Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
30. Kegelapan Dalam Hati


__ADS_3

Part 30


Tiada halangan derak roda kereta meluncur di atas jalan kasar tanpa terbesit ragu. Sesekali terguncang karena terantuk batu, namun tak menghalangi niatan yang terbawa dalam heningnya waktu. Sedangkan nun jauh di atas sana, lautan bintang yang berkelip saling menggoda satu sama lain turut menghiasi sejuknya udara musim panas. Sunyinya malam di tengah hutan masih tersisipi ringkikkan khas kuda-kuda kerajaan yang perkasa.


Hanya saja setiap guncangan yang didera Adela bagai menusuk-nusuk bokongnya yang tak bersalah. Betapa


kasar tarikan napasnya terdengar. Iris cokelatnya sesekali menatap wanita yang duduk tenang di hadapannya sedang memandangi kegelapan di luar jendela. Tak ada pertanda gelisah, cemas atau apa pun persamaannya. Bahkan mimik datarnya seolah bukan dari dunia ini. Tak ayal rasa cemaslah yang menggerayangi Adela, namun ia


berusaha meredam dengan saling menautkan jari di atas pangkuan. Tetapi getarannya tetap tak kunjung pergi dikarenakan kebingungan oleh apa yang telah diperbuatnya.


Bagaimana jika tuannya sampai tahu akan hal ini? Tidak mungkin majikannya tidak mengetahui hilangnya sang primadona dari acara sepenting itu. Bibir Adela terpagut kuat menyalahi kebodohannya. Apa yang harus dikatakannya nanti kalau mereka sampai terkejar dan tertangkap? Pekerjaan impiannya ini pasti akan terbang melayang menyebabkan dirinya tidak mampu lagi menjadi penopang keluarga. Adelaaaa, kau sungguh bodoooh! Kenapa tak kau adukan saja rencana nona pada tuaaaan! Tapi, bagaimana mungkin ia menjerumuskan nonanya sendiri? Lagi-lagi ia mendesah pasrah dengan perasaan tak karuan.


Sekarang apa yang akan dilakukannya? Sampai manakah ia harus mengikuti wanita ini? Ia sungguh gelisah membayangkan ujung dari pelarian ini. Lihatlah, wanita cantik itu enggan berpaling dari jendela! Tiada pemandangan indah yang dapat dinikmati terkecuali jajaran pohon yang tertelan kegelapan. Terlebih di tengah keadaan itu suara lolongan anjing hutan yang bersahutan membuat setiap bilah jari kakinya seperti akan berlarian. Tak tahan dihantui oleh semua kombinasi tersebut Adela segera menutup semua tirai jendela yang justru malah mengundang senyum tipis dari Eien saat melirik dirinya yang sedang ketakutan. Kontan saja Adela ternganga


oleh reaksi itu. Salahkah bila ia merasa nelangsa menghadapi sikapnya? “Nonaaaaa.” Gumamannya terdengar antara menyesal serta memprotes.


Senyum tipis itu masih membekas tanpa mengatakan sesuatu. Namun sebelum rengutan di bibir pelayannya semakin dalam, Eien harus melunakkan sedikit ketegangannya. “Ada apa, Adela? Apa lagi yang kau risaukan?”


“Astaga! Bagaimana mungkin Nona menanyakan hal itu?” protesnya.


“Ah, apa lagi-lagi aku bertindak kejam dan tidak peka? Sungguh, maafkan atas sifatku yang pelupa ini.” Sejenak Eien memejamkan mata, mencoba memusatkan pikiran pada gadis ini. Ketakutan bukanlah hal yang ia harapkan sekarang. Salahnya bila ia luput memperhatikan perasaan Adela karena sejak tadi tengah memikirkan ribuan langkah apa saja yang harus diambil setelah turun dari kereta. Perencanaan lebih detail membuahkan hasil yang lebih baik.

__ADS_1


“Nona bukanlah seorang pelupa. Nona hanya senang menggoda pelayan yang sedang ketakutan ini,” desahnya putus asa.


Eien sedikit memiringkan kepalanya, memikirkan penilaian dangkal itu. Bagitukah aku di matanya? Benar-benar polos … atau naif? “Singkirkanlah gurat kegelapan dalam benakmu, semua tercermin jelas di wajah


manismu.”


Kegelapan? Iras Adela berpaling resah. Andai bisa semudah itu menepisnya. “Kegelapan itu akan pergi bila Nona membatalkan niatan ini,” gumamnya lemah.


Rasanya akan lebih baik kalau Eien tidak menanggapi gumaman itu. Egois adalah jalan untuk mencapai tujuannya. “Bagaimana kalau kita menuju kediamanmu terlebih dulu? Kuharap hal itu dapat mengurangi sedikit beban di hatimu,” usulnya yang membuat Adela tercekat.


 “Ke-kediaman? Maksud Nona, ru-rumah saya? Ta-tapi untuk apa, Nona?” Kali ini pandangannya tidak lagi lari demi


memastikan pendengarannya. Tetapi yang didapat justru sebuah senyum tipis yang berkesan janggal.


Kerutan dalam di kening Adeka tak lagi dapat dicegah. “Berpamitan? Siapa?” Namun kristal biru itu malah tampak tajam hingga menusuk relung hatinya seolah memberi pertanda buruk.


“Adela, kau akan ikut bersamaku ke Romania.”


“Apa?!” Spontan gadis itu bangkit berdiri yang mengakibatkan ujung kepalanya terbentur atap kereta. “Auh!” Langsung diusap kepalanya yang mendapat sensasi nyeri bercampur pusing seraya duduk kembali. “Nona bercandakan?” ringisnya menahan sakit.


Senyum prihatin Eien merekah melihat tingkahnya. “Untuk apa aku bergurau?”

__ADS_1


“Ta-tapi, Nonaaaa! I-ini tidak masuk akal! Romania sangatlah jauh dari Inggris. Dengan kondisi Nona, pasti akan terlampau sulit untuk melakukan perjalanan!” sergahnya. Siapa pun akan berpikir demikian, bukan? Wanita ini hanya hidup di malam hari, sedangkan sisanya hanyalah berupa boneka semata. Bagaimana caranya menyembunyikan keadaan itu tanpa menimbulkan rasa curiga manusia? Bila orang-orang sampai tahu, entah apa yang akan terjadi. Mungkin mereka akan dibakar hidup-hidup karena dianggap sebagai para penyihir jahat. Dan bila


beruntung luput dari insting tajam manusia, sudah barang tentu ini akan menjadi sebuah perjalanan tunggal di mana semua beban itu akan bertengger di pundaknya seorang sendiri.


“Karena itulah aku membutuhkanmu.” Setelah kalimat itu terucap, Eien tertunduk dan terbungkam. Bola matanya menurun menatap lantai kereta, terdiam hampa seolah mengakhiri pembicaraan.


Sungguh kalimat yang sangat egois. Adela sampai kehilangan kata-kata. Apalah dayanya? Ia hanyalah seorang pelayan. Mau tidak mau dirinya jadi ikut terdiam dan terpaksa menerima semua keputusan sepihak itu tanpa perlawanan lagi. Dipejam erat matanya, berdoa dalam hati agar semua ini akan berlangsung baik-baik saja. Ia menoleh ke belakang, mengetuk jendela di belakang kepalanya tadi.


Terasa laju kereka melambat, terdengar sahutan dari sang kusir yang bertanya, “Ada apa, Nona?”


“Ada sebuah lokasi yang ingin dikunjungi Lady Elena terlebih dulu. Kita akan ke ibukota sekarang. Aku akan menunjukkan di mana tempatnya,” terang Adela gugup. Setelah mendengar petunjuk singkat, kusir itu hanya mengiyakan tanpa banyak bertanya.


Sepanjang perjalanan yang tidaklah banyak memakan waktu, Eien masih saja mematung, hanya Adela yang kian resah. Semakin jauh kereta ini melaju, semakin sulit udara yang ia raih. Sesak. "Oh, Nonaaaaa. Tidak bisakah dipertimbangkan kembali?" bujuknya yang sudah tak sanggup bertahan dalam himpitan rasa bersalah dari sebuah pengkhianatan.


Pada akhirnya mata indah itu terangkat memberi perhatian. "Setibanya kita di Romania, pelayan pribadiku sendiri yang secara khusus akan mengantarkanmu kembali ke negara ini. Jadi lenyapkan keresahanmu. Cukuplah bagimu menemani hingga aku tiba di hadapan ayahku."


"Bukan begitu, Nonaaaa."


Eien memiringkan wajahnya lagi dengan sedikit kerutan. "Kini kau yang membuatku tersesat dalam keresahanmu. Kau tahu itu?"


Adela mendesah tidak enak. "Ma-maksud saya, bagaimana dengan Tuan Hornest? Be-beliau pasti-" Kalimatnya terputus oleh keraguan dan rasa sungkan.

__ADS_1


Ah! Eien mulai paham. "Kau mencemaskannya?" Senyumnya terukir saat Adela membenarkan. Sejenak iris biru itu berpaling seperti menimbang sesuatu. Lalu diputuskan untuk mengintip saja apa yang ada dibalik benak gadis ini. Dipandang kedua mata cokelatnya yang begitu jernih, menelisik masuk tanpa lapisan halangan, lantas melihat apa yang tersirat di sana. Ternyata temuan itu agak membuat Eien sedikit kecewa, namun masih dapat memakluminya. "Kau tidak percaya padaku?"


__ADS_2