Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
8. Kecantikan yang Tak Wajar


__ADS_3

Part 8


Bu-bukankah ia yang kulihat kemarin malam?! Ia menoleh pada kepala pelayan yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah yang ia sendiri tidak dapat menggambarkannya. Antara campuran rasa heran, bingung, tidak masuk akal dan ketakutan. Sungguh ia tidak ingin bercermin saat ini karena ia dapat melihat wajah William yang berjengit menatap dirinya. Ketika akan berbicara napasnya tertahan. "Demi Tuhan! Aku melihatnya berdiri di tepi jendela kemarin malam, bahkan masih sangat jelas dalam ingatan! Aku yakin sekali kalau itu bukanlah mimpi! Ta-tapi ... ini-"


Suaranya bergetar takut, bahkan nyaris pingsan saat berkata, akan tetapi sisa kewarasannya masih mempertahankannya untuk tetap berdiri.


William memutar bola matanya sambil menghela napas lega seolah ia terbebas dari sesuatu yang rumit. "Jadi ... tidak ada lagi yang perlu dijelaskan."


Sikap William yang seolah tidak terjadi masalah di sini semakin meningkatkan rasa takut dalam dirinya. Ia sangat butuh penjelasan. "Tapi apa maksudnya ini?"


Dari pada menjawab, William lebih memilih mengatakan hal lain sambil tersenyum tipis. "Saat matahari tenggelam kau akan mengerti, sekarang kerjakan tugasmu. Bersihkan tubuhnya dan ganti pakaian beliau. Rias wajahnya dan rapikan rambutnya." Instruksi aneh itu membuat Adela tertegun. "Perlakukan beliau bagaikan seorang putri." William


menunjuk ke kamar mandi. "Segala keperluan untuk mandi sudah disiapkan, pakaian bersih ada di dalam lemari. Sedangkan alat rias, kau pasti tahu di mana letaknya."


Pertanyaannya tidak dihiraukan, walau sempat kesal tapi pada akhirnya pelayan baru itu hanya menghela napas pasrah. Kemudian perlahan didekati boneka tersebut, berdiri di sisi kanan ranjang, mencoba mengamati secermat mungkin. Kekalutan yang menguasai benaknya perlahan sirna begitu ia menatap wajah cantik nan sendu di sana.


Betapa membius ketika pandangannya terperangkap dalam roman manis rupa cantik tersebut. Tidak hanya dirinya, ia juga yakin orang lain pasti juga akan terpenjara dalam kebekuan saat memandangnya. Semburat merah muncul di pipi disebabkan keelokkan boneka ini. Bibirnya merah ranum seperti buah ceri, kecil namun berkesan penuh menggoda. Warna kulitnya putih pucat bagai salju, namun pipinya tirus berwarna bak kelopak mawar light pink. Sangat menawan.


Adela menelan ludah, menjulurkan tangan ke wajah boneka tersebut, menyentuh dagunya yang kecil demi menaikkan kepalanya agar dapat memperhatikan sejelas mungkin. Anehnya ia merasakan sensasi yang familiar, walau kulit boneka tersebut terasa dingin, namun teksturnya tidak berbeda dari kulit manusia. Halus ... dan lunak.

__ADS_1


Ketika rupa boneka tersebut terlihat jelas, ia mendapati bentuk mata yang besar seperti kacang almond, irisnya biru  bagai berlian. Sangat mempesona. Bulu matanya lentik nan panjang, alisnya melintang indah di atas kelopak mata yang besar. Hanya saja kesan manik biru itu tampak sembab seolah habis menangis semalam. Di mana pancaran kesedihan tergurat begitu dalam, seolah hanya adapenyesalan dan penderitaan yang memenuhi hidupnya.


Jemari Adela membelai rambut hitam boneka yang panjangnya melebih pinggang, rasanya seperti membelai kain sutera hitam yang berkilau. Tak terbayangkan berapa harga boneka ini, seberapa banyak tuannya mengeluarkan uang untuk dapat memilikinya. Lihatlah, betapa luar biasa anggun dan cantik hingga sulit dibedakan dari manusia itu sendiri. Pantas bila memang membutuhkan perawatan khusus.


Keraguan sejenak hinggap. Apakah dirinya sanggup merawatnya dengan baik? Bagaimana jika boneka ini rusak di tangannya? Berapa harga yang harus ia bayar untuk mengganti kerugian? Memikirkannya saja membuat seluruh tubuhnya bergidik ngeri. Gadis itu tersentak sendiri lantas menarik jemarinya karena telah bertingkah aneh. Di samping itu ada hal yang ia pikirkan. Adela menoleh pada pria tua yang terus memperhatikan tingkahnya. "Ma-maaf, apakah ini hobi Tuan Hornest?"


William terdiam memandangi mimik ingin tahu Adela. Wajah datarnya tetap tak berubah. "Andaikan ini adalah sebuah hobi, kau akan melihat begitu banyak koleksi boneka di kamar ini. Benar, bukan?"


Adela merapatkan bibir. Benar juga, istimewa, ya! Sebenarnya ada apa dengan boneka ini? Apakah Tuan Hornest terobsesi oleh kecantikannya? Benar! Aku tidak melihat Sang duchess ataupun anggota keluarga Cloudivious di rumah ini, mungkin saja belum. "A-apakah Tuan Hornest datang seorang diri ke negara ini?"


"Hanya beliau keluarga yang Tuan Hornest bawa," jawab William seraya menunjuk sopan pada boneka tadi.


Adela tertegun sejenak, bahkan mungkin cukup lama menatap kaku air muka William demi memastikan kalau ia sedang tidak bergurau. Dan ekspresinya tetap datar. Mata gadis itu mengerjap bingung.Dicoba untuk tidak mengartikannya secara harfiah. "Bagaimana dengan Sang Duchess? Keluarga lain mungkin?"


Pelayan itu tersentak. "Oh, maaf. Maafkan aku." Sepertinya ia telah melanggar batasannya.


“Tiada mengapa. Nanti kau akan mengetahui sendiri keadaan di Kastil ini.” Keingintahuan adalah insting dasar makhluk hidup, itulah yang tuannya katakan, jadi William hanya memaklumi. "Sebaiknya kau lekas mengerjakan tugasmu sebelum matahari tenggelam. Lebih dari itu kau akan kesulitan mengerjakannya. Jadi, sebaiknya jangan sampai membuat tuan kecewa." Dilihat Adela yang mengangguk cepat. "Kalau begitu aku akan menunggu di luar. Jika ada hal yang ingin kau tanyakan, kau bisa bertanya dari dalam." Kemudian ditinggalkan Adela sendirian bersama boneka tadi.


Suasana menjadi hening dalam kamar temaram ini, meski matahari masih sibuk di luar sana, akan tetapi ruangan ini hanya diterangi cahaya lilin. Cukup lama Adela terpagut pada boneka cantik itu. Gurat ribuan pertanyaan berdesakkan di air mukanya. Susah payah ia abaikan rasa penasaran yang menyesakkan demi boneka yang menjadi penyelamat hidup keluarganya. Bibirnya terkatup rapat menguatkan hati. "Baiklah jika itu yang mereka inginkan, akan kupenuhi. Sekarang kita bersihkan tubuhmu."

__ADS_1


Disampirkan selimut yang menutupi sebagian tubuh boneka, lantas menemukan kedua kaki di sana. Kaki


kecil yang indah dan ramping. Jantungnya jadi agak berdebar ketika menanggalkan pakaian tidurnya. Benar saja, ia terkejut menyaksikan proposisi tubuh yang tidak berbeda dari seorang gadis manusia sungguhan.


"Siapa yang telah menciptakanmu?! Aku yakin pastilah ia orang yang sangat berbakat!" komentarnya takjub.


Ditelan ludahnya menahan gugup, takut jika boneka ini begitu ringkih. Sebuah pertanyaan pun terbesit, apakah ia sanggup membawanya hingga kamar mandi? Tentu saja harus bisa, sebab menyerah adalah kata terlarang dalam hidupnya. Ini adalah tugas yang harus dikerjakan  sebaik mungkin atau ia akan terkapar kelaparan di jalanan dan terpaksa menjajakan diri demi menyambung nyawa.


Coba diangkat boneka itu ke dadanya, ternyata tidak seperti yang ia pikirkan. Berat tubuhnya begitu ringan bagai sehelai bulu angsa. Cukup aneh. Boneka itu terkulai lemas dalam gendongan saat membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ada bathup dari bebatuan marmeryang telah terisi air hangat, Adela mendudukkannya di sana seawas mungkin.


Perlahan dibersihkan tubuh boneka itu, harus berhati-hati dan cermat. Jika tidak ia akan celaka. Rasanya seperti agak gila melakukan perkerjaan aneh ini. Benaknya tidak berhenti bertanya mengenai wanita yang dilihatnya kemarin malam. Ia sangat yakin kalau wanita itu adalah boneka ini. Cirinya sama persis, berambut hitam panjang dengan gaun putih yang tadi dikenakan. Sebaiknya ia tidak meneruskan pikirannya, itu hanya akan menambah ketakutannya saja.


Begitu selesai, dikeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk bersih, lalu mengangkatnya kembali dan mendudukkannya di kursi rias. Setelah memastikan boneka itu tidak jatuh, Adela bergegas membuka lemari.


Lagi-lagi ia terpukau saat menemukan deretan gaun indah yang berjajar rapi. Ada beberapa rambut palsu, sepatu, topi dan pita yang indah, lalu ditariknya laci kaca dalam lemari. Matanya melebar melihat kilauan perhiasan yang berjajar di sana. Berlian, emerald, mutiara, ruby dan masih banyak lagi. Sungguh beruntung boneka ini.


Gaun berwarna biru muda menjadi pilihannya setelah sibuk memilah dan mencocokkan bersama atribut lain. Aksesoris pita untuk hiasan rambut pun ditentukan berdasarkan warna yang sama, begitu pula sepatu berhak berwarna biru, kalung bertahta berlian, anting-anting panjang yang terbuat dari emas, cincin bermata ruby dan masih ada hal lainnya yang membuatnya menjadi kian bersemangat merias boneka itu.


Sebelum mengenakan semua itu, ia membutuhkan korset dan pakaian dalam. Ini bagaikan mimpi, entah indah atau buruk. Adela tak dapat memastikan. Tugasnya ternyata mudah walau agak aneh. Ya, mungkin rasanya ia dibayar hanya untuk bermain bersama boneka yang sangat cantik. Aku benar-benar sudah gila melakukan semua ini demi uang, desahnya dalam hati.

__ADS_1


[Eien]



__ADS_2