Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
5. Keputusan Akhir


__ADS_3

Part 5


Kelesuan Adela disambut William yang sengaja menunggu di depan pintu untuk mengantar sampai pintu masuk kastil. Setelah berpamitan kepala pelayan tersebut hanya tersenyum tipis. Membawa perasaan sedikit kecewa Adela berbalik memandang langit yang telah gelap. Kebun mawar yang terlihat indah sebelum matahari tenggelam kini jadi berkesan menyeramkan. Sontak kakinya menuruni sepuluh anak tangga yang terbuat dari granit dengan terburu-buru seraya melirik ngeri pada bayang-bayang gelap patung malaikat yang dilewatinya. Dari luar benteng suara burung-burung malam terdengar bersahutan. Mendadak langkahnya terhenti kala selentingan perasaan diawasi terasa begitu intens hingga memaksanya berbalik mengamati mansion. Sinar rembulan sedikit menerangi ketika menengadah demimelihat kamar di mana tadi seseorang mengintip dari sana. Kini kamar tersebut terang benderang di mana sosok wanita berambut hitam panjang tergerai yang mengenakan gaun putih sedang memandangi dirinya. Parasnya tak dapat terlihat jelas dari kejauhan seperti ini. Wanita yang anggun, pikirnya. Tanpa melupakan tata krama ia memberi hormat sebagai salam, lantas bergegas pergi dari tempat itu.


Dalam ruang kerja, William membuka seluruh tirai dan jendela kaca, membiarkan cahaya bulan dan sejuknya udara malam masuk ke dalam ruangan. Bunga mawar yang mekar merambat pada dinding benteng kastil menarik perhatiannya, dan sejujurnya sedikit meresahkan. "Tuan. Apakah tidak sebaiknya bunga-bunga itu dipangkas saja?" tanyanya agak cemas.


Sebelum menjawab ada baiknya Ernest menimbang masalah tersebut. Ia bangkit mendekati jendela, merasakan angin dingin yang berhembus membelai lembut kulitnya yang pucat. Cukup lama ia mengamati bunga-bunga itu, lintasan kenangan yang berkaitan dengannya mengalir tanpa mampu ia bendung, tak ayal matanya pun meneduh sendu. "Bunga yang indah. Bukankah mereka tampak seperti yang mekar di istana? Forbidden garden." Ernest seperti berbicara sendiri, meski demikian William paham dengan apa yang dimaksudkannya. "Aku rasa tidak perlu. Selia menyukainya. Biarkan saja mereka tumbuh. Lagi pula aku tidak akan mendekatinya," cegahnya pelan.


Jika majikannya berkata demikian, William sama sekali tidak berkeinginan membantah. "Baiklah, Tuan."


Mawar-mawar ini telah berhasil menjebak Ernest dalam kenangan dan terperangkap di sana. Pandangannya menurun lemah sejenak, mengisyaratkan kepiluan namun segera dialihkan menuju meja kerja. Mungkin apa yang sedang dikerjakan dengan semua kertas itu akan meredupkan kenangan indah yang sempat mengurungnya dalam masa lalu. Belum sempat ia merasakan kenyamanan bantalan kursi, suara keras papan yang terpukul berulang kali diiringi teriakan seorang wanita mencegahnya untuk duduk. Seketika mereka terkesiap, suasana syahdunya malam yang hening berubah sedikit canggung.


William segera berinisiatif. "Sepertinya itu nona. Saya akan-"


"Biarkan aku yang menangani," potong Ernest lirih. Biasanya memang hampir setiap malam William yang mengambil peran untuk menenangkannya sejak ia bangkit dari tidurnya. Oleh sebab itu, mungkin kali ini Ernest tak perlu bersembunyi lagi karena sang pelayan akan segera datang, bergabung dalam permainan kastil ini. Dengan berat hati ia pun meninggalkan ruangan diiringi tatapan cemas William. Bayangan yang melekat di dinding koridor pun bahkan dapat menerjemahkan kegundahan sang bangsawan dengan sangat jelas hingga tiba di ruang depan. Di sana ia menyambung menaiki tangga menuju lantai atas, suara teriakan itu semakin kencang terdengar seiring jarak mereka yang memendek.

__ADS_1


Di ujung tangga Ernest berbelok ke kiri, masuk ke dalam koridor berkarpet merah. Setelah beberapa meter berlalu ia tiba di depan kamar utama mansion ini. Tepat di sisi kiri pintu ganda besar bewarna putih berhias ukiran emas yang terkunci rapat, masih jua terdengar suara teriakan wanita yang keras memukul tebalnya badan pintu. Tak terbayangkan betapa nyeri dan merah kedua tangan itu. Ingin sekali Ernest masuk untuk memeriksa lukanya, akan tetapi ia tetap terdiam di sana, bertahan dengan kegigihan yang dipaksakan.


"Keluarkan! Keluarkan aku dari sini!"


Teriakannya meremukkan hati Ernest yang hanya membisu di sana, seolah semua kata tak akan mampu menjelaskan. Dipandang lirih papan putih yang tak akan dibukanya menyisakan jeritan tiada akhir. Tarikan napasnya begitu dalam demi menahan diri untuk tidak memenuhi permintaan di baliknya. "Putriiii, tenanglah," pintanya pelan.


"Kau! Kenapa kau mengurungku?! Kenapa kau memenjarakanku dalam tubuh terkutuk ini?! Kesalahan apa yang telah kulakukan padamuuu? Apa yang kau inginkan? Apakah kau tidak mengetahui kalau apa yang telah kau perbuat ini sungguh mengerikaaaan. Aku mohooon, aku mohoooon. Lepaskan akuuuu." Suaranya yang lirih melemah. "Kenapa? Kenapaaaa kau tidak menjawabku?"


Pertanyaan yang terus terulang tanpa mampu ia jawab. Sungguh, jemarinya hampir saja menyentuh gagang pintu, tetapi Ernest harus bertahan. Jika ia menuruti kelemahan hatinya, maka semua pengorbanannya akan sia-sia belaka. Setidaknya hingga ia mendapatkan seorang pelayan manusia, hanya sebentar lagi. Karena itu, sementara ini kekasihnya harus tahan terkurung dalam kamarnya. "Aku tidak bisa, Putri."


Pertanyaan yang menggores luka yang sudah ada. Mata Ernest pun menurun lirih, kesedihan yang menyakitkan terlukis di wajahnya tatkala hanya sanggup mendengar gadis di balik pintu ini terisak. Dahinya melekat ke papanseraya menempelkan telapak tangan di sana, tanpa daya perlahan kedua matanya yang lelah terpejam sesak. "Maafkan aku," bisiknya lirih.


                                                                                     ***


Adela pulang ke rumah kumuhnya setelah menyusuri gang sempit yang kotor dan gelap. Ketika membuka pintu, kedua adik laki-lakinya yang masih kecil menyambut dengan pelukan yang hangat. Perasaan gelisah dan gundah seketika menguap begitu saja saat kedua malaikat kecil itu merangkul sayang dan tersenyum manis padanya. "Bagaimana keadaan ibu?" tanyanya pelan.

__ADS_1


"Ibu sudah lebih baik setelah meminum obat dari dokter," jawab Harry yang lebih tua dua tahun dari Mike yang berusia tujuh tahun.


Adela menghela napas, sebab tahu obat yang baru saja diminum adalah yang terakhir. Hingga saat ini ia masih belum sanggup membawa ibunya ke rumah sakit dan memberinya perawatan yang dibutuhkan. Sementara untuk membayar uang sewa rumah ini saja sudah cukup sulit. Kondisi keuangan keluarga ini benar-benar berada di ujung tanduk. Diperhatikan kedua adiknya. "Kalian sudah makan?"


"Hari ini hanya ada roti sisa kemarin," jawab Mike dengan suara polosnya.


Adela menelan ludah dengan getir. Kondisi keuangannya yang memprihatinkan dimulai sejak toko roti tempatnya bekerja dulu sudah tidak sanggup lagi berjalan dan mengalami kebangkrutan. Pemiliknya terlibat hutang karena gemar berjudi, menyebabkan anak dan istrinya kini telantar di jalanan. Apa yang dapat ia lakukan jika majikannya terpaksa memberhentikannya bekerja? Tidak ada. Sejak saat itu Adela bekerja serabutan di berbagai kastil bangsawan kota ini. Padahal ia sangat berharap dapat bekerja tetap di kastil seorang bangsawan, dengan begitu ia akan mendapat penghasilan tiap bulan tanpa khawatir tidak sanggup menyediakan obat dan makanan untuk esok hari.


Segera saja ia masuk ke dalam kamar ibunya, memeriksa apakah wanita tua yang terbaring tengah baik-baik saja. Diamati wajah kurus dan pucat ibunya yang terlelap di ranjang kusam. Hatinya teriris perih karena rasa bersalah yang tak mampu memberikan yang terbaik. Ia menarik napas, menutup pintu kembali, kemudian duduk di kursi dekat meja makan. Tidak ada makanan di atas meja, padahal ia merasakan panggilan liar dari dalam perutnya


tengah meronta menyiksa dirinya. Dipandang kedua adiknya yang sejak tadi memperhatikan tindak tanduknya. Tak ada keraguan kalau kedua bocah ini juga merasakan lapar yang sama.


Betapa tega ia membiarkan adiknya kelaparan dan ibunya terbaring melawan sakit. Dipikirkan kembali tawaran Bangsawan Cloudivious tadi. Seratus pound? Itu sangat banyak. Aku bisa membawa ibu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan terbaik. Harry dan Mike juga tidak perlu kelaparan seperti ini. Mereka dapat melanjutkan sekolah.Gadis itu menelan ludah ketika menimbang risikonya. Padahal ia sudah lelah meratapi nasibnya yang seperti ini, tetapi ketika kesempatan itu datang, kebimbangan justru membuat harapannya luntur. Air matanya mengalir tanpa mampu ia cegah. Sungguh, ini berat sekali untuknya. Jujur saja ia takut bekerja di kastil itu. Dua adiknya jadi ikut sedih walau tidak tahu apa yang menyebabkan kakaknya menangis, namun mereka tidak ragu untuk segera memeluk sang kakak tertua.


Adela makin terisak karena haru. Adik-adiknya lebih tegar jika dibandingkan dengan dirinya. Pelukan hangat mereka seolah sanggup menguatkan hatinya untuk kembali ke kastil tua itu apa pun risiko dan rahasia yang tersimpan di dalamnya. Demi keluarganya ia harus kuat. Jika harus mati karena rahasia di dalam kastil itu maka ia akan meyakinkan diri bahwa hanya dirinyalah yang akan mati. Lagi pula tidak ada kastil yang tidak memiliki rahasia. Aku harus bisa!

__ADS_1


__ADS_2