
Part 25
Di lantai pertama, satu tarikan napas panjang ternyata masih belum jua meredakan kegugupan Eien mana kala ujung tangga itu tepat di hadapannya. Kegelisahan itu tertangkap jelas oleh William. "Apakah Anda siap, Nona?"
Senyum Eien merekah hanya saja dahinya berkerut ragu. "Apakah aku sudah terlihat lebih baik?" Bagaimana jika
orang-orang di bawah sana tak menyukainya? Menemukan kekurangannya, lalu menjauhinya? Lantas menjadikan dirinya sebagai bahan gunjingan?
Dan bagaimana pula William harus mengungkapkannya? Sementara dirinya tidak terlalu menyetujui acara perjamuan ini. Tuannya melakukan hal ini untuk menenangkan sang putri, menyingkirkan rasa keterasingan dan kesepiannya. Padahal ketidakstabilan kondisi sang putri menjadi alasan utamanya menentang. Namun acara telah terlanjur berlangsung, dan mendukung sang putri kini harus menjadi prioritasnya. "Yang terbaik Nona, tetapi akan lebih baik lagi bila kerutan di dahi Anda dihilangkan," sarannya.
Eien menutup bibirnya yang tertawa kecil. "Mungkin aku terlalu bersemangat." Benar. Untuk apa ia memikirkan
semua kekhawatiran itu? Bukankah tidak ada gunanya karena segala kisah yang tak sempat terjadi di sini akan segera tertinggal.
__ADS_1
Di sisi lain William tengah lengah tak berdaya saat sinar ceria memenuhi rupa dari sang putri. Merupakan sebuah keberkahan baginya karena mendapat kesempatan melayaninya meski tampak semu. Penyebabnya adalah tubuh palsu itu, akan tetapi jiwa seorang calon mother baru bagi bangsanya ada di dalamnya. Kegembiraan macam apa yang dapat melebihi anugerah ini? Tiada hari yang ia lewatkan tanpa membisikkan doa, semoga keberuntungan tiada tega menaruh benci terhadap dua majikannya, serta selalu bersedia menemani perjalanan mereka hingga akhir. Apakah berlebihan permintaannya mengingat tindakan majikannya bukanlah suatu hal yang biasa. Setiap hari
matanya tak dapat terpejam damai karena terus memikirkan petaka yang mengintai. Tetapi untuk saat ini saja, izinkan dirinya bersuka cita demimereka. "Raihlah kegembiraan malam ini, Yang Mulia."
"Tentu, William." Mana mungkin kesempatan ini akan Eien lepas. Kegugupan tadi pun telah sirna, berganti dengan
kesiapan meraih kebebasan.
Cahaya. Itulah yang mereka temukan di anak tangga. Entah ini pengaruh bias sinar lentera ataukahmemang malam telah berubah menjadi siang hari? Tetapi sosok wanita yang ada di sana benar nyata adanya. Menyengat benak
mereka ketika langkah kakinya yang menuruni tangga laiknya aliran air, lembut namun dengan pasti menenggelamkan kesadaran mereka secara perlahan.
Napas Elena bahkan seperti lari dari dirinya saat menyaksikan betapa luar biasa jelita sosok tersebut. Kerasnya debaran jantungnyalah yang menyadarkannya sebelum tenggelam dalam pesona wanita itu. Bagaimana ia harus menjabarkan keindahannya? Yang ia rasakan adalah sosok itu bagaikan mentari pada awal musim semi yang mencairkan dinginnya salju terakhir. Sepercik perasaan hangat yang hanya kau dapatkan kala pergantian musim itu.
__ADS_1
Dikerjapkan matanya yang berusaha menyadarkan diri dari bias fatamorgana. Namun siapa sangka ternyata keindahan tersebut tak jua memudar. Benak Elena mulai gelisah menerka jati dirinya. Apakah ia adalah adik sang tuan rumah? Atau seseorang yang mungkin lebih dekat dari itu? Ia pun jadi berdebar cemas, berharap sang
musim semi adalah adik perempuan dari pria pujaannya, sebab bersaing dengannya merupakan rintangan yang terlampau berat, sulit bahkan tiada harapan. Segala gaun indah, perhiasan dan seni riasan terbaik pun tak akan sanggup membantu untuk mengalihkan perhatian sang tuan rumah darinya. Baru kali ini Elena merasakan keputusasaan.
Sementara itu, di antara para pria yang ternganga, Ronie Stoner juga turutterpukau hingga seperti hilang kesadaran. Napasnya terbang entah kemana dan terlupa ia raih kembali, sedangkan binar yang tertanam di matanya jauh lebih banyak dibandingkan tamu lainnya. Seumur hidup tak pernah sekali pun ia bertemu dengan wanita seperti itu, wanita yang bagaikan langit di siang hari yang tak mungkin ada di dunia ini. Mungkin saja ini hanyalah ilusi dari cahaya lilin yang terlalu terang. Namun entah mengapa dalam sudut benaknya, ia ingin sekali
terjebak selamanya dalam ilusi ini.
Sang putri memang berbeda, berkahnya turut terbawa walau tubuhnya telah berganti. Akan tetapi seberkas kesedihan masih saja terlintas dalam iris hitam Ernest. Baginya keindahan ini bukanlah yang terbaik karena ia pernah menyaksikan keindahan yang tak terbantahkan kala Eien berada dalam tubuh aslinya - ia berharap akan ada masa di mana Eien dapat kembali normal. Meski begitu semburat kemerahan tetap saja mampu mewarnai
pipinya yang melihat betapa indah kekasihnya dalam balutan gaun pilihannya. Seharusnya ia bersyukur bahwa pekerjaan tangan Roland tak menghambat berkah Eien. "Kau benar, Adela. Selia begitu luar biasa malam ini."
Mana mungkin Adela membantah jika hal itu adalah sebuah kenyataan. Senyumnya turut merekah gembira kala menjadi saksi debut nonanya yang berjalan sempurna. "Tentu, Tuan. Tak ada yang dapat mengalahkan Nona Selia malam ini."
__ADS_1