Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
4. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Part 4


Pria tua tadi membuka pintu dan berbicara pada sosok di dalam. "Seorang calon pelayan yang Anda hendaki telah datang, Tuan."


"Persilakan masuk."


Maka pintu dibuka lebih lebar, namun pria berambut putih itu memberi jalan pada Adela yang segera masuk tanpa mengangkat kepala, sedangkan ia tidak mengikutinya melainkan menutup pintu ruangan dari luar danmenyisakan mereka berdua.


Harum wewangian lavender berefek menenangkan tercium tajam, tetapi tetap tidak mampu mengurangi kegugupan. Gugup itu masih ada ketika Adela memberi hormat pada pria yang tak berani ia pandang. Mungkin karena ruangan ini yang tidak berbeda dengan aula tempat pertama masuk. Cahaya lilin yang menyala di atas nakas masih menyisakan banyak sisi gelap yang meresahkan. Terlihat dari sudut matanya bahwa tirai hitam tebal juga membungkus rapat jendela seolah tidak membiarkan siapa pun mengintip. Sungguh ketidaknyamanan ini hampir membuatnya menyesal telah datang.


"Kumohon tegakkan wajahmu, Nona. Izinkan cahaya suram ini sedikit memberiku penglihatan agar mengenali parasmu." Ernest menggeser sedikit kandil di atas meja kerja ke arah gadis itu, seorang calon pelayan lagi yang telah dinanti sekian lama.

__ADS_1


Walau aksen sang bangsawan tidak terdengar seperti penduduk Inggris, Adela tetap tersipu mendengar bahasa yang begitu halus. Setelah mengangguk canggung diangkat wajahnya perlahan. Tak ayal ia mematung, mata cokelatnya melebar tatkala paras yang tengah duduk di meja kerjanya melebihi bayangannya. Kesan yang didapat saat mendengar suaranya tidaklah salah.


Seketika wajahnya memanas, tak dapat ia bayangkan betapa merah pipinya saat ini. Ia berharap cahaya suram di sini tidak memperlihatkannya dengan jelas. Akan sangat memalukan baginya, terlebih rupa menawan itu tengah mengawasinya. Manik yang bagai ruang angkasa milik tuan asing ini tertuju langsung ke matanya, pantulan api lilin bak matahari sesekali meredup atau bertambah terang di sana. Sungguh indah. Bukan salahnya jika debaran dalam dadanya jadi berantakan. Apakah salah jika ia berpikir bahwa Tuhan telah bertindak tidak adil kepada para pria lain?Lihatlah mata bergaris tajam yang berhias alis tegas itu seakan sanggup membekukan tubuh lawan bicara. Wanita mana pun tak akan sanggup berpaling dari mata berkesan sendu yang mampu meluluhkan hati. Dan, yaa Tuhan, cahaya lilin membuat hidung mancungnya yang lurus semakin menarik!


Adela kian gelisah, pikirannya makin melantur kala mengamatibibirnya yang ranum. Garis bibir berwarna merah berlekuk layaknya sebuah tanduk sangat kontras dengan kulitnya yang sepucat rembulan. Sungguh kesan sensual itu terlalu kuat. Gadis muda ini terlalu belia menanggung pesona kedewasaan. Dan rambut hitamnya terlihat halus, melintang menutupi sebagian dahi.


Seumur hidup Adela tidak pernah bersua dengan manusia berparas sesempurna ini. Bahkan ia hampir tak percaya bahwa makhluk di hadapannya ini nyata. Terlalu mustahil. Lantas ia tersentakmenyadari tingkahnya yang tidak sopan. "Sa-saya Adela Whiteheart, Tuan. Saya berasal dari pinggiran Kota London dan tinggal bersama dengan keluarga saya," terangnya memperkenalkan diri. "Saya datang menggantikan Nyonya Rowlan," tambahnya gugup.


Ernest tak mempersalahkan tingkahnya itu sebab tahu alasan yang menyebabkannya jika melihat pipi Adela yang kemerahan. Sayangnya, gadis ini tidak menyadari bahwa apa yang tengah dikaguminya merupakan kutukan Tuhan. Sekilas diamati perawakan Adela dengan baik, cukup cantik meski bertubuh kurus. Jika dilihat dari garis rahangnya Ernest dapat menerka berapa jumlah usianya. Satu-satunya harapannya adalah umur tak akan menjadi gangguan untuknya di hari ke depan. "Aku harap nyonya Rowlan sedikit menerangkan mengenai orang asing ini padamu." Ia bangkit, setelan jas hitam berkemeja putih berdasi merah berbentuk pita tipis bergelayut ke bawah yang dikenakannya membuat tubuhnya terlihat tinggi dan menarik. "Apakah kau juga mengetahui dengan pasti alasan yang membuatmu mendatangi kastil ini?"


Kalimat yang menyentuh, gadis ini butuh pekerjaan. Memang masa seperti ini adalah masa yang cukup sulit ketika Inggris bertikai dengan Spanyol. Mungkinkah melarikan diri ke negara ini merupakan kesalahan? Yang terpenting negara ini cukup jauh dari Rumania, dan cukup layak untuk hatinya. Lagi pula kondisi negara ini ternyata juga cukup memberinya harapan yang menginginkan seorang pelayan manusia agar dapat terwujud. Manik hitam itu turun perlahan menyisir tepi meja. "Tentu. Tidak ada keraguan akan hal itu. Aku hanya ingin kau memahami sesuatu sebelum memutuskan bekerja padaku, Adela. Mungkin sulit, mungkin pula sedikit tidak menyenangkan." Adela masih menyimak penjelasannya. "Bahwa sesungguhnya aku tidak membutuhkan pelayan yang cakap dan tekun dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga," tuturnya berhati-hati, jemarinya mengusap ringan ujung tepi meja menunggu reaksi gadis ini.

__ADS_1


Kernyit halus terbentuk di kening Adela. Kalau bukan pelayan seperti itu lantas pelayan seperti apa yang diinginkannya? "Maaf, Tuan?"


Mendadak Ernest menatap tajam dan begitu menusuk menyebabkan Adela terkesiap. "Aku ... hanya membutuhkan pelayan yang sanggup menjaga bibirnya." Seketika jantung Adela seperti berhenti berdetak. Dugaan bahwa ada rahasia yang disembunyikan di dalam kastil ini semakin kuat. Ketakutannya tampak jelas. "Apakah kau bersedia memenuhi persyaratanku? Jika tidak, aku yakin kau mengetahui di mana letak pintu keluar kastil ini. Aku tidak akan menahanmu."


Kedua jemari gadis berpendidikan rendah itu bertautan dan saling meremas, bingung untuk memastikan apakah akan mengambil pekerjaan dari bangsawan rupawan ini atau tidak. Persyaratan yang diberikan membuatnya gundah, bukannya ia kesulitan menjaga rahasia, akan tetapi sudah tentu ada risiko yang perlu dipertimbangkan. Bagaimana kalau rahasia di dalam kastil ini membahayakan dirinya atau bahkan keluarganya? Memutuskan tanpa menimbang kerugian dari risiko tersebut adalah tindakan gegabah. Oleh karenya ditatap sang bangsawan dengan gugup. "Bolehkah saya ... memikirkannya terlebih dulu?" Pria di hadapannya memiringkan wajah, itu bukan pertanda bagus. "Sa-saya tidak bermaksud bertingkah tidak sopan. Hanya saja ... saya ingin-" Adela bingung bagaimana cara menjelaskan kekhawatirannya.


"Apa yang kau lihat dalam kastil ini tidak boleh terdengar oleh siapa pun. Aku berharap kau dapat mengerti," potong Ernest. Adela makin serba salah. "Aku akan memberi upah seratus pound setiap bulan," tambahnya agar lebih menarik hati gadis itu agar mau bekerja padanya, karena saat ini ia dapat mengendus ketakutan dari dalam dirinya. Tidak dapat dipungkiri dengan kondisi kastil seperti ini, tak akan ada seorang pun yang tidak berpikiran buruk tentangnya. Sedangkan gadis ini adalah calon pelayan yang kesekian kalinya datang ke sini dan reaksinya tidak berbeda dengan yang sebelumnya. Diliputi kecemasan dan rasa takut.


Jumlah upah itu berhasil menggoyah pikiran Adela. Itu upah yang sangat besar untuk seorang pelayan, pikirnya. Akan tetapi ia makin yakin bahwa bayarannya pasti sebanding dengan risiko tugasnya nanti.


Kegelisahan itu masih enggan pergi dari raut sang gadis muda yang tertunduk lemas, menyisakan keraguan dalam benak Ernest yang ingin mempekerjakan dirinya. Ia menilai kalau Adela terlalu cerdas dan cepat tanggap terhadap situasi. Mungkin bukan pelayan seperti ini yang ia butuhkan. Walau sulit, ia akan memberinya waktu untuk berpikir;menerima pekerjaan berisiko ini atau terus berkubang dalam kemiskinan. "Baiklah, Nona. Kau boleh pergi. Datanglah esok saat senja seperti ini jika telah siap menerima pekerjaan. Kuharap jawabannya tidak terlalu lama agar kami dapat mengundang calon pelayan lain nantinya. Maafkan aku, tetapi aku sangat selektif dalam menerima seseorang yang bekerja padaku."

__ADS_1


Pupus sudah harapan itu. Mungkin Adela terlalu berat dalam memikirkan hal yang tidak penting, seharusnya ia mengabaikannya saja. Saat wajahnya terangkat dengan perasaan tidak enak, pria itu sudah berbalik membelakanginya, menyisakan ketidakpastian yang menyesakkan. Ia mendesah pasrah. "Saya mengerti. Permisi Tuan." Setelah memberi hormat ia keluar dari ruangan.


Ernest kembali duduk, rasanya agak kejam menekan gadis belia untuk mengambil keputusan. Iba memang saat mengetahui ada seseorang yang harus bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga di usia sedini itu. Tetapi apa dayanya? Ia memang memerlukan pelayan manusia yang sempurna dalam menjaga rahasia. Ini pertaruhan besar baginya. Demi menahan sang putri agar tidak meninggalkan kastil. Apa aku terlalu berlebihan memutuskan hal ini?


__ADS_2