Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
3. Benang Merah


__ADS_3

Part 3


Di bawah panduan sinar matahari senja, Adela menyusuri jalan kasar yang membelah hutan sebagaimana biasanya dilalui kereta kuda. Hanya ada rute ini untuk mencapai ke sana, selebihnya hanya jalan setapak dalam hutan yang menyesatkan. Pepohonan menjulang tinggi bagai pagar penghias, jika ditanya apakah jalur ini menakutkan? Sejujurnya bagi Adela tampak indah, terlebih saat mendongak ke atas. Belahan yang tak tertutup dedaunan bagai aliran sungai langit yang dapat berubah warna selaras waktu.


Ah, akhirnya kaki kecilnya mengantarnyasampai tujuan, yaitu kastil yang telah dibeli sejak sebulan lalu oleh seorang bangsawan berasal dari Transylvania, kota yang terletak di Romania, cukup jauh dari Inggris Raya ini.


Gerbang kastil pun terbuka menyambutnya. Pagar jeruji besi itu bergerak ke atas melalui tuas di samping kanan. Suaranya berderak keras menerbangkan burung-burung yang merasa terganggu. Seorang pria tua berdiri memutar tuas tadi ketika Adela masuk ke dalam halaman. Harum aroma mawar menyerbu hidung, dan anehnya udara terasa hangat di sini. Sensasi ini membuat ia menelan ludah, tidak mengira akan memasuki kastil yang terkenal akan keangkerannya. Matanya melebar mendapati isi di balik tingginya benteng ternyata sangatlah indah, memaku rasa kagum pada kontras cahaya senja yang memerah. Semua tatanan taman terawat dan tertata estetik. Kastil ini memang sangat kuno, akan tetapi jika diamati dengan baik ternyata tidaklah terlalu buruk, pikirnya.


Semak bunga mawar tumbuh rapi di kedua sisi jalan batu pipih pada halaman cabang dari jalan utama ini. Rimbunan mawar mengitari kolam air berbentuk bundar di tengah jalan utama. Ada pohon hias yang dibentuk seperti tubuh burung atau kelinci di antaranya. Patung-patung malaikat bersayap berdiri tepat di kedua sisi jalan utama menuju teras kastil. Saat menapaki jalan tersebut Adela menoleh ke arah kiri, menangkap sebuah kursi gantung terbuat dari kayu yang telah menghitam termakan usia. Kursi itu seolah sengaja diletakkan di sana demi menikmati pemandangan halaman.


Mansion tua ini terdiri dari tiga lantai dengan beberapabangunan menara di tiap sudutnya. Kondisinya ternyata jauh lebih baik jika dibandingkan terlihat dari luar benteng. Dua buah beranda tepat menghadap ke tempat ini pada masing-masing ruangan di lantai satu. Sedangkan di lantai dasar hanya ada jendela-jendela pada tiap ruangan,


jendela itu terlihat gelap, Adela bahkan tidak dapat mengintip ke dalam, sekadar mendapatkan gambaran seperti apa pribadi sang bangsawan dari pilihan furniture-nya.


Perhatian gadis itu kembali menuju lantai satu, pada ruangan di bagian kiri bertirai hitam. Janggal. Tirai hitam? Itu aneh, pikirnya. Selera bangsawan ini membuat heran seolah tak ada warna lain yang lebih menarik. Tiba-tiba ia terkesiap karena merasa sedang diawasi dari sana, perasaannya mengatakan demikian. Matanya memicing pada pintu kaca beranda yang tertutup rapat, namun masih dapat menangkap sosok bayangan seseorang yang mengintip dari balik tirai. Siluet seorang pria. Ia tahu itu karena tubuhnya terlalu tinggi jika dibanding seorang wanita pada umumnya. Maka dihentikan langkahnya demi memperhatikan dengan lebih baik, tetapi bayang-bayang itu segera hilang karena sadar kalau ia mengetahui sosoknya berdiri mengamatinya. Adela mengangkat bahu tak ambil pusing, karena setelah ini ia pasti akan tahu siapa pria tersebut jika pemilik kastil ini bersedia menerimanya bekerja.


Pintu ganda yang tingginya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya berdiri kokoh di hadapan Adela. Ia menelan ludah

__ADS_1


menyiapkan hati, merapikan pakaian lusuhnya yang terbaik, membetulkan ikatan rambutnya yang bergelombang, lalu menarik napas dalam demi mengurangi ketegangan saraf otaknya. Rasanya isi kepalanya berputar karena


kegugupan. Setelah mengatur napas, diraih lingkaran besi pintu lalu diketukkan ke badan pintu beberapa kali. Tidak lama pintu besar berwarna cokelat tua terbuka perlahan, bunyi deriknya terdengar berat, tak ayal bulu tengkuknya jadi sedikit meremang.


Berbagai macam kisah menyeramkan mengenai kastil ini sudah Adela dengar sejak masih kecil. Orang-orang sering bercerita mengenai perampokan serta pembunuhan yang menimpa setiap pemilik kastil sebelumnya seolah topik itu adalah kudapan favorit. Alkisah, para bangsawan tewas tanpa terkecuali, bahkan seluruh pelayan tak lepas dari incaran. Darah membanjiri lantai bagai sungai tanpa muara, menimbulkan aroma anyir memuakkan yang terus membekas. Kastil ini dikutuk! Itulah yang penduduk London yakini. Semenjak itu banyak dari mereka yang mengaku sering mendengar suara arwah-arwah gentayangan yang menangis, berteriak dan meraung seolah mengulangi peristiwa tragis yang pernah terjadi.


Tentu saja cerita semacam itu berhasil menciutkan nyali anak-anak kecil. Hanya saja, kini Adela sudah terlalu besar untuk berlari ke belakang punggung ibunya. Ia jadi terpagut, sekadar bertanya sendiri, menebak-nebak, apakah nasib bangsawan kali ini juga akan sama dengan pendahulu sebelumnya? Jika memikirkan hal itu rasanya ia ingin sekali buang air kecil lalu lekas naik ke atas ranjangnya yang keras kemudian menarik selimut setinggi mungkin demimenutupi wajah ketakutannya. Ternyata keberaniannya tak sebanyak yang ia duga. Semoga saja Tuhan melindungi.


"Sampai kapan Anda akan berdiri di sana, Nona?" tegur seorang pria tua yang sudah berdiri di balik bayangan pintu


menyentak lamunan sang tamu.


Pria tua itu menekuk tangan kanan di depan perut lalu sedikit membungkuk khidmat untuk membalas tata krama, kemudian kembali tegap dengan anggun. "Ada yang bisa saya bantu Nona-" kalimatnya terputus.


"Saya Adela, Adela Whiteheart. Saya datang karena selebaran undangan ini," terangnya sembari menunjukkan


selebaran tersebut yang telah dikeluarkan dari saku roknya. Hanya bola mata pria itu yang bergerak memperhatikan. "Saya berharap masih ada pekerjaan yang tersisa di kastil Tuan."

__ADS_1


Tak ada respon kecuali sekali anggukkan mengerti, walaupun begitu sorot matanya meliriknya dari ujung kaki hingga kepala seolah tengah menilai. Reaksi itu menambah kegugupan Adela saja. Apakah ia tak cukup layak untuk menjadi pelayan di sini? Setelah sejenak menimbang, pria tersebut membuka pintu lebih lebar sambil memberi jalan. Gadis itu menghela lega sembari masuk dengan langkah canggung, pandangannya hanya tertuju pada lantai marmer krem tua, takut jika sampai memberi kesan tak sopan. "Saya William, kepala pelayan. Akan saya antar Nona menemui sang pemilik kastil, Duke Hornest Cloudivious. Beliau akan sangat senang menyambut Anda di ruangannya. Mohon ikuti saya." Suaranya besar bernada tertata apik khas pelayan berkelas.


“Du-duke?” Adela tak percaya akan gelar yang didengarnya. Kegugupannya semakin bertambah saja.


“Benar. Di Rumania beliau menyandang gelar yang setara dengan itu. Apakah ada masalah?”


"Ti-tidak, Tuan. Justru ini adalah sebuah kehormatan." Tentunya sangatlah luar biasa. Yang menjadi pertanyaan, apakah bangsawan ini akan menetap di London? Mengingat ia bukanlah warga negara ini.


“Mari, Nona,” ajak William.


“Ba-baik.” Tertunduk gadis manis itu mengikuti sang pelayan. Meski demikian rasa ingin tahunya merajalela, akibatnya ia tidak sanggup menghentikan matanya untuk menjamah ruangan yang suram ini. Apa yang dilihatnya menimbulkan kernyit tipis. Bagaimana tidak, seluruh jendela tertutup rapat oleh kelambu hitam seolah cahaya benderang matahari adalah hal terlarang. Atau mungkin saja sang tuan rumah tidak ingin seorang pun mengetahui apa yang akan terlihat dari balik jendela. Apakah benteng tinggi di luar sana masih belum cukup menutup privasi? Aneh. Bukankah itu artinya ada yang disembunyikan? Debaran jantungnya mengeras dan terasa kacau memikirkan rahasia apa yang berusaha ditutupi oleh tingginya benteng kastil ini. Rasanya udara dalam ruangan ini bertolak belakang dengan di luar sana, begitu dingin hingga menusuk tulang.


Apakah ia harus memaklumi hal ini? Seharusnya mungkin begitu, mengingat tak ada satu pun bangsawan lain yang bersedia membeli kastil ini meskipun keluarga yang mewarisi gelar Duke masih hidup di London. Sang Duke sendiri menyebut tanah ini telah dikutuk, karenanya ia enggan mendiami kastil besar ini apa pun alasannya. Lebih baik baginya untuk menjualnya saja. Sayangnya, tak ada yang tertarik membeli. Bukan hanya karena kutukan yang mereka percayai, melainkan semua kalangan atas ketakutan oleh cerita-cerita hantu yang beredar di masyarakat. Jika seorang bangsawan dari negara lain berhasil memilikinya, mungkin itu sebuah keberuntungan untuk Sang Duke, namun juga sebuah kemalangan teruntuk bangsawan yang membelinya.


Mungkin ketidaktahuan akan sejarah kastil inilah yang membuat bangsawan dari luar negeri itu membelinya. Bila ia mengetahuinya, Adela yakin, ia pasti akan berubah pikiran.


Di lain sisi ada tangga setengah melingkar yang terhubung ke lantai satu ketika ia berbelok ke kanan menuju koridor. Dalam lorong panjang itu, lukisan-lukisan bangsawan sebelumnya masih terpajang di dinding. Sepertinya sang tuan rumah membeli kastil beserta seluruh barang yang tertinggal. Cahaya lilin dalam lentera kaca yang melekat di dinding sesekali menari menimbulkan bayangan yang bergoyang tak tentu arah. Lima buah pintu di sisi berlainan terlewati ketika sampai di ujung lorong berpintu ganda berpahat elegan.

__ADS_1


William mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lantas sayup terdengar sahutan seorang pria yang mempersilakan mereka masuk. Suara tersebut berkesan merdu namun dalam. Hanya dengan mendengar suaranya saja Adela dapat membayangkan seperti apa rupa di balik pintu ini, sudah pasti tidak mengecewakan. Entah mengapa ia memiliki kesan demikian.


__ADS_2