
Part 41
Sore harinya Adela mengetuk pintu kamar Eien secara perlahan karena yakin tuannya masih ada di dalam. Sekian lama tiada sahutan, diputuskan untuk masuk sebab majikannya telah memberi izin tadi pagi. Sesuai dugaan, pria itu ternyata masih terlelap tepat di sisi nonanya. Tangan mereka saling terkait dengan iras damainya yang menghadap sang boneka. Namun kening Adela berkerut heran mendapati pipi basah Eien. Ada aliran air yang tersisa di sana. Dari mana datangnya air ini? Air matakah? Apakah nona menangis? Aneh. Maka ia berpindah ke sisi Eien, mengusap pelan air itu hingga kering. Derai rasa iba kian tak terbendung kala memandang mereka yang begitu dekat namun terpisah oleh memori yang bersembunyi. Entah di mana ingatan milik nonanya pergi, namun yang jelas Adela yakin bahwa tuannya adalah sosok yang sangat penting dalam hidupnya. Sampai kapankah mereka harus hidup bersandiwara di negeri ini? Napasnya terhela pilu karena pada akhirnya ia pun mengulang pertanyaan tuannya tadi, apakah ada akhir bahagia untuk mereka berdua? Matanya melirik pada jendela di mana bias sinar senja hampir redup, tugasnya sudah menanti namun ia tak sampai hati membangunkan Ernest sebab hanya pada kesempatan inilah jarak di antara keduanya sirna. Saat tenggelam oleh kebimbangan itu, suara Ernest lebih dulu menegurnya.
"Apa kau tidak akan membangunkanku?" Perlahan kedua matanya terbuka, namun tatapannya masih tertuju pada Eien.
Adela tersentak kikuk. "Ma-maaf, Tuan. Sa-saya sungkan membangunkan Tuan," jelasnya dengan nada menyesal.
Ernest menghela napas pelan, melepas jemari Eien kemudian bangkit duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah seolah mengusir lelah. "Ada berita apa di luar,Adela?"
"Ya?"
"Bukankah kau dari kota?"
Adela menggeleng pelan. "Tidak ada berita yang menarik, Tuan. Saya bersyukur kota ini dalam keadaan damai." Seusai menjawab mendadak Ernest menatap langsung padanya, membuatnya jadi seperti kucing yang terpergok mencuri.
"Benarkah?" Naluri Ernest mengatakan kalau gadis mungil ini sedang menyembunyikan sesuatu.
Nada yang terdengar sangsi itu menyentil perasaan tidak enak yang Adela rasakan tadi pagi. Jantungnya berdegup keras dan kegelisahannya membuncah tanpa peringatan. Haruskah saat ini ia mendobrak bagian ruang gelap yang ditutup rapat tuannya? Pertanyaan mengenai darah yang dikhususkan untuk nonanya sangat menusuk rasa penasarannya. Namun pertanyaan itu tersumbat di dada, membuatnya merasa sesak, terlebih saat mengingat pertemuannya dengan Maria yang memberi kabar merisaukan. Irasnya jadi menurun ke bawah karena diliputi keraguan. "Sebenarnya ...."
"Ya?"
Sahutan itu menaikkan iris cokelat Adela secara perlahan dari kepalanya yang tertunduk demi melihat reaksi tuannya. "Seorang biarawati yang telah lama saya kenal telah menghilang sejak semalam." Tiada perubahan ekspresi di sana, tetap tampak dingin dan datar. "Namanya adalah Sanya, sahabat baik saya, teman berbagi suka dan duka. Boleh dikatakan saya sangat mengerti pribadi dan tabiatnya. Ia seorang gadis muda yang ceria dan bersemangat, tetapi juga berhati lembut ... saya berani menjamin bahwa hatinya luar biasa mulia dan sangat mencintai Tuhan. Dedikasinya dalam melayani Tuhan tak dapat diragukan.Saya ... sungguh berharap tidak terjadi apa pun padanya."
Berita yang sungguh menyengat nurani Ernest. Kedua matanya terpejam rapat seolah ingin menelan semua kegilaan yang telah terjadi ke dalam tumpukan lubang penyesalan. Tenggorokannya seperti tercabik, namun diharuskan bereaksi agar gadis muda itu lebih tenang. "Aku akan berdoa untuk kebaikkannya." Setelah mengatakan kalimat yang terasa dingin itu, ia bangkit kemudian berlalu begitu saja meninggalkan percakapan yang mengganjal. Di luar kamar langkahnya sempat terhenti lantas terdiam kaku demi menenangkan kedua tangannya yang gemetar hebat. Muliaaa ... mencintai Tuhan? Matanya nanar menatap langit-langit merasakan seluruh jiwanya telah meradang dalam kebusukan. Sungguh, aku bisa merasakan kalau sebentar lagi hukuman Tuhan akan segera jatuh dari langit.
Sementara itu Adela masih terpaku menatap tajam jejak tak terlihat yang ditinggalkan tuannya seolah berusaha menerjemahkan kode yang tak terjamah. Sikap majikannya tadi membuatnya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang salah di tempat ini. Ada hal mengerikan yang tersembunyi dan tanpa sadar ia terjerat di dalamnya. Ia menoleh pada Eien, menatapnya resah. Kemudian terpikir kembali, mungkin saja tindakannya untuk melarikan diri adalah sebuah keputusan yang tepat. Apakah sekarang ia harus menyesali kegagalan itu? Percuma sudah. Ditatap tirai jendela di mana sinar senja telah sepenuhnya meredup di tirai hitam menandakan malam telah jatuh. Kala irisnya kembali pada Eien, ia menemukan perubahan bentuk dari wujud boneka menjadi lebih hidup. “Selamat malam, Nona,” sapanya rendah.
Perlahan sepasang kristal biru mulai menampakkan diri, akan tetapi buliran air mata turut terbawa laiknya rintik hujan. Adela terhenyak bingung saat kedua tangan Eien menutupi wajahnya lalu meringkuk dengan tubuh gemetar. “Bagaimana ini, Adelaaaa? Bagaimana iniiiiii?"
“Nonaaaa,” desis Adela terenyuh.
“Mengapa pria itu menjadikanku sebuah alasan? Menjadikanku penyebab dari kutukkan Tuhan untuknyaaaa. Apa yang telah kuperbuat padanya sehingga ia harus menanggung semua ini? Apa yang harus kukatakan pada guru? Apaaaa, Adelaaaa? Aku telah menyesatkan seorang keturunannya yang telah lama dinantiiiii. Akulah si pendosa yang sebenarnyaaaa,” isaknya pahit.
Adela yang cemas segera menghampirinya. "Mana mungkin Tuhan membenci tuan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Jadi Nona janganlah khawatir. Saya yakin tuan akan baik-baik saja. Tidak akan ada kutukan yang Nona takutkan. Tuhan tidak sekejam itu,” hiburnya sedih. Setidaknya, walaupun ia sendiri tidak mengetahui apa yang telah terjadi, ia sungguh ingin meyakini bahwa apa yang telah dikatakannya barusan adalah sebuah kenyataan.
... ***...
__ADS_1
Keesokan hari, Adela melakukan rutinitas di rumahnya. Kedua adiknya terus saja berceloteh tentang kenakalan mereka yang unik dan menarik di sekolah saat sedang makan siang bersama, jelas Adela dibuat geram sekaligus terbahak mendengarnya. Lalu disela perbincangan ia teringat perihal Sanya. "Oh, ya! Apakah kalian sudah mendengar kabar mengenai Sister Sanya?" tanyanya pada Harry dan Mike.
Kedua anak itu menggeleng.
"Sister Maria sudah melapor pada petugas, sepertinya mereka sedang mencarinya," jelas Harry.
“Jadi Sanya belum kembali,” gumam Adela cemas.
“Benar. Semua orang juga sibuk mencarinya sampai ke dalam hutan tetapi tetap tidak menemukannya. Apa Sister Sanya sedang ke luar kota?” lanjut Harry.
Adela bergeming. “Mungkin saja.” Sempat terpikirkan hal itu, namun rasanya sulit dipercaya karena Sanya hidup sebatang kara. Kepada siapa ia akan pergi di luar London tanpa sepengetahuan Maria? Lagi pula gadis itu terakhir terlihat berada di kapel, jadi mana mungkin ia pergi ke luar kota tanpa persiapan. Oh, Sanyaaa, di mana kau sekarang?
"Rasa kentang ini tidak terlalu enak," keluh Harry sambil menyelupkan sobekan roti ke dalam sup kentang lalu menyuapnya tanpa berselera di mana Mike turutmeniru apa yang dilakukannya.
Pikiran Adela teralih."Benarkah?"
Si bungsu Mike langsung mengangguk membenarkan. "Iya, itu benar! Waktubermain di pasar aku mendengar Pak Robert mengeluh tentang ladangnya."
Adela jadi memberi perhatian lebih. "Ada apa dengan ladangnya?"
"Katanya, tanamannya membusuk. Sepertinya ia akan gagal panen untuk musim ini," imbuh Harry.
"Itu tidak mungkin hama. Pak Robert sudah memeriksanya setiap hari. Para petani lain juga mengeluhkan masalah yang sama. Kata mereka,mungkin tahun ini akan terjadi masalah pangan yang berat."
"Apa itu artinya?" tanya Mike yang tidak mengerti apa yang diucapkankakaknya.
"Aku sebenarnya juga tidak mengerti. Akukan hanya mengulangi kata-kata wargadi sini," kilah Harry sambil mengangkat bahu.
Adela tertunduk resah mendengar penuturan itu.* Bagaimana ini? Kuharap kejadian aneh itu tidak berkaitan dengan Tuan Hornest.*
"Kakak kenapa?" tanya Harry yang menangkap gurat cemas di raut kakaknya.
Sesaat Adela tercekat, kemudian cepat tersenyum menutupi perilaku gelisahnya karena kedua anak itu cukup sensitif bila ada sesuatu yang tidak beres. "Tidak ada. Kalian jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, yakinlah kita akan baik-baik saja. Sekarang habiskan makan kalian karena aku harus cepat membersihkannya dan kembali ke kastil."
"Oh, ya! Orang-orang juga membicarakan mereka," tukasHarry.
"Siapa? Tuan dan nonaku?" tanya Adela. Harry mengangguk. "Apa yang mereka bicarakan?"
__ADS_1
"Sesuatu yang tidak enak didengar."
"Seperti apa?" tanya Adela penasaran.
Harry memiringkan wajah seolah sedang mengingat. "Orang-orang tidak pernah melihat mereka sama sekali, padahal sudah lebih dari sebulan mereka tinggal di kota ini." Mata anak itu memicing padakakaknya. "Mereka bukan orang aneh, kan?"
Sontak Adela tergelak ringan. "Bukankah sudah kuceritakan pada kalian kalau Tuan Hornest adalah seorang bangsawan terhormat dari Romania. Beliau memiliki sosok tinggi tegap dan berparas rupawan. Pribadinya cukup ramah walau kadang terkesan dingin. Yah, itu mungkin karena beliau masih beradaptasi dengan orang-orang di sini. Selain itu, setahuku beliau juga seorang ilmuwan dan sudah pasti beliau sangatlah pandai. Sedangkan nonaku? Kalian tidak akan percaya! Beliau adalah wanita paling cantik yang belum pernah kulihat seumur hidupku!"
Kedua mata anak itu jadi berbinar takjub.
"Apakah lebih cantik dari Lady Radringham?" tanya Mike antusias. "Aku sering melihatnya sedang berjalan melewati pertokoan saat bermain bersama teman-temanku. Ia sangat cantik seperti bidadari."
Sebelah mata Adela mengedip jenaka. "Tentu saja! Menurutku Nona Selia lebih cantik!"
Wajah Mike terlihat sumringah. "Wah, benarkah?"
"Ah, itu bohong. Kakak hanya melebih-lebihkan sajakan?" tuding Harry.
Sontak Mike langsung berpaling pada Adela, wajah menuntutnyaterlihat menggemaskan.
Ditatapnya Mike sambil menggeleng keras seakan mengatakan apa yang ditudingkan Harry tidaklah benar. Setelah raut cemberut Mike mereda barulah ia berkerut sebal pada Harry. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kalau aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri, aku tidak akan mempercayai kata-kata kakak," kilah Harry.
"Jadi maksudmu, aku ini tukang bohong?" tanyanya lagi sambil bertolak pinggang.
Harry mendongak sambil berpaling. "Tidak, aku hanya ingin membuktikannya sendiri."
Adela mendengus gusar. "Huh, kau ini pintar sekali bicara! Menyebalkaaaaan," keluhnya yang disusul tawa kesalnya.
"Kalau begitu boleh kami datang menjenguk kakak di sana?" tanya Harry tiba-tiba.
Adela tercekat namun langsung menggeleng tegas. "Tidak. Sebaiknya jangan. Aku takut mereka akan terusik dengan kedatangan anak-anak. Dengarkan aku." Ia berbicara serius kali ini, kedua matanya sampai mendelik. "Apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah datang ke kastil itu! Kalian mengerti?"
Dahi Harry berkerut heran. "Kenapa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu?"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
__ADS_1
"Kakak bicara seakan itu adalah hal yang mengerikan."
Kali ini Adela jadi termangu sejenak mendengarnya. Bagaimanapun apa yang dimintanya pada dua anak itu merupakan yang terbaik. Makhluk yang berdiam di kastil itu bukanlah manusia. Apalagi majikannya hanya menjamin keselamatan dirinya saja, tapi tidak dengan hal lain. Tidak ada yang menjamin keselamatan mereka. "Aku mengerti kalian pasti mencemaskanku, tetapi akan lebih baik jika kalian tidak ke sana. Bukankah kalian harus sekolah?" bujuknya sambil membelai rambut merah dua anak itu di mana mereka hanya mengangguk dengan raut berusaha mengerti.