Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
36. Badai Di Musim Semi


__ADS_3

Part 36


Betapa lantang, lugas serta naif gadis kecil ini menumpahkan segala hal yang telah terpendam dalam pusaran kepalanya. Oleh karenanya, rasa bersalah kembali menyentil benak atas misteri yang membebani Adela hingga gemetar ketakutan. Pandangannya melembut, begitu pula senyumannya yang berubah lirih. “Kegilaanmu adalah kesalahan kami. Sepatutnya kami meminta maaf kepadamu atas hal itu. Tetapi percayalah, kami tiada pernah bermaksud memperdayaimu. Kami hanya berusaha agar tidak melibatkanmu lebih jauh, menjagamu dari kebenaran yang mungkin terlalu mengerikan."


Adela terhenyak seakan belum siap oleh kata terakhir itu, terlebih kala kristal biru lirih memandang penuh sesal dan gelisah.“Nonaaa,” desisnya.


"Atau mungkin akulah yang tak ingin kehilanganmu."

__ADS_1


Apakah alasan itu sungguh akan membuat Adela lari?


"Karena mungkin ketika jati diri kami terkuak, engkau pasti akan pergi meninggalkan kamitanpa berpaling."


Suatu isyarat yang menyentak keraguan, memberi ambigu atas penentuan sikap. Sebab hingga detik ini segalanya masih di dalam ruang abu-abu. Terlalu pelik baginya meraba apa maksud kalimat sederhana itu karena keterbatasan informasi. "Sa-saya...."


Reaksinya semakin meresahkan Eien, tetapi ia menekan semua gelisahnya di ujung jari yang saling meremas. "Apakah kau siap mendengar kebenaran?"

__ADS_1


Sungguh tanggapan yang menumbuhkan harapan. Kesediannya merekahkan senyum tipis kepasrahan atas apa yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya gadis kecil ini telah memberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang menjadi pertanyaannya. Suara derak roda kereta masih terdengar jelas di antara senyap yang kian mengeraskan debaran dua hati. Sebelum Eien memulai terlebih dulu satu tarikan napas ringan mengawali kalimat yang akan keluar menyebabkan Adela terkesiap oleh pertanda itu. “Sebenarnya, kami … bukanlah … manusia.”


Mata Adela mengerjap tak mengerti. “Sa-saya tahu, Nona memang tidak seperti manusia pada umumnya. Maaf jika Nona tersinggung.”


 senyum Eien berubah lirih. “Tidak, Adela. Saat ini kau boleh mengartikan kalimatku secara harfiah.”


“Hah?” Sontak napas si rambut merah itu tersendat kasar. Sejenak ia mengulang dan mencerna kalimat yang dimaksud Eien. Bukannya ia sebodoh itu hingga tak memahaminya, namun ada sebagian logika dan rasa percaya yang menolak. Apalagi saat raut Eien yang tak berubah seolah menambah ketegasan bahwa tiada dusta yang sedang bermain. Seketika tubuhnya gemetar, napasnya jadi tak beraturan diburu rasa ngeri. Karenanya reflek ia menjauh dari Eien, berpindah duduk ke sudut kursi di seberang lawan bicaranya. Seluruh bahasa tubuhnya menunjukkan kewaspadaan yang tinggi. "A-apa maksud Nona?" tanyanya ketakutan. Kalau mereka bukan manusia sepertiku, lantas apa?!

__ADS_1


Lebarnya jarak yang hanya beberapa kaki seolah sejauh ribuan kilometer, menabur perih dari sebuah penolakan. Walau begitu Eien masih bersedia melanjutkan semua kebenaran ini. Apa pun yang menjadi pilihan pelayannya, akan ia terima dengan lapang dada. “Seperti yang kukatakan barusan. Kau dan aku memang tampak sama, mungkin hampir serupa tetapi sejatinya entitas dan esensi kita berbeda. Hidup kami lebih panjang, atau bahkan boleh dikatakan abadi. Kami hidup dalam legenda kuno, mungkin juga dalam berbagai mitos yang diturunkan oleh cerita leluhur kalian. Tetapi sebenarnya kami ada, di sisi dunia kalian yang terbelah dimensi, bersembunyi dari terang dan kejinya dunia. Semua makhluk umumnya takut kepada kami, mengira kami adalah makhluk keji yang melampaui batas seperti yang kau saksikan dari dua pria tadi, padahal sesungguhnya kami pun sanggup membatasi diri. Apakah kau bisa menebaknya, Adela?” Gadis itu menggeleng kaku saat kristal biru itu membesar seolah mengunci tubuhnya. “Berbagai makhluk menyebut ras kami sebagai … Vampir.”


Bibir Adela terkatup rapat, menggambarkan betapa tak percayanya terhadap pernyataan itu. Akan tetapi semua hal janggal yang terjadi di kastil begitu meyakinkan untuk sekadar dibantah. Isi kepalanya berputar, memikirkan segala hal dengan seksama. Bukankah mereka hanya mitos? Kepercayaan yang muskhil! Mereka hanyalah cerita yang dikarang untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak berkeliaran di malam hari. Tapi, apa pun alasan yang terpikirkan seolah menikam balik padanya. Bukti itu jelas nyata, dari darah, cahaya matahari yang terlarang hingga kejadian barusan di mana dua monster tadi jelas mencirikan makhluk mitos tersebut. Semuanya memang menjadi masuk akal. Akan tetapi bagaimana mungkin Adela bisa menerima begitu saja. Satu-satunya hal yang ia harapkan saat ini adalah nonanya sedang menggoda dirinya. "No-nona ... bercandakan?" Jawaban yang didapat justruhanya sebuah senyuman lemah yang seakan menunggu dirinya untuk siap menerima kenyataan. Ia pun jadi tergagap tanpa kata. Bagaimana mungkin ia lupa kalau nonanya memiliki sifat tidak suka bergurau. Semua warna emosinya mendadak melebur menjadi satu, menyebabkannya tak mampu menentukan sikap. Hanya gelombang air mata yang terus mendesak untuk terjatuh yang bisa ia miliki sekarang. Sungguh, rasa bingung itu telah mencekiknya. "Nona. Nonaaaaa,” isaknya getir.


__ADS_2