
Part 23
Sebuah ketukan di pintu menghamburkan ketegangan yang terjadi di antara Eien dan Adela. Mereka menoleh kaku ke arah suara, pertanda percakapan ini harus segera diakhiri. Eien memberi kerlingan pada gadis itu agar tidak membuat William menunggu lebih lama.
Belum reda pucat di raut wajah, Adela harus membuka pintu tersebut. Sikapnya kikuk menyambut William yang bertanya mengenai kesediaan sang nona. "Nona Selia sudah siap. Beliau tampak memukau dengan gaun pilihan Tuan Hornest," jawabnya rendah sambil menghindari tatapan William.
Hal itu tak perlu diragukan lagi. "Bagus. Sekarang giliranmu merias diri. Jangan terlalu lama karena setelahnya kau harus menemani Tuan Hornest untuk menyambut kehadiran para bangsawan. Berikan tuan informasi mengenai para undangan yang kau ketahui," instruksi William yang dijawab anggukan. Tanpa membuang waktu Adela menghormat undur diri pada Eien dengan perasaan resah lantas pergi dari kamar tersebut. Sebaliknya William masuk ke dalam kamar demimemastikan kondisi kesehatan Eien.
Kala pikiran Adela sedang dikacaukan oleh permintaan Eien tadi, sebuah panoramamembuyarkan semua kekalutan itu bagai serpihan pasir yang terhembus angin. Langkahnya melambat di anak tangga berkarpet merah, kedua iris cokelatnya terperangah takjub karena menemukan isi ruangan yang berbeda.
Ballroom yang sebelumnya masih sesuram saat ia pertama kali datang, kini terlihat luar biasa memukau. Dekorasi menawan, mewah serta elegan tak cukup untuk menggambarkan dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang. Lilin-lilin dalam kandelir kristal yang menggantung di langit-langit menyala seterang siang hari, patung-patung bernilai seni tinggi terpajang begitu apik di sudut yang pas. Dan lihat bunga wisteria putih yang menggantung dalam tiap atap koridor, begitu penuh sehingga bias cahaya lentera yang berwarna-warni melekat pada kelopaknya yang kadang berjatuhan. Dan yang paling menakjubkan adalah tangga ini, pagarnya dipenuhi oleh mawar merah. Rasanya ia seperti terdampar dalam sebuah negeri dongeng. "Oh, Tuhaaaan, ini sangat indaaah," desisnya takjub.
Tak cukup sampai di sana, lukisan beserta benda-benda bersejarah lain turut menghias dinding ketika ia memasuki ruangan di balik aula. Ia juga sempat memeriksa ruang makan, di sana meja panjang telah tertata rapi lengkap dengan gemerlap peralatan makan yang terbuat dari perak ditemani gelas-gelas kristal beserta botol-botol anggur terbaik. Semua kilauan yang terpantul di sini berkat cahaya dari lilin-lilin yang menyala terang. Tetapi, semua keindahan yang terjadi justru malah menciptakan kerutan yang begitu dalam di dahi Adela. Bagaimana bisa mereka menyiapkan semua ini dalam waktu kurang dari satu jam?
Ajaib, hanya itu yang terlintas dalam benaknya karena semua ini terjadi begitu saja dengan teramat sempurna. Ia pun bergegas menuju dapur, mungkin para juru masak sedikit membutuhkan bantuannya. Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendapati ruangan yang masih kosong, tak ada kegiatan apa pun yang terjadi. Ini ... sangat aneh. Sungguh! Tuhaaan, apakah aku sudah tidak waras? Kepalanya terasa penat dan berputar. Lumrah baginya jika peristiwa ini membentuk kesan ganjil yang teramat dalam di benaknya. Baiklah, aku kembali saja ke kamar. Ia harus pergi dari sini sebelum isi pikirannya benar-benar membuatnya menjadi gila hanya demi menemukan logika yang dapat menjawab semua misteri ini.
Seusai berias Adela sedikit tergesa karena enggan membuat tuannya menunggu. Sementara ini aa lebih memilih mengabaikan semua keanehan yang terjadi karena tugasnya sudah menanti. Ketika menuju ballroom tampak beberapa pasangan bangsawan telah tiba. Ah, Count Hangmilton beserta istrinya. Mereka memang bangsawan yang terkenal menghargai waktu.
Matanya beralih menuju tuannya yang tengah menyambut bangsawan tersebut. Semburat merah menyeruak begitu saja di pipinya, dadanya berdebar luar biasa menyaksikan betapa menawan pria itu mengenakan jas merah gelap yang tampak serasi jika nanti bersanding bersama nonanya. Dan saat ini senyum sendunya tengah merekah, bukannya wajah datar yang seperti biasanya ia tunjukkan. Tak ayal pandangan Adela meneduh dikarenakan cahaya lembut tuannya bagai sinar mentari pagi di taman yang indah, memberi kesan mistis dan tersembunyi di mana tidak semua orang dapat menjangkau taman terasing itu. Namun Adela segera menyentak dirinya sebab tidak baik baginya memandang majikannya terlalu lama.
Seorang pelayan pria membantu mereka melepas mantel, setelah sedikit berbasa-basi pasangan bangsawan itu masuk lebih dalam, mata mereka dibuat terperangah takjub oleh keindahan isi kastil ini. Bahkan ketika mereka berpapasan dengan Adela, senyum sapa mereka merekah karena terbawa indahnya nuansa yang bagai taman surgawi. Adela lekas memberi hormat, begitu mereka berlalu untuk bergabung dengan tamu lain, ia lanjut menghampiri majikannya. "Tuan."
Akhirnya pelayannya tiba, diperhatikan kalau Adela telah memenuhi permintaannya. Gaun berwarna kuning lembut tampak cantik ia kenakan. "Kau tampil anggunmalam ini."
Pujian itu sanggup melambungkan hati Adela, pipinya merona dan debaran di dadanya semakin tak terkendali. "Te-terima kasih atas pujiannya, Tuan."
"Tak perlu sungkan, Adela." Ernest memperhatikan anak tangga menuju lantai satu. "Bagaimana dengan Selia? Apakah ia sudah siap?"
__ADS_1
Adela mengangguk sigap. "Sudah, Tuan. Nona makin terlihat luar biasa menawan dalam balutan gaun yang Tuan pilih."
"Aku percaya itu," tanggapnya seraya tersenyum tipis, kemudian perhatian Ernest teralihkan pada kereta kuda yang baru masuk ke halaman kastil.
Adela sedikit tertunduk, bagaimanapun juga yang berada dalam pikiran tuannya memang hanya sang nona saja. Apa yang ia harapkan? Diangkat wajahnya setelah membesarkan hati untuk menyambut seorang wanita berambut brunette yang turun dari kereta. "Ah, Lady Scarletta Laville. Beliau adalah pemilik kastil Song Of The Rain yang sangat terkenal di London, ibu beliau masih memiliki kekerabatan dengan yang mulia ratu. Karenanya beliau memiliki banyak jaringan sosial, bahkan terkesan jika beliaulah pusat dari segala informasi. Selain itu, beliau masih melajang. Ah, anggun sekali," bisik Adela mulai melantur.
Ini jelas pertama kalinya bagi Ernest bertemu dengannya, sebaiknya ia bersikap mawas karena sepertinya Scarletta memiliki pengaruh yang kuat di London. "Begitu," gumamnya.
Sang tamu bergaun biru emas kini berada tepat di hadapan Ernest. Ia terpaku di sana kala senyum menawan Ernest bagai panah Cupid yang sanggup menghujam jantung. Sinar matanya tak dapat mengelabui siapa pun, ada ketertarikan yang begitu kuat tampak kentara di sana. Adela bahkan sampai berdeham demi memecah kesadaran Scarletta yang terus mematung. "Saya bantu, Lady?" tanya Adela mengarah pada mantelnya.
"Ah, ya. Oh, maafkan aku," tukasnya sedikit tersipu malu. Ia baru saja bertingkah vulgar di luar kendali. Betapa memalukan pikirnya, akan tetapi apa dayanya. Pria yang menyambutnya ternyata di luar ekspektasi. Awalnya ia tak terlalu tertarik menghadiri jamuan ini, tetapi reputasinya sebagai sumber dan pengumpul informasi akan dipertaruhkan dan ia tidak ingin ketinggalan berita. "Selamat malam. Anda pasti DukeHornest Cloudivious," sapanya setelah selesai melepas mantel.
"Selamat malam Lady Laville. Senang dapat bertemu dengan Anda."
"Begitu pula dengan saya. Merupakan suatu kehormatan mendapatkan undangan dari Anda, DukeCloudivious."
"Tentu. Saya harap kita dapat melanjutkan percakapan di dalam." Scarletta pun beranjak, namun tatapannya seolah melekat pada Ernest.
Begitu sang tamu tadi menghilang dari pandangan, Adela mendekati tuannya setelah menyerahkan mantel pada pelayan pria tadi. "Sepertinya Lady Scarletta tertarik pada Tuan."
"Itu kesimpulan yang terlalu dini, Adela." Sifat polos pelayannya malah mengundang senyum di wajah Ernest.
Tidak. Siapa pun pasti akan berpikiran sama. Tetapi Adela tidak berani mendebatnya lebih jauh, sedangkan puluhan kereta kuda terus berdatangan. Tugasnya lebih utama dibanding terus berspekulasi. Selama itu pula ia begitu tanggap memberitahukan semua nama para bangsawan tersebut tanpa kesalahan.
Dua kereta kuda kembali terpakir di halaman kastil. Dari kereta pertama turun seorang wanita cantik berambut pirang yang mengenakan gaun jingga. Kali ini Adela tidak berkomentar karena yakin tuannya telah mengenal lady yang kecantikannya begitu termasyhur hingga ke setiap penjuru negeri.
Elena Radringham tersenyum saat menghampiri Ernest, lantas menyapa dengan salam hormat seorang lady seraya memberikan punggung tangannya yang segera disambut Ernest. Sedikit kecupan lembut melekat ringan di jemarinya yang terbalut sarung tangan.
__ADS_1
"Kita bertemu kembali, Lady Elena. Senang rasanya kalau ternyata Anda bersedia meluangkan waktu untuk perjamuan ini." Ernest melepas jemarinya.
Kenyataan pria ini masih mengingat dirinya sungguh membesarkan hatinya, menyebabkan binar kerinduan terpancar dari mata indah Elena. Bahkan Adela saja dapat melihatnya dengan sangat jelas ketika mendekat untuk membantu membukakan mantel. Bangsawan cantik tersebut tidak menolak, hanya saja tatapannya seperti enggan beralih dari tuannya. "Sangat disayangkan, yang mulia ratu tak dapat menghadiri perjamuan Anda. Beliau terlalu disibukkan oleh berbagai lawatan dan tugas kerajaan, walau demikian beliau sangat berharap dapat turut bergabung dalam kemeriahan ini."
Ernest tidak mempermasalahkan dan mengambil sikap memahami. "Kehadiran beliau pasti akan menjadi kemewahan untuk perjamuan ini. Sungguh sangat disayangkan memang. Tetapi apa boleh buat, saya pun tak ingin mengganggu kesibukan beliau. Mohon sampaikan salam hormat saya kepada yang mulia."
"Tentu," sahut Elena yang kemudian teringat mengenai adik perempuan yang sempat disinggung Ernest waktu lalu. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan apakah dapat bertemu dengannya atau tidak, bahkan sebenarnya ia berharap dapat menjalin hubungan baik. Semoga saja Lady Cloudivious merupakan wanita yang ramah. "Bagaimana dengan kondisi kesehatan Lady Cloudivious? Aku harap ia berada dikondisi puncaknya malam ini."
Senyum Ernest memberi isyarat untuk tak khawatir. "Kondisi kesehatan Selia kian membaik. Terima kasih telah bertanya, perhatianmu merupakan berkat untuk Selia."
"Jangan sungkan, Hornest. Senang sekali mendengar berita gembira tersebut. Besar harapanku untuk dapat bertemu dengannya."
"Tentu, sesuai harapan, engkau akan melihatnya malam ini."
Kabar itu disambut gembira oleh Elena yang kemudian dipersilakan bergabung dalam jamuan. "Kita akan berbincang lagi di dalam." Seraya tersenyum manis Elena pun masuk bersamaan dengan Adela yang mendekati Ernest sambil tersenyum.
Alis Ernest terangkat sebelah kala memandangnya. "Aku tahu apa yang akan kau katakan." Wajah pelayannya pun memerah seraya tertawa malu.
Berikutnya sepasang bangsawan tengah berjalan ke arah mereka. Yang mengejutkan Adela adalah bangsawan pria yang tak mungkin absen dalam segalaacara sosial seperti ini. Pria bermanik hazel tampak rupawan ketika cahaya rembulan di langit membiaskan warna pirang rambutnya. "Earl Ronie Stoner. Beliau adalah bangsawan paling tampan di negara ini. Seluruh wanita Inggris mengakui itu," bisik Adela. Ernest mendengarkan sambil memperhatikan wanita yang berjalan di sisinya. "Dan wanita cantik itu adalah Countess Emilia Gordon. Janda dari Count Bruce Gordon. Baru dua minggu yang lalu beliau menyandang stasus janda karena Count Gordon meninggal dunia akibat serangan jantung."
"Apakah mereka kerabat dekat?"
Adela menggeleng kecil. "Tidak."
"Lalu mengapa mereka datang bersama?"
Didekati tuannya kemudian berbisik, "Sudah menjadi rahasia umum bahwa Earl Ronie Stoner adalah seorang perayu wanita. Saya rasa Tuan mengerti maksud saya."
__ADS_1