
Part 19
Siang ini langit membiru cerah tanpa kapas putih yang bergumpal memberi keteduhan. Suasana kota agak berbeda dari biasanya saat Adela berada di sana. Beberapa kereta kuda melewatinya, penumpang di dalamnya kelihatan penasaran pada arah tertentu. Kepala mereka terjulur keluar jendela atau sekadar mengintip sambil berbisik-bisik cemas. Sedangkan para pejalan dari yang tua hingga anak-anak sampai rela meninggalkan kegiatan. Kaki mereka melangkah menuju satu arah diiringi ekspresi ingin tahu bercampur kekhawatiran. Di antara semua itu seorang penjual koran menebarkan selebaran kertas sambil berteriak, "Pembunuhan! Telah terjadi pembunuhan!"
Sungguh kata-kata horor yang merasuk teramat dalam, menyungkil keberanian yang belum tentu sebesar butiran pasir. Derap langkah kaki yang tergesa serta kicauan manusia bagai dengung lebah menambah ketertarikan Adela untuk turut bergabung mencari tahu. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Keberadaan beberapa petugas keamanan berseragam berjalan cepat menuju arah yang sama semakin menambah semarak kekhawatiran. Siapakah yang terbunuh? Semoga bukan keluarganya atau seseorang yang Adela kenal. Rasa penasaran memaksanya untuk bergabung bersama para warga yang sudah berkerumun di sana.
Tubuh mereka menghalangi penglihatan Adela. Walau begitu, tak semudah itu ia menyerah. Secara lihai Adela berusaha menembus kerumunan, menyelinap, meliuk dan terkadang tak sengaja menginjak kaki orang lain. "Ah, maaf!" Akhirnya ia sampai di titik yang menjadi pusat masalah, pinggir jembatan.
Ternyata yang menjadi magnet semua kekhawatiran ini adalah jasad seorang wanita yang tergeletak di pinggir sungai. Kondisinya mengenaskan hingga sanggup memutus pernapasan Adela yang membekap mulut tatkala melihat sayatan-sayatan dalam di urat nadi lehernya. Beberapa petugas sedang memeriksa tubuhnya, sisanya menahan warga untuk tidak mendekat. "Mengerikaaan!" desis Adela takut. Siapa wanita itu? Apa yang terjadi sampai ia terbunuh dengan cara yang tak lazim? Tampaknya itu bukan pembunuhan spontanitas. Leher itu adalah buktinya. Terlalu banyak sayatan dan terkoyak brutal. Pemandangan itu tentu mengundang perasaan tidak mengenakkan. Kemudian tanpa sengaja ia mendengar dua orang pria di samping kanannya saling berbisik.
"Kasihan sekali pelacur itu!"
Pelacur? Tampaknya Adela memiliki pendapat yang berbeda. Untuk apa mengasihani wanita rendah? Baginya, pendosa seperti wanita itu memang pantas berakhir mengerikan. Mereka makhluk vulgar dan tidak bermoral, penyebar wabah penyakit. Seharusnya seseorang seperti pejabat yang berwenang melakukan sesuatu untuk mengenyahkan mereka. Dan para istri di rumah tak perlu mengkhawatirkan pengkhianatan dan penyakit yang dibawa oleh suami mereka.
__ADS_1
"Ya, padahal tadi malam aku masih melihatnya berkeliaran di dekat taman kota. Sendirian," sahut temannya. "Bukankah wajar pembunuh mengincar target yang sendirian? Hanya saja, pelacur? Astaga! Apa yang akan pembunuh itu dapatkan? Tumpukan emas atau layanan gratis?" ujarnya sinis diakhiri tawa geli yang singkat.
"Kau baru saja datang dan tak mendengar teriakan saksi serta obrolan petugas."
"Oh! Apa yang aku lewatkan?"
"Kau tidak akan ingin tahu!"
"Oh, Ayolah!" paksanya penasaran.
Orang-orang di sekitar mereka yang mendengar percakapan itu terhenyak. Untuk apa orang lain mengambil darah wanita malang itu? Bagaimana jika pembunuh itu masih membutuhkan beberapa barel darah lagi? Siapa yang akan menjadi target berikutnya? Diam-diam teror yang gelap merayap dalam sanubari mereka, mengendap bagai lumpur yang sulit terkikis.
Reaksi Adela tak berbeda, matanya sampai melebar tegang. Da-darah? Well, itu adalah kata yangfamiliar baru-baru ini untuknya. "Benarkah? Tapi untuk apa?" tanyanya menyela, nadanya terdengar menuntut.
Kedua pria itu menoleh padanya lalu saling berpandangan, kemudian mereka mengangkat bahu. "Kami tidak tahu, nanti juga seorang anjing ratu akan menjelaskannya di surat kabar. Aku harap pembunuhnya segera tertangkap. Ini mengerikan sekali!" tutup salah seorang dari mereka.
__ADS_1
Adela menelan ludah kegetiran karena rasa ingin tahunya tak terpuaskan, lalu melangkah mundur untuk segera pergi menuju jasa pengiriman. Dadanya disesakkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang seolah akan meledak. Entah mengapa ia jadi teringat akan darah yang disediakan khususnonanya. Prasangkanya mulai menguasai logikanya yang tidak beralasan.
Ada baiknya ia cepat kembali ke kastil dan memeriksa persediaan darah. Ia yakin gelas yang diminumkan dengan paksa oleh tuannya adalah yang terakhir. Langkahnya kian cepat untuk segera memposkan surat yang dititipkan padanya.
Setibanya di kastil yang sunyi di siang hari, di mana William tak ditemukan di mana pun serta tuannya yang selalu mengurung diri di dalam kamarnya. Adela memilih mengabaikan semua keanehan itu sementara waktu, sebab tujuannya saat ini adalah ruang pendingin. Semalam William memberikan kunci cadangan padanya jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Sebelum melangkah lebih jauh, sejenak ia menarik napas menguatkan diri, takut jika kenyataan berbalik menusuknya. Sebab hal mengerikan yang bergulat dalam benaknya sungguh sulit diterima.
Ia berdiri di hadapan tumpukan balok es. Matanya nyalang menatap botol-botol yang mengetatkan pernapasannya. Ratusan botol gelap tersebut tertata rapi di antara balok es yang disusun dengan memberi jarak pada tiap baloknya. Dengan gugup jari kecilnya menuju letak botol khusus bertanda silang pada bagian badannya yang semalam telah kosong karena terbuang percuma. Hanya botol-botol ini yang memang disediakan untuk nonanya, Adela mengingat petunjuk William agar tidak tertukar dengan botol polos yang lain.
Ditariknya salah satu botol dalam posisi tidur di mana benda itu terasa lebih berat. Sontak debaran jantungnya mulai mengeras. Itu bukan pertanda bagus. Belum cukup untuk membuktikan prasangkanya, dibuka gabus penyumbat botol lalu diintipnya. Ia terkejut ketika melihat isinya telah kembali penuh. Entah mengapa kenyataan tersebut menyebabkan tangannya gemetaran.
Ia pun lekas menutup botol, meletakkannya ke posisi semula dan berlarikeluar dari sana menuju halaman belakang untuk sekadar menghirup udara segar atau mungkin sebenarnya ia berusaha mengendalikan diri. Isi pikirannya telah berkecamuk dengan dugaan yang menuju satu arah. Dugaan yang sangat tidak disukainya. Tenang, Adela. Tenanglah!
Matanya melayang menuju istal kuda di bagian kanan, kemudian beralih pada kandang ayam di sisi kiri. Di depan kandang tersebut ia menangkap tetesan darah di tanah. Perlahan ia mendekatinya, mengikuti jejak tetesan yang menuntunnya masuk ke dalam kandang di mana ada ratusan ayam di sana. Bau khas ayam bercampur kotoran mengusik hidungnya. Ditutup ujung hidungnyadengan punggung jari telunjuk lalu kembali mengikuti jejak tetesan darah tadi. Jejak itu mengantarnya sampai pada sebuah keranjang kayu yang berisi tumpukan bangkai ayam. Leher mereka terpotong dan bersimbah darah kering.
Diambilnya seekor bangkai dengan menarik kakinya dan membuat lehernya terjuntai ke bawah. Tidak ada darah yang menetes dari sana. Napas leganya terhela panjang karena mungkin darah yang diberikan pada nonanya sebenarnya adalah darah semua unggas ini, bukan seperti prasangka buruknya tadi. Ia pun jadi tersenyum sendiri. Tidak mungkin tuan memberikan darah seperti itu pada nona. Lagi pula semalam tuan berada di kamarnya dan pintu gerbang tertutup hingga pagi menjelang. Dilempar kembali ayam tersebut ke dalam keranjang. Apa yang kupikirkan? Apa tadi aku mencurigai tuan yang telah membunuh pelacur itu? Oh, terkutuklah aku yang telah berpikir keji. Matanya terasa berat sekali, ia ingin sekali tidur. Tidak pernah semasa dalam hidupnya ia merasa selelah ini. Mungkin pikirannya sendiri yang telah membuatnya menjadi seperti itu.
__ADS_1