Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
21. Darah Kotor


__ADS_3

Part 21


Di sana Ernest mendapati hatinya setengah berbaring di ranjang. Dan yang membuatnya heran adalah gaun tidur yang dikenakannya. Mengapa Adela tidak meriasnya? Menjadikannya selalu cantik agar hatinya tak bersedih, apalagi sampai merasa terganggu dikarenakan tubuhnya. Padahal warna pucat masih belum jua mereda di parasnya. Kekhawatiran Ernest kian bertambah. "Apakah engkau baik-baik saja?" tanyanya seraya duduk di tepi ranjang menghadap Eien di mana senyum lirih datang menyambutnya.


Bisa dikatakan amarah yang sempat membanjiri benaknya tak lagi tergenang, surut perlahan seiring waktu yang terbilang sempit ini. Segalanya berubah karena darah itu pun telah bersarang dalam tubuhnya dengan cara yang luar biasa. Murka apalagi yang harus disimpannya? Semua itu sia-sia belaka. Karena hingga detik ini nyawanya masih terperangkap dalam kehidupan. Ikuti saja permainan ini, itulah bisikan hatinya yang sedang menunggu celah. "Sudah lebih baik," jawabnya rendah.


Jikalau benar begitu adanya, Ernest merasa senang. Karena memang dialah penyebab dari penderitaan sang putri. Senyum tipisnya terukir getir. "Aku senang mendengarnya."


"Benarkah?"


"Tentu, Yang Mulia. Mengapa aku menghendakimu sengsara dan bermuram durja? Sedangkan tawa bahagiamu saat melihat mentari pagi jauh lebih indah." Suaranya semakin kecil dan penuh sesal hingga akhir kalimat.


Sebuah teka-teki lagi bagi Eien. Pengucapan yang bagai tanpa daya itu mengiris hatinya. Pria ini terluka, dan sudah pasti menderita karena melakukan sihir hitam serta menjadi buron kerajaan. "Sepertinya kau benar-benar mengenalku, Hornest. Tetapi kebenaran itu masih kau simpan, entah apa yang menjadi pertimbanganmu. Aku harap hal itu tidaklah terlalu lama disembunyikan." Kedua pasang mata indah pun saling beradu, seolah memindai perasaan yang tengah mengintip dari masing-masing hati mereka.


"Tahukah engkau, Putri? Kalau waktu adalah hal yang paling misterius di dunia ini. Hanya melangkah maju dan bersuara, tik-tik-tik. Hanya seperti itu, tetapi langkah kecilnya membawa kita ke masa depan dengan segala jawaban yang perlahan datang. Bukankah waktu memiliki kekuatan yang terlalu besar?"


Eien tertawa kecil, percakapan ini sedikit menghiburnya. "Kau benar. Waktu teramat aneh, kita mampu memundurkan jarum jam, tetapi entah mengapa waktu tidak mengikutinya. Bukankah itu tidak adil? Segala yang hilang di masa lalu, tak dapat diraih lagi. Waktu tak lagi memberi kesempatan."


"Tetapi kesempatan untuk memperbaiki selalu ada di waktu yang berjalan."


"Dan kau benar lagi. Aku harap waktu tidak berhenti saat niatan memperbaiki keadaan telah datang. Hanya saja saat ini waktu tengah menguji kesabaranku karena engkaulah misteri terbesar bagiku."


Kali ini Ernest yang tertawa kecil mendapat sindiriran halus tersebut. "Kalau begitu, bagaimana jika misteri ini kukurangi sedikit?" tanyanya yang disambut dengan wajah bertanya Eien. "Seperti yang kurencanakan bahwasanya akan ada perjamuan di kastil ini dalam rangka perkenalan kepada seluruh bangsawan London."


Iris Eien melebar tak percaya. "Sungguh? Tetapi mengapa, Hornest?" Walau sebenarnya ia merasa senang hanya saja ini agak aneh.


"Kau menyukai manusia, bukan?"


Eien tak mampu menahan tawa kecilnya lagi, ada sesuatu yang ternyata membuatnya merasa nyaman berada dekat dengannya. Sejujurnya ia menyukai situasi yang terasa akrab ini, seolah jarak waktu yang baru mereka bahas tiba-tiba saja menghilang. Ajaib sekali. "Tentu saja. Bahkan aku sangat menyukai Adela," serunya yang tak sungkan menunjukkan rasa gembira.


Iris birunya yang berbinar memancing senyum kelegaan Ernest.

__ADS_1


"A-aku juga menyukai Nona," sahut Adela yang mendadak muncul membawakan gelas berisi darah di atas nampan. Langkahnya terhenti di depan ranjang, agak sungkan karena tuannya sedang bercengkrama bersama nonanya. Ini adalah sesuatu hal yang jarang terjadi.


Tak pelak keceriaan Eien mendadak redup begitu melihat gelas itu lagi, namun ia tetap berusaha tersenyum pada pelayannya. "Mendekatlah," sambutnya.


"Baik, Nona." Perlahan Adela mendekat ke sisi ranjang di mana Ernest duduk. "Tuan?" Ada keraguan yang nyata tersirat dari pancaran mata majikannya yang sempat terpaku. Bahkan Adela terlalu jelas melihat getaran ketika tangan Ernest mengangkat gelas. Ia juga sempat memperhatikan reaksi nonanya yang kali ini jauh lebih tenang serta tidak memprotes seperti biasanya.


"Kau membutuhkan ini untuk malam perjamuan," bisik Ernest lirih.


Gelas yang bergetar dalam genggaman Ernest itu menyadarkan Eien betapa hidupnya bergantung pada darah terkutuk. "Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain," desisnya seraya menyambut gelas tersebut.


Ketegangan merambat dalam kamar bagai akar pohon yang menutupi jalan udara. Sesak itu perlahan datang dalam benak Ernest. Ruas rahangnya mengetat tatkala kebimbangan mulai menggerogoti pertahanannya. Matanya tak berkedip ketika gelas itu mencapai tepi bibir kekasihnya. Kekasih? Tiba-tiba saja dadanya sakit seolah jantungnya mendadak berhenti berdetak. Bagaimana mungkin ia lupa kala rasa bersalah menerjang layaknya ombak ganas ditepi jurang seperti di malam ritual mengerikan waktu lalu, menamparnya hingga sadar siapa wanita yang ia paksa meminum darah kotor ini. Kau kekasihku.


Inilah hebatnya sang waktu, selalu tepat mengombang-ambing perasaan saat jawaban itu berderai dalam sekam masa. Yang perlu dilakukan hanyalah teringat atau terus maju. Kau hanya perlu menjadi jeli agar dosa itu tak terus melumurimu. Dan cairan yang ternoda itu nyaris menyentuh ujung bibir kekasihnya jika tangan Ernest sedikit terlambat mencegahnya, menurunkan secara halus kemudian mengambilnya tanpa ada ragu yang tersisa.


"Hornest?" Kedua alis Eien bertaut bingung, rautnya jelas terlihat bertanya ketika Ernest menjulurkan gelas itu


kembali pada Adela yang agak terkejut.


Harus ada penjelasan, karenanya Ernest tertunduk frustasi. "Buang."


Adela lekas menyambut canggung sumber penyebab masalah, tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja majikannya berubah pikiran. "Maaf, Tuan?" Ia ingin memastikan pendengarannya sekali lagi.


"Buaaaang. Buang semua darah kotor itu. Katakan pada William untuk membuang semua persediaannya!" Suaranya terdengar kalut, pundaknya bergetar saat membungkuk, bahkan ia menyembunyikan wajah dalam kedua telapak tangan. Ia tahu jari-jarinya tak akan sanggup menutupi semua rasa malunya, hanya saja mungkin cukup untuk menyadarkan betapa menyedihkan dirinya. Aku tidak bisa. Tidak mungkin kubiarkan darah itu mengotori jiwa yang mulia putri. Apa yang telah kulakukan?! Aku terlalu gelap mata! Bagaimana mungkin aku tega membiarkan hal itu terjadi? Mengotori jiwa kekasihku sendiri. Tuhaaaan, aku begitu terkutuk!


Dalam kepanikan Adela beranjak dari tempatnya berdiri untuk menyampaikan pesan tadi pada William. Akan tetapi, langkahnya terhenti di balik dinding kamar mandi, terdiam sejenak di sana seolah ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Perilakunya ini memang sangat kurang ajar, namun rasa ingin tahunya tak mungkin lagi tidak dapat dihentikan. Kemarin nonanya dipaksa sedemikian rupa untuk menenggak darah ini, lalu sekarang harus dibuang? Ini aneh. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Menyaksikan punggung pria yang sarat akan beban berat, bagaimana mungkin hati Eien tak tersentuh. Sejujurnya ia paham dengan apa yang sedang terjadi di sini. "Adela mengisahkan sebuah peristiwa yang terjadi di kota hari ini padaku," bisiknya lirih.


Sampai terperangah Ernest menegakkan wajah dan menoleh pada Eien, menatapnya dengan perasaan malu dan rasa bersalah yang sudah terlanjur tergambar. "Maaaaf. Maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya," suaranya yang lirih gemetar.


Inilah yang Eien tidak pahami. "Mengapa kau terus meminta maaf, Hornest? Jujur saja, sebagai seseorang yang mengambil peran penjahat, engkau tiada menjiwainya. Inkonsistensi warna silih berganti itu jelas menyesatkanku." Ya, warna hitam dan putih datang tak menentu di mata Eien. Bagaimana bisa ia mendefinisikan pria ini dengan baik. Hati pria ini sangatlah indah, sehingga hanya ada kebaikan yang bermukim di dalamnya, mata istimewa Eien tak dapat dikelabui. Tetapi mengapa yang dilahirkan hati itu adalah perbuatan yang keji? Karenanya ia mendesah sedih, sebab mungkin dirinyalah bentuk alasan yang memaksanya melakukan hal terkutuk ini. Jemarinya terangkat demi meraih pipi Ernest, lalu lembut mengusapnya. "Kau pria yang baik, Hornest. Kumohon berhentilah menjalani hidup seperti ini. Aku hanya menemukanmu berkubang dalam kesengsaraan karena semua ini."

__ADS_1


Dada Ernest menjadi sesak mendengar kalimat halus yang lirih menggoda keyakinannya. Apakah pilihan hidup masih merupakan haknya? Tidak, jalan terkutuk yang ia tempuh hanya memiliki satu tujuan. Ya, jalan yang mungkin menyeretnya hingga ke palung neraka terdalam tetap akan ia lalui demi mempertahankan jiwa kekasihnya hingga akhir. "Bila kau bertanya, maka hanya ada jawaban sederhana.”


“Apakah itu?”


“Aku sanggup menerima kebencianmu. Tetapi aku tidak sanggup bila aku telah terhapus dalam hidupmu. Itu lebih menyakitkan.” Perlahan genangan air mata mulai terbentuk di pelupuk matanya. Aku harus menyelamatkanmu.


Kalimat itu menghujam begitu dalam di benak Eien, dan rasanya luar biasa menyesakkan. Apakah ini sebuah permainan pikiran? Akting yang dilakukan demi meyakinkannya? Jujur saja Eien ragu untuk melangkah karena kenangan pria ini tidaklah ada dalam semesta jiwanya. Napasnya hampir terputus kalau bukan karena sisa kewarasannya yang menopang, mungkin ia sudah lepas kendali lagi. "Se-pertinya ... aku telah melupakan hal yang teramat penting. Benar, bukan?" tanyanya dengan nada menahan diri.


Iris hitam yang indah itu sudah tak mampu menutupi kesedihan, bibirnya bergetar bagai menahan ribuan buih kata. Jikalau kemampuan itu dapat diraih, dengan senang hati Ernest akan membisikkan semua hal yang pernah terjadi di antara mereka. Bila perlu ia akan meneriakkannya sekeras mungkin di atas bukit ini, tidak peduli semua makhluk akan menertawakan betapa bodoh tingkahnya. Tetapi tenggorokkannya ternyata tersumbat sehingga tak ada satu pun kata yang terpatri di udara. Sekeras mungkin ia berusaha mengendalikan emosi, menekan semua luka yang menghimpit dada.


Air mata yang hampir terjatuh itu cukup membuat Eien meninggalkan sandaran bantal. Ditarik lembut tubuh Ernest untuk masuk dalam rengkuhan ringan. Setega itukah ia untuk terus melihat ketidakberdayaannya? "Kendalikan pikiranmu, Hornest," bisiknya sedih.


Ernest tak menolak, bahkan membiarkan wajahnya berada di lekukan leher kekasihnya. "Putriii."


"Bagaimanapun juga tangisan adalah hal yang terlarang. Air mata terlalu berbahaya untukmu, tetapi tidak untukku karena aku berada dalam tubuh manusia," bisiknya lagi. "Kuatkan dirimu."


Benar, tidak seharusnya ia hilang kendali dann terperangkap dalam kelemahan hati. Perlahan ditarik napas sedalam mungkin hingga gejolak frustasinya mereda. "Kau membuatnya terdengar tidak adil.  Akan tetapi kau memang benar." Eien mengusap pelan punggung pria itu, mengingatkan untuk menenangkan diri. "Beri aku kekuatan, Eien. Beri aku kekuatan untuk menjalani semua ini. Aku tidak ingin keyakinanku pergi meninggalkanku."


Sebuah permintaan yang makin membuat Eien sedih. "Keyakinan." Matanya terpejam sejenak. "Bagaimana mungkin kau memintanya jika yang kusaksikan dari dirimu adalah penderitaan. Bukankah sebaiknya engkau merelakanku?"


Dilepaskan dirinya dari pelukan gadis itu demi menunjukkan ketidaksetujuan dalam pancarannya matanya. "Apakah engkau ingin menambah pertanyaan dalam pikiranku yang terlanjur kalut ini, Putri?”


“Pertanyaan?”


“Ya. Apakah aku akan mampu bertahan bila kau telah tidak ada?” Bibir itu merengut menahan getaran.


“Tetapi, Hornest-“


“Kumohon jangan memintaku untuk membuktikan pertanyaan itu. Memaksa membayangkannya saja serasa cukup bagiku untuk membuang dunia ini.”


“Horneeest,” desisnya yang terhenyak pilu. Getaran perih terpercik dalam kristal biru Eien sebagaimana dadanya yang berdebar keras tak menentu. Terdapat perasaan sakit di bagian sudut benaknya, perasaan yang tak dapat ia terjemahkan dalam bahasa manapun. Perasaan yang mengakibatkan dirinya terlempar ke masa lalu yang tidak dapat ia ingat seperti apa rekam panoramanya. Tetapi ia yakin, pria ini pasti ada dalam kenangan yang hilang itu. "Hornest, maafkan aku." Suaranya terdengar lirih.

__ADS_1


Sementara itu raut Adela terjuntai sedih di sana. Lambat mengerti mengenai isi percakapan yang begitu dalam tersebut karena masih banyak informasi yang berongga. Hanya saja ia tidak tahu mengapa tuannya dilarang menangis? Baginya, setiap orang berhak untuk mengeluarkan air mata, entah itu didasarkan pada kebahagiaan atau kesedihan, terutama ketika sedang mengalami siksaan yang teramat berat dalam hidupnya. Ia yakin bahwa air mata tidak akan mencelakai siapa pun. Lalu di lain sisi, sebenarnya apa yang telah dilupakan oleh nonanya? Dan apa yang telah terjadi pada tubuh wanita cantik itu? Digelengkan kepalanya sejenak demi melenyapkan segala prasangka yang berkecamuk dalam dada, kemudian barulah ia memutuskan untuk mulai mengambil langkah meninggalkan kamar ini dengan segala pertanyaan yang tak mungkin bisa dijawabnya seorang diri.


__ADS_2