Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
44. Bunga Sakral


__ADS_3

Part 44


Ketika malam telah jatuh, tiada disangka Ernest duduk menemani sang tawanan. Suatu hal yang jarang terjadi, tetapi keberaniannya patut dipuji. Hanya saja walau saling berhadapan, rupanya tepi meja tampak lebih menarik untuk diamati. Begitu pula suara yang bersembunyi di balik bibir seakan tiap belahan kata terlalu sukar untuk dirangkai. Pada akhirnya sang empu kamar tak mampu bertahan dan ingin membuka percakapan. "Siapa yang akan mengira jika sangkar ini ternyata cukup mudah ditembus."


Iris hitam itu akhirnya terangkat. "Sangkar ini tidak memiliki pertahanan, Yang Mulia."


Kedua alis Eien terangkat. "Oh, aku sungguh terkesan. Bagaimana aku harus menerkanya? Apakah hal itu sebuah kepercayaan diri atau kelengahan?"


"Yang mana pun itu, aku harap tidak menimbulkan kekhawatiran padamu," jawabnya rendah yang mengundang tawa kecil Eien.


"Baiklah, akan kupenuhi harapanmu. Hanya saja suara tamu tak diundang terasa tidaklah asing."


Perhatian Ernest kini lebih terfokus. "Menarik. Apakah itu artinya kau dapat mendengar ketika tubuhmu masih berwujud boneka?"


Pertanyaan itu menandakan sesuatu bahwa ritual yang dilakukan pada dirinya adalah yang pertama kali ia lakukan. Terlalu berani bila pria ini menguji coba ritual pada dirinya yang memiliki status tinggi. Apakah itu artinya ada hal yang mendesaknya? Untuk mengetahui hal tersebut kuncinya hanyalah kesabaran. Diraih cangkir berisi teh merah hangat lalu menghirupnya sedikit. "Tubuhku lumpuh total. Laiknya manusia yang koma, bila kesadaranku terjaga, penglihatanku mampu menangkap panorama, dan pendengaranku masihlah berfungsi." Iris birunya turun menuju genangan air teh yang sesekali bergoyang. "Percakapanmu yang terakhir waktu lalu telah membungkam nuraniku," desisnya rendah.


Ernest terengah getir, irasnya menurun dan bola matanya bergetar sarat penyesalan. "Maaf, Putri. Aku tidak bermaksud membebanimu."

__ADS_1


"Sejujurnya, aku kesulitan menerjemahkan perasaanku yang bercampur aduk. Apalagi bila harus mengungkapkannya agar engkau sedikit paham. Tetapi sebaiknya kita kesampingkan hal itu karena perahu kita telah berlayar jauh. Hanya saja penerangan yang kau berikan tidaklah sesuai harapanku. Apakah api yang engkau nyalakan hanya sebatas itu?"


"Jika api itu terlalu besar, aku takut itu akan membakarmu," lirihnya. "Aku tahu engkau terjebak dalam labirin. Dan kesalahan pertamaku adalah suatu keterlambatan. Bila saja sang 'waktu' kala itu memihakku, maka kini kita tidak akan duduk bersama sebagai orang asing."


Dengan leluasa sunyi merambat, memberi jeda untuk sekadar mendengar percikan api yang sesekali berlompatan pada sumbu lilin di atas nakas. Eien memiringkan wajah, meletakkan cangkir teh tanpa


menimbulkan suara berdenting. Sang penculik ternyata memahami kondisi ingatannya. "Bila kita memang pernah menatap langit malam bersama, maka kemungkinannya adalah engkau seseorang yang ayah percaya. Sayangnya, ingatanku mengenai dirimu bersembunyi entah di mana. Seandainya saja ada titik terang. Mungkinkah efek ritual pengalihan jiwa yang menjadi penyebabnya?" Namun jawaban yang didapat adalah gelengan kecil. Sungguh Eien tidak menyukai reaksi getir tersebut. Bibir bawahnya tergigit menahan getaran. "Apakah lebih buruk dari itu?"


"Jangan memaksakan diri," ingat Ernest.


"Tetapi aku benci terkurung dalam kegelapan. Berikanlah sedikit api itu padaku," desisnya lirih.


Sontak Eien berpaling menyembunyikan mata. Itulah kalimat yang paling ditakutinya. Kebenaran yang enggan ia terima walau iris hitam tersebut telah menampakkan kejujuran seutuhnya. Jawaban singkat yang sudah cukup merangkai seluruh kepingan puzzle yang terserak. Hati yang rapuh. Itulah hal yang sering diingatkan Leon padanya. "Aku memang pandai mengecewakannya," desisnya penuh penyesalan.


Ernest menarik napas dalam-dalam. kedatangannya kemari bukan untuk membuat belahan jiwanya bersedih. Ditinggalkan kursinya lalu menghampiri Eien dengan sebelah tangan terentang. "Malam ini rembulan berkilau keperakan bagaikan di negeri dongeng. Bukankah sangat disayangkan bila kita tidak berpetualang sejenak mencari peri yang bersembunyi di balik semak mawar?"


Senyum tipis yang menawan itu berkesan sendu, tetapi entah bagaimana mampu menenangkan riak yang berguncang. Kewaspadaannya terhadap si penculik sedikit menurun, napasnya mulai berirama, dan percikan merah muda membias di pipi. "Ternyata kau pun pandai mengendalikan emosi," lirihnya menahan senyum yang kemudian menyambut tangan Ernest.

__ADS_1


"Benarkah? Akan kuterima sebagai pujian."


Tidak lama mereka bersanding di tengah taman mawar yang bermekaran. Di bawah sinar terang rembulan aroma harumnya memenuhi halaman. Gaun jingga Eien tampak kontras di tengah hamparan hijau dan semburat merah, sedangkan jas kelam Ernest berbaur dalam nuansa malam.


Di lain sisi, Adela dan William yang berdiri berdampingan di teras kastil mengawasi kedua majikannya dari jauh. Mendadak sang kepala pelayan tersentak seolah mendapat ide lantas bergegas masuk ke dalam mansion meninggalkan Adela sendiri yang tampak bertanya dalam hati. Namun ia tak ambil pusing, karena kelihatannya itu bukanlah sesuatu hal yang harus dikhawatirkan. Perhatiannya kembali pada sang kejora malam. Jiwanya yang gundah menghangat, larut dalam aliran suka cita akibat dari perpaduan keserasian, keindahan, perdamaian serta romansa yang berada di tengah mistisnya halaman kastil.


Jari telunjuk Eien sampai di permukaan mawar yang merekah sempurna. Indah, menggugah jiwa. Pada dasarnya seperti itu. Namun Ernest gagal menemukan kekaguman, melainkan dahsyatnya deru lesus yang terbungkus selubung ketenangan. Tatapannya melembut. "Iras Anda memancarkan ketenangan permukaan danau, Yang Mulia. Tetapi sorot kristal biru Anda tidak selaras, melainkan deras bagai aliran bah."


Eien mendesah kecil. Pria ini begitu teliti dan detail. "Haruskah aku bersyukur, Hornest?" tanyanya tanpa menarik jari telunjuk yang mulai bergetar di permukaan kelopak mawar. Ingatan menyakitkan di masa lalu menghujam laiknya hujan panah yang mampu menembus tulang.


Alis Ernest bertaut.


"Petaka ini memiliki dua wajah. Kekangan dan keleluasaan."


Ernest paham betul apa maksud kata pertama. "Keleluasaan?"


"Merah yang suci menunjukkan betapa terkutuknya kaum kita. Tapi lihatlah, jari yang suatu hari akan membusuk ini lebih dicintai oleh sang ratu bunga. Betapa tidak adil. Apakah kegelapan dalam diri kita begitu menjijikkan sehingga bunga ini lebih memilih mati dibanding bersanding dalam genggaman?" Eien menarik napas dalam kemudian memetik setangkai dari bunga tadi. "Tanpa tahu malu, bunga ini telah menyingkap wajah dibalik topengku. Dan menjadi penyebab tumpahnya darah seorang manusia yang berhati mulia." Dijulurkan mawar itu pada Ernest yang langsung diterima tanpa keraguan. Seketika warna seluruh kelopaknya berubah hitam.

__ADS_1


Terhenyak Adela dibuatnya. Kini barulah ia paham mengapa tuannya menjauhi atau bahkan melarang adanya bunga itu dalam ruang kerjanya. Walau perubahan magis itu bukanlah hal yang lumrah, tetapi entah mengapa hatinya bergetar karena interaksi kedua majikannya begitu lembut dan menawan. Tetiba terdengar alunan musik biola dari sisi kanannya. Adela langsung terperangah kagum menemukan kepiawaian William dalam memainkan alat musik tersebut hingga tercipta melodi indah nan romantis. Sebelah matanya mengedip seolah berkata bahwa idenya sangat bagus. Tentu saja Adela langsung memberikan kedua ibu jari sebagai balasan menyetujui.


__ADS_2