Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
34. Kilauan Mata Hitam


__ADS_3

Part 34


Serangan lemah semacam itu tentu saja dapat ditepis tanpa tenaga berarti hingga senjata satu-satunya yang dimiliki terpental jauh tanpa jejak. Seringai Albert melebar tatkala gadis itu terperangah tanpa daya di hadapannya, taringnya tak bisa lagi bersembunyi. Sekarang bagaimana mungkin mereka bisa menyerang atau bahkan melarikan diri dengan kuda-kuda yang masih terikat? Oleh karenanya, mangsanya yang bertubuh mungil itu melangkah mundur, tubuhnya gemetaran, bahkan debaran keras jantungnya begitu nyaring di telinga. Hanya butuh kurang dari sedetik bagi Albertuntuk mematahkan leher kurus itu.


Sebelum hal itu terjadi rentangan tangan Eien lebih dulu menghadang. Energi tak kasat yang keluar melempar Albert jauh ke belakang. Melihat monster itu terjerambab di tanah segera ditarik lengan Adela yang masih mematung agar berada dekat dengannya. “Kau baik-baik saja?” tanya Eien.


Tetiba Adela tersedak oleh ketakutannya sendiri, namun berusaha bicara. “Te-terima kasih, Nona.”


Suara decakan kagum terdengar dari belakang. “Ck, ck, ck, sungguh luar biasa, Yang Mulia. Mohon maafkan rekan hamba yang lancang. Ia jadi lebih agresif malam ini, walau hamba tahu apa yang menjadi penyebabnya.”


“Tutup mulutmu! Berhenti bersikap hipokrit kalau kau sendiri sangat menginginkan darahnya!” hardik Albert sambil berdiri dari tanah.


“Tenanglah. Kecerobohanmu malah akan menghabiskan darah berharga hanya untuk mengatasi tingkah liarmu,” tandas Lewis yang justru dibalas dengusan kasar. Lewis hanya memutar mata jengah lalu mengembalikan perhatian pada Eien. “Bukankah benar seperti itu, Yang Mulia?”


Itu benar. Saat ini Eien dapat merasakan jantung buatan dalam tubuhnya berdenyut kelu. Tanpa sadar jemarinya merenggut lemah dada kiri yang sedikit membiru.


Melihat mimik kesakitan itu Adela jadi bertambah cemas dan bingung. Wanita ini juga membutuhkan darah, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menyediakannya selain kembali ke kastil, tempat di mana tuannya berada. Itulah sebabnya, bagaimana pun caranya, nonanya harus selamat. Tanpa pikir panjang ia berdiri maju memasang badan, mengajak bicara pada Lewis. “Tu-tuan! Bisakah Anda bermurah hati?”


Sebelah alis Lewis terangkat.


“Dapatkah Anda membiarkan Nona saya pergi? Sebagai gantinya Anda bisa membawa saya! Saya mohon, Tuan!” pintanya putus asa.


Iris Eien melebar tak percaya. “Adela! Apa yang kau katakan?”


“Kau meminta kami melepas hal yang sangatberharga?” Albert tergelak geli.


“Saya mohooon!” Gadis itu sampai berlutut mengiba. Namun, tetap saja keduanya tidak tergugah. “Saya mohon biarkan Nona pergi, kalau tidak tuan akan-“

__ADS_1


“Cukup, Adela!” potong Eien.


Adela menggeleng keras tak memedulikan peringatan nonanya. Saat ini mustahil akan ada yang datang untuk menyelamatkan mereka di tengah hutan gelap sementara orang-orang di kastil sedang berpesta dan sisanya di ibu kota tengah terlelap. Air matanya mengalir di antara pipinya yang memerah mengingat keluarganya, akan tetapi ia tidak ingin mengkhianati tuannya untuk yang kedua kali dengan membiarkan nonanya dimangsa seperti pengawal Lady Elena. “Bagaimanapun juga, Anda harus selamat, Nona!” Ditatap putus asa kedua monster itu, berharap mereka tersentuh.  “Bawa saya! Saya mohon, bawa saja sayadan tinggalkan Nona sendiri,” isaknya gemetar.


“Kau mencoba untuk bernegosiasi dengan kami?” tanya Lewis sarkas, sedangkan tawa Albert makin keras.


“Cukup, Adelaaaa,” sergah Eien lirih. Tindakannya yang mengiba pada makhluk rendah itu memberi beban rasa bersalah. Apa kau tidak tahu bahwa kau lebih berharga dari mereka?


“Tapi, Nona! Jika terjadi sesuatu pada nona, maka tuan pasti akan sangat sedih.”


“Sungguh, aku sangat senang dengan apa yang engkau lakukan untukku. Tetapi kumohon jangan lakukan itu,” pintanya halus. Irisnya beralih menyipit tajam pada dua pria tadi. “Engkau harus tahu, bahwa jiwamu lebih berharga dari kaum terkutuk seperti mereka!”


Teguran keras itu membuat Adela tercekat. “No-nonaaa.” Tertunduk lemas ia pun pasrah. “Maafkan saya.”


“Kaum terkutuk kau bilang?!” Tetiba Albert terbakar amarah. “Seenaknya saja kau katakan bahwa kami adalah makhluk terkutuk! Atau rendah! Hina! Sedangkan kalianlah yang menyebabkan kami jadi seperti ini! Mahluk mengerikan! Membuat kami memburu manusia, membunuh lalu meminum darah mereka! Bahkan kami terpaksa menyentuh orang-orang yang kami cintai, menjadikannya sama seperti ini dan membuat mereka hidup bagai di neraka. Sama seperti nasib kami yang juga tersiksa oleh keabadian! Lihat kami! Seonggok makhluk menyedihkan! Manusia memburu kami karena ketakutan mereka, dan kalian membenci kami karena darah kami yang kalian anggap kotor! Bahkan kami tidak memiliki tempat di dunia yang awalnya milik kami sendiri! Apa kalian tidak sadar?! Sebenarnya kalianlah yang makhluk terkutuk!” hardiknya. “TIDAK SEHARUSNYA KALIAN ADA DI DUNIA INI!”


Kini Adela yang terheran oleh reaksi terpukul Eien, sebab ketenangannya yang kokoh bagai batu karang kini runtuh begitu saja berkat ucapan Albert. Meski tidak mengerti isi percakapan itu, namun ia seolah memahami apa yang dirasakan Eien. Nonaaaa?


“Aw, lihat sekarang. Si agresif berubah menjadi sentimentil?” ejek Lewis.


Sindiran itu makin membuat Albert geram. “Sudah cukup! Aku muak! Aku tidak ingin membuang waktu lagi!” Maka diterjang dua wanita tak berdaya itu seganas mungkin ia bisa.


Terkejut bukan kepalang, berdiri di antara hidup dan mati, seluruh tubuh Adela menjadi kaku seakan dunia masuk ke dalam waktu yang melambat, sementara nonanya masih tenggelam dalam dunia yang tak mampu ia jangkau. Mungkin hari ini mereka berdua akan tewas, namun entah mengapa tak ada penyesalan yang tersisa kecuali pengkhianatan pada tuannya. Dengan kerelaan yang menyesakkan dipeluk tubuh Eien demi melindunginya dari sambaran Albert yang tertuju pada area jantung. Punggungnya terasa tebal dan kelu, menunggu sayatan tajam dari cakar yang mungkin akan merobek dagingnya. Akan tetapi keadaan terasa aneh. Hening. Meninggalkan perasaan janggal yang mencekik tenggorokkan, sebab waktu telah berjalan beberapa detik tanpa ada yang terjadi. Diberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang, mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Maka terkejut kembali dirinya yang mendapati tubuh Albert yang melayang di udara sedang berusaha melepaskan jari-jari yang mencengkeram leher hingga membuatnya tergantung jauh dari tanah. Napas Adela tertahan tatkala menemukan iris hitam yang berkilauan dalam kegelapan di balik punggung Albert.


“Sudah cukup.“


Adela terkesiap mengenali suaranya. Tuan?

__ADS_1


Tubuh Albert terbanting ke tanah menimbulkan bunyi berdebum mengerikan yang menyengat telinga berupa suara retakan tanah bercampur tulang belulang yang patah. Jeritan  kesakitan pun langsung memecah kesunyian hutan, makhluk malam yang terkejut beterbangan dari pepohonan menjahui asal kegaduhan. “Arrgh! Sakiiit!”


Adela sampai membekap mulut menyaksikan tubuh Albert yang hampir berantakan seolah habis jatuh dari atas jurang yang terjal. Sekarang ia terhenyak kaku, matanya melebar karena begitu jelas mendapati sosok si mata hitam tanpa terhalang tubuh Albert. Iras dinginnya yang khas terbalut kesepian kini berubah tajam tanpa ampunan.  “Tu-tuan!”


“Kupuji keberanian kalian mengusik Yang Mulia Putri dengan tangan kotor kalian.”


“Si-SIAPA KAU?!” geram Albert sambil menahan sakit teramat sangat di sekujur tubuh yang pulih perlahan. Bunyi retakan tulang yang menyambung terdengar jelas.


Lewis yang sempat ternganga menyadari sesuatu. “Ja-jangan-jangan kaulah sang penculik! Bangsawan Cloudius!” serunya panik.


Seringai tipis Ernest merekah tak menampik.


Rasa syukur membanjiri ruang kalbu Adela. Napasnya yang sejak tadi seperti tercekik kini jadi lebih lega. Serta merta dengan suka cita diberitahukan kondisi itu kepada Eien. “Nona, kita selamat! Kita sela-mat-” Suaranya tersendat, dibingungkan oleh sikap Eien yang masih belum kembali pada kenyataan. Mengapa ucapan Albert begitu mempengaruhinya? Adela sungguh tak habis pikir. “Nonaaaa, sadarlah,” desahnya lirih.


“Jika hidup kalian begitu menyedihkan ... dengan senang hati akan kuakhiri penderitaan kalian.”


Sontak perhatian Adela jadi teralih lagi pada tuannya. Yang lebih mengherankan, Albert telah berhasil berdiri, pulih dari luka mengerikannya tadi. Dan kedua monster itu tentu saja bersiap menyerang Ernest di mana Adela baru menyadari kalau tuannya datang seorang diri tanpa bala bantuan. “Hati-hati, Tuan!” Namun ketika dua monster itu melancarkan serangan berupa sabetan cakar kuku tajam, ternyata begitu mudah Ernest mengelak. Bahkan yang lebih tidak masuk diakal adalah gerakan mereka yang tak dapat diikuti penglihatan. Terlalu cepat. Yang sempat ia tangkap adalah ketika Ernest melangkah mundur dengan sebelah tangan bersembunyi di belakang punggung dan tetiba tangan itu telah menggenggam sebilah pedang. Beberapa kali juga terlihat Albert serta Lewis terpukul keras dan membentur batang pohon hingga remuk. Dada Adela berdebar keras menyaksikan pemandangan tersebut. Terlalu mengerikan baginya, sebab manusia biasa tidak mungkin bertarung seperti itu. Ia sering menonton para kesatria kerajaan berlatih pedang di lapangan istana. Atau para kesatria bayaran yang sedang beradu di ajang pertandingan. Gerakan mereka cukup cepat, namun jika dibanding saat ini. Kecepatan para kestaria itu layaknya gerakan seekor kura-kura yang hendak menyaingi sambaran petir. Mendadak otaknya seperti tersedak oleh sebuah pemahaman yang memberikan sensasi pusing, berputar namun terasa tegang. Mereka semua bukan manusia!


Dalam kesakitan Lewis pun jatuh berlutut, napasnya terengah dan tubuhnya telah belur penuh darah. “Tidak. Tidak mungkin kami mampu menandingi seorang ras murni!“ gumamnya putus asa. “Ku-kumohon! Biarkan kami pergi!”


Dihentikan aksinya saat ujung pedangnya tepat berada di dada Albert. “Kau ingin bernegosiasi denganku?” tanya Ernest sarkas.


Walau sang penculik tengah melirik Lewis, namun Albert tahu kalau tubuhnya telah terkunci. Salah bergerak sedikit saja, maka jantungnya pasti akan pecah oleh pedang itu dan berakhir menjadi jasad mengerikan.


Dengan mata nanar Lewis mulai memelas belas kasih lawannya. Meski hidupnya bagai dalam palung neraka terdalam, namun kematian masihlah jauh dari harapannya. “Benaaaar, Tuaaan. Kumohon lepaskan kamiiii.”


Tiada terbersit sebutir iba dalam benak Ernest, justru malah semakin murka mengingat bagaimana kedua makhluk rendah ini telah mempermainkan kekasihnya. “Benar-benar menyedihkan.” Ia pun menghela pendek sarat menyesalkan suatu hal. ”Sayangnya, jejak kalian cukup sampai di sini.” Ernest tak mungkin membiarkan mereka kembali pada Enclav dan melaporkan keberadaannya di Inggris. Belum sempat Lewis bicara lagi, ujung pedangnya telah menembusjantung Albert. Jeritan kesakitan lagi-lagi memecah keheningan malam, seketika tubuh itu terjerembab di tanah setelah Ernest menarik pedangnya. Bau busuk bercampur anyir yang menyengat langsung menguar memenuhi udara.

__ADS_1


__ADS_2