
Part 15
Setelah dipersilakan, William masuk ke dalam kamar Eien. Hal pertama yang ia kerjakan adalah menuju lemari untuk menggantung gaun tadi di mana kondisinya sudah dalam keadaan bersih di dalam lemari. Setelah menutup pintu lemari besar tersebut barulah ia menghadap Eien yang setengah berbaring di ranjang, punggungnya bersandar pada tumpukan bantal. Napasnya yang terdengar lemah dan berat sungguh menambah kekhawatiran William. Ia pun berdeham sekali meminta perhatian yang disambut lirikan tak berdaya. "Menurut perhitungan hamba, sudah lebih dari sepekan Nona tidak meminumnya, ditambah dua bulan perjalanan panjang menuju kota ini. Hamba yakin Anda menyadarinya. Karenanya, hamba mohon pertimbangkan kembali, Yang Mulia," bujuknya cemas.
Itu benar. Bohong bila ia tidak mengetahui betapa tubuh ini membutuhkan darah. Matanya menerawang pada langit berawan yang menutupi indahnya gemintang. Untuk menggerakkan jarinya yang kaku rasanya seperti memboroskan tenaga. "Biarkan aku seperti ini. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi bertahan."
"Hamba mohon jangan berkata demikian, Nona. Tuan sangat mengkhawatirkan Anda," pinta William. Bagaimanapun juga, demi wanita ini, tuannya rela mengorbankan hidupnya, bahkan segalanya. Tidak akan ia biarkan keputusasaan Eien merenggut usaha dan harapan majikan yang dicintainya.
"Apa hubungannya dengan Hornest? Aku tidak mengenalnya," desisnya lelah.
"Tetapi tuan sangat mengenal Anda. Kami semua. Well, terkecuali Adela."
Lagi-lagi seperti itu. Semua orang memihak sang pemilik kastil. Air matanya mengalir dalam diamnya yang menyakitkan. Ketidakberdayaan ini telah menenggelamkan semangat hidupnya yang telah sedikit tersisa. Darah terkutuk itu adalah kunci agar tubuhnya bergerak, dan Eien sungguh tak ingin meminumnya. "Aku rasa kabut tebal telah memenuhi isi kastil ini."
"Kabut?"
"Ya, karena tak ada seorang pun yang mampu melihat siapa korban yang sebenarnya."
Sejenak mata William melebar sedih mendengar perumpamaan yang menyakitkan tersebut. Kalau saja wanita ini tidak kehilangan ingatannya, mungkin kesalahpahamannya terhadap majikannya tidak akan pernah ada. "Yang Mulia, sungguh, Anda telah salah menilai tuan. Tiada niatan dalam dirinya yang akan menyakiti Anda," lirihnya.
__ADS_1
"Lalu apa ini, William? Mengapa aku berada di sini?"
"I-itu-" William terbungkam kaku, teringat akan peringatan Ernest yang melarangnya berbicara terlalu banyak.
Manik kristal biru itu kembali pada sang kepala pelayan. "Kau tidak takut pada ayahku?"
William yang terkejut setengah mati langsung berlutut takut. "Yang Mulia! Hamba tidak berani!"
"Apalagi yang kau tunggu?"
Pelayan tua itu menggeleng keras, kedua matanya membesar takut. Banyak pertimbangan yang tiba-tiba datang menyerang benaknya bagai ribuan anak panah yang menerjang, menghujam langsung ke dalam relung hati. Ia pernah memikirkan ini berulang kali, mungkin hingga jutaan, tetapi ketika tuannya menjelaskan alasan dibalik perbuatan terlarang ini, ia pun paham. Semua demi kebaikan rasnya, terutama untuk sang penerus tahta sendiri. Menimbang hal itu, wajahnya jadi mengeras karena tekad. Walau harus mati di tangan sang raja demi membela keyakinan tuannya, ia rela. "Ma-maafkan hamba, Yang Mulia!"
Eien memejamkan mata, genangan air matanya tumpah kembali karena pengkhianatan, namun bibirnya tersenyum karena kesetiaan pria tua itu begitu mengagumkan. Hukuman mati dari sang raja tak membuatnya gentar. "Hornest sungguh beruntung."
"Kenapa tidak memberikanku yang biasa? Kenapa harus darah itu?"
"Demi kebaikan Anda."
Mata Eien terbuka lebar dan tampak terpukul. "Demi kebaikan? Apakah kalian juga bermaksud menjadikanku kaum terkutuk?" tanyanya hampir tak percaya.
__ADS_1
"Tuan tidak bermaksud seperti itu. Akan tetapi tubuh Anda membutuhkannya."
"Darah itu tetap membuat jiwaku terikat dengan tubuh palsu ini, bukan?" terkanya yang sudah menduga sejak awal.
William tertunduk tidak berani menyangkal. "Seperti yang Anda pikirkan."
Iris biru Eien sampai bergetar, air matanya kembali mengalir ketika ia mengalihkan pandangan. Tidak ada yang akan memihaknya di sini, lalu bagaimana caranya ia lari? Di kastil ini hanya tersedia keputusasaan untuknya. Lalu ia teringat pada pelayan manusia itu. "Apakah Adela mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya?" tanyanya lirih.
Kepala pelayan itu menggeleng pelan. "Tentu saja tidak, Yang Mulia."
Di balik pintu, Adela yang baru saja tiba jelas terhenyak mendengar pembicaraan terakhir mereka. Tangannya yang membawa gelas baru berisi darah sampai bergetar. Apaaaa? apa maksud pembicaraan mereka? Apa yang mereka sembunyikan dariku?! pekiknya kalut dalam hati.
***
Ruang makan megah dan berkesan mewah yang terang benderang telah di penuhi oleh para bangsawan. Kandil kristal menggantung di langit-langit di mana cahaya lilin yang terperangkap dalam lentera terbias membentuk kilauan berbagai warna. Meja panjang berlapis kain merah dan hidangan penggugah selera penuh berjajar. Pelayan berkelas dengan sigap mengisi dan mengganti hidangan seolah tak membiarkan ada tempat makan yang menjadi kosong. Anggur terbaik menjadi pelengkap jamuan yang sempurna.
Atmosfer malam di sana pun terasa hangat, suara dentingan pisau di antara tawa dan perbincangan ringan memenuhi ruangan. Musik klasik mengalun lembut dari okestra kecil di ujung ruangan menambah nuansa syahdu perjamuan. Jas resmi yang tampak gagah serta gaun mekar berseling di meja bagaikan pelangi yang terpecah.
Sang ratu menjamu begitu baik seluruh tamunya, sedikit ketidakpuasan pasti akan menyakiti harga dirinya. Karenanya semua yang tersaji dan tersedia adalah yang terbaik. Menyambut seorang bangsawan dari Romania dengan sebaik mungkin merupakan sebuah pencitraan untuk negaranya. Apalagi pertikaiannya dengan Spanyol masih belum terselesaikan. Sudah jelas terlihat kalau ia tak ingin menambah musuh baru.
__ADS_1
Oleh karenanya, ratu berusia paruh baya tersebut menyambut Ernest dengan tangan terbuka. Tak ayal pesona serta karisma sang bangsawan dari negeri asing memaku tatapan mereka. Pembawaannya yang tenang dan cerdas merebut perhatian, ia seperti bersinar terang layaknya rembulan. Cahayanya tidak menyilaukan, tetapi menghanyutkan dalam buaian malam. Getaran dalam suaranya mampu menghentikan napas yang mendengarnya, terutama para wanita anggun, wajah tersipu mereka tertutup dengan baik di balik kipas lipat yang terbuka. Sinar mata mereka begitu antusias mendengarnya bicara.
Isi percakapan yang mendominasi hanyalah seputar masalah kenegaraan, konflik antar negara -terutama dengan Spanyol- kemudian elegi perekonomian yang sedang berkembang di daratan Eropa. Tentunya Ernest tak akan segan membagi wawasan dan pengalaman selama dirinya berkeliling dunia. Hal itulah yang menarik perhatian para bangsawan.