Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
13. Sahabat Sejak Kecil


__ADS_3

Part 13


Sepanjang malam Adela yang tetap terjaga hingga tiba waktu fajar tergerak untuk menutup jendela kamar sebelum matahari makin menjulang tinggi. Selayang langit biru ternoda jingga berawan putih tipis tampak indah, begitu pula ketika burung bercicitan menyambut hari baru. Dinginnya udara yang sedikit berkabut memberi kesan mistis tersendiri, seolah ia berada di dunia lain, dunia para peri alam yang cantik. Namun nuansa itu tak melahirkan kengerian, melainkan rasa tertarik akan petualangan. Hanya saja, semua itu terlarang. Maka dari itu, dengan berat hati Adela menutup semua pemandangan nan indah dengan tirai hitam dalam sekali gerakan. Sayang sekali, padahal embun pagi terasa begitu sejuk.


Semalaman ia menemani nonanya beristirahat di dalam kamar mewahnya. Bangsawan itu akhirnya terlelap meski kegelisahan masih tersisa di raut wajahnya, menyebabkan Adela resah untuk mengadu pada tuannya atau tidak. Tetapi ketika matahari mulai terbit, tubuh nona cantik itu sudah kembali seperti boneka. Diam dan terkulai tanpa daya.


Dipikirkan hingga kepalanya terasa mendidih pun Adela tidak dapat memahami bagaimana hal itu bisa terjadi. Orang kampung tak berpendidikan seperti dirinya bagaimana mungkin mengerti hal semacam itu. Yang dapat dilakukannya hanyalah berharap suatu saat nanti nonanya akan sembuh. Bila hal itu terjadi ia berjanji akan senantiasa menemaninya mengelilingi Kota London yang indah. Berjalan dari toko busana hingga ke toko perhiasan atau toko sepatu seperti yang dilakukan para lady di kota. Tanpa mengeluh dan pantang merasa lelah menghadapi betapa rewel dan cerewet nonanya nanti -walau rasanya tidak mungkin- akan ia sambut semua itu dengan suka cita. Tak tahan rasanya saat membayangkan betapa irinya para gadis bangsawan lain menyaksikan betapa rupawannonanya yang akan mengundang perhatian semua pria. Pasti akan sangat menyenangkan bila hal itu terjadi. Namun ia malah merunduk sedih, sebab hal itu agaknya sulit menjadi kenyataan. Adela mendesah


penuh harap. Semoga nona lekas sembuh dari apa pun penyakit yang dideritanya.


Hari ini William mengizinkan Adela keluar dari kastil tanpa banyak bicara selain memperingatinya agar segera kembali. Selain itu, ia juga meminta pertolongan untuk memesankan kebutuhan perjamuan yang akan diadakan akhir pekan ini ke beberapa toko. Tentu saja itu tugas mudah, dengan senang hati Adela menyanggupi.


Di pasar ia mengunjungi toko yang dibutuhkan William terlebih dulu. Kepala pelayan itu memberinya secarik kertas panjang berisi daftar kebutuhan untuk diserahkan kepada pemilik toko, yang langsung mencatat beberapa barang yang ada di daftar. "Baiklah. Esok barangnya akan kami kirimkan ke kastil Bloody Rosie." Pemilik toko bertubuh gemuk itu berjengit. "Sudah lama sekali kastil tua itu kosong," komentarnya yang mulai bergidik mengingat


sejarah kelam yang melumuri kediaman angker tersebut. "Kau baik-baik saja di sana? Apakah kau melihat sesuatu yang sering diceritakan orang-orang?" Jujur saja itu tampak seperti lelucon yang menyebalkan, namun Adela hanya


tertawa kikuk tanpa menjawabnya.


Begitu yakin telah menyelesaikan tugas yang diberikan William, Adela segera menggunakan upah yang kemarin diberikan untuk membeli kebutuhan, seperti pakaian baru untuk kedua adiknya, obat untuk ibunya dan persediaan makanan selama tiga hari. Ketika memilah semua kebutuhan, ada kegembiraan yang meluap saat membayangkan

__ADS_1


bagaimana reaksi kedua adiknya nanti. Ah, tidak sabar rasanya.


Dalam perjalan menuju rumahnya yang berada dalam gang sempit ia tersenyum sendiri menikmati hari ini. Bau sampah yang tercium dari berbagai sudut seakan tidak mengganggu kebahagiaannya. Gantungan baju yang berjajar di atas kepalanya terbentang dari jendela-jendela kamar lantai satu dan dua terlihat bagai hiasan bendera kala ada festival di balai kota. Ramai suara tetangga yang bergosip dipelataran deretan rumah yang berhimpitan bak merdunya burung bercicitan. Sungguh aneh perasaan bahagia itu, bisa merubah hal buruk menjadi indah. Ketika tengah disibukkan oleh permainan pikirannya, tak sengaja ia berpapasan dengan seorang gadis muda seusianya yang mengenakan seragam biarawati. Adela yang mengenal baik gadis itu segera menyapa, "Sanyaaa!"


Senyum manis sang biarawati merekah seraya menghampirinya. "Adela!!" serunya senang. "Oh, wow!" Gadis


berbibir tipis dan bermata simpatik itu tampak takjub akan barang belanjaan Adela yang penuh. Dari sana ia menarik kesimpulan. "Kau sudah mendapat pekerjaan!" serunya lagi yang turutgembira.


Adela mengangguk membenarkan tanpa menutupi perasaan bahagianya. "Ya! Aku diterima bekerja sebagai pelayan pribadi di kastil bukit barat."


Tawa bahagia Sanya merekah lebar. "Syukurlaaah." Ialah yang paling mengetahui bagaimana sulitnya


Hanya dihadapan gadis ini, Adela tak mungkin mampu menyembunyikan kebahagiaannya, matanya sampai menyipit saat berusaha keras agar senyumnya tidak terlalu lebar. "Ya, ini berkah yang luar biasa untuk kami. Walau ... yah, kau tahu mengenai kastil itu." Ia pun tertawa tak menentu lalu mendesah rendah. "Tidak sepantasnya aku mengeluh, bukan?"


Sanya paham apa yang dimaksudkan sahabatnya ini. "Aku tahu orang-orang banyak membicarakan hal mengerikan mengenai kastil itu. Jangan risaukan hal yang tak perlu. Aku harap kau tidak terpengaruh dengan cerita mereka. Kau akan baik-baik saja di sana. Aku akan terus berdoa untuk kebahagiaan dan keselamatanmu."


Kalau bukan karena barang belanjaannya, Adela pasti sudah memeluk erat gadis manis ini. Alhasil hanya kedua matanya yang berkaca-kaca penuh haru. "Kau memang yang terbaik, Sanya."


Sanya tertawa. "Ayolaaah, jangan cengeng begitu. Kau memang pantas mendapat berkah ini."

__ADS_1


Wajah Adela memerah sembab mengingat bagaimana ia berjuang untuk bertahan dari kerasnya hidup hingga di titik ini. Sebuah pencapaian yang baginya luar biasa. Mungkin orang lain berpikir bahwa apa yang telah diraihnya bukanlah sesuatu yang mengesankan, hanya menjadi pelayan saja bahagianya sudah seperti menemukan harta karun segunung. Mereka tidak tahu kalau selama ini ia berhasil bertahan tanpa menjual tubuhnya pada pria


hidung belang. Apa pun pekerjaan akan ia lakukan selama tidak mempermalukan ibunya. Dan semua itu terbayar dengan baik. Hanya Sanya yang sering datang membawa makanan ke rumah ketika mereka kelaparan, kedinginan dan jatuh sakit. Air matanya berjatuhan. "Kaulah yang paling mengetahui bagaimana aku dapat melalui semua derita itu. Kalau bukan karena dirimu dan kebaikan asrama gereja, mungkin kami sudah mati kedinginan tahun lalu."


Sanya tersenyum lembut dan mengusap air matanya. Ya, memang Sanyalah yang meminta bantuan pada kepala asrama untuk membantu keluarga Adela walau mereka sendiri juga dalam kesulitan, memiliki pasokan pangan yang terbatas di musim dingin. Bahkan Sanya rela jatah bagiannya diserahkan semua untuk menolong sahabatnya. Alhasil setelah adu argumentasi dengan kepala asrama, Sanya mendapatkan restu untuk membawa bahan makanan ke rumah Adela. Dan selama satu minggu gadis itu harus berpuasa, tetapi Adela tidak perlu mengetahui hal itu. "Itu karena Tuhan mencintaimu, Adela."


"Aku harap begitu. Terima kasih, Sanya." Adela menarik napas dalam, mengatur kembali emosinya yang meluap tadi lalu menyadari sesuatu. "Tidak biasanya kau keluar asrama?"


Sanya tersentak teringat tujuannya. "Ya Tuhan! Kau benar! Sister Maria memintaku mengantar sesuatu. Aku harus bergegas. Jika ada kesempatan aku akan berkunjung ke rumahmu untuk mendengar cerita tentang pekerjaan barumu dan majikanmu. Itu pasti menarik!"


"Tentu," angguknya antusias. "Datanglah saat aku memasak makan siang untuk keluargaku. Akan kuceritakan


sambil kita makan siang bersama. Kau akan selalu disambut baik di sana." Sanya pun tersenyum manis di mana pipi putihnya merona merah, lalu ia berpamitan. Adela melepas kepergiannya dengan senyum tak sabar menanti hari di mana mereka bercengkrama. Ditatap lama punggung sahabatnya yang semakin menjauh. Entah mengapa ada perasaan mengganjal melihat kepergiannya yang seperti itu. Firasat seolah hari itu tidak akan pernah datang menusuk tanpa alasan. Apa yang kupikirkan? Tak seharusnya ia berpikir kejam seperti itu. Maka dari itu, ia pun berdoa agar gadis berhati seperti malaikat itu selalu dilindungi oleh Tuhan.


Tanpa terasa hari kian menjelang siang, mata Adela sudah agak berat karena tidak beristirahat sejak kemarin. Sampai di depan rumah, kedua adiknya menyambut takjub akan barang dan bahan makanan yang dibawanya. Teriakan kegembiraan para malaikat kecil ini menghembuskan rasa lelah tadi. Cicitan antusias mereka makin memperdalam rasa syukur yang Adela rasakan.


Mereka hanya sempat berbincang sebentar ketika Adela memasak makanan sambil menjelaskan kalau dirinya tidak bisa setiap hari datang karena tuntutan pekerjaan sebagai pelayan pribadi. Walau begitu, ia berjanji akan sering datang mengunjungi mereka, terutama ibunya.


Kedua adiknya tampak berusaha memahami dan Adela hanya sanggup mengusap rambut kedua anak laki-laki itu lantas melihat jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Ia segera berpamitan pada dua adik yang masih sibuk makan dan ibunya yang tersenyum di atas ranjang. Mereka terlihat senang dengan pekerjaan barunya saat ini. Setelah berpamitan kembalilah ia secepat mungkin ke kastil untuk mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2