
Part 10
Iris berlian biru itu menyipit lembut kala bibir ranumnya melengkung kembali menyaksikan bahwa ketakutan gadis ini malah bertambah bukannya kian sirna. Kesan pertama mereka mungkin terkesan mengerikan -bagai bertemu mayat hidup- terutama untuk manusia seperti dirinya. Sedikitnya Eien merasa bersalah karena tiba-tiba bersuara dan mengejutkan kewarasannya. "Maafkan aku, Dear. Tak ada niatan bagiku menjadikan harimu sebagai mimpi buruk. Tolong, abaikanlah apa yang baru engkau dengar dari minimnya tatakramaku. Aku hanya terkejut dan juga malu untuk hal itu."
Bagaimana Adela harus bereaksi? Ini sama sekali tidak masuk ke dalam logikanya. Dan lihatlah wanita ini sekarang, begitu anggun dan berkelas. Ia bukan hantu, monster atau berbagai makhluk seram yang berlarian dalam prasangkanya. Ia bergerak, bersuara, dan bersikap layaknya manusia seutuhnya, hanya saja berupa wanita yang terlampau sempurna; terlepas seperti apa ia sebelumnya.
Demi kebaikan pelayan itu, Eien menjauhkan diri, kembali duduk tegap seraya melirik sedikit ke belakang. "Kau tak perlu khawatir karena aku tidak akan menyakitimu. Seandainya kesanggupan itu ada, pilihanku tak akan tertuju padamu. Melainkan pada seseorang berhati dingin yang begitu tega memenjarakanku di sini." Eien menutup bibirnya dengan ujung jari. "Ah, aku mengulanginya lagi. Maafkan aku. Aku takut ini akan menjadi kebiasaan buruk yang menular."
Sindiran yang halus memaksa Ernest untuk sedikit berbalik secara sukarela. Manik hitamnya bergulir lirih menuju punggung Eien, namun bibirnya tersenyum tipis. Ada kepiluan yang tersirat dari garis tipis bibir menawan itu. "Tentu, Yang Mulia. Aku menjamin bahwa tak ada larangan untuk membalas pria kejam yang tidak lebih baik dari seekor binatang. Ah, maaf, aku telah berucap kasar. Sepertinya kita memang perlu melupakan tatakrama malam ini."
Dialog singkat itu cukup menjelaskan bahwa terjadi ketidakakuran di antara keduanya. Orang awam seperti Adela sekalipun bisa menilainya. Wanita cantik ini jelas menunjukkan sikap permusuhan dan tuannya tidak menyangkal tuduhan itu. Penjara? Balasan? Adela makin merasa pusing.
Ada orang lain dalam kamar ini, dan belum waktunya ia paham terlalu jauh, karena keputusan itu akan terjawab setelah ini. Ernest tak ingin berbagi rahasia terlalu banyak sebelum Adela menjawab -keingintahuan dirinya- dengan bijak. Bertahan atau lari. "Adela. Kumohon tinggalkan kami," pintanya.
Walau masih bingung Adela menurutinya. Susah payah ia bangkit karena kakinya masih terasa lemas lalu memohon diri. Di luar kamar ternyata William tengah menunggunya, air mukanya tegang menilai Adela yang terlihat tidak nyaman. Sangat disayangkan bila gadis ini mengambil tindakan yang salah, padahal William menyukai sifat polosnya. Bila itu terjadi sudah menjadi tugasnya untuk membungkam bibir kecilnya yang manis untuk selamanya.
"Tuan!" pekik Adela bercampur takut dan bingung.
"William saja. Kita hanya memiliki satu tuan dan satu nona di sini."
Bibir Adela sejenak merapat, tetapi tatapannya seperti memohon penjelasan. "Apa yang terjadi?" suaranya bergetar menahan takut.
"Ikutlah denganku," ajak William.
"Ta-tapi!"
__ADS_1
William hanya terdiam memandangnya, seakan menunggu kalimat selanjutnya walau air mukanya seolah berkata agar tidak bertindak gegabah.
Tampaknya itu adalah sebuah peringatan, Adela pun mengangguk pasrah tanpa membantah lagi meski isi kepalanya terasa sangat berantakan, sedangkan rasa takutnya masih enggan pergi darinya. William menuntunnya menuju ruang dapur, di sana gerakannya sigap mempersiapkan sebuah gelas kristal bening yang kemudian diletakkan di atas nampan perak. Setelahnya ia masuk ke dalam ruang pendingin berisi banyak balok es di dalamnya hingga suhunya terasa lebih rendah dari musim dingin. Semua balok es itu didapatkan ketika musim bersalju, hanya garam yang dapat mempertahankannya agar tak mencair, terutama saat musim panas seperti sekarang. Balok es itu dapat bertahan sampai detik ini rasanya saja sudah luar biasa aneh bagi Adela.
Tidak lama mereka keluar setelah mengunci kembali pintu ruang pendingin dengan membawa botol berwarna gelap di tangan William. Dibuka gabus penyumbat botol lantas menuangkan isinya yang berupa cairan kental berwarna merah ke dalam gelas hingga hampir penuh.
Aroma anyir menyeruak menusuk penciuman. Amisnya tak tertahankan sampai Adela spontan menutup hidung demi mengendalikan rasa mual seraya mengamati cairan kental berwarna pekat yang sedikit berembun. "Apa ini?" tanyanya sambil mengusap hidung berulang kali, mencoba menyingkirkan bau tidak sedap itu.
William menarik napas. "Itu pertanyaan yang tidak perlu karena aku yakin kau sudah lebih dulu mengetahuinya."
Adela yang terpana yakin sekali kalau khas aroma amis ini hanya dikeluarkan oleh cairan bernama darah. "Tapi untuk apa?" tanyanya heran, nadanya agak menuntut. Untuk apa darah ini ditaruh di dalam gelas mewah? Entah mengapa Adela sangat tidak menyukai arti tatapan William saat ini, begitu lekat bagai singa yang tak akan membiarkan buruannya lari.
"Ini tugasmu. Kau harus sanggup membujuk nona untuk meminumnya..!" titah William yang menutup botol tanpa berpaling dari Adela yang akan memprotes. "Nona membutuhkan ini untuk mengatasi penyakitnya. Jika tidak, kita akan kehilangan dirinya. Jadi kau harus memastikan nona meminum semuanya hingga tidak tersisa -setetes pun!" tekannya.
Mata kelabu William terangkat waspada. "Aneh?"
"Ya. Penyakit seperti apa yang menyebabkan manusia menjadi boneka dan mengkonsumsi darah sebagai penyembuh? A-apakah nona dikutuk?"
Kepala pelayan itu mendesah berat, kalau bukan karena pertanyaan terakhirnya yang makin menekankan sifat lugunya, mungkin akan ada makam baru di dalam hutan belakang kastil. "Apakah hal itu mengganggumu?"
Sebenarnya Adela hanya khawatir. Sangat disayangkan bila wanita secantik itu memiliki kekurangan yang fatal. Pria mana yang bersedia menerima kekurangannya yang sangat aneh? Ia pun tertunduk. "Mungkin rasanya kurang pantas rakyat jelata seperti saya merasakan ini, hanya saja saya merasa iba pada nona," terangnya jujur.
Sebuah ungkapan hati yang menyentuh, karena itulah William menyukai gadis ini. Semoga tidak ada hal yang memaksa dirinya untuk menyingkirkan pelayan baru sang nona. "Kekhawatiranmu tidak berguna, Adela. Selama ada Tuan Hornest di sisinya, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kau lekas mengantarkan gelas ini."
Itu benar. Ada majikannya yang menjaga nonanya. Mungkin ia dipekerjakan di sini bukan untuk menjadi perawat sebuah boneka, tetapi pelayan pribadi nona cantik yang memiliki penyakit misterius. Ia pun menelan ludah saat melihat genangan cairan merah yang begitu kental di dalam gelas kristal. Oh, Tuhan. Tempat apa ini, desahnya dalam hati.
__ADS_1
Di lain pihak, suasana kaku dalam kamar Eien belum jua mencair. Kebekuan di antara kedua orang itu menyisakan suara percikan api yang harus menari di atas ujung lilin karena semilir angin dari beranda sedang mempermainkannya. Keduanya duduk berhadapan, saling memandang di mana semua kata masih tertahan di ujung bibir. Seolah memilah kata apa yang mungkin tepat untuk mengawali sebuah percakapan. Hingga wanita misterius itu mendesah ringan tak tahan jika harus menanti pria itu yang lebih dulu berkisah. "Pelayan manusia tadi ... diperhatikan dari bahasa yang digunakan, aku bisa menerka kita berada di Inggris. London?"
Ernest tersenyum tipis. "Benar."
Kelopak mata Eien menurun menutupi setengah iris birunya seperti sedang memikirkan sesuatu. "Tak kusangka kau membawaku sejauh ini." Demi Tuhan, ia tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya sampai ia harus berada di sini, tempat yang indah tetapi sangat asing. Sedikitnya ia gemetar memikirkan nasibnya, tentu dalam beberapa malam lalu ia hanya bisa menangis, tetapi kali ini pria ini muncul di hadapannya. Karenanya hatinya terasa sakit, takut dan cemas. Mungkin sebuah kesalahan yang tak sengaja terlupakan telah menyebabkan dirinya layak berada di tubuh ini. Hanya saja, "Sampai kapan?"
"Sayangnya, aku tidak dapat memberi kepastian mengenai hal itu." Mata Ernest tak lepas memandang perubahan air muka Eien yang menjadi bingung bercampur sedih. Sungguh ia tak sampai hati berdiam diri darinya dan menyimpan kebenaran.
Jawaban macam apa itu? Tidak ada kepastian yang dapat menenangkan isi hatinya yang bagai deburan ombak. Bahkan harumnya mawar yang terbawa masuk dari pintu beranda yang terbuka masih jua tak mampu meringankan keresahan. Ia menarik napas dalam kekecewaan, memberanikan diri menghadapi manik hitam Ernest yang jernih. Padahal mata yang indah itu tidak memberi kesan adanya kejahatan, bayangan dirinya terpantul jelas dengan baik di sana. Ketika pandangan saling bertemu sesaat, mata pria itu pun menghindar menuju kandelir di atas meja. Sesulit itukah menjelaskan keadaan? Benar, kejahatannya memang tidak sesederhana itu. "Apakah berlebihan jika aku mengharapkan jawaban untuk semua yang telah kau lakukan ini?" Ditatap kedua lengannya sendiri, di mana jemarinya terasa sedikit kaku karena ini bukan tubuhnya. Ia berharap mendapatkan penjelasan atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Alasan yang menjadikannya terkurung dalam keterbatasan tubuh palsu ini. "Kenapa kau mencuri jiwaku pada hari pernikahanku? Kuharap engkau mengetahui dengan pasti siapa diriku."
Andaikan apa yang terjadi dapat diutarakan semudah menghirup napas, kekasihnya tidak akan dirundung kesedihan. Justru sebaiknya Ernest menahan diri agar tak menyesatkannya lebih jauh. Berhati-hati menanganinya adalah jalan yang terbaik. "Tentu saja aku mengetahui indentitas Anda, Yang Mulia." Nada suaranya sempat terputus. "Anda adalah putri dari penguasa kaumku. Anda ... Holy Princess yang agung," jawabnya seraya sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
Senyum prihatin Eien merekah tipis walau sejujurnya ia gembira karena pria ini memahami akan posisinya. Alisnya mengernyit bingung. "Lantas, mengapa engkau bertindak mengerikan seperti ini? Kau sepertinya seorang bangsawan terhormat di antara bangsa kita, akan tetapi -kita semua tahu- apa yang telah kau perbuat ini sungguh merupakan suatu kejahatan besar. Apakah permintaanku terlalu berat?" Ia berusaha keras untuk bersabar, berusaha untuk mengerti situasi, berusaha memahami alasan dibalik semua ini. Ia tak ingin pria ini lari darinya dan membuatnya kehilangan lentera yang menerangi dalam gelapnya masalah ini.
Siapa yang tidak mengetahui kalau tindakan mencuri jiwa merupakan hal yang tidak terampuni? Ernest mengetahuinya. Kesalahannya adalah memilih cara ekstrim untuk menyelamatkan sang putri agar keluar dari situasi yang mengerikan. Bahkan, hingga detik ini tubuh asli Eien masih terbaring di istana dan dijaga dengan sangat ketat. Bisa saja Ernest menjelaskan walau ingatan wanita ini telah terhapus, tetapi masalahnya adalah ia tak dapat memprediksi dampak psikisnya. "Sebaiknya Anda tidak mengetahui terlalu banyak."
"Sayangnya, aku tidak memiliki pendapat yang sama. Tak bisakah kau menghentikan kegelisahanku? Keresahan ini terlalu menyiksa. Hidup dalam bayang-bayang tanda tanya merupakan siksaan yang berat. Mengertikah engkau atas perasaanku?"
Matanya kembali pada Eien, sendu memandang lirih karena bimbang kembali mendengar permintaan itu. "Sungguhkah Anda ingin mengetahui alasannya?" Dimajukan tubuhnya seakan menguji keberanian Eien untuk mengetahui kebenaran.
Walaupun keraguan sempat mendera, Eien enggan berpaling untuk menegaskan kesiapan. "Bukankah kebenaran selalu lebih baik walau akan terasa menyakitkan? Lagi pula aku telah berada di sini, terkurung dalam penjara sempit yang kau ciptakan. Apalagi yang dapat kulakukan selain berserah diri? Tetapi setidaknya ... aku harus tahu apa yang menjadi penyebabnya," jawabnya yakin.
Senyum Ernest mengembang tipis tatkala menghadapi keberaniannya. Soal tekad, memang tidak ada yang dapat mengalahkan kegigihan sang putri. Ia tahu benar akan hal itu. Sejenak ia menimbang, apakah akan memberikan penjelasan untuk perbuatan kejamnya ini atau terus membiarkannya terbaring dalam selimut pengabaian. Ketika tengah memikirkannya, ia menemukan paras keingintahuan yang tengah menanti. Ekspresi itu membangkitkan kenangan beberapa bulan yang lalu, menimbulkan rasa rindu yang mengiris hingga ke ulu hati. Walau sakit, rasanya itu sudah cukup meyakinkan dirinya untuk sedikit memberi petunjuk. Perlahan garis merah bibirnya terbuka. "Apa yang telah kulakukan kepadamu, sesungguhnya adalah atas permintaan Anda, Yang Mulia." Suaranya terdengar hampir berbisik lirih.
Eien sedikit memiringkan wajah mencerna jawaban tersebut, kemudian tertawa pelan dengan gaya yang anggun sambil menutup bibir. Baginya kalimat itu seperti gurauan. Mana mungkin hal itu dapat terjadi? Meminta seseorang yang tidak dikenal untuk mencuri jiwanya sendiri. Sungguh mustahil. Setelah merasa cukup tertawa, diturunkan tangannya lantas menatap tegas pada Ernest. "Maafkan tatakramaku yang buruk ini. Hanya saja ini sedikit lucu. Aku bahkan tidak mengenalmu, Tuan-Hornest. Sejujurnya pun aku yakin bahwa Hornest juga bukanlah nama milikmu. Apakah kau keberatan memberitahukan namamu yang sebenarnya padaku?"
__ADS_1