
Part 43
Ronie lekas menjelaskan situasinya karena tidak ingin dianggap sebagai penyusup atau laki-laki mesum yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar seorang wanita. Reputasi buruk tentu akan menghancurkan martabatnya sebagai seorang aristokrat. "Oh, astaga! Maafkan atas tindakan cerobohku. Sungguh aku tidak bermaksud lancang, hanya saja aku mengalami kesulitan menemukan seseorang di dalam mansion ini." Bibirnya berucap tetapi ekor matanya melirik ke arah ranjang, terheran karena seseorang yang terbaring di sana tampak tidak terusik oleh keributan ini. ”Tetapi aku lega, akhirnya seseorang datang menemukanku,” kilahnya.
Bila dilihat dari situasi sepertinya Ronie belum menyadari kondisi nonanya. Maka dari itu tanpa ragu ditarik lengan Ronie untuk segera keluar dari kamar. "Maaf, Tuan. Tetapi Anda tidak boleh berada di sini. Ayo, kita keluar!" tegasnya berbisik yang dituruti hingga mereka turun ke lantai bawah lalu berbicara di sana.
"Jadi penjelasan apa yang akan kuterima dengan semua keanehan ini?" tanya Ronie. Ujung jari telunjuknya berputar di tempat seolah menunjuk ke segala isi ruangan. Sikapnya seolah mengatakan bahwa kondisi kastil ini tidaklah lumrah.
"I-ini hanyalah kelalaian. Saya lupa membuka seluruh tadi tirai pagi," dalih Adela.
Sebelah alis Ronie terangkat seraya memajukan wajah ke arah gadis itu karena jawabannya terdengar tidak masuk diakal. "Benarkah?" Anggukan gugup si pelayan justru semakin menambah kecurigaannya. "Tidak adakah pelayan lain yang bisa mengerjakannya? Mengingat sudah terlalu lama semua tirai tertutup dari pagi hari hingga petang ini."
Adela menggeleng canggung. "Ti-tidak, saat ini hanya ada saya saja di sini."
Lagi-lagi sebuah jawaban yang janggal. Ditegapkan tubuhnya kembali, kali ini kedua belah alisnya terangkat. "Kau tahu bahwa itu terdengar aneh, bukan?"
Gusar. Isi kepala pelayan mungil itu jadi terbakar karena harus terus mencari alasan. Tetiba matanya mengerling seperti mendapat ide. “Ah! Kepala pelayan sedang menemani tuan keluar sejak tadi pagi bersama … emm … beberapa pelayan tentunya.”
Dahi Ronie jadi berkerut dalam. Walau alasan itu terdengar mengada-ngada ia sebaiknya memilih untuk tidak mengusik lebih jauh hal yang bukan urusannya. "Baiklaaah." Nada suara sangsinya membuat Adela semakin jengkel. "Di ruang barusan kalau tidak salah mengira aku sempat melihat Lady Cloudivious. Bukankah hari hampir menjelang petang, tetapi mengapa ia masih terbaring di ranjang? Daaan- dalam ruang segelap itu. Apakah itu kebiasaannya?"
Pertanyaannya yang sangat menjurus dan terlalu berterus terang semakin mengusik ulu hati. Tangan Adela sampai terkepal kuat di belakang tubuhnya demi berusaha keras menjaga tata krama, bahkan senyum ramahnya masih diusahakan tetap bertahan. "Anda salah mengira, Tuan. Nona bukanlah pemalas seperti yang Anda pikirkan. Hanya saja hari ini nona merasa kurang sehat. Saat sedang beristirahat beliau tidak berkenan diganggu oleh apa pun, karenanya saya sengaja membiarkan tirainya tertutup agar cahaya matahari tidak mengusik tidurnya." Sungguhlah ia terkejut pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak, kebohongan terbang dari bibir mungilnya laiknya sair lagu yang merdu.Tanpa sadar ia melangkah mundur sambil tertunduk mengenyahkan sesal akan tabiat barunya.
__ADS_1
Bibir Ronie merapat tipis memikirkan sesuatu yang terbaca dari sikap kikuknya. Mungkin saja memang benar apa yang dikatakannya, hanya saja perilakunya justru malah menunjukkan hal sebaliknya. Namun sementara ini akan diterima alasan tersebut. "Oh, benarkah? Wah, kalau begitu aku pasti telah mengganggunya tadi. Aku sungguh menyesal. Tolong, bila kau tidak keberatan, sampaikan permintaan maaf dan penyesalan terdalamku kepada Lady Cloudivious. Plus ….” Kedua alisnya terangkat. “Aku juga akan khusuk berdoa demi kesembuhannya."
Sikapnya menunjukkan seolah doanya sangat dibutuhkan. Ingin sekali Adela menendang tungkai kakinya demi memuaskan rasa muaknya. Tetapi pilihannya saat ini hanyalah mengangguk secepat mungkin. "Baik. Saya tidak keberatan, Tuan."
Mata bangsawan itu terpejam sejenak seolah tengah menimbang sesuatu. Sebenarnya ia agak kecewa karena gagal bercengkerama atau sekadar menyapa sang lady yang kini sedang menjadi topik pembicaraan dikalangan para bangsawan. Apalagi tujuan utamanya rupanya juga tidak dapat terlaksana karena sang
tuan rumah sedang bepergian. Begitu matanya terbuka, napasnya terhela panjang. “Sungguh disayangkan, sepertinya kunjunganku kemari sia-sia belaka.”
"Jika Anda ingin menemui Tuan Hornest saya sarankan datanglah ketika langit telah gelap, karena pada waktu tersebut tuan pasti sudah berada di mansion. Tetapi sebelumnya saya berharap Tuan memberi kabar atau membuat janji terlebih dulu agar kejadian seperti ini tidak terulang."
Teguran halusnya sedikit menyadarkan Ronie akan tata krama. "Kau benar. Maafkanlah tindakan gegabahku ini. Kalau begitu sebaiknya aku pergi saja, masih banyak urusan yang menanti. Dan, tolong sampaikan pada Duke Cloudivious bahwa aku sungguh malu serta memohon maaf atas kejadian ini. Kuharap beliau bersedia mengatur waktu dan mengundangku datang di sela kesibukannya," sesalnya meski rautnya sama sekali tidak menunjukkan hal itu melainkan tampak seperti pemuda kasmaran yang patah hati.
"Terima kasih, Adela."
"Kalau begitu mari saya antar, Tuan." Diiringi Ronie hingga menaiki kereta, memastikannya meninggalkan kastil dan tidak kembali apa pun alasannya. Begitu gerbang tertutup napasnya terhela panjang. Meskipun demikian kekhawatirannya kian bertambah karena keanehan kastil ini pasti membekas begitu dalam. Walau Ronie Stoner seorang flamboyan namun Adela yakin ia bukanlah jenis pria yang suka menyebar rumor tak sedap. Ronie tidak sebodoh itu untuk menciptakan musuh baru yang belum diketahui kekuatannya. Dan lagi, bangsawan itu memang benar, langit hampir memerah, ada baiknya ia lekas bersiap melaksanakan tugas. Saat sedang menutup pintu mendadak terdengar dari belakang suara seseorang yang bertanya.
"Apakah ia sudah pergi?"
Gadis yang tersentak itu langsung membalik badan dan menemukan majikannya berdiri di ujung tangga. "Tu-tuan! Anda mengejutkan saya," desisnya sambil menarik napas dalam sembari mengusap dada karena jantungnya berdebar laiknya tabuhan gendang perang. Belum usai ketegangan menghadapi Ronie reda malah ditambah kehadiran yang tidak disadarinya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menakutimu," sesal Ernest.
__ADS_1
Adela menggeleng cepat. “Ti-tidak apa-apa, Tuan." Matanya sejenak terpejam sambil mengatur napas kemudian baru menjawab. "Bangsawan Stoner sudah pergi. Saya sudah memastikannya." Tak lupa pula disampaikan pesan Ronie tadi.
Iris hitam Ernest bergulir turun secara perlahan seperti sedang menimbang. "Hm, begitukah? Merepotkan. Akan kupikirkan." Setelahnya ia berbalik kembali meniti tangga.
"Tu-tuan?" panggil Adela.
Langkah Ernest tersendat tanpa berbalik, hanya sedikit menoleh ke belakang. "Ya?"
"Kenapa tadi Tuan tidak keluar menemuinya? Dengan begitu Bangsawan Stoner tidak akan sampai ke kamar nona," tanya Adela penasaran. Itu benar. Apa jadinya kalau dirinya sampai terlambat datang? Ronie pasti menemukan kondisi aneh Eien yang mungkin sulit untuk diterangkan bagaimana tubuhnya bisa berwujud boneka. Bila dipikirkan, Adela sendiri bahkan tidak tahu apa penyebabnya dan bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Bukankah akan sangat aneh bila aku muncul dalam kondisi ruangan yang seperti ini, Adela?” tanya Ernest balik seolah menuntut pelayannya untuk berpikir. “Pastinya berbagai pertanyaan darinya akan membanjiriku bak air bah yang tak terbendung. Pertanyaanku adalah, apakah aku harus menjawab semua pertanyaan Stoner nanti? Bila aku meladeninya maka itu tidak akan pernah selesai. Dan bila kudiamkan, apa kau bisa menerka apa yang akan terjadi?”
Adela menggeleng pelan, bibirnya tergigit kecil oleh nada tendesius yang memberikannya firasat buruk.
"Karenanya aku perlu berterima kasih padamu. Kalau saja kekhawatiranmu terjadi, tiada yang sanggup menjamin pria itu bisa kembali ke kastilnya." Suaranya yang terdengar halus sanggup membuat bulu tengkuk pelayannya berdiri.
Terpaku lama, gemuruh di dalam dada Adela bergejolak aneh, sebab gagal memutuskan apakah harus tersanjung atau merasa takut. Bukankah itu sebuah peringatan? Tuannya seolah akan melakukan hal mengerikan pada Ronie Stoner jika ia datang terlambat sedikit saja. Ditatap penuh kesungguhan pada punggung majikannya. "Sa-saya akan memastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi."
"Sebaiknya begitu." Setelahnya Ernest lanjut menapaki tangga dan menghilang di balik koridor lantai atas.
Sepeninggal Ernest, Adela langsung memeluk tubuhnya sendiri yang bergidik ngeri. Yakin kalau makhluk seperti tuannya tidak akan bermain dengan kata-katanya. Tiada keraguan baginya dalam merenggut nyawa. Sama seperti kejadian malam itu ketika nonanya melarikan diri di mana ia sendiri menyaksikan betapa dingin dan keji sang majikan menghunuskan pedang. Tentu saja! Segalanya pasti akan dilakukan untuk mempertahankan nona, meski itu harus menghilangkan nyawa seseorang. Tuhaaan, semoga saja apa yang kutakutkan tidak pernah terjadi. Namun selentingan perasaan tidak enak justru membuatnya semakin gelisah. Maka diseret tubuhnya yang terasa berat menuju kamarnya demi menenangkan pikiran sebelum memulai tugas.
__ADS_1