Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
17. Keputusasaan


__ADS_3

Part 17


Sungguh malam yang begitu menyesakkan bagi Eien, sebab kepala pelayan memainkan jaring kekuasaannya bagai laba-laba yang enggan melepas mangsa. Ia terengah berat, sakit, dan tanpa daya. Entah sudah sebanyak apa air matanya, namun rasa iba tak kunjung tiba di hati mereka. Gelas-gelas darah itu terus berdatangan, melumuri dirinya dengan rasa jijik yang tak terbendung. Merah, pekat dan beraroma manis. Rasa laparnya seolah tengah dipermainkan oleh kegelisahan dan keraguan. Jika ingin hidup, raih dan teguklah cairan kehidupan itu, dan bila hendak mati maka bungkamlah bibirmu selamanya. Mengerikaaaan! Apa yang sebenarnya yang mereka coba lakukan?!


Kerutan berlapis sudah membayang gelap di raut William. Segala cara dari yang terlembut seperti rayuan hingga pemaksaan yang tak manusiawi nyatanya tak kunjung berhasil. Lihatlah, kini Adela tengah mengunci pergelangan tangan sang nona yang bersikeras meronta, menolak semua hidangan darah yang tersedia. Bahkan gelas-gelas mewah itu terjungkal, ditepis kasar dan pecah di lantai. Darahnya? Tentu saja berhamburan di atas ranjang, terpercik ke segala arah dan menodai gaun tidurnya. Aroma anyir yang memuakkan dari cairan itu nyaris membuat Adela ingin muntah. Suara tangis dan erangan kesakitan berusaha mereka abaikan demi keselamatan tawanan tuannya.


Kelelahan Eien bagai tak bertepi akibat dari tindakan keji yang memaksanya meminum darah terkutuk. "Sudah. Sudah cukup! Hentikaaan! Hentikaaaan!" rintihnya.


"Nonaaaa," lirih Adela yang tak sampai hati menyaksikannya tersiksa. Hatinya tidak tahan lagi menanggung beban


kesedihan, maka dilepas lengan lemah yang masihmelawan.


Begitu terbebas, ringkih Eien menarik lengannya, mengusap pergelangannya yang memerah seraya meringkuk takut. Apa salahnya hingga harus  menjalani hidup yang mengerikan? Kalau bukan karena pria itu yang menjadikan hidupnya sengsara, ia pasti masih berada dalam naungan istana. Mengingat kediamannya di mana ada kedua orangtuanya di sana menciptakan pahatan kesedihan yang terukir begitu dalam. Tuhaaaan. Sungguh, aku ingin pulang. Aku benar-benar merindukan istanaku yang membosankan. Aku rindu kalian, ayah, ibuuuu.


Perasaan bersalah menyeruak dalam benak Adela. Tak terasa genangan air matanya hampir terjatuh kala ia mengatur napasnya yang sarat kesedihan. "Maafkan saya, Nonaaaa."


Bagaimana mungkin Eien meletakkan kesalahan pada seorang pelayan yang tidak mengetahui apa pun. Ia hanya bisa memaklumi karena ini adalah tugasnya. Jika ditelisik, mengapa pria itu mempekerjakan seorang manusia untuk menjadi pelayan pribadinya? Eien tersentak seketika. Si pemilik kastil tahu kalau ia menyukai manusia. Eien pun melirik lirih pada Adela, satu-satunya senjata milik pria itu yang membuatnya tak berkutik. "Aku tidak apa-apa, Adela. Bisakah kalian tinggalkan aku sendiri. Biarkan saja aku seperti ini. Aku mohooon."


Adela terenyuh, hatinya kian teriris sebab wanita ini tetap bersikap baik setelah perlakuan yang diterima dan masih berusaha menutupi kesakitannya. Seharusnya ia meluapkan sajaemosinya, memarahi dirinya atau apa pun itu. Terbuat dari apakah hatinya? Seakan ia memiliki palung pelahap amarah yang akan kesulitan menanjak curamnya kawah gelap itu. Hanya saja Adela dapat melihat percikan keputusasaan dalam sinar matanya yang meredup. "Nonaaa, apa yang harus kami lakukan?" lirihnya sedih.


Namun bibir mungil itu terkatup rapat, terisak perih hingga pandangannya menjadi buram. Sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Instingnya mengatakan demikian. Salahkah jika ia berpikir bahwa kematian mungkin jauhlebih baik bila dibandingkan harus menjalani kehidupan nista seperti ini? Tidak ada yang dikenalnya, kebebasan pun telah lama lari, lalu mentari yang hangat tak akan pernah singgah lagi, bahkan di masa ini keberadaan Lyonis telah menjadi cerita yang terlupakan. Jadi untuk apa ia ada di sini? Untuk apa ia harus menapaki kehidupan yang telah direnggut oleh pria itu?


Rupa nan sendu milik sang penculik adalah perangkap hati, topeng sempurna yang menutupi kejahatan. Apakah dirinya memang layak terpenjara seperti ini? Tidak mungkin kalau dirinya sendiri yang telah meminta kehidupan yang tidak sanggup dijalani. Ini pasti adalah dusta yang sedang dimainkannya. Walau Eien yakin akan hal itu, tetapi ia malah sempat tertegun sejenak karena ragu disebabkan oleh ingatan rusak miliknya. Sungguhkah aku meyakini hal itu?

__ADS_1


Adela turun dari ranjang, gelisah kala memperhatikan pecahan gelas di lantai, lalu beralih pada William yang hanya menghela napas pasrah disebabkan kondisi kamar. Ia lebih terlihat kebingungan seolah sedang mencari alasan untuk tuannya karena kegagalannya. Jujur saja Adela jadi ikut prihatin. "Bagaimana ini?" bisiknya kalut karena kondisi Eien kian memburuk.


Iris kelabu William terpejam sejenak, tampak lelah dan bingung. "Nonaaaa, penolakan Anda ini akan menyakiti Tuan Hornest. Anda harus tetap hidup."


Mendengarnya, tangisan Eien mengeras. "Cukuuup. Aku membencinya. Aku membencinya! Aku tidak peduli padanyaaaa!" Sikap tegangnya membuat jantungnya serasa diremas, tak ayal ia jadi mengerang perih, matanya terpejam rapat seraya menggigit bibir menahan teriakan, dahinya berkedut kala tak kuasa merenggut dada menahan sakit. Ia seolah akan terhisap ke dalam palung tergelap. "Lepaskaaaan. Lepaskan aku dari tubuh iniiiii!" rintihnya perih.


Bibir Adela sampai gemetaran mendengar kalimat mengerikan itu, sedangkan William masih tetap tidak memberikan penjelasan apa pun. Wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup, ia seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. "William!"


Pelayan tua itu tersadar, lantas bergegas mendekati Eien. "Nona!" Rautnya makin pucat dan gelap. "Bagaimana ini?!" Ia berbicara sendiri tatkala tak ada pertanda baik saat melihat sang putri yang kesakitan luar biasa. William yang makin panik melirik jam antik di sudut ruangan. Harapannya hanya tinggal menunggu tuannya agar cepat kembali karena sudah tidak ada hal yang dapat ia perbuat lagi.


"Ada apa ini, William?" Ernest yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar terkejut menemukan darah dan serpihan gelas di lantai.


Paru-paru William yang terasa mengetat seketika terbanjiri udara. Sementara Adela diliputi keheranan memikirkan betapa cepat majikannya kembali. Menurut perhitungannya, seharusnya tuannya tiba di kastil saat tengah malam nanti mengingat ini masih pukul sembilan malam. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai istana, dan anehnya ia tidak mendengar sayup suara ringkikan kuda atau derak roda kereta yang memasuki halaman kastil.


Nada itu bukan pertanda bagus bagi Ernest yang langsung membaca situasi. Benar. Mereka gagal membujuk sang putri, terlihat ketika ia sampai di sisi ranjang, mendapati kekasihnya menangis menahan sakit. Jemarinya sampai gemetar ketika iris biru itu tampak mempertanyakan perbuatannya. Keadaannya memburuk seperti yang ia kira, hatinya pun teriris hampir menyesali perbuatan kejinya. "Putriiiii," desisnya lirih.


"No-nona menolak meminum darahnya, Tuan," jelas Adela panik. Sedikitnya ia merasa lega majikannya telah kembali, sebab ia pasti tahu apa yang harus dilakukan agar nonanya membaik.


Ernest duduk di sisi ranjang membelakangi sandaran bantal lantas menarik Eien perlahan dan penuh kehati-hatian ke dalam pelukan untuk memeriksa dada bagian kiri di mana letak jantungnya berada. Matanya membesar seketika menemukan permukaan kulitnya yang membiru. "Cepat. Cepat bawakan lagi darahnya!"


"Ba-baik, Tuan!" William melesat menuju dapur.


Hal buruk akan menimpa kekasihnya jika ia terlambat sedikit saja memberinya darah. Jantung palsunya akan pecah dan Eien akan binasa, itulah yang Ernest takutkan. "Bertahanlaaaah. Bertahanlah sebentar lagi. Kau sudah berjanji untuk tidak mengulangi hal ini lagi," lirihnya.

__ADS_1


Kalimat itu memaksa Eien memandang raut Ernest yang tengah menanggung suatu kenangan yang sudah pasti buruk. Bagaimana mungkin ia ingat akan janji itu? Dan mungkin tak akan pernah mengingatnya jika air mata adalah alasannya. Kumohon berhentilah menyesatkanku dengan kenangan yang tak kumiliki. Apa yang kau inginkan dariku? Dari seseorang yang telah kehilangan ingatannya.


Kesedihan dan kepiluan yang tersirat jelas dalam mata indah tuannya menyumbat pernapasan Adela. Ada begitu banyak perasaan yang membaur di sana, terutama cinta. Tetapi, mengapa nonanya tidak dapat melihat hal itu dengan baik? Aku tidak mengerti. Kenapa Nona Selia selalu menganggap tuan adalah orang yang jahat? Padahal sekarang tuan begitu mencemaskannya. Kenapa nona tidak bisa melihat adanya perasaan yang begitu dalam di balik semua tatapan sedihnya?


"Tidak bisakah kau membiarkanku pergi? Aku ingin kembali," bisik Eien lemah.


Rahang Ernest mengetat seraya menggenggam erat jemari wanita itu untuk menguatkan hati. Goyah adalah hal terlarang yang tak boleh diraihnya saat ini. "Aku tidak dapat melakukannya. Sungguh, maafkan aku."


"Begitukah? Bila demikian, biarkanlah aku musnah. Kesanggupanku telah hilang terbawa mimpi ketika malam telah luntur. Kehidupan mengerikan ini terlalu memalukan. Jangan memaksaku untuk menjadi makhluk terkutuk yang menyedihkaaan," isak Eien putus asa.


Kata-kata itu menampar keras kesadaran Ernest. Walaupun begitu, ia sendiri tak berdaya jika darah terkutuk itu adalah satu-satunya kunci penyambung jiwanya. "Anda harus sanggup, Putri. Engkau tak memiliki pilihan lain. Bertahanlaaah." Dadanya terasa kian sesak. "Aku mohooon." Namun sang putri menggeleng lemah diiringi air mata yang mengalir menyebabkan Ernest tersedak oleh ketakutannya.


Pikirannya berkecamuk, apakah yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan? Apakah menculiknya adalah satu-satunya jalan? Apakah seharusnya ia membiarkan wanita ini menikah saja dengan calon yang telah ditentukan oleh ayahnya? Apakah memang sebaiknya ia mengembalikan kekasihnya ke tempat di mana seharusnya ia berada?


Matanya terpejam memikirkan semua kemungkinan, pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus berputar menusuk kepalanya hingga terasa sakit. Keraguan yang sedikit terbesit dalam benaknya segera ia tepis. Baginya sekarang ini bukanlah saatnya menyerah pada kelemahan. Ia harus kuat meski keadaan memaksanya merengkuh kekejaman. Maka dari itu ia tak boleh setengah hati menggunakan topeng keburukan. Dibuka kembali matanya demi menatap raut kesakitan dan keputusasaan kekasihnya. Seharusnya ia menjelaskan segalanya agar Eien mengerti dan tidak lari dari keadaan. Seharusnya ia berani menanggung risiko penolakan itu. "Maaaaf. Sungguh. Maafkan aku." Matanya mulai tergenang air menelan rasa pahit dari kekejiannya.


Manik hitam indah yang menahan tangis itu ternyata sanggup menggetarkan hati Eien. Entah bagaimana perasaan iba mulai menjalar dalam benaknya karena nada yang hampir putus asa itu. "Jangan menangis. Kumohon jangan menangis. Kau akan mencelakai dirimu dengan air mata itu," ingatnya.


Ernest tersentak lantas segera menengadah untuk menahan air matanya dan menunggunya mengering. Hampir saja ia menjadi pesakitan. Kalau bukan karena kehidupan sang penerus tahta yang bergantung padanya, mungkin air matanya telah berjatuhan.


Mengapa ia meminta maaf tetapi tetap bertahan dalam kejahatannya? Untuk apa semua ini? Apa tujuannya? Mungkin prasangkanya salah bila mengira dirinya adalah makhluk jahat yang tak berperasaan. Tiada pernah sekali pun Ernest bersikap layaknya bandit atau bahkan bermaksud menyakitinya. Apakah perbuatannya ini menjadikan dirinya sendiri menderita? Tentu, sihir hitam butuh persiapan dan pengorbanan yang besar. Ia pasti telah


terperangkap dalam kegelapan.

__ADS_1


Saat pikirannya tertuju pada pria ini, mendadak rasa sakit meremas sekujur tubuhnya hingga bergetar. Erangan tak teperihkan terdengar menyayat kala sesuatu seakan menarik paksa jiwanya untuk keluar dari dalam tubuh palsunya, memaksanya merengkuh tubuhnya sendiri yang kesakitan. Matanya terbuka lebar menatap langit-langit seraya merenggut dada yang sesak seolah terhimpit pegunungan. Sakit! Sakit! Sakiiiiiiiiiiit!


__ADS_2