Bloody Rossie : Tears Of Vampire

Bloody Rossie : Tears Of Vampire
26. Nirwana yang Jatuh


__ADS_3

Part 26


Rok gaun yang terayun terhenti di anak tangga terakhir ketika untaian jemari berbalut sarung tangan putih terjulur. Pria yang berada di ujung tangga tersenyum lembut menyambut, tak ayal Eien jadi terpaku di sana. Iris birunya lirih bergulir lemah ke lantai menutupi rasa malu. Perasaan apa ini? Sosok sang pencuri jiwa seolah menjelma bagai pangeran. Apakah malam tengah memainkan ilusinya? Menaburkan rintik bintang-bintang yang memberikan kesan seolah-olah pria itu bercahaya. Rasanya, pengaruh aliran mistis dari kastil ini sedang bekerja dengan kuat. Apakah itu hanya alasannya saja? Mencari-cari kemungkinan lain karena enggan mengakui kalau pipinya sampai memanas dan merona selayaknya ribuan mawar yang tersemat di gaunnya. Walau begitu, Eien tiadaragu menyambut tangan tersebut. Hatinya bertanya-tanya, akan dibawa kemanakah dirinya?


Semua mata belum lepas dari sang matahari yang dituntun menuju gubernur kota, Duke Augustove Barnet berserta istrinya Duchess Alegra Barnet yang masih diam terpana. Ernest perlu berdeham beberapa kali untuk menarik kesadaran di mana mereka langsung tersipu malu. "Ah, maafkan tingkah kami," ucap Alegra cepat sambil tertawa kikuk.


"Tak mengapa, Madam. Perkenalkan, Duke, Duchess Barnet, ia adalah adik perempuanku, Selia Cloudivious. Satu-satunya keluargaku yang tersisa." Kemudian Ernest lanjut menyebut nama kedua pasangan Barnet pada Eien.


Adik perempuan? Jujur saja, ini aneh untuk Eien. Namun saat ini tak ada waktu maupun kesempatan mempertanyakan hal itu. Rasa heran yang sempat menyergap masih sanggup Eien tutupi serapi mungkin demi sandiwara ini. Bibirnya melengkung lembut tanpa ampun, menusuk hingga ke relung jiwa pasangan Barnet. Seketika dada mereka seolah sesak oleh kekaguman dan rasa iri tiada terkira. Bingung apakah pemandangan indah ini anugerah ataukah lebih kepada sebuah ejekan untuk raga yang ternista kotornya dunia? Salam hormat pada tamu dari saudara palsunya tampak menawan ketika rok gaun cantik itu terkembang. "Selamat malam Duke Barnet, Duchess." Suaranya yang merdu tipis serta berkesan lirih menyingkirkan kedengkian dalam diri kedua orang paruh baya itu. Sepenuhnya hati mereka telah luluh oleh sosok wanita ini hanya dengan sebuah sapaan merdu.


Tawa renyah Duke Barnet pun pada akhirnya memecah keheningan, mengembalikan semua kesadaran para tamu yang berlanjut saling berbisik membicarakan mereka di antara alunan musik yang kembali bergema. "Hahaha. Astaga! Selamat malam, Lady Cloudivious! Saya pikir saya sedang berada di nirwana mengingat isi kastil ini sangatlah luar biasa. Lihatlah dekorasi indah ini, bagaikan sebuah taman yang terjatuh dari langit. Kemudian tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang sangat cantik dan menyilaukan. Saya sampai yakin bahwa Anda adalah seorang malaikat. Saya terkejut sekaligus hati ini bergetar! Apakah sudah waktunya saya mati? Hampir saja saya berteriak minta tolong!" serunya bersemangat.


Eien tertawa kecil dengan ujung jari menutupi bibirnya. "Oh, tidak. Apakah saya telah menakuti Anda, Duke Barnet?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Saya baru hendak mengatakan, tolong jangan bangunkan saya dari mimpi ini!" Pujian dalam


balutan candaan Duke Barnet mengundang tawa setiap orang. Hanya Ernest dan adik palsunya yang tersenyum.


"Kalau begitu saya bersyukur bila hal itu merupakan sebuah mimpi, sebab saya pun hanyalah makhluk yang dipenuhi kekurangan."


Mendengarnya hati keduanya terjerat oleh pesona pribadinya. "Aauwh, kau gadis yang sangat manis," puji Alegra.


"Kami senang dapat berjumpa denganmu. Ini seperti semacam berkah. Terima kasih sudah mengundang kami."


"Perjamuan ini begitu menakjubkan! Kami pasti akan menyesal jika hanya mendengarnya dari kisah orang lain."


Ekspresinya berubah prihatin teringat percakapan mereka di kediaman ratu. "DukeHornest sedikit menceritakan mengenai kesehatanmu beberapa malam lalu dalam perjamuan yang mulia ratu. Saya penasaran, apakah kesehatanmu telah membaik?"

__ADS_1


Alegra turut mengangguk membenarkan. "Ya, kami mendengarnya malam itu. Apakah kau baik-baik saja? Jikalau masih merasa kurang sehat, kami dapat merekomendasikan dokter terbaik di kota ini untukmu," tambahnya.


Perhatian tulus mereka menciptakan kehangatan dalam hati Eien. "Ah, terima kasih atas kemurahan hati Anda sekalian. Sungguh tak perlu ada yang dikhawatirkan, kesehatanku mengalami kemajuan yang luar biasa berkat ketekunan dan kegigihan saudara laki-lakiku." Iris biru yang berkilauan itu menembus jauh ke belakang bola mata sang Gubernur, kemudian senyum lembutnya merekah lega. "Negara ini sungguh beruntung memiliki seorang kesatria seperti Anda, Tuan. Semoga Tuhan memberkati Anda beserta keluarga Anda."


Pasangan Barnet tersebut terperangah gembira. "Oh, Tuhan. Aku benar-benar bersuka cita malam ini! Seandainya putraku sudah cukup umur, aku ingin sekali Lady Cloudivious menjadi bagian dari keluarga kami!"


Eien tertawa kecil di balik kipasnya. "Ah, sangat disayangkan."


Ernest hanya tersenyum sambil melirik sekilas padanya.


"Itu benar. Putra kami baru berusia sepuluh tahun. Ketiga saudara perempuannya jauh lebih tua darinya," seloroh Alegra yang mulai bercerita mengenai para buah hatinya.


Dalam perbincangan tersebut Ernest hanya tersenyum dengan sesekali berkomentar. Di lain pihak, Eien sesekali meliriknya, bertanya mengapa pria misterius ini memperkenalkan dirinya sebagai seorang saudara perempuan? Sebenarnya untuk apa pria ini menculik dirinya dan membawanya ke negeri nan jauhini?

__ADS_1


Dari kejauhan Adela yang menangkap percakapan tersebut sampai mengerutkan dahi. Adik perempuan? Aku makin dibuat tidak mengerti dengan jalan pikiran tuan. Mengapa tuan memperkenalkan nona -wanita yang dicintainya- sebagai seorang anggota keluarga? Bukankah hal itu hanya akan menyulitkannya nanti? Tiba-tiba saja nonanya berpaling menatap dirinya ketika Ernest mengajaknya berkenalan dengan bangsawan lain. Akibatnya Adela terkesiap ketika wanita itu tersenyum memberi isyarat, teringat akan permintaannya tadi. Tuhaaaaan. Aku harap apa yang akan kulakukan adalah hal yang benar. Benaknya makin gelisah jika memikirkannya.


__ADS_2