
Part 2
Waktu bergulir mengganti hari selama sepekan setelah jalan panjang penuh liku kegetiran malam itu. Siang ini angkasa berkilauan memamerkan warna biru jernih, lintingan tipis awan putih sesekali melintang membelah langit. Senja yang menapaki perbukitan hijau di kawasan pedesaan terlihat keemasan pada musim panas bulan ini.
Beberapa kastil megah berdiri berjauhan di sana, menaungi bangsawan yang hidup di bawah pemerintahan seorang ratu yang bijaksana. Di antaranya ada sebuah kastil kuno di atas bukit yang terletak cukup jauh dari ibu kota. Kastil yang dibangun pada abad ketiga belas oleh seorang bangsawan Inggris, berdiri tepat di atas bukit warisan keluarga. Dari sekian bidang tanah yang dimiliki, bukit terpencil itu menjadi pilihan atas pertimbangan jauh dari keramaian, menyendiri seolah tidak ingin diusik oleh kesirikan hati yang berisi kedengkian.
__ADS_1
Benteng kastil yang berdiri kokoh setinggi enam pria dewasa terbuat dari bebatuan hitam bersanding sungai buatan sedalam hampir lima meter. Pada bagian dalam benteng tumbuh tanaman mawar rambat yang hampir menutupi seluruh dinding. Kini bunga menawan bermahkota semerah darah tersebut tengah merekah sempurna, merebak harumnya yang khas serta memabukkan.
Kastil yang menyendiri ini seolah tengah menanti datangnya hari di mana sebuahkisah tragis kembali terulang menimpa pemilik baru yang tengah bernaung di sana. Waktu masih enggan menjawab kapan saat itu akan tiba, sementara sang pemilik berharap cemas, duduk gelisah di ruang kerja karena menanti seorang pelayan manusia yang akan bekerja untuk melayani boneka istimewanya.
Benang merah saling bersambut merajut takdir, panjang melintang dan begitu rumit, terbentang hingga mencapai daerah pinggiran ibu kota bernuansa lengang dari kehidupan, terutama pada area sekitar perumahan padat nan kumuh. Di antara rumah-rumah tua itu, salah satunya merupakan tempat berteduh seorang gadis jelata bermata besar, bulat bagai kacang kenari, warnanya seterang matahari yang meredup saat senja. Bibir mungilnya kini sedang bergerak-gerak mengeja kata demi kata yang tertuang dalam selembaran undangan.
__ADS_1
Seperti belum puas, diulang kembali huruf yang tertera pada undangan yang berisi permintaan bekerja dalam kastil keluarga bangsawan yang baru datang dari negeri asing. Matanya bergerak tak tentu arah, risau hingga napasnya terhela panjang. Duduknya agak resah menimbang segala kemungkinan.
Ya, undangan ini datang dari Rowlan, tetangga yang kemarin tidak dapat memenuhi panggilan tersebut. Wanita itu berdalih prihatin pada dirinya yang baru saja kehilangan pekerjaan yang merupakan tulang punggung keluarga, harapan yang mungkin tersisa. Ayahnya yang seorang marinir sudah lama tewas dalam peperangan tanpa meninggalkan apa pun untuk sekadar bertahan hidup. Kesedihan itu telah lama berlalu, sosok kuat yang hanya bisa dirindukan melalui kenangan. Memori itu sangatlahberharga untuknya, tak akan ia lupa genggaman kuat jemari ayahnya saat kecil dulu, serta hangatnya pelukan ketika dinding rumah ini tak berhasil menghalau musim dingin. Kedua matanya sempat berkaca-kaca namun segera ia tepis rindu yang sepi itu.
Pikirannya kembali pada undangan tadi, diam-diam ia mengetahui alasan sesungguhnya yang menyebabkan tetangganya enggan memenuhi panggilan tersebut setelah mengetahui kastil yang akan menjadi tempatnya bekerja nanti. Bagaimana tidak, semua makhluk di London tahu akan sejarah kastil itu yang tidak seindah kemegahan bangunannya. Jantungnya berdebar keras mengacaukan tekad ketika ia berusaha berpikir keras mengenai pekerjaan itu. Bukankah ini merupakan kesempatan besar yang jarang terjadi? Tidak setiap hari undangan seperti ini datang mengetuk pintu. Itu benar, pikirnya. Bagaimanapun, ini adalah kesempatan emas demi mempertahankan hidup. Setidak akan ada sup hangat dan beberapa bongkah roti yang tersaji di meja makan. Maka dari itu sudah seharusnya iamendapatkan pekerjaan ini.
__ADS_1
Gadis itu menetapkan hati untuk bertandang ketika langit memerah, tentu saja tujuannya adalah menemui sang bangsawan pemilik kastil. Ia berdiri dari duduknya, lekas berlenggang menuju lemari demi mencari pakaian terbaik. Tanpa sengaja wanita tua yang terbaring di ranjang terjaga menyaksikan putri semata wayangnya tampak tergesa. "Ada apa Adela? Kenapa begitu panik? Apakah terjadi hal yang buruk? Semoga tidak," tanya Anna yang tak mampu bangkit, sakit tubuhnya tak mengizinkan untuk bergerak banyak. Wajahnya yang tirus pucat kelihatan khawatir. Rambutnya yang terjalin menyamping telah memutih jarang-jarang, warna merah yang ia wariskan kepada anak-anaknya telah memudar.
Tegurannya jelas menyentak Adela yang segera berbalik menghadap ibunya, mimiknya tampak bersalah. "Oh, apa aku telah mengganggu istirahatmu, Ibu? Maafkan aku. Sekarang ini aku harus bersiap demi mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di ... sebuah kastil." Akhir kalimatnya yang terdengar mengambang dan sarat akan keraguan mengundang kerut di kening ibunya. Seulas senyum menenangkan lekas mengembang demi menghapus tanya pada wajah yang dibuat lelah oleh dunia. "Akan lebih berkesan baik jika aku tampil menawan, setidaknya rapi agar mereka dapat melihat kesungguhan pada diriku," lanjutnya lembut. "Doakan aku, Ibu." Tentunya permintaan polos semacam itu mendapatkan sebuah senyum berkat dari Anna yang mengangguk pelan.