
Part 33
"Merupakan sebuah kehormatan bagimu dapat bertemu denganku. Berlututlah padaku!" perintah Eien.
Monster itu tersentak lalu teringat akan sesuatu. "Aaah!" Kemudian dibungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat. "Yang Mulia Putri. Ampuni kelancangan kami. Tentulah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi kami hingga dapat bertemu dengan sang Holy Princess. Bila diizinkan, perkenalkan, nama hamba Lewis sedangkan rekan hamba yang terjatuh itu adalah Albert."
Adela terhenyak. Yang mulia? Holy Princess? Apa lagi ini?
"Kuterima hormatmu. Akan kumaafkan kesalahpahaman kalian yang telah menyerang keretaku malam ini. Dengan begini, kuminta kalian segera pergi dari hadapanku," perintah Eien lagi.
Cukup lama Lewis termenung, menilai keadaan dalam kepalanya. Lalu ia sampai pada sebuah kesimpulan. "Hamba khawatir, permintaan Anda terlampau berat untuk hamba penuhi, Yang Mulia. Masalahnya, terdengar kabar yang tidak menyenangkan mengenai diri Anda dari Romania yang jauh."
Eien bisa menebak isi kabar itu, tetapi ia ingin memastikan. "Apa yang kau dengar?"
"Tentu saja ini," jawab Lewis sambil mengarahkan jari telunjuk pada letak jantungnya sendiri.
Kewaspadaan Eien langsung meningkat. "Apa yang kau inginkan?"
Rekan Lewis yang terjungkal telah duduk di atas salah satu kuda dalam kondisi tanpa luka, seringai buasnya terpasang lebar. Entah sejak kapan ia berada di sana. "Tentu saja kekuatan besar, Yang Mulia."
Walau tak memahami percakapan di antara mereka, tetapi insting Adela mengatakan kalau nonanya sedang berada dalam bahaya. Mereka menginginkan nona! Tapi kenapa?! Dalam keheranan diperhatikan sosok cantik di sisinya. Siapa sebenarnya Nona Selia?
"Lancang! Beraninya kalian bertingkah dihadapanku!" redik Eien.
Lewis mendengus pelan demi menutupi semburan tawanya sambil memainkan ikatan rambut lalu menjamah mangsa dari kaki hingga kepala dengan jilatan matanya. Kulit wajahnya tipis memamerkan urat nadi yang merah berdenyut-denyut saat perhatiannya terpusat di leher wanita bangsawan itu. "Seandainya ada pilihan lain yang lebih baik, Yang Mulia, mungkin kuda-kuda itu bisa menyelamatkan Anda.”
__ADS_1
“Bukankah keselamatan kalian adalah pilihan yang terbaik?”
Kali ini Lewis melepaskan tawanya. “Anda ternyata pintar berkelakar. Apakah kami tampak seperti calon korban di sini?” Tak ada sahutan lagi. Lewis tahu dua wanita ini sedang terpojok. “Yah, walau kami tahu bahwa Anda adalah ‘sebuah jalan’ bagi pemimpin kami, tetapi menurut hemat hamba akan lebih baik bila beliau menjadi raja kami yang sejati tanpa harus menikahi Andasang ras murni."
Eien terperanjat geram. Berani sekali makhluk kotor itu merendahkannya. Kalau bukan karena tubuh bonekanya, sudah dibakar habis Lewis hingga menjadi abu. "Pemikiran yang menjijikkan!” Meski tak mengerti perkataannya mengapa calon mempelai prianya disebut sebagai pemimpin mereka, ia lebih memilih mengenyampingkan masalah itu. Keselamatan Adela dan dirinya adalah hal yang utama sekarang. "Kita tidak memerlukan izin dari mereka, Adela. Mari kita pergi."
“Ba-baik, Nona.” Namun belum sempat beranjak, Albert telah merengkuh tubuh Adela dari belakang hingga tersentak kaku. "No-nonaaa," desisnya. Suaranya bergetar ketakutan. Situasi semakin mencekam ketika mulut pria itu sudah menganga lebar di leher Adela, taringnya siap menancap kapan saja.
"Hentikan!" sergah Eien.
Iris nanar Albert beralih. "Kudengar seorang keturunan dari raja ras murni memiliki kekuatan untuk membinasakan kaumnya. Kenapa tidak Anda lakukan? Dengan begitu meloloskan diri dari kami bukanlah suatu masalah besar.”
Merasa tertantang wajah Eien terangkat. "Kau menginginkan hal itu?"
“Anda boleh mencobanya,” tantang Albert lagi.
Tergantung di seutas tali antara harapan dan keputusaasaan, Adela paham benar bahwa mustahil hal tersebut terjadi. Gumamanan demi gumaman nonanya terdengar dengan jelas sejak tadi. Apa nona bisa melakukan hal aneh semacam itu? Jika benar, apakah itu sebuah keberuntungan bagiku? Atau malah semakin mempertegas bahwa nona bukanlah makhluk yang sama denganku? Tuhaaan, selamatkanlah hamba dari situasi membingungkan ini?!
Sekilas Eien melirik telapak tangannya, agak ragu namun patut dicoba. Maka direntangkan sebelah tangan ke arah Albert. Setelah memusatkan energi dan kosentrasi, hanya dalam satu sentakan tubuh pria itu terpental tanpa hambatan, menyisakan si pelayan yang berdiri kaku di sana. “Adela!” panggilnya menyadarkan Adela untuk segera berlari ke balik punggungnya.
Terbaring di tanah Albert tergelak keras tanpa sakit yang berarti. "Hahaha! Sudah kuduga! Anda memang tidak mampu melakukannya karena keterbatasan tubuh buatan itu."
Itu benar. Tetapi apa boleh buat. Pandangan Eien sedikit menurun, lalu melirik kekang kuda. Aku tidak dapat memanjangkan cakarku sebabtubuh fana ini bukan milikku. Karenanya kekuatan dan energiku menjadi sangat terbatas. Aku harus mencari cara lain.
Menyaksikan kenyataan itu bibir Lewis mengerucut. "Sebenarnya, kami diperintakan oleh Yang Mulia Enclav untuk menemukan dan membawa Anda kembali kepadanya,” alihnya.
__ADS_1
“Tetapi tampaknya kalian tidak berniat demikian.”
“Anda cerdas dan memahami situasi, Yang mulia,” sanjung Lewis. “Dan pastinya Anda pun akan berpikir sama jika menjadi diri kami. Membuang kesempatan langka merupakan tindakan bodoh yang tak dapat dimaklumi.”
"Karenanya, biarkanlah kami merasakan segarnya sisa darah yang tinggal sedikit itu," seru Albert sambil mendudukkan diri.
Apa maksud mereka?! Napas Adela tersendat keras. "Nona!" Sekarang iras bangsawan itu tampak seputih kapas. Walau begitu reaksinya tiada berganti, tenang bagaikan permukaan danau tak berangin, bahkan suara percikan air dan cicitan burung tak mampu ia dengar. Terlalu sulit baginya meraba isi pikiran wanita ini. Adela tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang yang jiwanya tengah diintai oleh kematian tidak merasakan gentar. Ini tidaklah wajar untuk seorang manusia!
Lagi-lagi Eien termenung. Apakah ini bisa dikatakan menjadi jalan lain untuk kebebasanku? Ia sedikit melirik ke belakang. Tetapi alangkah tidak adil untuk gadis kecil ini. Bila hanya ada aku seorang diri, mungkin situasinya bisa menjadi solusi terakhir. Ah, tidak! Memberi para terkutuk kekuatan adalah hal yang tidak bertanggung jawab. Irisnya bergulir awas secara bergantian menatap keduanya, tiada ragu yang terpatri di sana sementara tubuhnya sendiri semakin lemah. Yang terpikirkan hanyalah terus berlari sambil menghadang pengejaran dengan sisa kekuatan. Dan itu tidak akan mudah. Eien dapat melihat ujung pelarian itu. Dirinya yang kehabisan darah dan Adela yang terkapar tewas mengenaskan. Hanya tersisa satu cara yang sangat berisiko. Dilirik sekilas gunting kebun yang tergeletak agak jauh dari pelayannya. "Tanpa kekuatan, masih ada jalan untuk melenyapkan kalian."
"Nona?!"
"Adela! Berikan gunting itu! Akan kutusuk jantung mereka."
Pelayan itu tercekat. "Tidak! Mana mungkinsaya biarkan tangan Anda kotor!" sergahnya panik.
"Tidak ada cara lain." Namun Adela masih berkeras hati, maka dari itu Eien berinisiatif bergerak sendiri meraih gunting.
“Nona!” Sadar berada dalam situasi sulit, Adela membulatkan tekad. Bagaimana mungkin ia sanggup membiarkan tangan wanita terhormat itu berlumuran darah. Seandainya ia tidak menuruti kehendaknya, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Semua karena kesalahan dirinya yang telah berkhianat pada majikannya. Oleh karena itu,disambar lebih dulu gunting tadi sebelum Eien mencapainya.
Eien pun jadi tertegun. “Adelaaa?” protesnya.
"Biar saya yang melakukan! Saya akan melindungi Nona apa pun yang terjadi!"
Mendadak kobaran keberanian muncul dari sosok penakut itu menyebabkan Eien terpana. Akan tetapi hal itu tidak bisa dibiarkan, terlalu berbahaya. Namun belum sempat mencegah, teriakan keras Adela telah mengawali aksinya yang berlari menghujam benda tajam itu pada Albert.
__ADS_1
"Hiyaaa!!"
"Bahaya, Adela! Hentikan!" Manik Eien melebar menyaksikan anak ayam itu berlari menuju mulut hyena. Tidak! Ini salahku! Salahku!