Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
31. Serangan Misterius


__ADS_3

Part 31


Adela tercengang. Tatapan nonanya meninggalkan bekas yang aneh. Ruang rahasianya seolah telah digeledah begitu saja tanpa seizinnya. Namun ia tak berdaya melawannya. Semua telah terbongkar semudah itu dan yang dapat diperbuatnya hanyalah tertunduk sambil berusaha menepis rasa malu. "Bu-bukan begitu, Nonaaa," jawabnya lemah.


"Lalu?"


"Tidakkah Nona mengerti bagaimana perasaan Tuan Hornest yang sesungguhnya kepada Nona? Saya yakin Nona paham mengenai hal itu. Saya bisa memastikan. Hanya sajaaa, jika Nona bersikap sedikit lunak dan memberi tuan kesempatan, mungkin-“


"Tidak," potong Eien.


"Tetapi kenapa? Tuan adalah pria baik yang sangat mengutamakan Nona lebih dari segalanya. Te-tetapi saya terus saja melihat reaksi keras dari diri Nona. Apa alasan Nona? Dan yang lebih penting, apa sebenarnya alasan tindakan Nona sekarang ini? Saya sungguh tidak mengerti."


Benar-benar kalimat yang sangat menuntut. Bukannya Eien tidak paham, hanya saja, membeberkan terlalu banyak hal hanya akan memberi dampak di luar perkiraan. Atau mungkin ia harus mengambil risiko itu? "Ini demi kebaikannya. Mungkin akan sulit bagimu untuk memahaminya, tetapi kumohon lakukanlah permintaanku.”


“Saya sangat berharap dapat melakukannya. Tetapi semua pertanyaan terus bergulir dalam kepala saya. Bahkan saya sendiri kesulitan mengendalikan semua hal yang berkecamuk di sana.”


Kata-kata yang sanggup mendesak Eien sampai mendesah ringan. Irisnya kembali beralih pada jendela yang tertutup tirai, memberi jeda yang cukup panjang sebelum memutuskan untuk bicara. “Kau tahu, Adela. Saat ini aku adalah danau gelap yang teramat dalam dan dingin, kami tenggelam di kedalaman yang tak terjangkau cahaya. Udara saja tiada layak untuk kami hirup, apalagi kasih Tuhan. Kau tidak tahu apa yang telah diperbuatnya. Bila diteruskan maka pria itu akan semakin terhisap dalam derita ketidakjelasan." Sejenak matanya terpejam. Bahkan aku dapat melihat dengan jelas bayangan gelap dalam hatinya. Bukan kejahatan, melainkan keputusasaan. Aku tahu ia memiliki sebuah harapan, tetapi harapan itu seolah bergantung di seutas jaring laba-laba. Sedikit angin meniup, maka jatuh sudah. Jadi bagaimana mungkin aku membiarkan keputusasaan dan harapan kejam semacam itu membelenggunya hanya karena diriku?


Jujur saja Adela tidak paham. Ia baru mengenal orang-orang ini hanya selama beberapa minggu. "Derita?" Bukankah sudah jelas kalau satu-satunya hal yang menyebabkan tuannya bersedih hanyalah wanita ini? Yah, hal itulah yang dinilainya sejauh ini. “Tuan tampak baik-baik saja selama Nona ada bersamanya.”


"Tidak, Adela, kau tak mengerti. Ini tidak sesederhana yang kau bayangkan.”

__ADS_1


“Kalau begitu cobalah. Saya pasti bisa memahaminya.”


Kalimat itu menyendat Eien untuk beberapa saat. Kemudian matanya yang tadi berpaling kembali menatap si pelayan naif, bahkan lebih intens hingga membuatnya terkesiap. “Jika aku tidak kembali ke rumahku, maka Hornest akan berada dalam bahaya besar."


Sejenak gadis itu terdiam menalar kalimat barusan. Bahaya besar? “Ap-apa maksud No-“ Pertanyaan Adela mendadak tersendat oleh bunyi berdebum beruntun dari belakang kereta sebanyak dua kali. Mereka tersentak, terutama Adela yang terserang kepanikan langsung menyebar pandangan menuju seisi kereta. "Suara apa itu?!" Belum sempat terjawab keduanya dikejutkan oleh guncangan keras kereta serta suara ringkikan tajam kuda-kuda yang dihentikan secara paksa. Hampir saja Eien terjungkal kalau bukan karena Adela yang cepat menangkap tubuhnya agar tak terjatuh ke lantai. “Nona baik-baik saja?” Dilihat wanita itu hanya mengangguk  dalam bingung. Ia pun berbalik menuju jendela kecil di belakang kepalanya, lantas menggeser penutup. "Apa yang terjadi?!" serunya tegang. Tak ada jawaban melainkan kesunyian yang aneh. Namun sesuatu terjadi ketika perlahan punggung kusir itu jatuh ke sisi samping lantas menutup layarjendela. Reflek Adela membekap mulut mengetahui ada darah yang merembes di seragam putih kusir tersebut. Lekas saja ditutup jendela tadi seraya menarik napas dalam-dalam. Ja-jangan-jangan bunyi tadi adalah suara pengawal Lady Elena yang terjatuh? pikirnya kalut.


Kiranya ini adalah sebuah kecelakaan hingga reaksi berlebihan pelayannya memantik rasa penasaran Eien. “Adela?” Tetiba jemarinya direnggut keras.


"Ki-kita diserang, Nona! Mungkin para bandit!" pekiknya ketakutan.


“Bandit?”


“Ya. Akhir-akhir ini banyak terjadi perampokan kereta kuda!”


“Eh?”


Turunnya suhu udara secara drastis  di sekeliling mereka meyakinkan Eien akan sesuatu hal. Bahkan napas terengah yang dikeluarkan bibir mungil Adela tampak jelas menjadi uap tipis yang biasa terjadi di tengah musim dingin semakin membuktikan prasangkanya. Ini serangan yang tidak biasa. Gawat.


"Ada apa ini? Kenapa udaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin?" tanya Adela sambil mengusap telapak tangan Eien secara bergantian agar ia tetap dalam keadaan hangat, hanya saja ia lupa kalau suhu tubuh nonanya sedari awal memang sedingin es.


Eien hanya bisa tersenyum menikmati kebaikan Adela yang mengabaikan dirinya sendiri. Bukankah biasanya di situasi genting semacam ini manusia lebih mementingkan dirinya sendiri? Tetapi gadis bertubuh kecil dan rentan ini

__ADS_1


berbeda, mengingatkannya pada sosok yang telah tiada ratusan tahun lalu. Bagaimana ini? Lagi-lagi seorang manusia telah membuatku jatuh cinta.


Tiba-tiba saja pintu kereta yang terkunci bergetar keras. Seseorang di luar sana berusaha membuka paksa tanpa ada sapa. Napas Adela sampai tertahan menunggu sesuatu yang tidak diharapkan. Dalam hati ia berdoa agar siapa pun di luar sana tidak akan pernah bisa membukanya lalumasuk hanya untuk menyakiti mereka. Tidak lama berselang pintu itu pun terdiam meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Apakah mereka sudah menyerah? Atau mungkin sedang menunggu mangsanya keluar sendiri dari kandang?


Dalam diam, terendus semilir aroma tajam yang memuakkan, namun hanya Eien yang mampu mendeteksinya. Seketika itu pula ia menyadari siapa orang yang telah menyerang kereta kuda ini. "Benar. Kaum terkutuk," gumamnya.


Sepintas terdengar menimbulkan tanya di balik ekspresi ketakutan Adela. “Terkutuk?”


"Mendekatlah padaku." Eien merentangkan tangan yang langsung disambut pelayan itu, kemudian segera berpindah duduk ke sisinya dengan tatapan nanar yang kentara. "Kita keluar," bisiknya halus.


"Tapi, Nona, lebih aman di dalam sini dibandingkan di luar. Siapa pun yang ada di luar sana, kita tidak tahu berapa jumlah mereka dan apa yang mereka inginkan!"


"Pikirkanlah, Adela. Jika kita tidak keluar, maka kita akan terjebak di dalam."


Jantungnya hampir berhenti berdetak. "Terjebak?"


"Benar. Oleh karenanya, harus ada yang menggantikan sais agar kereta ini kembali melaju. Atau mungkin sebaiknya kita melepas tali kekang kuda lalu menungganginya. Beban kereta hanya akan memperlambat pelarian. Kau bisa menunggangi kuda?"


Rasa getir memaksanya menelan ludah diseratnya tenggorokan. Dalam situasi seperti ini tentu saja bisa atau pun tidak, ia akan tetap menungganginya. "Nona benar! Dengan begitu mereka pasti akan kesulitan mengejar kita!"


"Tidak, kau salah. Mereka cepat. Sangat cepat hingga kedua matamu tidak akan mampu menangkap bayangannya.” Nada suaranya masih sama. Tenang dan datar.

__ADS_1


Sikapnya itu justru membuat Adela makin kalut. Bagaimana tidak, ini adalah situasi di mana seorang wanita normal akan terserang kepanikan. "Siapa mereka, Nona? Apa yang mereka inginkan?"


"Mereka menginginkan … kita." Eien melepas pengait pintu yang terkunci lantas jemari kirinya meraih gagang pintu kereta dan membuka perlahan.


__ADS_2