Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
12. Senyum yang Indah


__ADS_3

Part 12


Pelayan muda itu terkesiap meski agak heran. "Ini penghujung abad 15, tahun 1599, Nona."


Seketika Raut wajah Eien berubah, senyumnya perlahan surut saat menengadah menatap kamar Ernest di lantai satu bagian kanan kastil. Pria itu berdiri di sana sedang mengawasi mereka. Kesedihan dan kesepian terpantul dalam iris cokelat Adela kala melihatnya tengah menatap Eien. Sedangkan nona mudanya membalas dengan air mata yang entah sejak kapan telah bergulir tenang di pipi. "Aku ... sudah tertidur selama itu." Tentu saja hal itu menjelaskan kalimat Ernest tadi. Ternyata waktu telah berlalu tanpa disadari, tanpa sempat mengerti apa sajakah


yang telah hilang dari dirinya.


Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua? Pertanyaan semacam itu terus berguling dalam benak Adela. Sedikitnya ia ingin memahami, sebab sepanjang penglihatannya, tuannya tidak sedikit pun menaruh kebencian kepada wanita ini. Tetapi sebaliknya, nona misterius itu menyimpan kepedihan dan kemarahan yang dalam pada tuannya. Ia ingin sekali bertanya, tetapi tenggorokannya selalu terasa tersumbat jika bibirnya sudah mulai terbuka. Pada akhirnya ia malah bertanya tentang seseorang yang namanya sempat disinggung. "Jika berkenan, bolehkah saya mengetahui mengenai siapa Tuan Lyonis yang tadi namanya sempat Nona sebutkan?"


Eien jadi berbalik memandang hampa wajah penasaran pelayan mudanya yang tersenyum malu serta kikuk. Tetapi ia balas tersenyum lembut memaklumi bahwasanya tidak ada yang perlu ditutupi mengenai hal itu. "Ia adalah ... kekasihku."


Bagaimana mungkin? Napas Adela tertahan memikirkan kerumitan dari jawaban wanita yang tertunduk sedih itu. Alisnya kini pasti telah menukik tajam pertanda betapa kerasnya ia berpikir. "Kekasih?" Wanita anggun ini belum menjawab, melainkan bergerak menuju kursi gantung. Langkahnya bagai berirama, napasnya seolah mengalun


seperti musik yang lembut, dan lihat geriknya yang ringan bak lembaran bulu angsa. Adela sampai berdebar menyaksikan dirinya yang rasanya seperti tidak mewakili manusia. Entah makhluk apa dirinya, tetapi ia terlampau indah.


"Lihatlah bintang-bintang itu, Adela. Berkelip, bersinar dan bahkan mungkin surut tak berbekas. Kadang kala awan


putih atau hitam datang menghadang, mungkin pula lain hari ia bersanding dengan rembulan. Layaknya putaran kehidupan yang tak menentu, aku pun berada dalam pusaran itu. Hanya saja aku telah kehilangan arah, terjebak dalam lubang hitam di mana tak ada seorang pun yang mampu menyelamatkanku terkecuali diriku sendiri." Sedikit berbalik ditemukan pelayannya yang tengah kebingungan, menimbulkan seulas senyum hingga matanya menyipit memaklumi. "Sepanjang hari ini kami pasti telah menenggelamkanmu dalam telaga tanda tanya."


"Maaf, Nonaaa," angguknya penuh sesal. Apalagi tidak ada seorang pun yang bersedia menjelaskan situasi dalam


kastil ini padanya, wajar bila ia laiknya orang yang tersesat dalam labirin.


Jemari putih menyapu lembut bagian sandaran kursi gantung. Selintas Eien masih memikirkan hal lain sambil mencoba menduduki kursi yang terkesan ringkih namun ternyata cukup kuat. Iris birunya pun bergulir jatuh ke rerumputan yang hijau kekuningan, terpaku seakan warna itu telah menenggelamkannya. Adela lekas berdiri di belakang kursi lantas mendorong perlahan dan membuat kursi itu berayun pelan. Sensasi gerakan kursi menarik


kesadaran Eien kembali. "Dapat kupastikan adanya rasa takut dalam kedua jendela hatimu yang indah serta sikap tubuhmu yang tidak nyaman berada di dekatku."


Adela menggeleng canggung. "Bu-bukan begitu, Nona. Hanya saja, hanya saja ... ini terlalu aneh untuk seorang pelayan bodoh seperti saya."


Bibir kecil itu tertawa ringan, tentu sedikit menutupinya dengan ujung jari. "Itu tidaklah benar. Kau gadis yang cerdas, Adela." Pujiannya membuat pelayan itu tersipu. Diseka dengan berhati-hati buliran yang hampir mengering di pipinya karena tak ingin merusak jerih payah pelayannya yang telah berusaha menghibur. "Andai aku adalah dirimu, reaksiku pun tak jua ada bedanya." Kelopak matanya sedikit menurun diiringi garis bibir yang kian datar. "Bahkan aku juga merasakan ketakutan yang sama seperti yang engkau rasakan pada diriku sendiri." Eien tahu

__ADS_1


benar apa yang sedang dibicarakannya. Tubuh ini adalah massa yang memiliki keterbatasan waktu. Jika sang pemilik kastil tidak berbelas kasih, mungkin selamanya ia akan terperangkap dalam tubuh yang membusuk, atau mungkin pria itu akan memindahkan jiwanya pada tubuh baru lainnya. Ini sungguh sihir terlarang, bagaimana caranya agar aku terlepas dari semua ini?


Adela terhenyak disebabkan betapa pilu nada suaranya. "Nonaaaa."


"Itu benar. Aku tidak tahu sebenarnya aku ini apa. Aku bukanlah boneka dan bukan pula manusia," lirihnya.


Adela yang terkesiap langsung memutari kursi untuk menghadapnya. Ucapan bangsawan ini memang sangat benar adanya. Akan tetapi, ia tak ingin makhluk secantik ini memandang rendah dirinya. Tuan Hornest sudah bersusah payah dengan semua hal, seperti koleksi pakaian, perhiasan, alat rias dan segala jenisnya yang dibutuhkan seorang wanita agar terlihat menawan. Semua barang-barang itu bukanlah benda yang mudah di dapat. Semua orang pasti akan berpendapat bahwa pria itu sangat memanjakannya jika melihat apa yang telah disediakan. Itu sudah pasti karena majikannya tidak ingin nonanya bersedih atas kekurangan pada tubuhnya. Adela memahami akan hal itu. "Tetapi menurut saya, Nona adalah makhluk yang sangat indah. Sungguh, Nona. Saya bahkan berpikir kalau Nona memang bukanlah manusia. Mungkin saja Tuan Hornest telahberhasil menangkap seorang malaikat dari langit. Walau rasanya mustahil, saya ingin memercayai hal itu," ungkapnya tulus.


Mendengarnya bibir manis itu melengkung kembali, bukan karena pujiannya, melainkan betapa murninya cara gadis ini berpikir. Jujur, Eien menyukai manusia ini. "Andaikan semua manusia sepertimu, tak perlu ada darah yang tertumpah hanya demi mempertahankan tanah, harta dan topi permata di atas kepala."


Adela menggeleng malu. "Tidak, Nona. Dunia tak akan menarik bila semua manusia seperti saya -yang membosankan ini." Eien tertawa kecil hingga matanya menyipit. Adela terhenyak melihat ekspresi yang telah memudarkan kesedihan, hatinya seperti takluk oleh senyuman indah itu. Namun bukan karenanya ia terpesona, melainkan betapa mudahnya sang nona tersenyum dari hatinya. Pandangannya yang meneduh terpaku lama pada iras majikannya. Ia bagaikan kotak kaca yang jernih, di mana hanya ada cahaya yang berkilauan yang berdiam di dalamnya. Tuhaaaan, ia wanita yang sangat indah, bisiknya dalam hati. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa seperti jatuh cinta pada makhluk ini. Apa pun itu artinya.


"Terima kasih, Adela." Pelayan itu tersipu lagi. Kemudian Eien teringat olehkata-kata yang didengarnya saat pertama kali melihat gadis ini tadi. "Kau belum menjawab pertanyaanku."


Dahi Adela berkerut. "Maaf, Nona?"


Eien menengadah ke langit, melihat gumpalan awan yang berjalan menutupi wajah rembulan. "Alasan apa yang membuatmu berpikir bahwa aku adalah wanita yang beruntung," ulangnya. Terlebih dengan keadaannya saat ini, ia tidak dapat menemukan letak keberuntungannya. Di mana ia harus hidup dalam keterbatasan seperti ini bersama dengan bangsawan yang tak dikenalnya.


karena sudah sembarangan bicara.


"Apa yang membuatku beruntung mendapatkan perhatian Hornest?"


"Itu ... saya ... saya merasa Tuan Hornest sangat baik pada Nona."


Jawaban itu disambut helaan napas ringan. "Aku bahkan tidak mengenalnya."


Adela tertegun sejenak. "Tetapi bagaimana Nona bisa tinggal bersama tuan? Bukankah Nona keluarganya?" Ini membingungkan, terlebih ketika nonanya menggeleng lemah mengawali jawabannya.


"Aku ... baru pertama bertemu dengannya pada hari pernikahanku."


Pernikahan? Tak ayal kerutan dahi Adela makin bertambah. Setidaknya ia harus bersabar untuk tidak bertanya, menunggu nonanya bercerita lebih lanjut.

__ADS_1


"Sungguh, aku benar-benar tidak mengenalnya." Eien terdiam seraya mengelus dada kirinya. Kilasan rasa


sakit terkenang dalam kepalanya. Kenangan yang tidak menyenangkan mengenai majikan gadis muda ini.


"Apa yang terjadi, Nona?" pancing Adela penasaran.


Samar-samar Eien seolah menyaksikan bayangan peristiwa di dalam penglihatannya, ia berusaha menerjemahkannya dalam kalimat. "Peristiwa itu terjadi pada hari pernikahanku ... aku berjalan menuju altar, mengenakan gaun yang sangat indah. Masih dapat kuingat aroma mawar yang menjadi penghias. Kemudian di sisi altar, mempelai pria telah menanti dengan senyum paling menawan yang belum pernah kusaksikan seumur hidupku. Aneh. Aku pun tidak mengenal siapa mempelai priaku. Sungguh, hal itu membuatku merasa sangat heran


hingga kini. Tetapi pada saat itu aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Ketika kami berada di altar, sebelum sumpah kami terucapkan, Hornest tiba-tiba datang dan melakukan sesuatu hal padaku ... hal yang sangat


mengerikan. Aku mendengar suara teriakkan yang bergema. Lantas pandanganku menjadi gelap dan setelah itu aku tidak bisa mengingat apa pun lagi." Napasnya tertahan. "Rasanya ada terlalu banyak lubang di dalam kepalaku. Ada banyak hal yang tidak dapat aku ingat dengan baik. Seperti mata rantai kenangan yang kosong di sela-selanya." Dipegangi keningnya yang sedikit sakit. "Sebenarnya ada apa dengan diriku, Adelaaaa? Ada apa?"


Pelayan itu terkesiap resah. "Sebaiknya Nona beristirahat. Wajah Nona terlihat pucat," bujuknya.


Kali ini Eien hanya mengangguk dan tidak membantah. Ia pun berdiri dari kursi gantung di mana tangan Adela membantu memegangi jemarinya.


Sementara itu Ernest masih terpaku melihat bayang-bayang Eien bersama Adela yang menghilang memasuki pintu mansion. Di belakang tubuhnya, William membungkukkan badan. "Hari ini nona juga tidak meminumnya, Tuan."


Ernest berdeham mengiyakan karena sudah memprediksi hal itu akan terjadi. "Dalam waktu dekat aku akan mengadakan pesta perjamuan untuk bersosialisasi dengan para bangsawan. Jadi persiapkan segalanya ... dan esok malam yang mulia ratu mengundangku untuk jamuan makan malam sebagai tanda sambutan. Aku ingin kau memastikan Selia meminumnya, jika perlu kau harus memaksanya. Bagaimanapun caranya." Gurat kecemasan


berjejalan di parasnya. Bagaimanapun juga Eien harus meminum darah terkutuk itu untuk bertahan hidup, sedangkan esok ia tidak akan ada di kastil demimemastikannya. Risiko besar itu hanya dapat ia percayakan pada William.


"Saya mengerti, Tuan. Akan tetapi, apakah tidak terlalu berisiko mengundang para bangsawan untuk datang lebih


cepat ke kastil ini?" Keadaan mereka yang belum stabil menjadi alasan utama kecemasan William, terlebih ia sendiri tidak tahu sampai kapan akan menetap di Inggris.


Iris hitam yang menyimpan sejuta misteriitu tertutup sejenak menimbang pertanyaan pelayannya, akan tetapi ia memiliki alasan yang tepat. "Tidak bersosialisasi akan memicu kecurigaan. Aku ingin menghindari hal semacam itu.


Lagi pula cepat ataupun lambat, mereka akan mengetahui tempat persembunyian ini. Mereka tidak akan dapat melakukan apa pun selama aku masih hidup, dan selama yang mulia putri masih berada di dalam kastil ini."


Sebelah alis William terangkat. Jika memang begitu pertimbangan tuannya maka ia tidak ingin memprotes lagi. "Baiklah, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2