
Part 45
Gesekan senar biola yang lembut menambah syahdu nuansa malam di bawah sinar rembulan. Tak pelak senyum tipis Ernest merekah perlahan sebab kedua pelayan di belakang sana bersikap seperti sedang menyemangatinya. Pipinya jadi sedikit memerah saat Eien menutup bibir menyembunyikan senyum tersipu. Mana mungkin ia bisa mundur. Berkat mereka suasana hati kekasihnya menjadi sedikit membaik. Maka dirapikan tangkai mawar tadi, menyingkirkan daun serta duri yang tajam. Begitu dirasa aman, disematkan bunga tersebut di rambut Eien yang hanya terpaku menerima perlakuannya. "Bunga ini tidaklah mati, Putri. Ia hanya menyesuaikan diri dengan kita. Engkau membencinya karena ia adalah pengkhianat bagi bangsa kita. Namun apa yang terjadi di masa lalu merupakan takdir yang tak terelakkan. Haruskah kita menyalahkan sebongkah batu yang tergeletak di jalan saat kita tersandung karenanya?"
Entah bagaimana kalimat itu menusuk relung hati Eien. Namun apa yang diucapkannya memang benar. Karenanya air matanya pun mulai berjatuhan. "Bukankah aku seorang wanita yang picik?"
Ibu jari Ernest mengusap buliran air mata di pipi Eien. "Aku mengatakan itu bukan untuk menyakitimu, Putri."
Eien sedikit merunduk. "Aku tahu."
"Warna hitam ini, bukankah seperti diriku? Apakah warna ini begitu buruk padaku?" Wajah kekasihnya kembali terangkat menatap dirinya lantas segera menggeleng kecil disertai senyum khas Ernest yang merekah lembut. "Kau pernah mengatakan bahwa warna ini sangat cocok untukku. Jadi kumohon, Putri. Jangan membuatnya terdengar tidak adil."
"Aku pernah mengatakan itu padamu?" Ernest mengangguk kecil. "Kapan? Dan ... di mana?"
"Beberapa bulan lalu. Di Forbidden Garden."
Taman sakral itu? Bagaimana bisa? Taman itu terletak di bagian dalam istana. Sontak kedua mata Eien membesar. Pria ini bisa keluar masuk istana yang dijaga ketat pastilah bukan sosok sembarangan. Walau didera rasa penasaran, tetapi ia tak mampu bertanya. Pria ini sudah menolak memberikan api. "Maaf, aku tidak dapat mengingatnya. Tetapi kuharap ucapanku pada saat itu bukan bermaksud untuk merendahkanmu."
"Tentu saja tidak. Bagiku, saat itu adalah momen yang sangat indah."
Eien terpana, bukan karena wajah rupawan pria ini, melainkan oleh upayanya dalam memperbaiki kenangan kelamnya. Air matanya kembali mengalir, bukan karena duka melainkan keharuan. Ia ingin tersenyum, namun bibirnya terlalu gemetar. "Terima kasih, Hornest. Berkatmu, aku memiliki pandangan baru terhadap bunga ini." Walau luka di masa lalu tak sepenuhnya sembuh, tetapi setidaknya ia telah memiliki alasan untuk tersenyum kala memandangnya.
Ernest menarik napas pelan seraya mengusap air mata itu lagi. "Bukankah melodi ini begitu merdu? Aku akan sangat senang bila Anda bersedia berdansa denganku mengingat kita tidak sempat melakukannya saat perjamuan kemarin. Terus terang aku tidak ingin membuat kedua pelayan itu kecewa karena tidak memanfaatkan suasana yang mereka ciptakan ini," bisiknya yang kemudian membuka telapak tangan lebih dulu pada Eien.
__ADS_1
Sebelum menyambut tangan Ernest, Eien lebih dulu menyeka sisa air matanya. "Kau benar," jawabnya rendah.
Setelah jemari mereka terkait, Ernest menuntunnya menuju ruang yang lebih lapang dan terbuka di tengah taman. Keduanya berdansa dengan langkah ringan dan halus, sesekali berputar hingga mengembangkan gaun Eien laiknya bunga yang mekar. Sensasi tarian memang memiliki sihir tersendiri terhadap seorang wanita. Sekejap saja, perasaan bisa membuncah dalam eforia. Tetapi di waktu yang bersamaan juga meningkatkan kekhawatiran.
"Biar kuterka, ini bukanlah pertama kalinya kita berdansa."
"Kita pernah berdansa dua kali sebelum ini."
"Tentu di istana."
"Yang pertama bukan di sana."
Mata Eien melebar tak percaya. "Ayah mengizinkanku ke luar istana?"
"Secara teknis aku tidak meminta izin Yang Mulia Aghmora. Tetapi sepertinya hal itu memang tidak perlu dilakukan."
"Benar. Dalam sebuah acara formal."
Beberapa kali mata Eien mengerjap seolah ucapan Ernest tidaklah masuk diakal. "Mustahil," gumamnya serius. Bila ayahnya membiarkan pria ini membawanya ke luar istana tanpa izin maka hal itu dapat diartikan sebagai sebuah penyerangan. Meski ia adalah putra Guru Leon sekalipun, tetap saja tidak akan ada pengecualian. Akan tetapi ayahnya tetap menerimanya kembali di istana, maka sudah bisa dipastikan ayah mengenalnya dengan sangat baik dan tentu saja setidaknya ia harus memiliki jabatan yang mumpuni. Diakui dan menjadi bagian dari kekaisaran merupakan prestasi yang luar biasa. Eien tahu bagaimana sulitnya mendapatkan posisi dalam pemerintahan. "Siapa kau sebenarnya?" desis Eien yang tak mampu membendung pertanyaan itu. Dadanya terasa sesak. Bibirnya gemetar. "Apa yang telah kau lakukan pada hidupmu? Kenapa tidak kau biarkan saja aku menangis dan menjadi gila."
Ernest melambatkan laju dansa. Tangannya menangkap raut yang tengah menahan ambang kegetiran. "Telah kukatakan padamu untuk tidak memantik api. Sebab aku lebih memilih memberimu air. Tetapi, kumohon biarkan air itu tertuang seperti teh ke dalam cangkir, lembut dan berhati-hati, bukan layaknya hujan deras yang turun menghantam bumi. Aku ingin kau menemukan kehangatan, bukan rasa dingin yang menyiksa."
Air mata Eien terjatuh lagi. "Bagaimana mungkin, Hornest? Bagaimana aku harus memasang wajah di hadapan Guru Leon? Akulah penyebab hukuman mati untukmu."
__ADS_1
"Sebuah hukuman yang menarik."
"Hornest!" protes Eien sedih.
"Tidak mengapa, Putri. Salahkanlah aku. Ini adalah hukuman atas keserakahanku."
"Lalu apa? Apa yang akan terjadi setelah kau mendapatkan tujuanmu?" Kalimatnya mulai berantakan memberi kesan tergesa. Sebab Eien tidak melihat adanya cahaya terang di ujung semua ini.
"Bagaimana mungkin aku bisa menjawab soal di masa depan sedangkan aku hidup di saat ini?"
"Hornest!"
"Mengapa engkau jadi mencemaskanku? Seharusnya dirimu sendirilah yang patut dikhawatirkan," jawabnya lembut.
"Apa tidak sebaiknya kita hentikan ini sekarang? Aku bisa berlutut pada ayah untuk pengampunan dirimu," paksanya yang tak menyadari napasnya mulai tersengal.
"Putri," panggil Ernest dengan nada seperti menyadarkan seseorang. Kekasihnya tersentak sejenak, lalu merunduk pilu. "Kumohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Biar kuakhiri apa yang telah kumulai." Eien masih tampak gamang. "Maafkan keegoisanku. Karenanya hidupmu akan semakin berat bersamaku."
Eien menggeleng kecil. "Kau terlalu banyak memohon padaku. Padahal yang bisa kulakukan untukmu saat ini hanyalah menyerahkan segalanya padamu."
Ernest jadi tertawa kecil. "Lagi-lagi kau membuatnya terdengar tidak adil."
Reaksi itu memberikan semburat merah di pipi Eien. Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi ramah tersebut selain raut yang dingin dan datar. Ditundukkan wajahnya yang tersipu lalu berkata, "bila kakimu mulai lelah melangkah, jangan ragu untuk berhenti dan mengatakannya padaku. Aku yang akan menanggung semuanya untukmu."
__ADS_1
Walau ingatannya telah hilang, tetapi wataknya tetap tidak berubah. Tiada guna Ernest membantahnya sekarang. "Baiklah, Putri. Tetapi akan kupastikan langkahku terus berjalan hingga akhir."
"Hornest," lirih Eien. Kesepakatan baru saja terjadi di antara mereka. Padahal Eien telah memberinya peluang untuk pengampunan, tetapi si penculik tetap teguh pada pendirian. Namun dibalik itu semua, ia tahu bahwa tiada maksud jahat atas tindakannya ini. Tidak ada iblis yang bersemayam di sana, yang ada hanyalah seorang pria yang berjuang untuk keyakinannya. Ya, Hornest. Aku pun akan bertahan di kastil ini. Dalam penjara tubuh palsu ini. Hingga engkau sendiri yang mengatakan atas ketidakkuasaanmu menanggung kemarahan Tuhan. Matanya pun terpejam demi menguatkan tekad dalam menjalani keputusannya.