Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
29. Buku yang Terbuka


__ADS_3

Part 29


Jauh di balik pilar teras belakang kastil, Adela yang sejak tadi mengawasi keduanya sampai terkejut. Tanpa pikir panjang ia berlari kecil demi memeriksa keadaan Elena. Diraihnya tubuh lemas itu ke dalam rengkuhan lembutnya, takut akan pecah laiknya boneka porselain. Wanita ini tak sadarkan diri dan Adela tiada tahu apa penyebabnya. Raut cemasnya merebak tanpa halangan lagi saat menengadah pada Eien. "Apa yang terjadi Nona? Apakah Lady


Radringham baik-baik saja?" tanyanya panik.


“Bagaimana menurutmu?” Kristal biru itu turun tanpa ragu menuju Adela yang tercekat bingung.


A-apakah nona sedang mengujiku? Jujur saja Adela dibuat gamang oleh pemikiran tentang bagaimana Eien memandangi dirinya saat ini. Tidak lepas dan cukup tajam menusuk seolah bersiap menilai bila ia salah menjawab. Sekali lagi ia memeriksa keadaan lady istana itu secara seksama. “Masih bernapas, hanya saja beliau tampak tak sadarkan diri.”


“Kau yakin?”


Alis Adela bertaut memprotes, tak suka akan pertanyaan itu. “Nonaaa!”


Eien mendesah ringan. “Lady Radringham baik-baik saja.”


“Sungguh?” Yang terdengar hanyalah dehaman ringan, tetapi itu sudah cukup meredakan ketegangan dalam saraf Adela. “Syukurlaaaah,” desisnya kecil.

__ADS_1


“Bila kau sudah merasa lebih baik, apakah sekarang kita bisa mulai bersiap?”


Tentu saja ini masih belum selesai, masih banyak serangkaian rencana yang harus dilakukannya bersama nonanya ini. “Tentu, Nona,” jawabnya pasrah.


“Terima kasih. Sekarang lekaslah sembunyikan Lady Radringham dalam kamar yang sudah disiapkan, kemudian temukan kereta kudanya untukku. Rencana ini … tak boleh gagal.”


Dari lirihnya suara itu, bagaimana mungkin Adela tidak menangkap kesedihan yang terkandung di dalamnya. Lihatlah bagaimana cara ia menatap kastil. Ekspresi kepedihan yang terlukis indah di sana bagai membeku dalam waktu. Bila begitu berat meninggalkan tuan, lalu mengapa nona melakukan semua ini?


Selang beberapa waktu, secepat mungkin Adela menyelesaikan tugasnya tadi sebelum tuannya menyadari perbuatan mereka. Setelah memastikan Elena dalam keadaan baik dan aman dalam salah satu kamar terdekat, ia kembali bersama dua jubah hitam bertudung yang tentunya sudah disiapkan sebelum dirinya berias.


Timbunan kegelisahan bertumpuk di wajah Adela kala memasangkan jubah di pundak Eien. Ketika Adela berdiri dihadapannya untuk menaikkan tudung ke atas kepala, Eien mencoba sedikit merubuhkan bendungan


Sontak gadis mungil itu tercekat. Jemarinya bergetar di tepi tudung yang tengah dirapikan demi menutupi iras Eien, namun lekas ia tarik saat nonanya sadar dan melirik jemarinya. Sejak dahulu ia memang tidak pandai menyembunyikan perasaan, bila senang ia akan tertawa, jika bersedih tentu akan menangis dan saat digempur kecemasan ia akan bertingkah berlebihan seperti ini. Ditautkan jua kedua tangannya di depan dada sepatutnya sikap memohon. "Nonaaaa, tolonglah, pertimbangkan kembali rencana iniiiii."


“Apakah engkau takut?”


“Bagaimana mungkin Nona menanyakan hal itu. Apakah itu tidak terlalu kejam?”

__ADS_1


“Ah, maaf. Aku pasti telah menyiksamu. Namun, yang pasti, apa yang tengah kita lakukan ini adalah demi kebaikan semua orang, terutama ….” Eien tak melanjutkan kata terakhirnya sebab yakin Adela tahu siapa yang dimaksud.


Kebaikan? Kedua mata pelayan itu bergetar dan bibirnya terpagut sedih. Melihat wanita ini kesakitan tuannya saja seperti orang yang kehilangan akal, lalu bagaimana bila menghilang? Adela tak sanggup membayangkan betapa sengsara hidup tuannya nanti. "Nona telah menempatkan tuan di ujung jurang." Keduanya sempat bertatapan, namun kristal biru itu lekas beralih lirih membuat Adela hampir menyesal telah mengatakannya.


"Aku lebih berharap kau tidak memahami situasi ini,” sebab apa yang dilakukan pria itu adalah sebuah aib terkutuk. Bila memikirkan perbuatannya, sungguh ia tak mampu menemukan jalan keluar bagi pria itu untuk selamat dari hukuman kerajaan. Eien pun berbalik seraya berbisik lirih, "kita berangkat."


Ada debaran aneh yang merambat pelan dalam dada Adela, bergolak laiknya ombak kecil yang bersiap menerjang pantai dengan kekuatan yang lebih besar. Karena baginya, kalimat itu bagai sebuah peringatan untuk tak terlibat lebih jauh. Ini seperti sang nona telah memberinya garis pembatas bukan karena ia tak ingin dirinya ikut campur. Tetapi lebih karena sebuah perlindungan untuk dirinya. Melindunginya dari kenyataan yang mengerikan? Tetapi, mungkinkah ini adalah sebuah pertanda? Tetapi pertanda akan hal apa? Semakin dipikirkan dirinya seolah sedang terjebak dalam sebuah labirin. Pada akhinya ia sampai dalam sebuah kesimpulan bahwa nonanya adalah sebuah buku bersampul indah dan mewah, yang menarik hati siapa pun untuk mengetahui isi yang tertulis di dalamnya. Hanya saja yang akan ia temukan hanyalah tulisan penuh simbol yang tak mungkin terbaca. Engkaulah teka-teki yang sebenarnya, nona. Diperhatikan punggung ramping wanita itu, bahasa tubuhnya tampak ragu, namun seolah memaksakan dirinya menempuh keadaan. Entah beban apa yang sedang dirisaukannya. Adela menarik napas dalam, walau hatinya terasa berat, kaki kecilnya melangkah jua di atas jejak yang ditinggalkan sang nona. "Baiiiik."


Usai memutari mansion, mereka sampai di pelataran parkir kereta kuda.


Ditunjuklah sebuah kereta yang Adela kenali sebagai milik Elena. Tanpa ragu Eien menghampiri kereta tersebut. Bila sudah begini, Adela tidak memiliki pilihan lagi selain mengikutinya. Ia begitu berharap keputusan sang nona


berubah lalu kembali pada tuannya, akan tetapi asanya ternyata lekas sirna kala sang kusir menyapa.


"Nona?" Sebelah alis kusir itu terangkat heran.


Ini waktu bagi Adela untuk memainkan perannya. "Maaf, Lady Elena sedikit kurang sehat, jadi beliau memutuskan untuk meninggalkan perjamuan lebih awal. Saya diminta untuk menemani beliau hingga ke tempat tujuan demi memastikan kondisinya."

__ADS_1


Sebersit keraguan hinggap di raut sang kusir yang duduk di bagian depan kereta. Tambahan kerut tipis di dahinya membuat Adela makin gelisah. Setelah sekian detik berlalu diiringi debaran yang menyiksa, tanpa disangka kusir itu segera turun dan membukakan pintu. "Silakan, Nona."


Tanpa berbicara sepatah kata Eien naik ke dalam kereta. Melihat hal itu Adela sempat terpana menyaksikan betapa keraguan sama sekali tidak mengusik wanita itu. Namun setidaknya ia bisa diam-diam mendesah lega karena pada akhirnya sang kusir menepis rasa curiga. Sandiwara ini pun berakhir setelah pintu kereta tertutup. Perjalanan akan dimulai setelah dua pengawal Elena duduk di bagian belakang kereta kuda.


__ADS_2