
Part 24
Diakhiri kalimatnya kala pasangan tersebut telah mendekat menyapa tuannya, kemudian Adela membantu Emilia melepas mantel, sedangkan Ronie melakukan sendiri danmemberikannya pada seorang pelayan pria.
"Saya senang Anda sekalian dapat memenuhi undangan kami," sambut Ernest ramah.
Daya tarik Ernest yang tampak berbeda membekukan gerik Emilia. Kata yang sudah di ujung bibir raib seketika demi menjawab sapa itu. Ia laiknya cahaya yang memudarakan segala macam latar belakang di sekitarnya. Dan apa yang sedang terjadi kini? Parasnya yang menawan bagai magnet berkekuatan besar menyebabkannya kesulitan menjatuhkan bola mata ke lantai demi menutupi rona merah di pipi. Akan tetapi apa daya, rugi rasanya bila mengabaikan keindahan pria ini.
Sudah puluhan kali Adela menemukan perilaku semacam itu dari tiap countess yang datang. Mereka bahkan terkadang tidak sadar akan tingkah vulgar mereka, menjatuhkan martabat demi kepuasan penglihatan. Namun Adela paham ketika menatap rupa tuannya. Memang tak terelakkan, ia sungguh beruntung dapat memandanginya setiap hari. Walau demikian kehadiran nonanya nanti pasti akan membinasakan semua harapan tersembunyi mereka.
Di sisi lain perbedaan halus tampak di diri Ronie yang agak menatap tak senang. Boleh dikatakan ada perasaan tersaingi yang enggan ia akui hinggap di benaknya bagai serangga yang merayap di sana. Mengganggu. Sebelah alisnya terangkat karena wajah rupawan merupakan senjata mematikan di London. Ronie sudah membuktikan sendiri hal itu. Perlu dipertimbangkan untuk mengganti pola pikirnya. Bukankah akan lebih bermanfaat bilaia dapat menjadikan bangsawan ini sebagai seorang partner? Jikalau satu saja sudah menguntungkan, apalagi bila ada dua pria tampan. Walaupun begitu ada baiknya ia mencari tahu terlebih dahulu hal apa saja yang akan memberikannya keuntungan, berjaga jika ternyata bangsawan ini memiliki perilaku yang buruk di tatanan sosial. Percakapan ringan mereka begitu singkat karena Ernest segera mempersilakan mereka masuk ke ballroom.
Sudah waktunya tuan rumah bergabung bersama undangan, suara cicitan khas wanita dan tawa renyah para pria terdengar meriah di antara musik orkestra. Dalam langkah yang diliputi sedikit kekhawatiran Ernest berbisik pada Adela yang mengikutinya, "Sudah saatnya Selia turun." Itu pertanda debut nonanya. Adela yang tak sabar menyaksikan bagaimana nanti nonanya tampil segera undur menuju lantai pertama, sedangkan Ernest memasuki ballroom di mana para lady menghampirinya dengan sangat antusias. Binar kekaguman dan ketertarikan yang tinggi tak mampu mereka tutupi lagi, persaingan itu begitu ketat mengalahkan sesak dari korset yang mereka kenakan.
Langkah Elena tersendat sudah, para lady itu mengerumuni Ernest dalam lingkaran laiknya semut yang memperebutkan permen gula. Hanya dari kejauhan inilah batas kemampuannya, memperhatikan si bangsawan
__ADS_1
menawan tanpa berani bersaing. Ia sungkan mengambil risiko untuk menerjang dalam perang menarik perhatian. Itu terlalu vulgar, yang ada ia hanya akan menjadi bahan gosip belaka. Itu bukan menjadi pertanda baik untuk Istana Buckingham.
Seorang pelayan pria agak mengejutkan Elena ketika menawarkan minuman di atas nampan, sedikit canggung Elena meraih segelas anggur merah. Sejenak pandangannya bertemu Ernest menyebabkan debaran di
dadanya berpacu cepat. Tak tahan dengan sensasi itu, ia pun berpaling namun langsung menyesalinya. Bodooooh,
pikirnya.
Bangsawan ini berbeda dari yang berkesudahan, di mana pria hanya mendekati dirinya dikarenakan status atau fisiknya, bahkan sebagai ajang batu lompatan menuju yang mulia ratu. Apakah penilaiannya tidak terlalu dini? Mengenalinya lebih dalam adalah langkah terbaik, dan caranya tentu melalui kerabat terdekatnya, yaitu adik perempuan sang bangsawan. Kalaubertanya langsung pada tuan rumah akan terlalu kentara apa yang menjadi maksudnya, karenanya ia harus mawas, tidak baik gegabah dan menuruti dorongan hati. Sikapnya harus terjaga demi nama baik yang ia sandang. Dikala Elena asyik tenggelam dalam lamunan, seorang pria berambut pirang datang mendekat.
"Aaah, Lady Elena!" Ronie menggapai jemarinya lalu mengecup punggung tangan tanpa seizinnya. Sepertinya ia telah memisahkan diri dari pasangannya yang tampaknya lebih tertarik berbincang dengan sang tuan rumah.
"Well, kukira dijamuan ini aku sedang bertemu kawan lama, tetapi tampaknya aku terdampar di acara resmi." Senyum hangatnya mengembang, sedikit maklum oleh sikap defensif gadis ini.
"Well, jika kau ingin bertemu dengan temanmu, temuilah dirumahnya, bukan di kediaman orang lain," balas Elena yang lekas menarik tangannya dari genggaman Ronie. Itu benar, mereka memang saling mengenal sejak kecil, tetapi karena sikap congkak Ronie yang senang merayu wanita, Elena enggan terlalu dekat dengannya walau banyak teman gadisnya yang menyanjung ketampanan Ronie Stoner.
__ADS_1
Tawa pendek Ronie tergelak ringan merespon sikapnya yang tidak berubah sejak dulu, seperti memusuhinya. Padahal seingatnya ia tak pernah mengganggunya. "Kau benar, Lady Radringham. Mungkin aku yang terlalu berharap lebih. Dan mengenai kesehatan ayahku, kondisibeliau semakin membaik. Terima kasih telah bertanya. Aku sangat menghargainya." Caranya memandang berubah lembut. "Lalu bagaimana dengan kabar yang mulia? Semoga Tuhan memberkati beliau dengan kesehatan."
Inginnya Elena mengabaikan pertanyaan itu, menyudahi percakapan ini mungkin akan jauh terasa lebih baik, tetapi lagi-lagi etikanya tetap harus dijaga. "Beliau dalam keadaan sehat. Sangat disayangkan beliau terlalu sibuk untuk menghadiri perjamuan ini."
Benar, sangat disayangkan bila Ronie jadi tidak dapat bertemu sang ratu di sini, namun ia mengambil sikap mengerti karena Elena mulai terlihat tidak nyaman. Sebaiknya ia mengganti topik di mana tatapannya tertuju pada tuan rumah yang dikelilingi wanita cantik. "Benar, sangat disayangkan. Apalagi kastil ini benar-benar mengesankan. Tak kukira kastil yang terkenal dengan segala tragedi di masa lalu dapat berubah menjadi seperti ini. Tidakkah kau merasakan kejanggalan? Kenapa harus kastil kuno ini? Bukankah ini aneh?"
Meski pertanyaannya terdengar retorik tetapi cukup mengganggu di telinga Elena. "Apa yang terjadi di masa lalu telah berlalu. Yang kutangkap dari indahnya jamuan ini adalah usaha keras tuan rumah untuk memberi tamunya rasa nyaman serta kegembiraan. Bukankah begitu, Earl Stoner?"
"Ada benarnya, Lady." Sebenarnya Ronie tidak sependapat. Ia sendiri tahu itu karena firasatnya tak pernah salah. Naluri kuatnya yang menjadi fondasi dasar agar dapat bertahan hidup di antara para bangsawan yang angkuh dan licik. "Apa pendapatmu mengenai pemilik kastil ini?"
Sulit bagi Elena menerka akan maksud dari pria ini. "Seorang pria terhormat serta bemartabat tentunya. Lagi pula aku tidak pandai membicarakan keburukan orang lain," ingatnya.
Jelas terlihat kalau ada ketertarikan dalam diri Elena dari cara bicaranya yang membela, Ronie jadi kehilangan minat untuk melanjutkan percakapan. "Baiklah. Maafkan atas kelancanganku."
Sementara itu Adela telah kembali ke sisi Ernest yang sedikit menyingkir dari para lady. "Nona akan turun sebentar
__ADS_1
lagi setelah mempersiapkan diri," lapornya agak berbisik.
Hampir waktunya. Anak tangga yang terhubung dengan lantai atas menjadi pusat perhatian Ernest kini. Ada bias kekhawatiran mengingat Eien sama sekali tidak meminum darah sejak terakhir kali ia memaksanya. Aku harap ia tak terlalu lelah malam ini.