
Part 35
Isi perut Adela bergejolak kuat, menu makan malamnya hampir saja melewati kerongkongan kalau saja tidak cepat-cepat mengendalikan diri akibat sensasi menjijikkan yang dialami. Darah dan bau busuk itu begitu tajam sampai ia merasakan rindu pada aroma mawar di halaman kastil yang setiap hari membuatnya mabuk. Dalam napas yang sekuat tenaga ia tahan, matanya membesar menyaksikan begitu mudah Ernest menebas leher Lewis. Kepala itu menggelinding di tanah. Gadis itu hampir hilang kesadaran hingga tak terasa melepas dekapannya pada Eien lantas terkulai lemas di tanah. Kini dunianya telah hancur berkeping mendapati kenyataan betapa keji tuannya, betapa mengerikan sosok yang begitu dipuja para lady. “Tu-tuaaan.”
Darah hitam yang melekat dibadan pedangnya benar-benar merusak suasana hati. Padahal Ernest cukup menyukainya yang merupakan salah satu koleksi pedang bersejarah yang ia kumpulkan dari berbagai penjuru dunia. Tapi malam ini ia harus merelakannya. Baginya pedang itu telah ternodai. Maka dibuang begitu saja pedang itu ke tanah tanpa ada penyesalan. Sekarang yang tersisa adalah memeriksa keadaan kekasihnya. Ia pun mendesah pelan, bersyukur Eien tak terluka sedikit pun, hanya tampak bias lebam biru di dadanya. Itu adalah pertanda bahwa ia harus segera membawanya ke kastil. Di sisi lain si pelayan baru tampak tengah mengalami pukulan berat secara psikologis. Gadis itu memang masih terlalu naif dalam melihat betapa mengerikan sisi lain kehidupan, bahwa dunia ini tidak hanya ada terang benderang tetapi juga berisi kegelapan.
Perlahan didekati Eien yang masih kalut karena dihantui oleh kata-kata Albert. Dalam teduh pandangan, jemarinya menyentuh pipi pucat itu hingga mata birunya bereaksi dengan sekaliberkedip tanda tergugah kesadaran. “Putri,” panggilnya lembut.
Dalam remang di antara kabut ingatan dan kenyataan, rupanya Eien mengalami kegagalan dalam mencerna informasi di hadapannya. Semua tampak samar, bahkan wajah pria ini yang seharusnya dihindari ternyata sulit ia kenali. Irasnya tersamar oleh bayang rupa di masa lalu. Rupa yang luar biasa ia butuhkan dan rindukan saat ini. “Guru, bagaimana mungkin aku bisa meyakini hal sekeji itu?” desisnya perih. Tubuhnya hampir merosot jatuh kalau bukan Ernest yang sigap menyangga pinggangnya. Ernest hanya terpaku pada getaran kesedihan yang membias dalam bola matanya. “Beritahu aku, apakah keyakinanku salah? Jawab, Guruuu,” pintanya putus asa. Ratusan tahun hidupnya terasa akan sia-sia bila semua itu salah. Waktu sepanjang itu ternyata tiada menjamin dirinya untuk mencari kebenaran. Hidupnya hanya terkungkung oleh cangkang istana. Hanya melihat dari tulisan dalam buku dan sudut pandang kisah orang lain yang datang ke istana. Apakah itu yang disebut wawasan?
Menimbang sejenak jawaban yang tepat Ernest menutup mata. Panggilan guru bukanlah tertuju padanya melainkan kekasihnya sedang melihat orang lain melalui dirinya. Ketika iris hitamnya kembali muncul, senyum tipisnya yang khas turut kembali. “Salah? Dari sudut pandang mana dan siapa engkau melihat? Benar? Pun sama, berikan juga pertanyaan itu. Jika kau meyakini itu benar, namun menurut yang lain salah, apakah engkau harus mengalah dan menuruti pendapat orang? Jika, iya, maka engkau hanya akan menjadi sebuah karakter submisif tak berpendirian.”
“Bukankah itu keegoisan?”
“Ya, benar. Pada dasarnya semua mahluk di dunia ini adalah bentuk keegoisan semata.”
Buliran air mata Eien pun mengalir meredakan goyah yang melanda. Buramnya pandangan mengembalikan kesadarannya pada kenyataan. Kini rupa sang penculik telah sepenuhnya ia kenali, maka dari itu disembunyikan wajahnya di dada Ernest demi menahan rasa malu. “Maafkan aku. Seandainya saja aku tidak mencoba lari, mungkin hal ini tidak pernah terjadi.”
__ADS_1
“Tidak, Putri. Kau memang harus tahu. Melalui sebuah kejadian dan interaksi, kecacatan dalam wawasanmu akan menjadi sempurna oleh pengalaman. Ini adalah satu pelajaran yang harus kau pahami, mungkin atau pun tidak, engkau adalah penerus tahta raja. Kau ... adalah calon mother kami. Hanya kau,” bisik Ernest.
Mendengar itu Eien hanya mampu terdiam dalam tangis.
Tak lama muncul seorang pria memberi hormat pada Ernest. “Maaf. Saya terlambat, Tuan.” Adela mengenalinya sebagai salah satu pelayan tuannya.
“Bereskan semua ini,” perintahnya.
“Baik, Tuan,” jawabnya lalu menghormat dalam.
Perhatiannya beralih pada Adela yang tampak bingung dan takut. Inilah yang menyebabkannya enggan menerimanya bekerja di kastil, hanya saja saat itu ia tak punya banyak waktu untuk menunggu calon pelayan yang lain. Harapannya hanya sederhana, bahwasanya setidaknya gadis kecil ini tidak berakhir menjadi gila. Dijulurkan sebelah tangannya yang bebas pada gadis itu. “Berdirilah, Adela.”
Walau terperangah sebab tidak tahu bagaimana harus menanggapi kejadian ini, tapi tak dipungkiri getaran dalam bola mata Adela menunjukkan rasa haru yang bercampur baur oleh emosi yang bertolak belakang. Air matanya pun mengalir atas kotradiksi tersebut. Ada kalimat yang terus berseru lantang dalam kepalanya untuk segera lari dari sana, namun hatinya seolah terpaku bumi ketika dua wajah rupawan itu menatap lembut padanya. Terlalu berat baginya untuk lari dari mereka. Nalurinya berkata bahwa ada bahaya yang mengancam dibalik keindahan itu, akan tetapi ia menyadari bahwa sepenuhnya hatinya telah terbelenggu oleh mereka. “Tuaaan. Nonaaa,” lirihnya bingung. Apakah kata terima kasih atas kesempatan kerja sudah cukup untuk menyambut petaka yang berada di ujung jari mereka? Adela sempat menggigit bibir. Alasannya tidak mungkin sesederhana itu, materi bukanlah penyebab ia ingin bertahan. Saat jemarinya menyentuh uluran kedua tangan itu, kedua matanya pun terbuka lebar, bahwa sebenarnya takdirlah yang telah menetapkan hatinya. Masing-masing tangannya telah terkait, dan benang merah di antara mereka pun terjalin. Hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya mengeringkan sisa air mata yang terganti rona merah di pipi. Kedua majikannya menariknya perlahan hingga getaran di kaki sisa rasa takutnya tadi menjadi sirna perlahan.
Diraih pipi pelayannya yang merunduk. “Sekali lagi maafkanlah aku. Seharusnya aku tidak melibatkanmu,” pinta Eien.
Sentuhan di pipi menyentaknya untuk waspada. “Ti-tidak, Nona! Janganlah meminta maaf pada pelayan tidak berguna seperti saya,” sergahnya lirih yang bahkan tidak berani menatap tuannya.
__ADS_1
Meski begitu Ernest bisa membaca gelagat rasa bersalahnya yang kentara. “Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik.”
Tetapi kepala Adela justru semakin dalam jatuh ke leher sebab sadar bahwa perbuatannya telah menodai kepercayaannya. “Saya tidak pantas mendapat pujian itu, Tuan.”
“Mungkin engkau benar. Tetapi coba pikirkan, apa jadinya bila Selia pergi seorang diri tanpa dirimu?” Gadis itu tersentak lagi lalu mendesah tak menjawabnya. “Malam kian larut, Selia perlu kembali ke kastil. Sekarang kalian masuklah ke dalam kereta,” imbuh Ernest yang dituruti Eien tanpa banyak bicara, namun Adela masih termenung di sana. “Temani Selia, Adela,” tegurnya.
“Ba-baik, Tuan.”
Setelah kedua wanita itu aman berada dalam kereta, barulah Ernest menggantikan sais yang telah tewas untuk membawa mereka kembali ke kastil.
Sepanjang perjalanan Adela termenung di sisi Eien. Hening yang kembali menguasai ruang sempit ini setidaknya memberi rasa aman, mungkin berkat keberadaan tuannya yang menjadi sais. Kehebatannya dalam menumbangkan dua monster tadi sungguh di luar nalar. Berkat pemikiran itulah, setitik gundahnya telah meluber menjadi lautan ganas dalam benak. Siapa yang mengira akan mengalami kejadian mengerikan semacam itu dalam hidupnya? Sesekali iris cokelatnya berlompatan menuju rona nonanya yang terdiam, mengawasinya secermat mungkin karena dua makhluk itu menyebutnya sebagai ras yang sama. Apa maksudnya? Napasnya jadi berat dan sesak, kebutuhan akan jawaban dari buntalan pertanyaan telah menyendat tenggorokan, akan tetapi bibirnya terkunci karena rasa segan. Tatapan intensnya berhasil mengusik Eien yang menoleh dengan mata terbuka lebar. Hal itu membuatnya jadi salah tingkah, lalu cepat menarik pandangan menuju kedua tangannya yang bertautan di atas pangkuan, saling meremas terlampau kuat sampai terasa sakit.
“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” buka Eien yang cukup mengenal sifat pelayannya yang terbiasa melontar apa saja yang ada dalam pikiran saat itu juga. Usahanya dalam menahan diri pastilah sangat menyiksa. “Kenapa tidak kau ungkapkan? Kau tak perlu menahannya. Aku tidak akan menggigitmu.”
Kini giliran mata Adela yang terbelalak melihat wanita itu tersenyum tidak seperti biasanya, melainkan bentuk lain; sebuah seringai tipis yang entah apa artinya. Walaupun begitu ia tak merasakan adanya ancaman.
Sekuat mungkin dipejamkan matanya seraya merenggut lutut yang terasa dingin. Momen ini adalah kesempatan yang tidak mungkin datang lagi. “Maafkan kelancangan saya, Nona! Tapi saya sudah tidak kuat lagi. Saya terus memikirkan hal ini berulang kali, mungkin hingga jutaan kali. Saya sudah mencoba mencari jawaban dengan kemampuan logika saya yang rendah ini, tetapi tetap saja tidak mampu menemukan jawabannya. Saya tidak tahu apa jawabannya. Ini soal yang paling sulit yang pernah saya hadapi selama hidup saya.” Gadis itu terdiam sejenak, kemudian menggeleng. “Mungkin saja saya tahu jawabannya tetapi saya tidak meyakini bahwa jawaban itu benar. Saya terlalu bingung untuk percaya atau tidak. Kalau saya mempercayainya, hal itu akan membuat saya takut. Saya yang pengecut ini tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Akan tetapi saya berani bersumpah, kalau segala hal yang terjadi membuat saya hampir gila karena memikirkannya. Karena itu saya mohon maafkan kekurangajaran saya.” Ditatap Eien dengan keberanian yang dipaksakan. “Siapa kedua laki-laki yang tadi menyerang kita? Saya tidak tahu apakah itu sebuah kesengajaan atau kebetulan semata, tetapi tampaknya mereka
__ADS_1
mengenal Nona dan tuan. Apa hubungan Anda berdua dengan mereka?” Suaranya gemetaran dan napasnya makin berat. “Da-dan mengapa mereka juga meminum darah- sama seperti Nona? Hanya saja mereka … meminum darah manusia. Mereka seperti setan yang muncul dari dasar neraka! Oh, Tuhaaaan. Ini mungkin saja suatu pertanda bencana besar. Sungguh saya tidak mengerti. Selain itu, pertanyaan yang paling menyiksa saya adalah siapa sebenarnya Nona dan Tuan Hornest?”