
Part 18
"Putri!" Ernest terhentak panik menyaksikan semua pertanda buruk tersebut.
"Saakiiit sekali Horneeeest! sakiiiiiiit!" rintihnya perih. Apakah aku akan binasa? Apakah aku akan berakhir dalam mantra hitam ini?
"Williaaam?!" teriaknya parau. Ia menoleh pada arah pintu kamar bertepatan kemunculan William yang bergegas menyerahkan darah segar. Tanpa banyak bicara diraih gelas itu dan didekatkan ke bibir Eien. "Minumlah. Kumohon minumlah," pintanya putus asa.
Ketegangan menjalar kuat dalam ruang ini, napas Adela yang tersendat bagai udara telah dipenuhi racun ketidakpastian. Harapannya hanya tinggal bergantung pada tindakan tuannya di mana kecemasan terbungkus ketat di sana. Ya Tuhaaan, selamatkanlah Nona Seliaaaa.
Namun penolakan itu tetap terulang, bahkan lebih keras. Antara nyeri dan sakit, gelas itu selalu ditepis. Untung saja Ernest lihai menghindar agar gelas tersebut tak jatuh. "Putri!"
"Tidaaak. Aku tidak akan meminumnya. Jauhkan dariku. Jauhkaaaaan!"
"Kumohon! Kau tidak akan bertahan tanpa darah ini."
Eien sungguh bosan dengan kalimat itu, seolah hidupnya tak ada arti tanpa darah. "Jangan memaksaku! Aku tidak sudi menjadi kaum terkutuk sepertimu!" erangnya marah.
Apa yang terjadi? Adela sampai terpaku bingung mendengar penghinaan yang terlontar begitu saja. Hati tuannya pasti terluka, apalagi duri-duri itu diterima dari wanita yang ia kasihi. Tuhaaaan, seandainya saja ada yang dapat kulakukan.
"Kumohon, putri!" Napas Ernest hampir terputus karena kekasihnya menggeliat kesakitan dalam pelukannya. Kilasan bayangan menyakitkan di masa lalu berputar dalam kepalanya, persis seperti ini. Apakah waktu telah berlari mundur?
"Tuan!"
Teriakan Adela menyadarkan Ernest yang sempat terjebak dalam masa lalu. Benar! Ini adalah kenyataan! "Eien, Bertahanlah!"
Tangisan wanita itu mengeras perih, pikirannya terlalu berantakan mencerna semua kata-kata di sekitarnya. Sakit dan keputusasaan bercampur baur mengaduk benaknya, akibatnya ia jadi meracau tak jelas. "Biarkan aku matiiii! Lyonis sudah tiada. Ia sudah tidak adaaaa di dunia iniiii. Untuk apa lagi aku tetap hiduuup?"
"Yang Muliaaaa," lirihnya. Getaran dalam mata gelapnya tampak terluka. "Setidaknya ... lakukanlah untukku." Pilihannya adalah jawaban di masa lalu karena kekasihnya tak jua menanggapi seolah kematian merupakan jalan keluar bagi dirinya. Jangan lari dariku, Eien. Seorang pewaris tahta tidak diizinkan untuk binasa, terlebih musnah di tangannya. Bagaimana mungkin ia akan sanggup menanggung dosa seberat itu, terutama bila kepahitan dari cintanya yang turut lenyap. Tanpa berpikir lagi, ditenggak habis isi gelas, menahan cairannya di dalam mulut agar tidak tertelan, kemudian jemarinya menahan rahang Eien, mencegahnya memberontak.
Iris Adela melebar sebab terkejut kala tuannya menautkan bibir pada nonanya, memaksa wanita itu untuk meminum darah dari dalam mulutnya. Sedikit cairan merah bergulir di sudut bibir Eien yang serta merta mewarnai keduanya. Tak kuasa jemari Adela merenggut kuat-kuat rok seragam pelayan yang dikenakan saat menyaksikan perlakuan tak pantas yang terpaksa digunakan. Ia sungguh menyesali kegagalannya hingga kejadian ini harus terjadi.
Bibir yang bersentuhan di sana sempat terpaku ketika sebagian cairan telah tertelan sedangkan sisanya berhamburan. Mendadak sesuatu hal yang aneh terjadi, gerakan bibir Eien seakan sedang mencumbunya. E-Eien? Bibir mereka terlepas berganti kedua mata mereka yang bertemu di mana rindu berkelebat dalam bayang gelap iris biru Eien.
__ADS_1
"Erneeest," desis Eien lemah.
Nama itu menghujam sangatlah dalam ke palung hati Ernest, bahkan matanya sampai terbuka lebar. Belum sempat ia bertanya bagaimana Eien mengingat namanya, kesadaran wanita itu telah meredup bagai lentera yang padam dan jatuh dalam gelapnya rasa lelah. Bagaimana mungkin? Kerutan tipis muncul di dahinya bersamaan dengan luapan harapan yang kembali berkobar layaknya api lilin yang terlempar dalam tumpukan sekam.
"Tuan? Apakah nona baik-baik saja?"
Pertanyaan Adela kembali mengingatkan untuk menyingkirkan semua pemikiran dari segala kemungkinan, prioritasnya saat ini adalah kekasihnya. "Tentu, Adela. Jangan risaukan itu." Diangkat tubuh Eien ke dadanya. "William, bersihkan kamar ini. Dan Adela, ikuti aku," perintahnya.
"Ba-baik, Tuan!" jawab keduanya.
Ernest membawa Eien ke kamar lain yang terletak di seberang, Adela pun sigap mempersiapkan ranjang sebelum tubuh nonanya dibaringkan. Begitu tubuh Eien berada di atas ranjang, Ernest memeriksa dada bagian kirinya. Memar biru tadi mulai mereda perlahan, suara napasnya yang lemah juga masih terdengar. Sebaiknya membiarkannya tak sadarkan diri merupakan keputusan yang tepat. "Adela, bersihkan tubuh Selia."
"Baik, Tuan!"
Ernest bangkit dari tepi ranjang, mata sendunya tetap tidak berubah. Sungguh, malam ini bukanlah apa-apa dibandingkan malam-malam saat ia hampir kehilangan kekasihnya. Rindu itu tak mudah terbengkalai, karena panorama saat Eien tertawa di atas samudera tak mungkin lagi bisa luntur. Karenanya, walau hanya sekejap, kekasihnya seperti kembali, melompati ruang dan waktu sejak pertama mereka bersatu dalam rasa yang sama.
Malam ini memanglah penuh kejutan, banyak hal baru yang perlu dikaji. Oleh sebab itu Ernest berencana merenungi segala kemungkinan jawaban. Dipandangi sejenak raut letih yang terlelap itu. Beristirahatlah. Lantas ia pun beranjak pergi, namun belum sempat keluar Adela menghalangi jalannya dengan ekspresi bersalah karena tidak dapat mengerahkan seluruh kemampuan demi tugasnya.
"Maaf. Maafkan saya, Tuan," sesalnya.
Adela hanya bisa mengangguk memahami lalu tertunduk memberi hormat. Sampai diakhir, majikannya tetap tidak marah diperlakukan seperti itu oleh nona mudanya, yaitu penghinaan dan penolakan yang keras. Dilirik pilu wanita yang tengah terbuai mimpi, hatinya berdoa semoga hanya ada keindahan di dalam sana setelah ia mengalami penderitaan yang mengerikan. Jika dirinya hendak bertanya pada William, apakah kepala pelayan itu akan menjawab? Padahal ia ingin sekali mengetahui mengapa nonanya harus hidup dengan cara keji seperti ini? Kenapa tuannya begitu peduli pada wanita yang begitu membencinya? Kenapa mereka dapat tinggal bersama sedangkan nona mudanya sama sekali tidak mengenal majikannya? Kenapa ada begitu banyak tanda tanya yang tersimpan dalam kastil ini? Dan yang terpenting adalah, siapa mereka sebenarnya?
Sementara itu, Ernest telah berada dalam kamar pribadinya, berdiri di tepi jendela memandangi langit malam seraya merogoh selampaidi saku jas untuk menyeka sisa darah di bibir. Dipikirkan seperti apa pun ia tetap tidak mendapatkan petunjuk -mengapa tiba-tiba Eien mengingat namanya?
Sebuah nama terbesit dalam benak Ernest yang mungkin dapat membantu, seseorang yang telah menciptakan tubuh pengganti Eien. "Roland," desisnya. Ia harus menulis surat padanya. Alchemist itu mungkin memiliki perkiraan yang brilian. Lagi pula ada hal yang harus ditanyakan mengenai tubuh palsu Eien. Diusap bibirnya seraya berjalan keluar kamar menuju ruang kerja.
Baru saja laki-laki itu selesai menulis surat, William mengetuk pintu dari luar dan meminta diizinkan masuk. Setelah Ernest memperbolehkan, kepala pelayan itu muncul memberi hormat padanya. "Ada apa?" tanyanya sambil melipat kertas, lantas memasukkannya ke dalam amplop berwarna putih gading.
"Kamar yang mulia putri telah siap, Tuan. Dan ... mengenai darah yang diperuntukkan untuk beliau-" Lidah William bagai tergigit, kalimatnya tak sanggup dilengkapi disebabkan kegagalannya yang menyebabkan persediaan minuman khusus itu telah habis, terbuang sia-sia di lantai.
Sejenak Ernest terdiam, tahu arah dari kata-kata yang terputus itu. Geriknya berlanjut untuk mengambil kembali pena bulu angsa dan mencelupkan ujungnya ke dalam tinta, lantas menuliskan sebuah alamat pada amplop tadi. Ketika ia berdiri untuk menyerahkan surat itu pada William, mendadak rasa mual menerjang dari perut ke tenggorokan.
"Tuan?" William kelihatan cemas.
__ADS_1
Sejenak Ernest menahan diri, mengatur napasnya demi menekan sensasi memuakkan tadi. Setelah sedikit membaik ia berkata, "Mintalah Adela untuk mengirimnya esok siang. Dan ... siapkan pakaian ganti untukku. Aku akan kembali ke kamar."
"Baik." Dilihat tuannya berjalan gontai sambil memegangi perutnya. "Tuan? Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Ernest menggeleng ketika rasa mual membuatnya terbatuk dan mendesaknya untuk muntah. Seketika ia jatuh berlutut ke lantai, mengerang pelan ketika William menghampiri, mengusap punggungnya agar cepat memuntahkan isi perutnya. Ernest tak mengira kalau ia masih saja seperti ini sejak pelariannya tiba di Kota Lourdes.
Inilah mengapa William lebih memilih memihak tuannya. Kondisinya semakin rentan sejak tiba di kastil ini. "Tuaaan," desisnya yang tak mampu menutupi kesedihannya.
Tidak lama Ernest pun memuntahkan semua makanan yang tadi disantap di kediaman ratu. Seketika tubuhnya terasa lemas, pandangannya yang buram terpaku pada muntahan bercampur darah di lantai. Sungguh, ia tak pernah menyangka, bahwa dirinyalah yang seharusnya bertahan, bukan hanya kekasihnya saja.
William menyeka bibir Ernest dengan selampai miliknya, lantas menarik tubuh lemah itu agar menjauhi muntahan tadi dan mengangkatnya menuju ranjang di kamarnya. Di sana Ernest terbaring tanpa daya. "Anda tidak mungkin melakukannya dengan kondisi seperti ini. Biarkan saya yang mengerjakannya, Tuan," pinta William yang tengah menyelimuti Ernest.
"Tidak, setelah beristirahat sejenak aku akan membaik. Aku tidak ingin kau terlibat terlalu jauh." Napasnya masih terasa sesak, ia tahu ini akan menjadi lebih berat, tetapi pilihannya adalah terus maju. Semua duri dan belukar tajam akan ia terjang tanpa ragu. Semua dosa yang mengalir dari darahnya tak akan ia bagi lagi. Kegelapan itu hanya akan menelan dirinya seorang diri.
"Tapi, Tuaaaan." William memprotes karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
"Siapkan saja apa yang kuminta," tegas Ernest, matanya terpejam menutup segala perdebatan yang akan dilontarkan lagi.
Pelayan setia yang paham bahasa diam itu mendesah pasrah. Segala kerisauannya tak akan tuannya hiraukan demi sang putri. "Baiklah."
Kamar nonanya telah bersih seperti sediakala ketika Adela akan mengambil gaun tidur yang baru. Semua genangan darah di lantai telah hilang, permadani yang terpercik pun telah berganti, bahkan ranjang beserta perlengkapan tidur pun tampak baru. “Aneh!”pekik Adela bingung. Apalagi aroma darah itu tak terendus sedikit pun. Semua kejanggalan ini pasti berkaitan, terutama mengenai penyakit apa yang diderita nonanya sampai harus meminum segelas darah. Ragam dialog semua penghuni kastil ini berkelebatan, kata-kata penting seolah menebal dan bergema dalam dinding pikirannya. Mengikat jiwa dalam tubuh ... boneka ... apa ini semacam ilmu hitam?
Digelengkan kepalanya demi mengenyahkan pikiran menyeramkan itu. Majikannya adalah pria terhormat yang tidak mungkin melakukan hal menakutkan seperti sihir dan lain sebagainya. Tawa kecilnya keluar begitu saja karena kebodohannya yang percaya akan hal-hal mistis. Maka ia berbalik menuju lemari besar untuk tujuannya tadi. Begitu pintu lemari terbuka, sontak perhatiannya terseret pada gaun hijau daun yang tadi ternoda darah sedang tergantung di sana. "Kenapa ada di sini?" herannya. Apakah William tidak jadi membersihkannya karena kondisi nona yang kritis? Bisa gawat kalau nodanya dibiarkan terlalu lama. Niatnya, setelah mengurus nonanya ia akan mencuci gaun ini, namun ketika ia memeriksa hingga membolak-balikkan seluruh kainnya, ia justru tidak menemukan noda darah setetes pun. Tidak ada. Kenapa tidak ada? Bersih ... gaun ini bersih! Tiba-tiba tangannya gemetaran. Baginya tidak mungkin seseorang dapat menghilangkan noda darah secepat itu, kecuali dengan keajaiban atausihir. Segera ditarik tangannya karena takut kalau masih ada mantra yang tersisa di sana.
"Sedang apa?" tegur William yang membuat Adela terkejut lalureflek menutup pintu lemari hingga jari kanannya terjepit.
"Auh!" jeritnya kecil.
Alis William sampai berjengit seraya menggeleng prihatin. "Kau tidak apa-apa?"
Raut gadis itu tengah meringis kesakitan sambil mengangguk. "Tidak apa-apa," jawabnya sambil meniup-niup jari
tengahnya yang memerah.
__ADS_1
"Sebaiknya kau segera mengobatinya," saran William lalu menyerahkan sebuah amplop. "Tuan ingin kau mengantarnya ke jasa pengiriman esok pagi."
Disambut amplop tersebut sambil melihat tulisan tangan yang meliuk indah, ada kesan tegas yang terlihat dari goresan tintanya. Adela mengangguk mengerti. "Baiiiik."