Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
42. Kunjungan Seorang Bangsawan


__ADS_3

Part 42


Sebuah kereta kuda berderak pasti menuju kastil Bloody Rosie di mana Ronie Stoner duduk seorang diri di dalamnya. Iris birunya melirik pada langit biru yang sedikit mengintip dari gumpalan awan seputih kapas. Cuaca yang cukup cerah ternyata seolah memberinya restu untuk mengunjungi kastil itu. Maksud kedatangannya adalah menemui Sang Duke Cloudivious demi membicarakan masalah diplomasi di Romania sekaligus lawatan biasa antar bangsawan. Selain itu, alangkah senangnya bila ia juga berkesempatan berjumpa dengan Lady Cloudivious.


Kesan yang terpatri pada malam perjamuan kala itu bagai timah panas yang menyundut kulit, membakar sampai ke ujung jiwa. Memang sebuah perumpamaan yang menjijikkan baginya, tetapi tak dipungkiri bahwa bekas luka bakar yang tertinggal dari timah itu sangatlah sulit untuk diobati. Bagaimana caranya ia bisa melupakan geriknya tatkala langkahnya yang sedang menuruni tangga bagaikan aliran air, begitu tenang, lembut serta mulus. Bahkan hanya dengan kehadirannya saja sudah sanggup mencuri seluruh napas para undangan. Pesonanya mengingatkannya pada matahari pertama ketika salju terakhir mencair. Hangatnya sampai menembus tulang, memberikan semangat baru setelah lamanya bergumul dalam kebekuan yang mendera. Apakah harapannya terlalu berlebihan? Rasanya tidak. Sebab tidaklah terlalu penting memikirkan hal sepele semacam itu. Yang terpenting adalah bagaimana dirinya dapat melihatnya sekali lagi, memastikan bahwa apa yang terjadi saat malam itu bukanlah impresi yang berlebihan.


Eforianya pun menggebu luar biasa, tak sabar untuk segera sampai.


Tak lama roda kereta terhenti di depan pintu gerbang yang tertutup rapat. Ronie melongok dari jendela, kebingungan mengingat ini masihlah siang hari. Kusirnya pun turun untuk memeriksa gerbang. Apakah tidak ada kegiatan di kastil ini sampai harus menutup gerbang? Kemana para pekerja kastil? Apakah mereka hanya mendekam di dalam? Terlebih agak sulit baginya memahami, mengapa bangsawan itu memilih kastil ketinggalan jaman yang dikelilingi benteng kokoh. Lihat sungai kecil berair keruh itu, tampak tak sedap di pandang, masih untung si pemilik kastil sebelumnya tidak memelihara buaya di dalamnya. Apa sebaiknya ia merekomendasikan rumah modern di ibukota padanya? Ronie menghela napas panjang. Ia harap Duke Cloudivious tidak tersinggung nantinya karena menganggap telah merendahkan seleranya.


Kusir tadi kembali naik ke atas kursinya setelah pintu gerbang dibukakan dari dalam. Saat melewati ambang gerbang Ronie melirik seorang pria tua bungkuk yang berdiri di samping tuas. Rupanya bangsawan itu juga mempekerjakan orang-orang unik. Baginya tidak mengherankan karena banyak aristokrat lain yang dikenalnya justru memiliki satu atau dua hal yang lebih mencengangkan.

__ADS_1


Turun dari kereta, hal pertama yang dilakukannya adalah menghirup wangi mawar yang menyerbak di halaman. Ternyata kala siang hari kastil ini tidaklah seburuk yang ia sangka; bersih dan tertata apik. Cukup menyenangkan saat menyusuri jalan menuju pintu utama mansion. Sebelum mengetuk pintu, terlebih dulu ia memastikan pakaiannya apakah masih dalam keadaan rapi. Setelah yakin barulah lingkaran besi diketuk beberapa kali ke badan pintu.


Alis Ronie terangkat sebelah sebab sekian waktu telah berlalu namun tiada seorang pelayan pun yang membukakan pintu. Setengah berbalik ia mencari pria bungkuk tadi untuk bertanya, nyatanya ia telah raib entah kemana. Napasnya tertarik dalam demi membesarkan tekad sebelum keraguan membawanya kembali ke dalam kereta kuda. Hanya tinggal selangkah, mengapa dirinya harus mundur? Tangannya pun menempel di gagang pintu, lalu mencoba mendorongnya. Mungkin ini lancang, akan tetapi ia penasaran.


Dan tanpa disangka badan pintu itu bergeser tak terkunci.


Agak terkejut, bulu tengkuk Ronie berdiri mendengar derit berat pintu yang diwarnai sejarah tragis. Sekejap bibirnya tergigit pelan demi memberanikan diri untuk memasuki kastil. Alangkah tercekat dirinya mendapati kondisi ruangan dalam keadaan temaram yang hanya diterangi cahaya lilin, beberapa sudut ruang malah tampak gelap gulita karena tirai-tirai hitam membentang menutup begitu rapat semua jendela. Sungguh situasi yang luar biasa aneh, memberi kesan janggal yang menyeramkan.


Tak patah arang, diputuskan berkeliling mencari penghuni kastil, dan hasilnya tiada satu pun yang menampakkan diri. Hampir semua pintu ruang, kamar, bahkan dapur di lantai bawah telah ia ketuk, tetap saja tak berbalas sahutan. Ia juga mendapati ruang kerja yang kosong di mana beberapa catatan dan kertas-kertas penting masih berserakan di atas meja. Itu menandakan sang pemilik baru masih tinggal di kastil ini. Lagi pula siapa yang menyalakan semua lilin kalau bukan mereka? Perlukah ia memeriksa lantai atas?


Setelah sempat ragu menaiki tangga, akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu ganda berwarna putih berukir liukan emas. Matanya nyalang menatap badan pintu yang ia yakini sebagai kamar utama. Entah mengapa nalurinya yang kuat mengatakan bahwa ada sesuatu di balik pintu ini. Perlahan tapi pasti, jemarinya mulai mengarah ke gagang pintu.

__ADS_1


Sementara itu, di halaman kastil Adela terheran menemukan kereta kuda sedang terparkir. Tergesa, dihampiri kusir yang duduk di kursinya dan bertanya siapa pemilik kereta kuda yang telah datang berkunjung. Jawabannya membuat Adela terbelalak. "Earl Ronie Stoner?" Tanpa berkata lagi ia segera berlari ke dalam mansion. Oh, tidaak! bagaimana ini?!


Pintu ganda itu terbuka, dan lagi-lagi Ronie menemukan ruangan gelap bertirai hitam. Nalurinya mendorong tubuhnya untuk masuk. Dengan berhati-hati kaki itu melangkah sebab takut terantuk sesuatu mengingat cahaya matahari tidak mampu menembus tebalnya tirai itu. Alhasil dalam rasa penasaran yang menyesakkan sampailah dirinya pada ranjang bertirai putih transparan yang menampakkan sosok samar perempuan yang sedang berbaring.


Ronie menerka kalau sosok tersebut adalah adik perempuan bangsawan pemilik kastil. "La-lady?" sapanya penuh harap mendapat tanggapan sebab ia sudah lelah berkeliaran di kastil orang lain. "Mohon maaf jikalau saya telah bertindak lancang. Saya telah berkeliling mencari seseorang yang bisa ditemui, akan tetapi tiada seorang pun yang muncul. Bahkan para pelayan. Maksud kunjungan saya adalah untuk menemui kakak Anda. Berkenankah Anda memberi petunjuk?” terangnya berhati-hati. Setelah sekian lama berdiri dalam ketidakpastian, sang lady tetap terdiam, dan itu membuatnya heran. Didekati ranjang tersebut demi memastikan apakah wanita itu sedang terlelap. Oleh karenanya ia perlu menyibak tirai agar dapat melihat lebih jelas. Ketika jemarinya telah mencapit tirai terdengar suara desis wanita yang menyebut namanya.


"Earl Ronie Stoner?"


Sontak Ronie berpaling untuk melihat pemilik suara yang bernada menegur. Walau irasnya sedikit tertelan kegelapan, Ronie masih sanggup mengenalinya. "Ah, bukankah kau pelayan di kastil ini?"Akhirnya ada seseorang yang muncul, soraknya dalam hati.


Adela lekas menghampiri, takut Ronie menemukan wujud boneka nonanya. "Apa yang Tuan lakukan di sini?" tanyanya tajam.

__ADS_1


__ADS_2