Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
16. Perjamuan Ratu


__ADS_3

Part 16


Di antara semua aristokratyang hadir, seorang wanita muda diam-diam memberi perhatian lebih pada sang tamu utama. Matanya lebar bagai ekor burung merak, irisnya yang bening berwarna amber tak pernah gagal menarik perhatian lawan jenis, dan rambut pirang tembaganya berkilau ketika tertimpasinar lilin. Tak ada yang menyangkal kecantikan wanita ini karena tampak bercahaya seorang diri. Kulitnya jernih dengan sedikit bintik-bintik cokelat di pipi. Bibirnya yang tipis melengkung manis mendengar Ernest yang sedang berbincang bersama tamu lain. Semua orang di negeri ini mengenalnya sebagai kerabat dekat sang ratu.


Gadis cantik itu tidak dapat berhenti menatap pria yang baru dikenalnya. Sulit baginya untuk dapat berpaling, bahkan jika untuk sebentar saja rasanya ia seperti akan merugi. Apa yang keluar dari bibirnya adalah hal yang menarik, berguna, terutama mampu mengundang decak kagum akan pengetahuannya. Dan yang paling memaku tatapannya adalah parasnya yang terlampau rupawan. Jangan katakan ia tidak memperhatikan sekitarnya, wanita cantik ini juga penasaran apakah hanya dirinya yang terjatuh dalam daya tarik bangsawan asing ini, dan ternyata ia tidak sendirian. Para lady dan duchess pun terjebak dalam pesonanya. Sedangkan para pria tidak menyadari perilaku istri mereka karena sibuk mendengarkan kisah Ernest. Bagaimanapun juga pria itu sempurna. Bukankah rasanya aneh? Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak semua manusia memiliki paket lengkap, tetapi ia ingin mengabaikan saja rasa janggal itu dan menikmati keindahan yang sedang terjadi.


Seusai perjamuan makan malam, perbincangan berlanjut dalam ruang perapian. Anggur merah terbaik tergenang pekat dalam cawan, menemani di antara gelak tawa. Para wanita duduk di sofa mengelilingi sang ratu, sedang beberapa pria berdiri dekat jendela atau perapian. Wanita cantik tadi yang duduk bersebelahan dengan sang ratu memberanikan diri untuk bersuara setelah selama ini ia hanya menjadi pendengar yang baik. "Bagaimana dengan keluarga?" tanyanya spontan pada pria yang duduk di seberang para wanita. Ia sendiri terkejut karena sebenarnya bukan hal itu yang hendak ditanyakan. Pertanyaan tersebut terlalu frontal. Orang lain akan berpikir kalau ia adalah gadis yang vulgar. Benar saja, semua mata tertuju padanya, bibir mereka terbungkam, sebab tahu gadis cantik ini tertarik pada Ernest biladilihat dari binar matanya yang berkilauan.


Iris kelam Ernest bergulir lembut pada wanita cantik itu. Sontak tatapannya yang sendu kontras dengan alis tegasnya seolah sanggup menghentikan detak jantung, bahkan ketika bibirnya melengkung tipis menyebabkan semburat merah di pipi para wanita. Semua orang menjadi penasaran dengan jawaban dari pertanyaan menjurus menyoal masalah pribadinya. "Saya memiliki seorang adik perempuan, sedangkan kedua orangtua kami telah tiada. Karenanya saya hanya tinggal berdua saja dengannya. Tentunya dengan beberapa pelayan. Walau demikian, kehidupan kami tetap terasa ramai, Lady Radringham," jawabnya lugas.


"Saya turut menyesal mendengarnya. Ah, cukup Elena saja bila tidak keberatan," pintanya prihatin.


"Tidak mengapa, kesedihan itu telah lama berlalu layaknya malam yang terjatuh berganti terbitnya mentari pagi yang membawa asa baru."


Elena tersenyum gembira untuk kebangkitan itu. "Saya turut bersyukur, Duke Cloudivious."

__ADS_1


"Hornest, bila Anda tidak keberatan," balas Ernest yang mengundang senyum simpul di wajah yang lain.


Elena tersipu dan melanjutkan kata-katanya, "Di istana, kami memiliki seorang ratu," Ia tersenyum pada bibinya. "Dan saya pun yakin para lady dan duchess akan menyandang istilah ratu di tiap kastilnya." Para wanita tertawa kecil mengetahui arah maksud perkataan Elena. "Apakah suatu kesalahan andaikan saya menarik kesimpulan


kalau posisi sang ratu di kastil Anda belumlah terisi." Lagi-lagi bibirnya tak dapat dihentikan. Sejujurnya, tabiatnya yang satu ini sering membuat dirinya sendiri kesal.


Ernest kembali menanggapi dengan senyum tipis memaklumi. "Anda tidaklah salah. Hingga kini, posisi penting itu belumlah diminati," jawabnya merendah. Semua orang pun tertawa oleh ucapan yang dianggap gurauan cerdas itu. Pasalnya -semua tamu yang hadir tahu- dengan semua atribut yang dimiliki bangsawan ini, mana mungkin tidak ada wanita yang tak bermimpi bersanding dengannya.


Jawaban yang memang diharapkan Elena yang sampai tertunduk malu karena tingkahnya sendiri. Walaupun pipinya memerah, diam-diam ia juga menghembuskan napas lega. Tanpa ia sadari, ternyata sang ratu sempat mengamati rasa tertarik keponakannya dengan baik. Baginya, Elena sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Tentunya ia akan mendukung jika Elena memang benar tertarik pada bangsawan bakir ini. Mungkin hal itu akan menambah kekuatan diplomatis dengan Rumania.


"Sungguh suatu kehormatan bagiku, Madam," jawab Ernest. Entah bagaimana topik perbincangan melenceng sebagaimana para bangsawan itu berusaha menjodohkan Ernest dengan kerabat dekat mereka. Tak pelak Elena jadi menarik napas dalam serta berharap cemas agar pria ini tidak tertarik kepada siapa pun yang tengah ditawarkan oleh para bangsawan ini. Tidak ada yang tak dikenalnya dari semua lady yang disebutkan namanya. Bahkan tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki kualitas buruk.


Jam antik di sudut ruangan telah menunjukkan pukul sembilan malam. Selentingan perasaan tidak mengenakkan seolah mendesak Ernest agar segera kembali ke kastil. Isi kepalanya terus saja memikirkan kondisi tawanannya. Andai saja ia mendapatkan celah untuk kembali.


"Aku penasaran, mengenai adik perempuan Anda. Mengapa Anda tidak membawanya untuk makan malam bersama kami?" tanya sang ratu yang ingin mengalihkan topik pembicaraan karena Elena terlihat mulai muram.

__ADS_1


Pertanyaan tersebut menyelamatkan Ernest dari percakapan berat. Walau sebenarnya ia tidak peduli dengan semua gadis yang ditawarkan, akan tetapi ia tetap tak ingin menyinggung siapa pun dengan bertingkah tidak sopan. "Tentu saja hamba berharap Selia dapat bergabung di sini untuk menyapa Anda, Yang Mulia. Sayangnya, keadaan Selia sedang tidak memungkinkan malam ini. Kondisi kesehatannya sedikit mengganggunya."


Raut Elena berubah cemas. "Pantas saja Anda tampak resah sepanjang malam ini. Bagaimana keadaannya? Aku berharap Lady Cloudivious baik-baik saja."


Kepekaan Elena menciptakan senyum hangat di wajah Ernest. "Terima kasih, Anda begitu perhatian, Lady." Elena agak salah tingkah. "Ketika hamba tinggalkan, ronawajahnya masih terlihat pucat. Andai diizinkan, hamba ingin undur diri lebih dulu," pintanya pada sang ratu sambil sedikit membungkuk.


"Tentu. Keluarga adalah hal yang utama, bukan?" jawabnya bijak.


Semua orang -terutama Elena- agak kecewa jika pria rupawan ini terlalu cepat pergi meninggalkan istana, namun tidak ada istilah putus asa baginya. "Duke Hornest, kapan-kapan, bila diizinkan, apakah Anda berkenan jika saya datang berkunjung ke kastil Anda untuk berkenalandengan Lady Cloudivious? Saya berharap dapat berteman baik dengannya," tanyanya penuh harap.


"Itu benar. Elena adalah gadis hangat dan bersahabat. Semua orang akan dengan mudah menyukai sifatnya. Aku sendiri yang akan menjamin kalau Lady Cloudivious tidak akan menyesal berteman dengan keponakanku," sambungsang ratu.


Tentulah Ernest menyambut gembira dengan senyum hormat. Seorang teman untuk Eien bukanlah gagasan yang buruk. "Tentu saja, Yang Mulia. Hamba tidak akan berani meragukan hal itu. Lady Elena adalah seorang wanita yang terhormat, hamba yakin Selia akan jatuh hati padanya. Selain itu, akhir pekan ini, keluarga kami akan mengadakan perjamuan. Akan menjadi sebuah kehormatan bagi keluarga kami jika Yang Mulia beserta seluruh bangsawan dapat hadir di kastil keluarga hamba. Hamba harap Yang Mulia bermurah hati menyempatkan diri untuk datang berkunjung." Wanita paruh baya itu menyambut dengan senyum. Kemudian Ernest menyebar pandangan pada para tamu kerajaan lainnya. "Saya turut mengharapkan kemurahan hati Bangsawan sekalian." Setelah mengatakan hal itu ia segera berpamitan.


[Elena]

__ADS_1



__ADS_2