dan getir. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau torehkan arang hitam pada kehormatan guruku?" lirihnya.
Pertanyaan yang begitu menusuk hingga mata Ernest terpejam erat karena harus terbungkam lagi. Dan entah mengapa, sentuhan lembut jemari yang dingin itu lebih tajam dari sembilu yang mampu menembus dalamnya relung jiwa. Bukankah ia meyakini bahwa apa yang terjadi pada kekasihnya adalah tindakan yang terbaik? Iris hitamnya perlahan terlihat dan jatuh menuju lantai tanpa daya. "Antarkan Selia ke kamarnya," pintanya tertuju pada Adela.
Pelayan itu mengangguk patuh tak enak hati karena telah menjadi pembuka percakapan yang sensitif. "Baik, Tuan.” Didekatinya Eien. “Mari, Nona."
Senyum tipisnya merekah iritseraya menggeleng kecil tak mempersalahkan. "Beristirahatlah."
Walaupun bibir Eien telah terbungkam, awan mendung masih bergelayut di sana. Agak sulit baginya untuk memahami bagaimana mungkin keluarga terpandang seperti Cloudius membiarkan keturunannya melakukan hal gila seperti ini. Apakah guru tidak pernah datang untuk menyelamatkanku karena terlibat skandal ini? Atau karena sang pelaku adalah putranya maka ia tidak berkutik? Lalu bagaimana dengan Paman Helius sang jendral besar dari keluarga Vorta? Apakah paman kesulitan mencariku? Perkara ini terlalu rumit hingga membuatnya menyerah menemukan jawabannya. Setidaknya untuk saat ini. Meski begitu ia yakin kalau putra gurunya pasti memiliki alasan yang tepat hingga rela menjadi pesakitan. "Selamat malam, Hornest." tukasnya menutup percakapan yang dijawab anggukan kecil.“Mari, Adela.”
“Ya, Nona.” Walau tuannya tampak terluka, namun Adela dapat melihat bahwasanya kobaran api dan dinginnya salju perlahan telah padam dan melumer dalam diri sang nona. Setidaknya masih ada harapan untuk tuannya. Tuhaaan, hamba harap hubungan mereka segera membaik.
Eien pun menaiki anak tangga, meninggalkan luka yang kembali menganga dalam hati Ernest, yaitu duka mendalam terhadap mendiang ayahnya. Namun segera dienyahkan perasaan tidak mengenakkan itu dengan mengalihkan perhatian pada pelayannya yang akan menyusul Eien. "Adela,” panggilnya. “Setelah ini datanglah keruanganku. Ada hal yang harus kusampaikan."
__ADS_1
Pelayan itu langsung memberi tanda mengerti kemudian undur diri dan mengekor nonanya.Di koridor Adela memperhatikan punggung nonanya yang tampak kaku, selayaknya seseorang yang sedang berpikir resah. “Nonaaa,” panggilnya.
“Ya?” sahut Eien yang melambatkan langkah.
“Sepertinya Nona sangat peduli dengan guru Nona.”
“Tentu saja, Adela. Kenapa engkau bisa berkata seperti itu?”
“Karena Nona sempat salah mengenali tuan saat di hutan. Sepertinya, Nona juga sangat merindukannya.”
Langkah Eien tersendat tepat di sisi jendela besar, iris biru kristalnya teralih pada bulan yang mengintip di balik awan. Warna keperakan itu serupa rambut gurunya. “Itu karena aku sangat mencintainya, menyebabkan rindu yang mengusir akal sehat.”
Adela jadi tertegun, kemudian turut melempar pandangan ke luar jendela, melihat bulan yang bercahaya keperakan. “Cinta?”
“Ya. Cinta,” ulang Eien yang merasakan sensasi deja vu. Tetiba pandangannya berubah buram, telinganya berdenging nyaring, dan tanah yang dipijaknya seolah bergoyang membuyarkan keseimbangan. Suara dirinya yang mengulang kalimat ‘Karena aku mencintaimu, Guru’ terus terngiang. Terdengar begitu pilu sampai menusuk dasar kalbu. Dadanya yang terasa perih terenggut kuat. Apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa suara-suara itu bagian dari ingatanku? Tetapi mengapa aku tidak bisa mengingat dengan jelas? Dan perasaan apa ini? Rasanya benar-benar sakit! Setiap kali terngiang, rasanya ribuan bara api sedang mendidih dalam dada.
Perhatian Adela teralih pada tubuh Eien yang goyah. “Nona! Anda baik-baik saja?” tanyanya cemas.
“Entahlah, Adela.”
__ADS_1
Gadis itu langsung merangkul sebelah lengan Eien demi menopangnya. “Sebaiknya Anda segera beristirahat. Malam ini adalah malam yang berat untuk Anda. Mari, Nona.”