
Part 27
Rupa Bangsawan Stoner mampu menyendat langkah Eien, sejenak ia terpana, tubuhnya kaku dan jantungnya terasa sakit oleh debarannya yang terlalu keras. Ini mimpi? Apakah Lyonis selamat dari amukan perang? Tetapi itu terjadi ratusan tahun lalu. Dan tak mungkin manusia berumur sepanjang itu. Dadanya terasa sesak serasa dipermainkan. Bibirnya gemetar teringat ada begitu banyak kenangan yang menyedihkan berkelebat dalam pikiran. “Lyoniiis.”
Desisan lirih itu menarik perhatian Ernest sekilas hingga terdiam cukup lama, akibatnya Ronie sampai berdeham untuk menyadarkan dirinya. Pandangannya beralih pada rupa Ronie Stoner yang sepertinya menyerupai kekasih manusia Eien. Tidak salah jika ia berharap Eien mampu mengendalikan perasaannya saat ini. “Selia, perkenalkan, Lady menawan ini merupakan kerabat dekat yang mulia ratu, Lady Elena Radringham. Dan Bangsawan terhormat ini adalah Earl Ronie Stoner.”
Ronie Stoner? Tentu saja. Mana mungkin Lyonis masih hidup. Eien mengembangkan rok gaun seraya sedikit menurunkan tubuh untuk menyapa hormat. “Selamat malam Lady Radringham, Earl Stoner. Saya Selia Cloudivious, adik perempuan dari Hornest Cloudivious,” sapanya yang agak sedikit tegang. Elena membalas sapaan dengan sikap yang sama, hanya saja air mukanya tampak cerah menyambutnya. Sedangkan pada Ronie, diulurkan punggung tangan di mana dengan senang hati pria itu mengecup jemarinya. Mata Eien tak dapat mengerjap, begitu intens menelisik tiap inci rupa Ronie. Tak ada sebersit keraguan yang menjamahnya bahwa Lyonis tengah berdiri di hadapannya. Mereka serupa. Hanya saja, ini seperti Lyonis yang sedang menyamar dengan mengenakan pakaian seorang bangsawan. Ini mustahil. Keinginannya untuk segera pergi dari kastil ini membuncah menyesakkan dada.
Apa yang terjadi? Ronie tersentak agak bingung mengenai matahari ini. Cahayanya memancar begitu hangat, namun mengapa rasa dingin bagai musim salju mendera kulitnya yang lembut. Sesegera mungkin ia menutupi keterkejutannya. “Suatu kehormatan dapat bertemu dengan wanita seanggun Anda, Lady Cloudivious,” sapanya ramah.
“Suatu kehormatan jua untukku. Pertemuan ini bagai takdir yang memberi kebahagiaan,” jawabnya rendah.
“Itu benar. Takdir ini memang sangatlahluar biasa. Setiap pertemuan pasti memiliki suatu alasan. Dan aku yakin akan ada kebaikan dari alasan tersebut," tukas Elena yang merasa lega karena wanita ini ternyata adalah adik perempuan dari pria yang menarik perhatiannya.
"Tidak berbeda dengan harapan kami, Lady," jawab Ernest.
Mereka tersenyum menyetujui pemikiran tersebut, kemudian Elena meraih jemari Eien. "Kau sangat memukau dengan gaun indah ini,” pujianya yang mengundang senyum tersipu Eien. “Oh, bagaimana dengan kondisi kesehatanmu? Duke Cloudivioussedikit bercerita mengenai kondisimu kemarin."
Sejenak Eien memperhatikan jemari yang terkait di sana, sepanjang ingatannya hanya ada beberapa manusia yang berani memperlakukannya seperti ini. Kehangatan dari sebuah awal pertemuan. Ia tersentuh, lantas balas meremas
__ADS_1
lembut jari dari lady cantik ini. "Terima kasih, Lady. Kakakku sendiri yang memilih gaun ini. Sepertinya ia memang
memiliki selera yang bagus terhadap busana wanita." Ernest tersenyum sendiri seraya menjatuhkan pandangannya ke lantai mendapat sindiran halus tersebut. "Engkau pun begitu mempesona dengan gaun indah ini. Aku menyukainya warnanya yang lembut, seolah warna itu sepenuhnya telah mencerminkan dirimu. Biru untuk ketulusan dan jingga yang melambangkan kehangatan." Pujiannya berhasil membuat Elena merona. "Dan seperti yang kau saksikan, Lady, aku tepat berdiri bersamamu. Rasanya aku seolah sanggup berdansa sepanjang malam."
"Aku senang mendengarnya," seru Elena bersemangat. Harapannya terwujud karena ternyata adik perempuan sang tuan rumah bukanlah wanita yang sulit didekati. Perangainya yang rendah hati serta hangat menaikkan harapan terdalamnya.
“Luar biasa. Aku tidak mengira jika penghuni kastil ini adalah dua bersaudara yang mengesankan, menawan serta mempesona. Tidak butuh waktu lama sampai nama kalian menjadi pembicaraan di London," puji Ronie seraya mengangkat gelasnya.
Pembicaraan di London? Itu adalah hal terakhir yang Ernest harapkan. “Pujianmu terlalu berlebihan. Kami baru saja datang sehingga perlu waktu untuk penyesuaian,” jawabnya merendah.
"Tidak, popularitas adalah kunci kesuksesan. Semakin banyak kau dikenal, maka makin banyak pintu yang terbuka
Pemikiran yang bagus, hanya saja Ernest tak menyukai pergaulan yang merepotkan. "Aku tak akan mendebatnya,"
jawabnya yang disambut senyum sumringah Ronie.
Bagaimana cara Ernest berinteraksi terhadap orang lain mendapatkan perhatian lebih dari Eien. Pengamatannya sejauh ini adalah hal yang positif. Bila dipikirkan, informasi mengenai jati dirinya hampir menyentuh titik nol. Kau
penuh dengan tanda tanya Hornest. Kau makin membuatku tersesat dalam teka-teki ini.
__ADS_1
“Aku harap hubungan kita terjalin baik, Lady. Bila berkenan, izinkanlah aku untuk datang berkunjung di lain waktu,” pinta Elena di mana senyum penuh harapnya terpasang.
Sebuah pertemuan lain yang mungkin Eien tak sanggup penuhi, tetapi ia tak ingin menjatuhkan asanya. “Tentu saja, Lady. Kau akan menemukanku dalam kastil ini, kedatanganmu akan mengusir rasa bosan yang mendera,” jawabnya gembira.
Senyum di wajah kekasihnya mengingatkan Ernest sebelum ia memulai membuka pintu bencana. Ada getaran penyesalan dan rasa kasih yang bercampur laiknya palung yang gelap dan dalam yang tak mampu dijangkau oleh cahaya. Takdirlah yang telah menyebabkan mereka berdiri di sini dalam keadaan di mana kekasihnya tak memiliki kenangan tentang dirinya. Mungkin ini adalah hukuman untuknya yang telah menjadi serakah.
Ekspresi Ernest yang menatap saudaranya dengan cara tak biasa menarik perhatian Ronie. Dahinya sedikit berkerut karena baginya itu janggal dan mengganggu. Itu adalah ekspresi yang tak asing bagi seorang pria yang telah lama malang melintang dalam dunia seni percintaan. Namun ia lebih memilih mengabaikannya, menganggapnya kesalahpahaman semata. “DukeCloudivius, bisakah kita bicara berdua saja?”
Sinar mata Ronie tampak penuh maksud. Ada baiknya Ernest memastikan apa yang diinginkannya. Iris hitamnya bergulir lirih pada Eien yang memberi tanda tak keberatan ditinggal. Sepertinya tawanannya akan baik-baik saja bersama Elena. “Baiklah.” Maka keduanya mengambil tempat di sudut ruangan menghindari keramaian. Walaupun telah menjauh ia tak lepas sesekali mengawasi Eien karena hanya dirinya yang tahu bagaimana kondisi sebenarnya dari tubuhnya yang rapuh. Sedangkan percakapannya bersama Ronie ternyata berisi mengenai bisnis keluarganya, berharap mendapatkan pertolongan mengenai diplomasi kekaisaran Romania tempatnya berasal. Padahal baru saja mereka bersua, tetapi Ronie tidak segan memulai langkah.
“Jadi bagaimana menurutmu? Aku sangat mengharapkan kerja sama di antara kita,” tanya Ronie.
Ernest tersenyum tipis ketika laki-laki itu melirik ke arah Eien. Siapa pun bisa membaca betapa tertariknya pria tak tahu malu ini pada kekasihnya. Lagi pula hal itu terjadi dikarenakan kesalahannya sendiri. Ia hampir saja menyesal mengakui kekasihnya sendiri sebagai saudara. “Akan kupertimbangkan.”
Ronie menghela lega. “Aku benar-benar berterima kasih kau sudah bersedia mendengarkanku. Aku akan sangat menghargai apa pun keputusanmu nanti.”
Ernest menatap dalam pria itu, segala penilaian berjejalan dalam kalkulasi kerja otaknya yang jenius. Ronie adalah
sosok yang lihai dalam pergaulan, ia pandai menempatkan diri dan memanfaatkan situasi. Mungkin seharusnya ia perlu berhati-hati padanya. “Kau akan segera mendengar kabar dariku.”
__ADS_1