
Part 14
Beristirahat selama kurang dari empat jam sudah cukup untuk Adela yang terbiasa bekerja keras. Tubuhnya memang kurus tetapi staminanya tidak kalah dari para kuli pengangkut barang di dermaga. Karenanya tidak banyak pria yang berani mendekatinya, bahkan mungkin tidak ada. Apakah para pria itu bersedia menanggung beban yang berada di pundaknya? Sepertinya menggoda seorang lady yang kesepian lebih menarik, bukan? Well, setidaknya Adela terhindar dari para pria egois. Ia yakin suatu hari Tuhan akan mempertemukan dirinya dengan pria yang tepat, jadi tidak perlu memaksakan diri. Lagipula pekerjaan barunya lebih menyenangkan dibanding menarik perhatian laki-laki. Jadi tak ada waktu memikirkan pria, sebab saat ini ia sedang merias nonanya yang masih dalam bentuk boneka. Warna merah muda lembut teroles sempurna di bibir mungilnya. Sapuan kuas berlarianbegitu lembut dan berhati-hati, Adela sampai membungkuk demi menjaga ketelitiannya.
Gaun sutera berwarna hijau daun menjadi pilihan untuk sang nona. Jemarinya lihai menjalin rambut Eien menjadi satu dan membuat gelungan rumah keong yang besar di bawah ikatan pita berwarna senada. Gelungan itu disampirkan melewati pundak ke dadanya. Kalung dan anting-anting bermata emerald sangat cocok untuk gaun ini. Sepatu berenda berwarna sama juga tersedia. Biladiamati dari perawakan nonanya, Adela bisa mengira kalau mereka seumuran. Ah, nonaaaa. Mengapa nasib Anda menjadi seperti ini?
Bertepatan dengan tenggelamnya sang mentaridi ufuk barat, Eien terbebas dari belenggu mimpi. Perhatiannya tertuju pada dirinya di dalam cermin, lalu tersenyum manis memandang Adela yang berdiri di belakangnya lewat pantulan tersebut. "Terima kasih." Pelayan itu tersipu senang, namun rautnya berubah kala Eien tertunduk lemah. Tenaganya seakan hilang entah kemana, mengikis semangat hidupnya malam ini.
Perubahan ekspresinya sudah pasti menarik perhatian si pelayan, apalagi ketika wajah Eien memucat. "Apakah ada yang salah, Nona? Anda terlihat lebih pucat dari sebelumnya," tanyanya cemas. Itu benar, bahkan riasan Adela tak mampu menutupi semua itu. Di lain pihak Eien menggeleng kecil untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Bagaimana Adela dapat menyetujui jika gerakan wanita ini tampak lunglai? Ia harus melakukan sesuatu. "Tidak. Sebaiknya saya memberitahu tuan demi kebaikan Anda." Tetiba lengannya tertahan lemah, Adela dapat merasakan gemeratak lembut di kulitnya. Jemari nonanya gemetar. Hal itu kian menguatkan tekadnya untuk mengadu.
"Jangan beri tahu Hornest," pinta Eien memelas.
"Menurut saya, tuan harus mengetahui kondisi Nona yang sedang tidak sehat," gelengnya tak setuju. Dilepas kaitan jari tangannya lantas keluar dari ruangan.
"Adelaaaa!" Eien bergegas mengejar, namun Adela berlari lebih cepat karena tidak mengenakan busana yang merepotkan. Lorong ini terasa memanjang dan bergoyang, walau pandangannya sedikit kabur Eien tetap memaksakan diri, baru beberapa langkah saja sudah membuat napasnya memendek.
Adela yang sudah sampaimenuruni tangga, menemukan tuannya sedang berdiri di depan pintu utama bersama William. Sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat.
"Apakah kereta kudanya sudah disiapkan?" tanya Ernest sambil memasang sarung tangan putih di jemari kirinya yang dijawab sebuah anggukkan sopan oleh William. Perhatiannya teralih pada suara ketukan kaki di anak tangga. Di sana Adela tampak tergesa turun dan di belakangnya ada Eien yang berusaha menyusul. Apakah mereka sedang bermain kucing-kucingan atau bagaimana? Namun ekspresi Adela tidak sedang bersenda gurau bersama nonanya. Bila diterka pasti ada suatu hal mendesak yang ingin dibicarakan. Ia pun bersiap manakala Adela sudah berada di tangga terakhir. "Ada apa, Adela?" tanyanya sedikit heran.
Jas resmi berwarna putih yang dikenakan tuannya tampak memukau. Bross ruby yang tersemat di bagian tengah kerah menambah kesan elegan. Adela tak dapat berhenti terpesona oleh sosoknya, apalagi saat matanya yang indah menggerakkan iris kelam kepadanya, sekejap saja seolah mampu menghentikan detak jantungnya. "No-nonaaa." Ia mencoba memberi tahu, tetapi terlalu gugup, pipinya jadi memanas.
Pandangannya menuju Eien yang melangkah menuruni tangga berusaha mencegah Adela bericara lebih lanjut. Perhatian Ernest terpusat pada wajah pucat kekasihnya, secara naluri ia tergerak menghampiri Eien yang menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Ketika berhadapan, tinggi mereka hampir sejajar, tanpa ragu tangan kanan Ernest yang masih telanjang terangkat menyentuh pipinya. Bila keadaannya seperti ini rasanya jadi
__ADS_1
sangat berat untuk ditinggalkan, sebab melepas pengawasan terhadapnya merupakan sebuah kecerobohan. Akan tetapi ia harus pergi menemui sang ratu. Alis tegasnya berkerut khawatir. "Apakah kau baik-baik saja?"
Sentuhan lembut di pipinya sanggup menyebabkan Eien tertunduk gugup. "Kau akan pergi?"
Senyum tipis Ernest kembali terlihat. "Ratu mengundangku malam ini."
Ratu? Benar juga. Ia pasti harus bersosialisasi dengan para bangsawan setempat. Sebenarnya itu adalah pola untuk kaumnya, hanya saja mengapa pria ini tidak menyembunyikan dirinya di dalam sebuah gua di hutan terdalam dibanding harus menyusahkan dirinya seperti ini. Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya? Walau demikian Eien tidak terlalu ingin memikirkan urusannya saat ini. "Apakah engkau akan mengizinkanku ke taman?"
"Aku takut tidak dapat melakukannya jika engkau sepucat ini," tegas Ernest namun bernada lembut.
"Aku baik-baik saja," sanggah Eien lemah.
Ditarik tangannya karena tidak berniat meluluskan kehendak tawanannya. "Adela, antar Nona kembali ke kamarnya." Pelayan itu sigap mendekati nonanya, sedangkan wajah Eien langsung terangkat menatapnya dengan ekspresi yang mengatakan bahwa ia telah bertindak tidak adil. Namun semua itu ia balas dengan seulas senyum lembut. "Esok malam engkau bisa ke taman."
"Bagaimana kalau Anda meminumnya? Akan kuizinkan ke taman setelahnya," potong Ernest mencoba membuat kesepakatan.
Mata Eien melebar, terlihat terkejut bercampur marah. Namun dialihkan wajah kecewanya demi menutupi iris birunya yang bergetar ingin menangis. "Licik." Setelah mengatakan hal menyakitkan ia berbalik menaiki tangga untuk kembali kamar.
Ernest memejamkan mata sejenak mendengar hujatan tersebut. Ia diam dan menerimanya. Adela dapat melihat kalau sebenarnya pria ini tidak ingin pergi, bahwa tuannya senantiasa selalu ingin berada di sisi Eien. Setelah menghirup napas yang dalam, Ernest membuka mata dan memandang serius pada Adela. "Aku ingin kau membujuk Selia untuk meminumnya, kalau tidak ... keadaannya akan semakin memburuk. Aku dapat memastikannya." Dilihat pelayannya lekas memberi anggukkan mengerti, sedikitnya ia jadi merasa lega. Maka dilanjutkan memasang sarung tangan di sebelah tangan kanannya. "Aku akan berangkat, William. Mungkin hingga tengah malam nanti baru kembali." Setelah kepala pelayan itu paham Ernest segera berjalan menuju pintu utama di mana William membukakan pintu untuknya.
Adela hanya sanggup menatap prihatin pundak majikannya yang terlihat begitu sedih hingga pintu itu kembali tertutup. Ada begitu banyak beban yang menggantung di pundaknya, seolah berat beban itu tidak akan berkurang, melainkan bertambah seiring langkah waktu. Adela bisa tahu sebab ia juga seorang pejuang. Hanya saja, ia tidak mengetahui apa yang sedang diperjuangkan oleh tuannya.
Tidak lama ia memutuskan kembali ke kamar Eien, tentunya bersama nampan bertatakan gelas berisi darah. Berat baginya melakukan hal ini, tetapi tuannya telah memperingatkan untuk tidak lalai. Di sana, nonanya tengah duduk di sofa. Kedua matanya terpaku menatap lantai dengan pipi yang telah basah. Sejenak langkah Adela tertahan memperhatikan buliran air mata yang berjatuhan tersebut. Dalam hati ia begitu iba padanya. Setelah mengambil napas dalam, perlahan dihampiri Eien agar tidak terkejut dan marah seperti malam kemarin. "Nonaaa," panggilnya. "Sudah saatnya Anda meminum -ini."
__ADS_1
Eien melirik sekilas gelas itu, lalu menggeleng kecil. "Aku tidak mau," tolaknya lirih.
"Ayolah, Nonaaaa." Digenggam gelas tersebut dan dijulurkan ke arah Eien. "Nona harus meminumnya demi kebaikan Nona." Nadanya sedikit memaksa.
Ditepis lembut gelas itu agar menjauh. "Kumohon, jangan membujukku untuk meminumnya."
Adela menangkap tangannya. "Kumohon, Nonaaa." Kali ini ia memaksa untuk menerima gelas tersebut di mana Eien menggeleng seraya mendorongnya. Akan tetapi, pelayan itu balas mendorong lagi. Saling mendorong gelas pun terjadi, Eien bertahan dengan pendiriannya dan Adela tetap bersikeras tidak menyerah. Pada akhirnya, gelas itu terselip dari tangan Adela dan jatuh di atas pangkuan Eien. Benda yang jadi masalah meluncur ke lantai bersama isinya yang telah kosong, darah tersebut menyerap pada kain sutera gaun Eien. Adela yang terhenyak yakin kalau ia akan murka padanya. "Ma-maaf, Nonaaaa! Sa-saya-" Tangannya sampai gemetaran saat mengeluarkan selampai miliknya demi mengusap darahpada gaun tersebut.
Sejenak perhatian Eien terpaku pada warna darah, aromanyayang terendus manis mengusik rasa laparnya,
namun ia tak boleh tergoda. Eien memilih tersenyum pada pelayannya agar ia lebih tenang. "Tidak mengapa, Adela."
"Te-tetapi nodanya pasti akan sulit dihilangkan!" Pelayan yang tampak panik itu berbalik menuju lemari. "Akan saya ambilkan gaun baru, Nona," usulnya gugup. Bagaimana bisa ia melakukan kecerobohan seperti ini? Yaa Tuhan, aku benar-benar bodoh,sesalnya dalam hati.
Eien jatuh bersandar pada sofa, dadanya terasa sesak, tenaganya seperti tak bersisa bagai air yang terserap busa kering. Gawatnya, kinipandanganya semakin buram. "Aku ingin tidur saja," lirihnya. Peluh dingin mulai mengalir dari dahinya. Tidak pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya, bagian jantungnya berkedut aneh di mana aliran energi berputar kacau di sana.
"Baik, Nona!" Dengan sigap dan berhati-hati Adela membantu Eien menukar gaun. Jarinya agak gemetar, takut wanita ini akan pecah jika ia terlalu kasar. Model gaun tidur musim panas berstrap tipis berwarna putih tampak pas di tubuh ramping nonanya. Setelah mengurai segala hiasan dan jalinan rambut Eien, Adela membantu tubuhnya yang lemah ke ranjang.
"Terima kasih, Adela." Ia pun mencoba beristirahat agar keadaannya membaik walau tak berharap banyak sebab nalurinya berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya.
"Beristirahatlah, Nona." Selesai memastikannyadalam keadaan nyaman, Adela berniat akan mencuci gaun bernoda darah tadi. Dibawanya gaun itu keluar, saat menuruni tangga ia berpapasan dengan William yang akan memeriksa tugasnya. Laki-laki tua itu bisa menerka apa yang telah terjadi. Gadis pun itu tertunduk karena tak dapat menutupi perasaan bersalah. "Ma-maafkan saya."
William menghela napas mengerti karena gadis ini masih -baru- bekerja di sini. Menangani sang nona bukan hal yang mudah. "Berikan gaun itu padaku." Gaun tersebut pun diserahkan padanya, lantas William merogoh saku jas untuk mengambil kunci dan memberikannya pada Adela. "Kau tahu di mana tempatnya, bukan? Aku sudah mengajarimu tadi."
__ADS_1
Itu adalah kunci ruang pendingin di mana terdapat botol persediaan darah. Sepertinya ketenanganlah yang merupakan sebuah kemewahan sebenarnya untuk sang nona. Dengan berat hati Adela mengangguk lemah lalu berjalan menuju dapur dan meninggalkan jejak kegelisahan.